
Zain melangkah mendekati Senja yang sedang didapur sibuk menyiapkan sarapan ,kebetulan hari ini akhir pekan jadi semua anggota keluarga berkumpul dirumah untuk menghabiskan waktu bersama .
"Ma ...." sapa Zain, sembari menuangkan sebotol air putih dingin ke dalam gelas.
"Iya, sayang," Senja menjawab tanpa menoleh, karena dia sedang memotong daging menjadi beberapa bagian yang sama.
Setelah selesai, Senja menghampiri putra sulungnya. Terlihat jelas gurat kegelisahan pada wajah Zain. Senja bisa menebak apa yang ada di pikiran Zain saat ini, pasti tidak jauh-jauh dari masala Airin.
"Bi Ina, tolong lanjutkan memasaknya ya. Itu punya bapak sudah selesai. Tinggal punya anak-anak saja," perintah Senja kepada Ina, sambil melepas celemek yang digunakannya dan menaruhnya digantungan.
"Baik, Bu." Ina langsung mengambil alih tugas dari Senja.
"Mau, Mama temenin ngobrol?" Senja menepuk lengan Zain yang sedang melamun.
"Bo-boleh, Ma." Zain menjawab dengan agak gugup.
Senja dan Zain melangkahkan kakinya dengan santai menuju halaman samping dapur. Tempat biasanya para asisten rumah tangga bersantai setelah selesai mengerjakan tugas masing-masing.
"Ma, hari ini mama sibuk tidak? Airin benar-benar ingin menikah secepatnya. Kalau Mama sempet. Mama bisa kan sama Daddy datang ke rumah sakit?" tanya Zain terdengar sangat hati-hati.
Senja menatap Zain dengan pandangan heran sekaligus menyelidik. "Apakah hanya Airin yang ingin pernikahannya dipercepat?"
"Zain, terserah Airin saja. Apapun akan Zain lakukan untuk memberikan kebahagiaan padanya, meski mungkin hanya sebentar" jawab Zain dengan tatapan mata kosong.
"Sabar ya, Zain. Mungkin ini jalan yang mesti kalian lalui dulu. Kita tidak akan tahu, nantinya akan bagaimana. Skenario kita, sering kali berbeda dengan kenyataan yang Tuhan hadapkan." Senja mengelus kepala Zain dengan lembut.
"Airin menginginkan pernikahan hanya ada keluarga inti saja, Ma. Karena pasti di rumah sakit acaranya. Besok Zain, akan menanyakan dulu kondisi Airin lebih jelasnya. Jika memang benar apa yang ada di pikiran Zain, kita akan melangsungkan pernikahan dua hari lagi. Bisa kan, Ma?" tanya Zain penuh harap.
Senja mengangguk pelan. Tidak melarang atau membantah. Dia yakin, putra sulungnya cukup bisa mempertanggung jawabkan sendiri apa yang sudah menjadi keputusannya. Sekarang, dia tidak meragukan lagi kesiapan Zain dalam menghadapi segala kemungkinan. Baik ataupun buruk.
"Mama ke dalam dulu, sekalian lihat Daddy-mu. Kalau Daddy bersedia, kita berangkat ke rumah sakit setelah sarapan." Senja berdiri dan meninggalkan Zain sendirian.
Setelah melihat bi Ina sudah merampungkan tugasnya, Senja pun naik ke atas. Memanggil Darren yang sedang berjemur di balkon kamar sembari membaca buku.
"Ask ...." panggil Senja dengan manja.
"Hemmmmm." Darren menjawab asal, karena masih kesal dengan istrinya itu.
Bagaimana tidak, karena ulah sang istri. Dia harus menanggung malu pada Zain. Bukan malu lebih tepatnya, lebih pada harga diri dan wibawa yang mendadak turun. Mana Zain malah terus menertawakan dirinya.
__ADS_1
"Setelah sarapan, kita ke rumah sakit, Yuk! jenguk Airin." Senja duduk di samping Darren, mengusap dada berbulu halus yang sedang tidak berbaju itu.
"Males," jawab Darren dengan asal.
"Kok males, sih. Kalau dibikin semangat dulu. Mau tidak?" Senja semakin menggoda dengan jemari yang terus berjalan-jalan ke bawah pusar.
"Hemmmmm ...." jawab Darren dengan suara yang sudah tidak biasa, karena tangan sang istri sudah sampai ke tujuan. Untung saja, tidak ada yang sedang keluar balkon juga.
Senja menarik tangan Darren. "Sarapan dulu, baru mandi bareng. Janji! Setelah itu kita ke rumah sakit. Zain mau pernikahannya dilaksanakan dua hari lagi." ucap Senja dengan meletakkan tangan sang suami dipinggulnya.
"Atur saja, asal hari ini, tidak hanya satu kali." Darren mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.
"Boleh, asal kuat saja. Ingat umur. Kemauan sama fisik harus imbang, dari pada nanti patah tulang di tengah jalan," Senja mengecup bibir suaminya sekilas. Lalu berbalik badan mengambilkan kaos untuk suaminya.
"Jaga stamina. Buktikan Darren Mahendra masih kuat lima kali," tantang Senja sembari keluar dari kamar untuk mengajak anak-anaknya makan pagi.
*******
Semua kini sudah berkumpul di ruang makan. Seperti biasa dia selalu mengambilkan makanan untuk sang suami.
"Genta, Bey, Der ... Makan dulu. Mama lihat, kalian ngobrol terus dari tadi."
"Iya, Ma," jawab ketiganya, kompak sambil cekikikan.
"Derya dan Genta, jangan lupa setelah makan diminim obatnya. Pakai salepnya juga." Senja kembali mengingatkan.
"Siap, Ma." lagi-lagi Derya dan Genta kompak.
"Sejak kapan, Mama punya anak lagi? Berasa kembar tiga. Dua adik saja sudah meresahkan, apalagi ditambah satu," dengus Dasen dengan suara keras.
"Das, kak Zain saja tidak pusing. Padahal ada satu adik, yang luar biasa kelakuannya," sindir Zain, makin membuat bibir Dasen mencebik sempurna.
"Sudah-sudah, bisa tidak setiap makan kita tenang. Menikmati makanannya. Nanti bercandanya diterusin," tegur Darren.
"Ini bukan bercanda, Dadd." protes Dasen.
"Iya, nanti saja dilanjut berkelahinya," ralat Darren.
Senja mengelus dadanya, makin dewasa, ulah anak-anak memang makin ada-ada saja. Kesabaran sepertinya bukan hanya sekedar ujian sesaat, tapi sudah menjadi pelajaran sehari-hari.
__ADS_1
Darren yang melihat istrinya mengelus dada segera berdiri, lalu memungkukkan badannya sedikit sembari berbisik lirih. "Mau dieluskan?"
Senja seketika langsung mencubit lengan suaminya dengan gemas. "Dasar aneh!"
"Nyuruh anaknya berhenti, malah berdua berantem sendiri," protes Beyza.
"Begitulah orangtua, kalau kita mau menang dan benar terus. Harus jadi tua dulu," sahut Zain menyudahi makannya terlebih dahulu. Karena dia sudah selesai duluan.
"Ma, ini home schooling anak-anak biar Zain aja yang urus. Owh, ya ... Genta bagaimana?" tanya Zain.
"Kata Ayah terserah Genta kok, Kak. Jadi Genta ikut di sini saja. Biar Genta tiap hari ke sini," jawab Genta, sembari melirik Beyza yang selalu tersipu malu kalau tahu sedang diperhatikan.
"Genit," sungut Dasen.
"Yang ngomong lebih parah. Mana kalau milih cewek, kayak berasa dirinya sok Ganteng," sambar Beyza.
Senja dan Darren tidak ingin menanggapi. Nanti akan semakin panjang saja. Mereka memiliki anak-anak yang kritis.
"Setelah ini, Mama dan Daddy akan ke luar sebentar sama kak Zain, kalian baik-baik di rumah. Jangan berantem. Paham?" Senja menatap satu per satu anaknya, termasuk juga Genta.
"Kemarin mengurus ketiga anak ini, sekarang kak Zain. Kapan waktunya untuk Dasen," gerutu Dasen dengan bibir yang sudah maju dua senti.
"Astaga, Das. Mama tidak 24 jam meninggalkan Dasen. Semua masih Mama urus. Kenapa masih kurang terus." Senja menjawab dengan sedikit kesal.
Dasen berdiri, lalu menghampiri Senja dan merangkulnya dari samping. "Kalau mama pergi, Dasen boleh leluar baren Michel, ya? sebentar saja. Janji Dasen tidak aneh-aneh."
Titisan Darren Mahendra itu lalu mencium pipi Senja bertubi-tubi. "Boleh ya, Ma? Please!"
Senja pun menganggukkan kepalanya.
"Mama memang yang terbaik." Dasen merangkul mamanya dengan posesif.
"Das, lepas!" ucap Darren dengan tegas. Antara cemburu dan risih, karena Dasen selalu membuat wangi perempuan yang dicintainya itu dengan wangi Dasen yang menurutnya aneh.
"Enggak! masih kangen, ini mamanya Das."
"Dasar! playboy cap anak mama," ledek Beyza sembari berdiri membawa piringnya ke wastafel diikuti Derya dan Genta.
"Bodo amat," timpal Dasen, santai dengan gaya songongnya.
__ADS_1
Titisan Darren itu pun segera mengambil ponsel dari kantongnya, memberi kode pada michel untuk menjalankan semua sesuai rencana.
'Tunggu saja pembalasanku. Jangan bermain-main dengan Dasen Kyun Mahendra,' batinnya dengan sinis.