
"Iya, Pak." Denok memberikan sapaan dengan hati-hati dan pelan.
Senja yang mendengar kata 'pak' disebut, seketika paham siapa yang menghubungi Denok. Dia tidak mungkin mengakhiri meeting begitu saja, apalagi mereka juga masih akan makan siang bersama.
Denok mendekati Senja, membisikkan sesuatu, lalu memberikan ponselnya pada mama dari kekasih hati sekaligus atasannya itu.
Senja meminta ijin pada Abizard terlebih dahulu untuk menjauh sejenak. Hatinya sudah yakin, sesuatu pasti terjadi, karena Darren sudah tidak sabar menunggunya hingga jam dua.
"Ada apa, Ask?" Senja menempelkan ponsel Denok di daun telinganya.
"Batalkan kerjasamamu dengan pria jelek itu. Aku akan carikan pengusaha tekstil yang lebih baik dari dia, dan aku akan membayar berapa pun kerugianmu," tekan Darren.
"Apa ada yang salah?" Senja bertanya dengan tenang.
"Tentu saja ada. Aku tidak suka ada yang melihatmu seperti cara dia melihatmu, dan aku tidak suka dia mencari kesempatan menyentuhmu."
Senja melirik ke arah Denok dengan tatapan dingin sembari berucap, "Kita bicarakan nanti. Maaf, aku tidak bisa menghentikan kerjasama ini hanya karena apa yang kamu lihat sekilas."
Setelah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, Senja memberikan benda pipih berwarna pink itu pada pemiliknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Maaf, Tuan sedikit ada masalah. Apa kita langsung makan siang saja?" Senja tersenyum dengan sopan pada Abizard. Pria berumur di atas Darren lima tahun itu pun mengangguk setuju.
Senja mempersilahkan Abizard dan sekretarisnya berjalan lebih dulu, lalu dia baru mengikutinya di belakang mereka satu langkah.
Denok nampak tergopoh-gopoh mengikuti Senja sembari membawa tas laptop sembari sesekali melirik ponsel di genggaman tangannya yang terus bergetar.
__ADS_1
'Bapak bucin, sabarlah sebentar. Saya juga dalam posisi terancam. Tahan diri sebentar, salah siapa punya istri cantik. Menikahlah dengan Ibu Erika, maka anda akan terhindar dari kecemburuan,' batin Denok panjang lebar.
Mereka makan dengan tenang, kecuali Denok yang harus terus menjawab pesan dari Darren yang terus bertanya. Karena jengah, Senja menggeser duduknya sedikit agar dekat dengan Denok yang masih sebentar-sebentar membalas pesan Darren.
"Atasanmu adalah saya, Nok. Saya menyuruhmu cepat menjawab, bukan harus meladeni suamiku terus menerus. Saya sudah mengingatkan, Bijak dalam menjawab," bisik Senja, pelan tapi bagi Denok rasanya lebih terasa sebagai bentakan atau tamparan.
Akhirnya tepat pukul satu, makan siang dan seluruh rangkaian kebersamaan dengan relasi mata keranjang itu pun selesai. Senja tidak langsung pulang ke kantor, dia memilih untuk ibadah sholat dhuhur terlebih dahulu, lalu baru kembali ke kantornya.
Sepanjang perjalanan, Senja memilih untuk diam terlebih dahulu. Dia ingin menunggu Denok sekedar bertanya atau meminta maaf atas kesalahan yamg dilakukan, tapi sepertinya, gadis itu memang tidak mengerti.
"Sampai kantor, saya mau notulen meeting tadi, kamu print dan letakkan di meja saya," ucap Senja, tanpa menoleh pada Denok.
Denok seketika tercekat. Jangankan notulen, satu kalimat pun dia tidak menulis. Dia terlalu sibuk menjawab pesan yang dikirim oleh Darren.
"Notulen, Bu?" Denok malah bertanya pada Senja.
"Maaf, Bu. Tadi saya membalas pesan suami Ibu. Saya pikir, tugas membuat notulen saya dihapuskan karena harus mengatasi kegalauan suami Bu Senja," kilah Denok dengan polosnya sembari berlari kecil mengejar langkah kaki Senja yang lebar.
"Apa kamu bisa mengatasi suami saya? Apa masalah selesai? Apa kamu pikir dia akan berhenti dan puas dengan jawaban kamu? Sudah saya katakan, bijaklah dalam menjawab." Senja segera masuk ke dalam lift khusus, Denok buru-buru mengikuti.
"Untung saja, ini adalah hari pertamamu bekerja bersama saya. Sebenarnya, masih bisa dimaklumi. Tapi berhubung saya tahu kamu bekerja atas referensi Dasen, saya berharap kamu tidak menurunkan kualitas anak saya. Melihat cara bekerjamu dan caramu mengatasi masalah dengan spontan, jalanmu masih panjang untuk menjadi sekretaris yang sebenarnya. Tunjukkan, kalau Dasen, tidak salah pilih," tambahnya.
Senja langsung ke luar dari pintu lift menuju ruangannya, kalau dia tidak salah perhitungan, Darren Mahendra jelas sudah ada di dalam ruangannya sana.
"Buat notulennya, tulis apapun yang kamu ingat selama meeting tadi. Jangan ada yang terlewat setiap detailnya kalau bisa. Harusnya kamu bertukar nomer ponsel dengan sekretaris Tuan Abizard, saat kamu seperti ini, kamu setidaknya biaa bertanya pada dia, tadi ada poin apa saja." Senja langsung melengoa masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
'Gara-gara bapak bucin, aku yang kena. Awas saja dia tidak membelaku kalau sampai terjadi apa-apa. merepotkan sekali. Kenapa Dasen tidak mengatakan kalau tugas sekretaris serumit ini.' Denok menepuk keningnya sendiri sembari terus mendumel dalam hati.
"Kenapa tidak pernah nurut sama aku? Sudah aku katakan, batalkan! Kenapa masih diteruskan?" Darren menatap tajam wajah sang istri.
"Hanya karena dia menatapku dengan tatapan aneh? Wow! Sangat profesional sekali." Senja seolah menyindir Darren.
"Aku tidak pernah takut dikatakan tidak profesional jika itu berhubungan dengan kemyamanan keluarga kita. Aku bahkan melepas tender ratusan juta dolar, karena tidak ingin lagi berhubungan dengan Ayumi." Darren menyebut nama teman jepangnya yang dulu dipikir Senja adalah kekasih pertama suaminya itu.
"Sebentar, apa aku pernah melarang? apa aku yang memintanya? Tidak! Kamu sendiri yang menghindari dia. Mungkin kamu bukan ingin menghargaiku, tapi kamu sendiri yang takut terbawa perasaan dengan Ayumi," sinis Senja.
Darren langsung merengkuh pinggul senja, menahan tubuh berisi menggoda itu tepat di depannya. "Terlambat jika aku harus tergila-gila dengan orang lain sekarang. Kamu tahu persis, bagaimana aku sangat tergantung dengan kamu."
"Tapi itu bukan berarti kamu bisa seenaknya memutus hubungan kerjasama dengan orang lain, Kita tidak bisa menutup mata orang lain agar tidak menatap kita dengan kagum. Tapi kita bisa memilih dan memutuskan untuk tidak membalas tatapan mereka itu. Apa kamu seragu itu padaku? Apa pikiranmu, aku akan semudah itu tergoda?" Senja menatap Dasen dengan tatapan tajam. Namun, itu adalah tajamnya cinta.
"Dari dulu sampai sekarang, aku tidak suka dibuat cemburu. Karena rasa itu membuatku tidak sabar." Darren menekan pinggul Senja hingga lebih menempel pada dirinya.
Di luar, OB yang disuruh Senja membelikan makanan untuk sang suami datang. Karena dia tidak bisa membuka pintu, Denok pun berinisiatif membantu.
Saat pintu terbuka, reflek Denok menutup kedua matanya dengan telapak tangannya sendiri. 'Astaga, level berapa ini. Kenapa tangannya bapak bucin bisa di sana.' Denok sedikit melirik tangan Darren yang merem4s bokong sang istri sembari berciuman.
Sedangkan Darren dan Senja sendiri, masih belum sadar kalau pintu ruangan sudah terbuka.
Jantung Denok berdebar melihat kegiatan tersebut. Makin degdeg'an lagi saat Darren terlihat menggerakkan tangannya menuju tepian baju atasan yang dikenakan Senja.
Takut melihat langsung yang terjadi selanjutnya, Denok membalik badannya dengan buru-buru dan menabrak seseorang yang juga tiba-tiba muncul di depannya. Dada yang bidang dan padat, membuat Denok serasa membentur batu.
__ADS_1
"Auw ... ." Teriakan Denok, sukses membuat kegiatan Darren Senja terhenti.