
Sampai di kantor polisi, Dasen, Rama dan Michel di tempatkan di sebuah ruangan di samping Arnold, Reynald, Adam dan dua bodyguard Adam.
Mereka sama-sama sedang dimintai keterangan sembari menunggu kedatangan orangtua masing-masing.
Baik Dasen, Michel dan Rama menjawab pertanyaan dengan jujur dan apa adanya. Ketiganya sangat koperatif, meski raut kecemasan jelas terlihat di wajah ketiganya.
Sementara itu, kebingungan juga melanda Rudi. Bagaimana tidak? dia harus bagaimana. Sepertinya Darren dan Senja juga sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja, sejak pulang dari rumah sakit bersama Zain tadi. Ketiganya sama-sama diam membisu sepanjang perjalanan.
Rudi masih menimbang-nimbang antara ingin pergi sendiri atau memberi tahu kedua majikannya terlebih dahulu. Tapi, sebenarnya ini juga bukan kali pertama Rudi menjadi orangtua bohongan bagi Dasen saat melakukan sesuatu yang konyol.
Tapi untuk berurusan dengan pihak kepolisian, ini memang benar-benar pengalaman pertama.
"Bismillah, nekat sajalah. Kasihan Den Dasen." Rudi bergumam, sembari melangkahkan kaki mengambil motor pribadinya.
Akhirnya driver setia Senja itu, memutuskan pergi. Lagi-lagi memilih membantu titisan Darren tanpa sepengetahuan majikannya.
Situasi mendadak hening. Siku Michel di sisi kiri dan Rama di sisi kanan, sama-sama digerakkan ke arah Dasen. Mereka tidak sabar menunggu reaksi papi dan mami mereka saat mengetahui yang menjadi orang tua Dasen adalah Rudi.
Setelah 30 menit berselang, akhirnya sampailah si Rudi. Keringatnya bercucuran, rambut lepek karena helm dan terik matahari yang menyengat. Bau keringat yang khas lemon keluar dari ketiaknya yang basah.
Seketika membuat yang hadir di ruangan agak menyingkir, terutama Mami dari Michel dan Rama.
"Dasen bukannya anak dari Darren Mahendra ya? terus ini siapanya coba? masak opanya? Bukankah Opa Dasen pemilik DNG Corp? Kalau ini kayak bapak-bapak ojek pengkolan deh," bisik Mami Rama, sangat pelan tepat di telinga suaminya.
Belum sempat keraguan dan tanda tanya tentang sosok Rudi terjawab. Dua orang anggota kepolisian masuk ke dalam ruangan kembali.
"Begini Ibu-Ibu, Bapak-Bapak dan Adik-Adik, karena ada sesuatu hal. Kami juga akan mengadakan tes urine pada Dasen, Rama dan Michel. Kami harus melakukan ini, karena kami merasa ada yang mencurigakan. Terus terang, kami berharap kalian di sini tidak ada satu pun yang menggunakan narkoba. Untuk tes urine, kalian akan bergabung dengan teman kalian yang sudah kami amankan lebih dulu," jelas polisi bernama lengkap Satrio Wardoyo itu.
"Bukan teman, Pak. Bilang saja lawan, lebih enak dengernya," sahut Dasen. Masih sempat-sempatnya meralat.
Michel dan Rama langsung menepuk pundak temannya itu.
"Tidak boleh mempunyai lawan itu, kita semua berkawan. Kau tuh ganteng-ganteng hobi babak belur itu muka. Yang mana bapak kau?" tanya satu aparat polisi, bernama Togar.
__ADS_1
Dasen langsung menunjuk ke arah Rudi.
"Astaga, beda jauh sekali sama kau. Benar itu bapak kau?" Togar menatap Dasen dengan intens.
Remaja lelaki itu mengangguk pelan. 'Iya pak, bapak saya, bapak sopir lebih tepatnya,' batin Dasen.
"Bapak, Ganteng sekali punya anak. Khitan di mana kira-kira bisa dapat anak secakep ini? jadi kesel aku," Pak Togar kembali berceloteh, membuat yang lain berbisik-bisik.
Rudi hanya meringis, mempertontonkon barisan giginya yang putih.
Akhirnya Pak Satrio dan Pak Togar membawa ketiga anak tadi ke ruangan lain. Mereka bergabung dengan Arnold cs dan dua bodyguard Adam.
Berbeda dengan Dasen cs yang tampak santai, Arnold cs begitu gugup. Mereka yang biasanya selalu sombong, angkuh dan banyak gaya di depan Dasen, kini diam seribu bahasa.
Seperti biasa, orangtua mereka tidak ada satu pun yang datang. Hanya ada pengacara masing-masing yang mewakili. Padahal kasus yang mereka hadapi tidak akan dibawa sampai ke persidangan.
Kepolisian hanya memberikan arahan dan peringatan, bahwa tindakan mereka salah dan berbahaya. Karena tanpa ijin dan pengawasan orangtua.
Satu per satu, menampung ur1ne yang di keluarkan di tempat yang sudah di sediakan oleh pihak berwajib. Sembari menunggu hasilnya, mereka diperkenankan kembali bertemu dengan orangtua masing-masing.
"Daddy sama Mama, tidak tahu kan?" tanya titisan Darren itu sembari berbisik.
"Tentu saja tidak. Kalau sampai ketahuan, Aden harus bertanggung jawab. Kalau saya dipecat, ada dua anak saya dan satu istri yang harus dihidupi," ucap Rudi setengah mengancam.
"Tenang, Dasen ini pahlawan kebajikan. Pak Rudi santai saja." Dasen menepuk pundak Rudi.
"Das ... ke mari kau!" panggil Pak Togar.
"Siap pak!" ucap Dasen dengan sigap.
"Duduk sini!" ucap pak polisi sambil menunjuk bangku kosong di sebelahnya.
Dasen menurut saja tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Benar tidak dia bapak kau? ku kasih kau kesempatan satu kali untuk jujur, kalau kau berbohong. Ku ajak kau menginap di sini bareng pembunuh mutilasi," selidik Pak Togar.
Dasen menelan ludahnya kasar sambil menggaruk-garuk rambutnya yang sama sekali tidak gatal.
"Pak Rudi orang tua di rumah Saya, tapi beliau bukan orangtua Saya," jawab Dasen hati-hati.
"Bah ... kau ini ada-ada saja. Apa pula bedanya orang tua dan orangtua?" tanyanya.
"Orang tua itu orang yang usianya sudah tidak lagi muda. Kalau orangtua adalah bapak ibu. Begitu bukan, Pak? tadi kan hanya diminta telepon orangtua di rumah, makanya saya kasih nomer pak Rudi. Karena sepertinya, beliau yang tidak muda lagi di rumah saya," jelas Dasen dengan gamblang. Berhasil membuat Pak Togar terkekeh.
Pak Togar langsung memberikan ponselnya. Menyuruh Dasen mengetikkan nomer ponsel bapak atau ibunya.
"Nomer telepon siapa pula ini? siapa namanya?" tanya pak Togar, begitu Dasen menyerahkan ponselnya kembali.
"Mama saya pak. Nama lengkapnya Senja Khairunisa Kemala. Panggil saja Senja, tapi kalau urusan kita selesai. Saya harap Bapak menghapus nomor teleponnya," lagi-lagi Dasen menjawab dengan lugas.
Sifat Darren sungguh melekat dan mendarah daging pada diri anak itu. Pantang takut jika benar dan posesif jika berhubungan dengan Senja.
Satu-satunya kekhawatiran sekarangadalah kemarahan Daddy dan Mamanya. Kadang niat baik, tidak selamanya akan tetap terlihat baik di mata orang lain. Terutama bagi Daddynya, bisa-bisa dia malah dikirim ke Asrama.
Michel dari tadi terus diam di samping maminya. Entah maminya itu sedang marah atau memang tidak peduli. Karena biasanya memang Maminya tidak terlalu peduli dengan hal-hal ini.
Di sudut lain, Rama dan Mami Papinya sedang berdebat. Maminya yang terus mengomel dan sang Papi yang membela Rama.
Gerombolan Arnold cs masih dengan kekhawatirannya. Karena orangtua mereka pun sepertinya masih belum datang juga. Padahal pengacara masing-masing sudah menjelaskan dengan detail.
Sementara itu di ruang keluarga. Derya dan Genta sedang manja dengan Senja. Sementara Beyza seperti biasa bersama Darren.
Ponsel Senja pun berdering dengan nomor tidak dikenal tampil di layar ponselnya. Dengan sigap, Darren menerima panggilan itu.
"Halo, suami Senja di sini," sapanya, sesaat setelah menempelkan ponsel di daun telinganya.
Tak lama kemudian, wajah Darren seketika memerah dan sorot matanya benar-benar menahan kesal dan juga amarah.
__ADS_1
"Ask ...." teriaknya dengan tidak sabar.