
"Maaf, Pak Darren. Saya rasa anak saya juga tidak butuh dikasihani," sahut Rasyid, dia merasa harus membalas omongan pedas calon besannya.
"Jika memang benar tidak butuh, maka dia harus membuktikan dengan sikapnya. Sebelum mereka benar-benar resmi menikah, Zain masih milik kami seutuhnya. Zain masih harus menghargai keluarganya. Jika opa oma Zain tidak boleh datang, tidak akan ada restu pernikahan dari kami," tegas Darren.
Senja dan Lena hanya diam. Dalam hati mereka mengakui apa yang diucapkan Darren memang benar. Meskipun kedengarannya sangat kejam, tapi nyatanya Airin memang egois kalau semua harus sesuai kehendaknya.
"Sekarang Daddy tanya, kenapa kamu menginginkan pernikahan terjadi di saat kamu tidak dalam kondisi terbaik untuk melakukannya? ingin mempunyai kenangan indah? untuk kamu? untuk Zain? atau untuk kalian berdua?" cecar Darren, lagi dan lagi. Padahal Senja sudah mencubit perutnya beberapa kali.
Zain mengusap bahu Airin, merasa serba salah. Bagaimana pun Daddy-nya memang berhak bertanya. Tapi kadang takut Airin tersinggung atau kembali down.
"Maaf, Pak, bukankah kita sudah sepakat untuk ikut saja apa keputusan anak-anak kita. Jadi kita tidak perlu lagi memperdebatkan apapun." Rasyid juga lama-lama tidak tahan, melihat anaknya seperti disudutkan.
"Anak-anak boleh mengaku dewasa. Boleh mengambil keputusan sendiri. Tapi pernikahan tidak hanya melibatkan Zain dan Airin. Keduanya akan berhadapan dengan anggota keluarga lain dalam berbagai kesempatan. Atau memang Airin menginginkan Zain 24 jam hanya untuk dirinya?" Darren semakin ketus.
Lagi-lagi Senja mencubit perut suaminya, tapi Darren pun tidak peduli. Meskipun sedikit pelas, dia hanya menghitung dalam hati. Nanti istrinya itu akan merasakan balasannya.
"Biar Airin jawab. Tidak mengapa. Ayah, Bunda, Daddy dan Mama termasuk Aa, berhak tahu kenapa Airin ingin melangsungkan pernikahan disaat kondisi Airin masih sangat sakit," sahut Airin. Dia ingin meredam ketegangan yang ada.
"Silahkan, itu lebih baik," ucap Darren.
"Mungkin Airin memang egois. Airin hanya ingin merasakan menjadi istri, meski mungkin hanya sesaat. Airin mau merasakan kehidupan pernikahan dan menjadi perempuan yang sempurna. Jika nanti saatnya tiba, setidaknya Aa juga akan mengingat pernah mempunyai istri seorang Airin. Biar Airin kelak dipertemukan lagi dengan Aa, di hari pertanggungjawaban." Airin mengatakan dengan sangat jujur.
"Mumpung kamu berbicara masalah menjadi perempuan sempurna. Sebelum kamu membayangkan sebuah pernikahan. Daddy hanya ingin mengingatkan, Kodrat perempuan hanyalah menstru4si, hamil, melahirkan dan menyusui. Selain itu lelaki dan perempuan sama-sama bisa melakukan. Jadi jika ingin menjadi perempuan sempurna, pastikan kamu juga bisa memenuhi kodrat sebagai perempuan." Darren langsung menjawab pernyataan Airin.
Rasyid semakin tidak sabar, meskipun sadar diri tidak dalam kondisi benar, tapi dia seharusnya, Darren lebih mempunyai empati pada anaknya. Bukan malah memojokkan seperti sekarang.
__ADS_1
"Maaf pak Rasyid, Zain juga pernah mengalami sakit yang sama dengan Airin. Seperti apa perasaan kalian, kami sangat paham. Mungkin bedanya adalah, kami selalu mengajarkan Zain untuk tumbuh normal seperti anak yang lain. Kami tidak meminta orang-oramg disekeliling Zain untuk memperlakukan Zain secara istimewa." Darren menjeda bicaranya sejenak, merasakan cubitan yang kini mendarat lama dan tidak lepas-lepas dari perutnya.
Rasyid seorang yang biasa menilai pikiran orang, kini malah merasa dirinya sedang dibaca mentah-mentah oleh calon besannya itu.
"Mari kita perlakukan Airin seperti orang normal pada umumnya. Maka masalah ini cukup selesai di sini. Pernikahan berjalan, tapi pikirkan kedatangan oma -oma dan opa-opa Zain. Pikirkan juga perasaan Zain. Maaf, jika ini-Yq terkesan kejam. Jika Airin merasa umurnya tidak panjang, justru Airin lah yang seharusnya banyak meninggalkan kenangan indah." Darren meneruskan ucapannya. Meski cubitan Senja masih bertahan diperutnya.
"Bagus, Ask ... lebih lama dan lebih sering, setiap detik ada balasannya," bisik Darren tepat di telinga istrinya.
Senja seketika langsung melepaskan cubitannya. Entah bagaimana bisa, Darren memikirkan hal serius dan konyol bersamaan.
Zain, kembali mengelus pundak Airin. Bagi Zain, sudah biasa mendengar ucapan Daddy-nya yang sepedas merica.
"Aa, pulang dulu, Ya. Nanti kita bicarakan masalah tadi." bisik Zain.
"Yap," sahut Darren.
"Terimakasih, sudah mengingatkan banyak hal pada Airin hari ini. Akan kami atur lagi acara pernikahan kami, Daddy benar, Airin memang sedang sakit. Tapi tidak perlu diistimewakan. Terimakasih, Dadd," ucap Airin dengan tulus.
Darren hanya mengacungkan jempolnya sembari menaikkan kedua alis.
Setelah kecanggungan agak mereda dan perasaan deg-deg'an Senja juga Lena sudah hilang. Mereka pun kembali ke obrolan biasa. Sekedar basa basi, karena tak lama kemudian Senja, Darren dan Zain memutuskan untuk pulang.
*******
Dassen memasuki arena tinju, dia langsung berjalan sembari mengedarkan pandang ke setiap sudut mencari keberadaan dua sahabat karibnya.
__ADS_1
"Woi ... bro!" teriak Michel dari sudut kanan.
Dasen tanpa menjawab langsung berjalan mendekati temannya itu.
"Lama amat, anak mama satu ini. Minta nina bobo dulu? atau minta diempengin? kelihatannya saja keren! tapi apa-apa, sebentar nanya mama dulu, nanti ya, mama belum jawab," ledek Rama.
"Sorry, nunggu mama berangkat dulu. Ingat doa mama itu yang utama. Aku pastikan, kita pasti menang." Dasen meletakkan tasnya di bangku panjang, lalu duduk di sebelah Michel persis.
Mereka bertiga, bersamaan melihat jam tangan dipergelangan tangan masing-masing, masih kurang tiga puluh menit lagi. Rupanya mereka memang terlalu bersemangat kali ini.
"Kita pemanasan dulu, biar nanti makin mantap. Pastikan kita menang, karena kali ini taruhannya bukan soal uang," tegas Dasen.
"Siap ... Adam mah, kecil!" seru Rama sembari memperlihatkan ujung kukunya tipis-tipis.
"Reynald mah, biasanya imbang sama aku. Tapi kali ini aku pastikan bisa menang. Aku sudah suruh informan, untuk melihat saat mereka berlatih. Jadi secara garis besar. Kelemahan mereka adalah begini ...." Michel memberi isyarat agar kedua sahabatnya itu mendekat.
Michel membisikkan sesuatu pada keduanya. Dasen dan Rama mengangguk-angukkan kepala tanda mengerti.
"Bagus! keren juga informanmu itu," puji Dasen sambil memanggut-manggutkan kepalanya.
"Kalau masalah seperti ini, hubungi Michel. Calon pengacara kondang seantero jagat. Pengacara harus tahu lawan dari segala arah." Michel mengangkat dagunya dengan angkuh.
Dasen dan Rama kompak mencebikkan bibir mereka. Bagi anak-anak lain, Michel memang angkuh. Tapi bagi Dasen dan Rama tidak sama sekali. Michel hanya kurang perhatian dari orangtuanya, berbeda dengan Dasen dan Rama yang sama-sama berlebihan kasih sayang meski mereka anak orang yang sangat berada.
"Apa kalian sudah siap untuk kalah? Aku sengaja menyiapkan ambulance di depan. Kali saja ada salah satu dari kalian yang tidak bisa langsung pulang ke rumah," ucap seseorang. Dengan sombongnya menghentikan pembicaraan Dasen, Michel dan Rama.
__ADS_1