
Suasana pagi ini serasa berbeda. Senja mulai kembali menularkan energi positifnya seperti hari sebelumnya. Dia begitu bersemangat menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak-anaknya. Pembicaraan semalam, semakin menyadarkan Senja, kehadirannya sangatlah penting. Dengan dirinya yang bersemangat dan optomis sembuh, anak-anak dan Darren tentu akan bahagia.
Begitu banyak masalah yang harus mereka hadapi belakangan ini. Tidak satu pun masalah itu yang diselesaikan sendiri-sendiri. Satu sama lain selalu saling membantu dan mendukung. Jadi tidak seharusnya, Senja bersikap dingin dan menghindar seperti kemarin-kemarin.
Akan tetapi, dengan perubahan sikap yang ditunjukkan, bukan berarti Senja menyetujui saran Zain semalam. Perempuan itu masih meminta waktu untuk berpikir. Senja tidak mau mengambil keputusan yang salah, apalagi atas desakan orang lain.
"Pagi, Ma." Dasen datang pertama kali ke ruang makan. Mengetahui mamanya sibuk, titisan Darren itu tidak langsung duduk seperti biasa. Dia ikut membantu Senja membawa makanan yang masih panas ke atas meja makan.
"Terimakasih, Das. Kamu rajin sekali. Ada meeting pagi?" Tanya Senja sembari melepas celemek masak yang dipakainya.
"Mama sangat cantik ." Dasen kembali memuji Senja. Tidak bosan dia memandangi wajah mamanya yang memang semakin cantik dengan hijabnya.
Senja tersenyum lebar, tangannya terulur mengacak rambut Dasen yang sudah duduk di tempatnya. "Upgrade kemampuan merayamu, Das. Perempuan sekarang, tidak gampang terpesona hanya dengan mendengar kata-kata rayuan lawas seperti itu."
"Jadi, perempuan sekarang senangnya yang bagaimana?" Darren langsung memeluk Senja dari belakang dan mengecup pipi kanan sang istri hingga menimbulkan bunyi yang berhasil membuat Dasen menarik ujung bibirnya karena kesal.
"Perempuan suka laki-laki yang tidak banyak merayu. Perempuan sangat tertarik dengan pria seperti ini. Dia langsung bertindak dan memberikan bukti nyata bagaimana dia akan menjamin masa depannya." Senja memutar badannya hingga posisinya berhadapan dengan Darren. Tangan kanannya membelai wajah sang suami begitu mesra.
"Jangan buru-buru, Ask. Jangan sampai ucapanmu di salah artikan sama itu anak. Sebelum meminta sejauh itu, tekankan kalau hubungan itu tidak boleh main-main dan sebisa mungkin dihalalkan segera. Kalau hanya sekedar pacaran biasa, harusnya seperti ini saja sudah cukup." Darren memundurkan kakinya dua langkah sembari melirik Dasen.
Senja terkekeh. "Mana ada kamu begitu."
Zain dan Sekar yang baru saja datang merasa heran sekaligus senang melihat sekilas keceriaan pagi ini.
"Yang selalu datang belakangan," sindir Dasen pada Sekar dan Zain.
__ADS_1
"Yang belum nikah mana paham kenapa sepasang suami istri sering terlambat makan pagi," sahut Sekar dengan cepat.
Darren dan Senja kompak tersenyum. Pagi ini terasa begitu menyenangkan. Namun, mereka merasa masih ada yang kurang. Beyza dan Baby De, keduanya belum turun juga. Padahal waktu makan pagi seharusnya sudah bisa dimulai.
Senja memanggil Wati, meminta tolong pada perempuan yang menjadi pengasuh Dasen itu untuk memanggil Beyza dan Baby De. Sembari menunggu dua gadis tersebut, Senja dan Darren menempati kursinya masing-masing.
"Jadi, setelah Bey dan Genta. Apa kamu juga ingin melamar Denok?" Senja memberikan pertanyaan yang membuat Dasen terbelalak kaget. Sama sekali tidak menyangka kalau mamanya akan mengatakan hal tersebut.
"Jawab, Das. Jangan sampai mamamu berubah pikiran." Darren menepuk pundak anak yang sifat dan sikapnya tidak jauh berbeda dengan dirinya.
"Kalau mama sudah memutuskan, jelas tidak akan mudah pikiran itu berubah. Kalau sampai hal itu terjadi, tentu karena mama sedang galau karena jatuh cinta lagi."
Darren yang sedang meminum teh hijaunya, seketika menyemburkan sebagian yang belum tertelan ke tenggorokan tepat di wajah Dasen. Bukan sengaja, tapi dia memang selalu bereaksi berlebihan jika mendengar kata-kata seperti yang diucapkan oleh Dasen.
Dasen dengan kesal menyambar tisu yang ada di atas meja, lalu mengelap mukanya dengan gerakan kasar. "Daddy tidak sopan."
"Maaf, Das. Daddy sengaja."
Dasen berdiri, mendekati wastafel dan mencuci mukanya di sana. Sungguh Darren membuat dirinya harus kembali ke atas dan memakai kembali cream muka yang membuat mukanya selalu sehat, segar dan mempesona.
"Jangan merengut seperti itu, lihat mamamu. Tanya sama Ma Nja, bisa awet muda sampai sekarang karena apa." Darren berusaha berbaikan dengan Dasen yang sedang memanyunkan bibirnya dua senti.
"Memang karena apa, Dadd?" Mendengar kata awet muda membuat Sekar juga tertarik.
"Husssttttt." Zain meletakkan jari manisnya di bibir, memberi isyarat agar tidak ikut masuk ke dalam perangkap Darren.
__ADS_1
"Khasiat air liur walet masih kalah dengan air liur daddy. Dasen beruntung mendapatkan semburan yang sudah bercampur dengan liur itu. Yang paling beruntung dan merasakan dasyatnya tentu saja Ma Nja." Senja seketika mencubit perut Darren dengan gemas.
"Dihhhh...." Zain berdecih tak kalah kesal.
"Daddy ih, mana ada begitu," protes sekar.
Dasen semakin memanyunkan bibirnya. Darren Mahendra, semakin anak-anak dewasa, becandanya pun semakin luas dan terarah pada hal yang berbau 'dewasa.' Mungkin berbeda dengan orang tua lain yang merasa pamali dengan hal-hal seperti itu.Tidak bagi Darren, Senja dan anak-anak yang memang terbuka membicarakan apa saja.
"Ada, Kar. Kamu pasti akan awet muda.Selain itu, minta Zain menghamilimu lebih cepat. Berusahalah lebih dengan perasaan, jangan banyak gaya dulu. Cari satu posisi yang membuat kecebong premium Zain bertahan di dalam. Jangan menjarak kehamilan terlalu lama. Banyak anak, semakin membuatmu awet muda. Cobalah."
Senja kembali mencubit suaminya. "Sesat."
"Kali ini, omongan Daddy benar, dan boleh kamu dengar," ucap Zain sembari menaik turunkan kedua alis tebalnya dengan nakal.
"Dengan senang hati. Kita harus buktikan, keakuratan tembakan si tole," seru Sekar dengan antusias. Dia sepertinya terlalu bersemangat, sampai-sampai nama kesayangan pun disebutkan dengan lantang.
"Si Tole?" Dasen bertanya dengan ekspresi heran.
Zain menyiku lengan Sekar. Seketika istrinya itu sadar akan kesalahan ucapannya. Perempuan itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya meringis tidak jelas.
"Si Tole itu pasti temannya Si Naga. Nanti kalau kamu sudah punya istri, cari nama sendiri." Darren menyelamatkan Sekar dan Zain dari pertanyaan titisannya.
Senja melongokkan kepala ke arah tangga dan ke pintu lift. Sudah lumayan lama, hampir sepuluh menit berlalu, Beyza dan Baby De belum juga menunjukkan batang hidungnya. Begitu juga dengan Wati. Asisten rumah tangga senior itu juga belum kembali.
Suami Darren itu beranjak berdiri, dia berniat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Wati sudah terlihat menuruni tangga dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Bu Senja, itu bu, nganu ...." Wati menampakkan kepanikan sekaligus ragu.
"Ada apa, Wat?" Darren dan Senja kompak bertanya.