Hot Family

Hot Family
Kecewa


__ADS_3

Senja mencoba tenang dan meredam perasaan yang berkecamuk di dadanya. Berkali-kali dia mengucapkan istighfar. Matanya sudah sembab karena banyak mengeluarkan air mata.


Derya adalah anaknya yang paling penurut, tidak pernah membuat Senja marah karena bantahan atau tindakannya. Dari bayi selalu tenang, dan tidak merepotkan.


"Mama salah apa, Der. Kenapa kamu tega sama, Mama," lirih Senja sembari kembali memukul dadanya sendiri.


Kini Senja enggan beranjak, kekecewaan yang dia rasakan bukan main-main. Dia tidak sanggup bertemu Derya untuk saat ini. Andai anaknya itu dalam kondisi sehat. Dia pasti tidak akan menahan diri seperti ini.


Senja sebenarnya tidak ingin menahan sesak di dadanya berlama-lama. Meski dia tidak yakin, apakah sesak itu bisa hilang hanya dengan berbicara dengan Derya.


Bukannya ke rumah sakit, Senja memilih berbaring di atas ranjang. Berat dan nyeri di kepala yang dari kemarin memang sudah ada tapi tidak dirasa, semakin tidak tertahankan.


"Ya Allah, ampuni aku dan anakku. Sebagai Ibu, aku sudah gagal menjadikan Derya laki-laki yang bisa menahan diri dari dosa zina. Ampuni aku, berilah waktu dan kesempatan pada kami untuk menebus dosa kami dan memperbaiki diri." Senja memejamkan matanya. Dia kembali mengucapkan kata istighfar. Hingga hanya hitam pekat dan satu titik sinar cahaya yang bisa dia lihat. Setelah itu, dia tidak merasakan dan ingat apapun lagi.


Di rumah sakit, dua orang terlihat gelisah menunggu kedatangan Senja. Siapa lagi kalau bukan Darren dan Derya. Keduanya cemas dalam pikiran masing-masing.


Darren yang khawatir Senja benar-benar bertemu dengan pria Turki, dan Derya yang cemas akan pertemuan Inez dan mamanya.


"Dadd, kenapa daddy tidak mencoba menghubungi mama?" tanya Derya.


"Kalian ini, baru juga sebentar. Lagian bisa saja mamamu mampir ke supermarket dulu untuk belanja. Bapak sama anak kenapa sama saja. Kalau sudah urusan manja sama Senja, gak ada lawan. Kamu juga begitu Dar, sudah setiap hari bertemu, masih saja bingung. Mending kalau lama. Dua jam saja belum ada," dengus Bae.


Derya dan Darren sama-sama terdiam. Suami Senja itu ingin menghubungi istrinya, tapi dia takut malah nanti mendapatkan omelan yang serupa dengan omelan Bae. Nyatanya, lama bagi dirinya, tidak sama dengan lama bagi orang lain.


Derya semakin gelisah, sungguh dia tidak siap jika harus melihat mamanya kecewa saat ini juga. Mengatasi rasa bersalahnya sendiri saja tidak mampu, apalagi jika nanti ada reaksi atau akibat lain. Dia meraup wajahnya. Entah kenapa, kini hatinya semakin tidak tenang.


"Eunji dan Hyeon apa kabar, Appa?" Darren akhirnya mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar adik kembar Senja yang juga sudah berumah tangga.

__ADS_1


"Mereka sedang berlibur bersama. Naik kapal pesiar keliling Amerika. Sebenarnya Appa dan Eomma diajak. Tapi Eomma-mu tidak mau," jawab Arham.


"Bukannya tidak mau, tapi percuma kita ikut. Bukannya menikmati, malah kita yang disuruh menjaga anak-anak." Bae menyahut dengan ketus. Cucunya dari si kembar memang masih ada yang usia sekolah dasar. Dan masih butuh diawasi.


"Senja dan Darren juga ingin berlibur. Tapi nanti, setelah pernikahan Zain dan Sekar." Darren mengambil sebotol air mineral dan meneguknya habis.


"Kapan? Jadi di hotel mana acaranya? Eomma dan Appa bisa bantu apa? Mau designer buat merancang baju pernikahan mereka?" tanya Bae, bertubi-tubi.


Darren menarik napas dalam, sadar kalau dia memulai pembicaraan yang salah. Seharusnya, dia tidak memulai pembicaraan ini ketika tidak ada Senja. Takut salah menjelaskan.


"Biar Senja saja yang menjelaskan, Eomma," putus Darren. Memilih jawaban yang aman.


Derya melihat jam dinding di ruangan rawat inapnya. Hanya untuk mengambil baju, tentu tidak akan selama ini. Kini, dia hanya bisa berharap kekhawatirannya tidak terjadi.


Di Jakarta, tepatnya di gedung Mahendra Corp, Dasen dan Mike sedang berada di ruangan yang sama. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Dasen dengan lincah menggerakkan tangan untuk membubuhkan tanda tangan di atas dokumen-dokumen yang sudah dipilih dan diteliti oleh Mike.


"Delia UK? Di mana? Apa kabar dia?" Mike bertanya dengan antusias.


"Dia sepertinya tidak baik-baik saja. Delia masih cantik, tapi terlihat lebih dewasa. Dia sudah mempunyai seorang anak, Mike. Tapi saat aku ke rumahnya bersama Denok, tidak ada suaminya di sana." Dasen mrletakkan bolpoin dan meregangkan tangannya.


"Benarkah? Kamu bertemu di mana?" Mike menampilkan wajah heran.


Dasen mengangguk dengan mantap. "Kami tidak sengaja bertemu di pasar malam. Dia meminta bantuan Denok untuk mencari pekerjaan. Ternyata dia tidak menyelesaikan kuliahnya. Mungkin dia ada masalah sejak tiba-tiba menghilang ya, Mike? Sayangnya, dia tidak pernah bercerita banyak tentang kesedihannya."


"Ya, kamu benar. Kita hanya tahu dia broken home, selebihnya dia terlihat ceria. Kita tolonglah, Das. Delia teman lama kita."

__ADS_1


"Aku tidak enak, kalau aku menawarkan pekerjaan, nanti Denok berprasangka buruk bagaimana? Awal menjalin hubungan dengan Denok, aku malah menawari ditempat mamaku, bagaimana kalau dia protes, kenapa Delia malah di sini?" Dasen seperti sedang berpikir.


"Profesional, Das. Kalau di sini, Denok memang tidak cocok. Lagipula, untuk masalah perusahaan kamu tidak perlu meminta ijin atau pendapat dengan Denok. Ingat! Pemilik saham terbesar di sini masih mamamu, orang yang paling menentang hubunganmu dengan Denok."


"Tapi aku harus menjaga perasaannya," kilah Dasen.


"Kenapa harus dijaga. Delia hanya temanmu. Kamu dan Denok masih berpacaran saja, kalian belum suami istri, jangan berlebihan. Mamamu bisa memandang Denok lebih buruk kalau caramu seperti itu."


"Memangnya kenapa?"


"Mamamu akan berpikir kamu budak cinta. Yang harus kamu lakukan adalah membuat Denok menjadi perempuan yang berbeda dengan pandangan buruk mamamu. Kalau soal perekruan pegawai saja kamu harus meminta ijin Denok. Apa kata dunia?"


Dasen memanggut-manggutkan kepalanya. "Tapi, Delia meminta tolongnya pada Denok. Bukan padaku."


"Nanti kita temui dia. Aku yakin, Delia punya kemampuan yang bagus meski dia tidak sampai mendapatkan gelar sarjana. Keberadaan Delia, akan membuat tim marketing kita semakin solid. Nanti malam kita ke rumahnya." Mike sangat bersemangat.


"Nanti aku ajak Denok."


Jawaban Dasen membuat Mike langsung bedecak heran, sembari berdiri dia berkata, "Begitu sering nama Denok disebut. Rupanya, Dasen Kyun Mahendra sedang mengalami demam cinta akut. Sungguh berbahaya."


Dasen melempar bolpoinnya tepat mengenai bahu Mike.


Sampai tiga jam berlalu, Senja belum juga kembali ke rumah sakit. Darren dan Derya jelas saja semakin kalut. Bae dan Arham pun merasakan hal yang sama. Karena merasa ada yang tidak beres, Bae menyuruh drivernya untuk melihat Senja di room apartemen Derya.


Setelah beberapa saat menunggu. Driver kepercayaan Bae itu kembali menghubunginya. Ibu tiri Senja itu terlihat serius dan khawatir. Dia memutus sambungan telepon sepihak, lalu mencoba menghubungi ponsel Senja.


"Dar, kamu cek ke apartemen. Driver sudah berkali-kali membunyikan bel. Tapi tidak ada yang menyahut. Eomma menghubungi Senja, juga hanya terhubung."

__ADS_1


Wajah Derya seketika menjadi sendu dan menunduk lesu. "Maafkan Derya, Ma," lirihnya.


Darren pun tanpa menjawab langsung mengambil langkah lebar meningalkan ruangan.


__ADS_2