Hot Family

Hot Family
Derya bertemu Mecca


__ADS_3

"Tidak, Ma. Senja hobi makan akhir-akhir ini. Terus malas olahraga. Senja tidak pernah aerobik atau yoga sekarang. Jadilah melar begini," sanggah Senja, berusaha setenang mungkin.


Darren mengangguk mengiyakan. Jika Senja menjawab tidak jujur seperti itu, pasti ada alasan kuat yang melatar belakangi keputusan sang istri. Mungkin, Senja hanya tidak ingin papa dan mamanya ikut merasakan kekhawatiran.


"Papa sendiri bagaimana? Kenapa malas berolahraga?" Darren bertanya untuk mengalihkan perhatian.


Mahendra tersenyum sembari menepuk pundak putra tunggalnya. "Papa sakit, Darr. Papa sudah menjadwalkan pemasangan ring di jantung papa. Tapi nanti, setelah acara Bey. Mama dan Papa tidak mau ketinggalan momen sekali seumur hidup anak-anak kalian. Jadwalnya masih tengah bulan depan. Di negara S saja, karena ada Derya yang akan mengurus semua."


Darren dan Senja saling menatap sendu. Keputusan mereka untuk menyembunyikan sakit yang diderita Senja, memang adalah keputusan yang tepat. Jangan sampai beban pikiran kedua orang tuanya malah fokus pada sang istri. Mahendra dan Sarita sangat menyayangi Senja. Hubungan mereka sudah tidak terbatas pada mertua dan menantu saja.


Senja menarik napas dalam. Pernikahan Bey seolah menjadi tolak ukur satuan waktu. Setiap pengobatan dijadwalkan setelah pernikahan Bey. Padahal pernikahan bukanlah sesuatu yang sederhana, awal menuju gerbang kehidupan yang sebenarnya. Di mana setiap pasangan pastinya menginginkan pesta pernikahan yang ideal versi mereka.


Dalam hati, Senja merasa tidak adil pada Beyza dan Genta. Semua persiapan terkesan buru-buru. Maju mundur seperti berpacu dengan waktu demi menyelamatkan satu nyawa. Awalnya Senja ingin menunda dua sampai empat minggu ke depan agar persiapan yang dilakukan sempurna. Kini, setelah mengetahui Hutama mengalami masalah kesehatan di bagian jantung, tidak mungkin dia mengulur waktu lebih lama lagi.


Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda, Derya sedang mengikuti meeting bersama salah satu perusahaan ternama dari Indonesia. Bukan materi meeting yang membuat membuatnya fokus, namun kehadiran sosok gadis yang sepertinya berusia tidak jauh di atasnya. Sungguh menarik perhatian. Gadis berhijab, bola mata kecoklatan, hidung mancung, dan dagu berbelah yang khas. Di tambah lagi, saat gadis itu menarik garis senyum, lesung pipi begitu kentara terlihat.


Derya mendadak ingin tebar pesona. Berkali-kali dia membuka kamera depan ponselnya. Hanya sekedar ingin melihat penampilannya sendiri. Berkali-kali pula dia merasa sempurna. Bahkan, di ruangan di mana Derya berada saat ini, jelas dialah yang termuda, terkeren dan tertampan.


Gadis itu terlihat menyimak setiap pembicara. Hanya saja, matanya tidak pernah menatap siapa pun yang ada di sana. Saat tadi diperkenalkan sebagai putri sekaligus asisten pribadi dari CEO sekaligus owner, dia hanya menjabat tangan beberapa peserta meeting dengan sekilas. Termasuk juga Derya.

__ADS_1


Seperti janji yang sudah disepakati. Seusai meeting, mereka melanjutkan dengan makan siang bersama. Pengusaha bernama Farhan itu tanpa sepengetahuan Derya, juga sering mencuri pandang pada saudara kembar Beyza tersebut. Sedikit diperlakukan istimewa, Farhan dan Si Gadis memilih duduk satu meja dengan Derya di banding bersama yang lain.


"Kamu tahu, Der. Bapak dulu sangat mengagumi Bapakmu," ucap Farhan. Dengan ramah memulai pembicaraan di luar bisnis.


"Daddy?" Derya memastikan jika 'Bapak' yang dimaksud Farhan adalah daddy-nya.


"Iya, Darren Mahendra. Kamu manggilnya daddy to?" Tanya Farhan.


"Iya, Pak. Manggilnya daddy." Derya menjawab seraya melirik Gadis bernama Mecca yang duduk tepat di seberangnya.


Farhan senyum-senyum menyaksikan polah Derya. "Kamu nggak tanya, Der? Kenapa Bapak sangat mengagumi daddymu?"


Derya seketika membalas tatapan hangat Farhan dengan tatapan yang tidak kalah hangatnya. "Jika Bapak berkenan untuk cerita, tentu dengan senang hati saya akan mendengarkan."


"Bi, sebaiknya Abi makan dulu. Nanti ceritanya bisa disambung lagi," Mecca mengingatkan Farhan dengan suara yang sangat lembut. Saking lembutnya, suara itu bagaikan belaian yang bisa menidurkan Derya.


Farhan pun menuruti apa yang dikatakan Mecca. Ketiganya makan tanpa suara. Bahkan dentingan garpu dan sendok yang beradu dengan piring pun tidak terdengar. Hanya suara candaan dari meja lain yang mengisi hening di antara Farhan, Mecca dan Derya.


Tidak sampai sepuluh menit, makanan di piring mereka pun habis tidak bersisa. Menyisakan satu hidangan penutup yang tinggal sepotong.

__ADS_1


"Tidak boleh membuang makanan. Di luar masih banyak yang kelaparan. Kalau tidak bisa menghabiskan, harusnya pesan sesuai kemampuan perut kita, bukan kemampuan dompet," Mecca tanpa sadar mengomeli Farhan. Karena gadis itu tahu, yang memesan makanan tersebut adalah abi-nya.


Derya semakin kagum akan sosok Mecca. Gadis itu sungguh berbeda dengan kebanyakan gadis yang dikenalnya. Sebagian besar gadis lain akan mengatur pola makannya untuk menjaga badan, namun Mecca berbeda. Bisa dibilang, porsi makan gadis tersebut malah melebihi Derya.


"Mecca ke toilet dulu, Bi," pamit Mecca.


Setelah gadis itu menghilang dari pandangan Farhan dan Derya. Keduanya langsung kompak mengalihkan pandang ke sosok satu sama lain.


"Bapak lanjutkan yang tadi. Intinya, Bapak dulu teman dugem daddy-mu. Jaman jahiliyah lah, kami memang tidak terlalu dekat, tapi sering lah beradu gaya di lantai disco. Rebutan cewek juga pernah. Tapi tentu saja Bapak kalah, mana ada ceeek yang nggak milih Darren Mahendra." Farhan menyudahi ceritanya. Dia lalu meneguk segelas air putih hingga tandas.


"Lalu letak kekagumannya di mana, Pak?" Derya masih dilanda rasa penasaran.


"Karena setelah mengenal mamamu, Pak Darren bisa benar-benar menjadi lelaki setia. Berbeda dengan Bapak, kesetiaan harus berbagi dengan lima perempuan. Sampai sekarang, Bapak masih harus menerapkan keadilan sosial bagi ke lima istri Bapak. Kalau tidak, bisa-bisa kesejahteraan Si Tongkat Ayunan akan terganggu."


Derya mengernyitkan keningnya, tidak berani menerka apa yang dimaksud oleh Farhan. Sebenarnya mengerti, namun takut salah. Lebih tepatnya, tidak enak menanggapi.


"Mecca itu anak pertama dari istri pertama Bapak. Dari lima istri, Bapak mempunyai dua puluh empat anak." Farhan terkekeh saat mengatakannya.


Mendadak tenggorokan Derya terasa kering dan gatal. Deheman pun keluar tidak bisa ditahan.

__ADS_1


"Santai, Der ... santai. Wajar kalau terkejut. Prinsip Bapak, daripada selingkuh, mending terang-terangan. Tapi sebagai Bapak yang normal, Bapak berharap Mecca dan adik-adiknya mendapatkan laki-laki setia seperti kamu. Keturunan Darren Mahendra, pasti tidak mampu mendua."


Derya menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Memberanikan diri menatap pria di depannya dengan seksama. Penampilan dan sikap memang tidak bisa digunakan sebagai acuan kesetiaan atau pun sifat asli dari seseorang. Farhan yang terlihat seperti pria bersahaja dan baik-baik, nyatanya malah beristri lima.


__ADS_2