Hot Family

Hot Family
Ingin menghalalkan Beyza


__ADS_3

Satu langkah mendekati pintu utama, semua orang dibuat terpana dengan atraksi dua orang yang berada tepat di depan gerbang rumah kediaman Darren. Kedua orang itu masing-masing berlari berlawanan arah. Kedua tangan memegangi bahan banner selebar 120 senti. Hingga keduanya berhenti di masing-masing titik. Menutupi bagian tengah lebih dari lima food truck dengan sempurna.


Beyza melangkah pelan untuk bergerak maju, kedua telapak tangan menutup mulutnya yang menganga. Gadis itu masih belum percaya dengan penglihatannya saat ini. Bola mata Beyza mulai bergerak lincah mencari sosok yang ingin segera dia cubit-cubit saat sudah menemukannya nanti.


Darren dan senja saling melempar pandang, keduanya kompak mengedikkan bahu, senyuman tersungging di bibir Senja. Berbeda dengan Darren yang selalu agak kurang suka dengan pilihan Beyza.


"Anak sekarang, selalu mempunyai cara untuk menjadi berbeda di segala hal, tapi kali ini, sangat berlebihan," bisik Darren.


"Tidak juga, ini keren. Jadi kepengen muda lagi, siapa tau ada yang lebih manis dari ini kejutannya." Senja mengusap-usap lengan Darren, tatapan mata kekaguman tetap pada apa yang terlihat di depannya.


Darren menundukkan wajahnya, bibirnya di arahkan tepat di belakang daun telinga Senja. "Semanis apa pun, akhirnya tetap di ranjang. Sudahlah, aku yang terbaik untuk urusan itu," bisiknya, berhasil membuat Senja mencubit keras lengannya.


Tidak jauh berbeda dengan Senja, Sekar pun juga seperti sedang terpesona. "Boleh nggak kita ulangi lagi moment kita? Benar-benar membuat meleleh," gumamnya, lirih namun tetap tertangkap telinga kelelawar Zain.


"Boleh!" Jawab Zain singkat.


"Benarkah?" Bola mata Sekar membulat sempurna.


"Mengulang Tole, 'kan? Boleh banget!" Jawaban Zain membuat Sekar memanyunkan bibir dan terdiam.


Sama halnya dengan Sekar dan Senja, tatapan Denok malah seperti perempuan yang sedang sangat jatuh cinta. Tangannya terus mereemas-remas lengan Dasen tanpa sadar. "Soo sweet... Damage-nya gak kaleng-kaleng."


"Apaan sih?" Dasen bertanya dengan kesal.


"Aku nanti maunya begini juga, ya. Tapi diperempatan kampungnya bapak. Biar mak-mak lambe gibah, mulutnya pada rapet. Kalau perlu jangan cuma mobil makanan begini, toko perhiasan, toko pakaian, supermarket dan pusat perbelanjaan sekalian di jejer. Dari ujung masuk sampai perbatasan kampung.


"Astaga, Nok! Kenapa nggak sekalian saja minta dibikinkan 1000 candi macam Roro Jonggrang," dengus Dasen.

__ADS_1


"Becanda, Mas. Kalau diseriusin juga Alhamdulillah. Punya calon kaya, sesekali dimanfaatkan tidak masalah. Denger sombongnya sudah sering, tinggal buktinya yang belum."


Dasen tidak bisa berkata-kata lagi. Di antara semua orang yang berada di sana, mungkin hanya dialah satu-satunya yang menganggap hal ini biasa saja.


Derya dan Baby De yang tidak berpasangan dan sedang berdiri bersebelahan juga saling berbisik, tidak mau kalah dengan yang lain.


"Der, sudah nebak sih sebelumnya,"


"Benarkah? Dia memang semanis ini?" Baby De menoleh dan menatap Derya tidak percaya.


"Ya ... bahkan bisa lebih manis lagi. Dia memang terbaik untuk Bey yang manja dan selalu ingin diperhatikan."


Baby De mengangguk-anggukkan kepalanya. Menanti apa yang terjadi selanjutnya.


Semuanya kini fokus membaca tulisan yang ada di banner yang panjangnya hampir 20 meter itu. Tentu tulisan tidak akan bisa dibaca sepenuhnya kalau mereka hanya berdiam diri di depan gerbang. Karena itu, perlaham mereka mengikuti langkah kaki Beyza yang terlihat benar-benar bahagia. Isi pesan di banner begitu lengkap. Tertuju untuk seluruh keluarga Darren Mahendra, satu per satu di setial bagian.


Tentu saja Beyza yang paling cepat memberi reaksi. Dia bahkan segera berlari untuk mendekati sosok itu. Langsung mencubit dan memukul manja lengan kekar laki-laki yang sudah dicintainya sejak masih di bangku sekolah lanjutan pertama.


"Deketan sama Mama dan Daddy-mu dulu, Mbak. Biar aku bicara sebentar," pinta Genta.


Beyza pun kembali berbalik badan menghampiri Senja dan Darren. Gadis itu menengahi daddy dan mama-nya.


"Bisa nggak di dalam saja, pegel euy, berdiri terus," Dasen sedikit berteriak saat mengatakannya, membuat Denok menepuk lengan sang kekasih dengan keras.


"Tidak! Di sini saja, lebih seru." Senja menjawab dengan cepat.


Bisa apa yang lain selain diam dan menuruti. Ratu di hati dan di kediaman Darren Mahendra sudah memberi jawaban pasti.

__ADS_1


Genta menoleh ke sisi kanan, menunggu seseorang yang lain muncul dari sana. Dari kejauhan, nampak Rangga keluar dari mobil Range Rover yang tipenya sama persis dengan milik Senja.


Pria itu sangat rapi, tampan dan segar. Kemeja slim fit yang membungkus tubuh Rangga, membuatnya selalu terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Tangannya menenteng clutch berwarna coklat tua.


Mata Baby De semakin berbinar-binar, sedikit salah tingkah membuatnya memilin-milin ujung atasan yang dikenakan sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Ask, kayaknya di dalam saja deh. Kamu nanti capek." Darren berbisik pada Senja dengan hati-hati. Keberadaan Rangga membuat Darren tidak enak juga kalau harus berbicara di tengah jalan.


Setelah Senja menganggukkan kepalanya tanda setuju, semua orang pun di ajak masuk. Beyza memerintahkan beberapa food truck masuk ke dalam halaman rumah, sedangkan yang lain, di suruhnya menyebar ke jalanan untuk memberikan porsi gratis pada siapa saja yang mau.


Kini semuanya sudah berada di ruangan keluarga, sengaja berkumpul di sana terlebih dahulu, supaya semua bisa duduk dalam sofa set yang sama.


"Tadi Genta mau bicara apa?" Senja seperti mewakili ketidaksabaran Beyza yang sedari tadi terus menggunakan jemarinya untuk dimainkan.


Genta menoleh sebentar pada Rangga, pria itu mengangguk sembari tersenyum dengan begitu mempesona. Lagi-lagi berhasil membuat Baby De enggan mengalihkan tatapan matanya dari sosok itu.


"Begini, om. Dibagian pertama banner tadi, saya tuliskan sesuatu yang saya tujukan untuk Om Darren. Sekarang ijinkan saya menyampaikan secara langsung." Genta membalas tatapan tegas Darren pada dirinya.


"Silahkan!" Jawab Darren, sangat singkat.


"Om, ijinkan saya, Genta Mas Manggala, selalu mencintai Beyza dan membawa cinta itu ke dalam hubungan yang halal. Mungkin cinta Genta tidak akan bisa menandingi cinta Om yang luar biasa. Menjaga, mengasihi dan melindungi Bey hingga sebesar ini, tentu akan membuat khhawatir jika Om harus melepaskan, apalagi mengalihkan tanggung jawab pada pria lain. Genta tidak menjanjikan apa pun, yang Genta tahu, seorang laki-laki harus menjadi Imam dan bertanggung jawab penuh pada makmum-nya."


Darren mendadap berkaca-kaca. Melepas Zain untuk menikah saja sudah berat, apalagi kini harus melepas Beyza.


Kesedihan itu menular pada Senja. Perempuan itu kini terus mengelus punggung tangan Beyza yang ada di genggamannya. Matanya juga berkaca-kaca. Jemari tangan itu, kini sama besar dengan jemarinya.


"Waktu begitu cepat berlalu, tidak ada yang akan benar-benar tinggal. Anak pun hanya titipan. Keabadian hanya milik kenangan." Senja bergumam dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2