Hot Family

Hot Family
Kemarahan Darren


__ADS_3

Darren melangkah kaki dengan lebar menapaki anak tangga, dia bahkan tidak menjejaki tangga itu satu per satu. Kali ini, Senja sudah melebihi batas. Bukan kesabaran yang habis, tetapi, apa yang dikatakan Senja sudah tidak bisa diterima nalar dan menyakiti hatinya.


Darren membuka pintu kamar yang baru saja ditutup oleh Senja. Tidak ada lagi kelembutan dan rasa ingin mengalah pada pria itu. Senja buru-buru ingin naik ke ranjang. Namun Darren berhasil menahan lengan sang istri dan mencengkramnya sedikit kuat.


"Sakit, Ask," rintih Senja.


"Sakit mana sama hatiku? Kenapa setiap hamil kamu selalu egois, dan membuat aku seperti suami yang tidak ada artinya? Kalau kamu sedang mengandung, memangnya aku harus bertanggung jawab seperti apa? Aturan macam apa yang membuat kamu bisa berpikir untuk kita pisah rumah?" Darren melepaskan tangannya dari lengan Senja. Matanya memerah karena menahan marah.


"Saat ini, Aku tidak suka sama kamu .Tidak ada alasan lain, hanya itu." Senja masih saja ketus.


"Kamu benci aku? Karena kamu hamil? Sekali lagi aku tanya, Saat kita melakukannya, Apa kamu merasa terpaksa?" Tegas Darren.


Senja terdiam, kalau sudah begini, seperti biasa, Dia tidak berani membalas tatapan tajam sang suami. Darren menarik napas dalam. Kalau tidak keterlaluan seperti tadi, pasti dia masih bisa menerima. Meskipun sengsara, dia pasti akan tetap menjalani dengan sabar.


"Apa maumu, Ask? Salah apa aku ini sampai setiap kali kamu hamil, harus terus memusuhiku. Tapi dari kehamilanmu sebelumnya, ini yang paling parah dan paling tidak masuk akal. Kenapa kamu senang sekali langsung meninggalkan rumah kalau sedang tidak enak hati sama aku? Kenapa kamu berubah? Mana Senja yang dulu? Yang tenang, bijaksana, dan bersahaja setiap menghadapi masalah."


Senja menjatuhkan bokongnya di atas ranjang. Matanya kini berkaca-kaca, bulir bening berdesakan ingin membasahi pipi.


"Kenapa diam sekarang? Nangis? Aku tidak akan luluh cuma dengan air matamu. Aku butuh jawabanmu. Kenapa kamu berani melewati batasanmu? Secinta-cinta nya aku sama kamu, aku tidak akan menuruti kemauan gilamu," Tegas Darren, ikut menghempaskan bokongnya di samping Senja.


Senja menggeser bokong untuk memperlebar jarak antara dirinya dengan sang suami. Darren hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kenapa saat hamil, kamu tidak bisa bersikap layaknya perempuan lain, Ask? Aku lebih suka kamu menyuruhku membelikan hal-hal aneh, daripada harus seperti ini. Lebih dari 20 tahun kita bersama, kenapa justru aku merasa kalau kamu semakin tidak menghargaiku. Selama ini aku mengalah dan sabar. Karena aku memang mencintaimu, aku bisa apa sih tanpa kamu? Tapi tidak begini juga kamu memperlakukanku." Suara Darren bergetar saat mengatakannya.


Senja terus terdiam sembari meeremas jemarinya sendiri. Menelaah setiap hal yang diucapkan suaminya. Pikirannya pun mundur ke belakang, kembali teringat saat diawal kehamilan Dasen, Beyza dan Derya dulu.


"Aku merasa ada banyak hal yang harus kita luruskan sekarang, Ask. Kita berumah tangga bukan setahun dua tahun. Kamu selalu hebat di mataku. Caramu memperlakukanku, kesetiaanmu menemani jatuh bangunnya aku, dan sikapmu yang selalu bisa membuat aku nyaman. Aku tidak pernah menuntutmu sesempurna itu. Tapi aku mohon, kendalikan dirimu sekarang. Bukan kehamilan yang seharusnya membuatmu malu, tapi caramu menerima kehamilan itu sungguh kekanak-kanakan." Darren berdiri, sengaja ingin meninggalkan Senja sendirian agar bisa berpikir.


Tidak jauh berbeda dengan kondisi Darren dan Senja yang sedang tidak kondusif. Pembicaraan Genta dan Beyza pun tidak sehangat biasa.


"Mbak, sungguh ponselku ketinggalan. Aku tidak tertarik sedikit pun dengan Delia. Aku hanya membantu Ayah." Genta entah untuk yang ke berapa kali mengatakan hal itu pada Beyza.


"Terus aku harus bagaimana? Ya sudah terjadi, kan? Kang Genta juga sudah menjelaskan. Ya sudah, selesai."


"Aku harus bagaimana lagi agar Mbak lega? Apa Mbak tidak suka kalau Delia bekerja di kantorku?" Pertanyaan Genta kali ini sekedar menebak, tetapi malah tepat pada sasaran.


Beyza membalas tatapan Genta. "Menurutmu?"


"Oke, jika Delia tidak bekerja di tempatku. Apa dia bisa bekerja di tempatmu? Aku hanya menjalankan apa mau ayah. Karena suami Delia meninggal, dan anaknya menderita sakit yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ayah bisa memberikan uang padanya secara cuma-cuma. Tapi atas dasar apa? Kalau seseorang mampu bekerja, kita pun tidak boleh memberikan bantuan begitu saja."


Beyza mulai mengerti, wajahnya sudah agak melembut. "Dia bisa apa?"


"Sepertinya dia cocok di marketing, Mbak."

__ADS_1


"Kebetulan sekali. Delia biar kerja di tempatku saja. Aku tidak mau lama kelamaan di antara kalian malah ada perasaan lebih. Kalau pun kamu tidak, belum tentu dengan dia. Kebaikan lelaki, melemahkan perempuan yang menerimanya. Awalnya tidak cinta, tapi karena terbiasa, cinta itu tumbuh dan berubah menjadi rasa ingin memiliki."


"Dipikiran dan hatiku sudah penuh dengan Mbak Bey, jangankan memberi sedikit perhatian, senyuman saja seadanya kalau sama perempuan lain. Bukan takut di sayang sama mereka, tapi lebih sayang sama senyumku yang mempesona ini. Senyuman ini hanya untuk mbak Bey seorang. Biarkan yang lain menilai, kalau Genta itu manusia kalem tapi jarang senyum."


Ucapan Genta sukses membuat Beyza tersipu malu dan pipinya bersemu merah. Melihat ekspresi sang kekasih, Genta memberanikan diri duduk di samping Beyza. Pria itu meraih tangan perempuan itu, lalu mengecup tangan itu dengan lembut.


"Kapan aku bisa datang kemari bersama ayah? Kan tadi mama ngomong kita harus segera menikah?"


"Besok aku kabari, ya. Sepertinya daddy dan mama sedang tidak sepaham. Apalagi...." Beyza masih belum ingin menceritakan kehamilan mamanya pada Genta.


"Apalagi apa?" Tanya Genta, penasaran.


"Bukan apa-apa. Lihat besok, ya? Memang Kang Genta tetap ingin menikah di atas kapal pesiar?" Beyza menegaskan kembali, sebenarnya dia yang lebih memimpikan hal itu ketimbang Genta. Namun kehamilan Senja dengan kondisi yang dijelaskan oleh dokter, membuat Beyza khawatir.


"Sudah, ayah bisa menghubungi temannya. Urusan yang lain, serahkan saja padaku. Pasti semua beres. Aku tahu keluargamu punya segalanya, tapi biarkan pernikahan kita, aku yang urus semuanya. Kamu tinggal mengatakan dan menunjuk apa keinginanmu," tegas Genta dengan tatapan lembut yang membuat siapapun yang melihat bisa jatuh cinta.


"Sudah ngomongin nikah aja, inget syarat dari daddy. Vassektomi-nya sudah siap belum?" Sahut Dasen yang tiba-tiba muncul dengan wajah sumringah.


Belum sampai Genta dan Beyza menimpali, mereka kembali kedatangan dua anggota keluarga yang lain. Siapa lagi kalau bukan Sekar dan Zain.


"Nikah saja, Bey. Lumayan, kakak dapet villa." Zain langsung ikut nimbrung.

__ADS_1


__ADS_2