Hot Family

Hot Family
Kedatangan Beyza


__ADS_3

Senja merenggangkan pelukannya pada Derya. "Apa maumu sekarang, Der?" tanyanya dengan suara dingin.


Derya mengusap air mata Senja dengan telapak tangannya. "Der akan melakukan apapun yang Mama inginkan. Karena Der pernah mencoba sekali menentang Mama, dan hasilnya seperti sekarang," lirihnya.


"Jangan hubungi Inez dulu, biarkan dia fokus meyakinkan orang tuanya. Tujuh hari dari sekarang, kita akan datang ke rumah Inez. Jika mereka menolak menerimamu, pahit atau pun sakit, kamu harus menyudahi hubunganmu dengan Inez."


Derya tercekat. Mendengar saja serasa berat, apalagi menjalani. Dia tidak pernah menjalin hubungan dan mencintai perempuan sebelumnya. Bagaimana pun, Inez adalah yang pertama baginya. Tapi rasa bersalahnya pada sang mama, membuatnya rela menyetujui apa pun yang menjadi keputusan Senja.


"Pilihan ada ditanganmu, Der. Mama tidak punya kuasa sepenuhnya dalam hidupmu. Kamu tidak dalam pengawasan mama 24 jam. Mama hanya bisa melarang dan memberi tahu jalan yang benar. Tetap kamulah yang memilih, menentukan dan menjalani jalan mana yang akan kamu lalui."


Senja menurunkan kedua tangannya dari lengan Derya. Lalu dia membalikkan badan membelakangi anaknya itu. Sedikit lega, beban di pundaknya memang tidak sepenuhnya berkurang. Tapi berdamai dengan keadaan, jauh membuat semuanya terasa ringan.


Derya tiba-tiba memeluk mamanya itu dari belakang. "Maafkan Derya, Ma. Der tidak akan bosan mengucapkannya."


Senja melepaskan tangan Derya dari tubuhnya dengan lembut. "Ribuan kata maaf yang diucapkan tanpa diikuti sebuah tindakan nyata, akan sia-sia."


Derya tahu, sikap mamanya, masih jauh dari kata biasa. Tapi dia memang pantas menerimanya.


"Mama mau istirahat, Der. Tolong kamu keluar," pinta Senja.


Derya menganggukkan kepala sembari tersenyum. "Terimakasih, Ma."


Senja hanya membalas dengan senyuman tipis dan langsung naik ke atas ranjang. Menarik selimut, lalu menutupkannya ke badan hingga sebatas leher.


Darren yang sedari tadi menunggu di ruang tengah, langsung berdiri begitu melihat Derya keluar dari kamarnya. "Bagaimana, Der?"


"Tidak terlalu buruk, Dadd" Derya menghempaskan bokongnya ke atas sofa.


Darren pun menarik napas lega. Dia tersenyum bangga. Dalam hati, pria itu bersyukur mempunyai istri yang luar biasa seperti Senja. Sosoknya lembut, bersahaja tapi tegas dan juga selalu berhasil menggodanya.

__ADS_1


Baru saja, Darren akan melangkahkan kaki ke kamar, suara yang sangat familiar di telinganya memenuhi ruangan tamu hingga ruangan tengah.


"Daddy!" Pekik Beyza dengan wajah begitu sumringah.


"Kesayangan, Daddy. Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau pulang?" Darren langsung memeluk dan mengecup putri satu-satunya itu bertubi-tubi.


"Ada yang darurat." Beyza melirik Derya dengan sinis. Saudara kembarnya itu langsung memalingkan wajah.


"Mama sudah tahu kamu pulang lebih cepat?" tanya Darren.


"Tentu saja tidak. Kejutan!" Beyza mengamit lengan daddy-nya, mengajak pria itu ke tempat di mana Senja berada. Mengabaikan Derya begitu saja, tanpa memberikan senyum atau sapa seperti biasanya.


Senja tidak menoleh, meskipun mendengar suara pintu dibuka. Dia mengira kalau yang masuk pastilah sang suami. Senja malah pura-pura tidur karena tidak ingin terlena dengan godaan Darren. Seburuk apapun suasana hati, bagi Darren, bercinta adalah obat. Memberi kenikmatan sekaligus ketenangan secara bersamaan.


"Ask, jangan pura-pura tidur. Lihat siapa yang datang!" Darren membungkukkan badan dan mendekatkan bibirnya di daun telinga Senja. Dia hapal betul tidur istrinya yang sungguhan itu bagaimana.


Senja perlahan membuka bola matanya. "Bey!" Perempuan itu menyibak selimut dan langsung turun dari ranjang, mengabaikan Darren yang menggerutu karena sibakan selimut. Senja terlalu bersemangat, sehingga tidak sadar kalau sudah membuat wajah Darren terkena hempasan selimutnya.


"Dari mana kamu tahu masalah Derya, Bey?" Senja mengajak Beyza duduk di atas ranjang.


"Inez menghubungi Bey, Ma. Kebetuan di saat bersamaan, Derya juga menghubungi Genta."


Senja membelai rambut putrinya itu sembari menatapnya penuh cinta. "Kamu jaga diri ya, Bey. Jangan melakukan kesalahan yang sama. Mama cuma bisa mengingatkan berkali-kali seperti ini. Pada akhirnya, kamu yang memutuskan dan yang menjalani."


Darren ikut duduk di samping Senja. Dia mengusap-usap punggung istrinya itu naik turun.


"Kenapa Daddy duduk di situ? Harusnya di sini." Beyza menepuk sisi kosong ranjang di sampingnya. Pria itu langsung menuruti kemauan putrinya itu.


"Beyza akan menjaga kehormatan Bey dengan sebaik-baiknya sampai saatnya tiba. Tapi satu hal yang harus Daddy dan Mama ketahui. Bey dan Genta, memutuskan akan menikah secepatnya."

__ADS_1


Tenggorokan Darren seketika mengering dan gatal, dia terbatuk-batuk. "Bey, Kak Das saja belum, kenapa kamu terburu-buru sekali," tanya Darren setelah batuknya mereda.


"Kita tidak tahu setan kapan datangnya, Dadd. Siapa yang mengira, Derya yang penurut dan pendiam bisa melakukan hal bodoh seperti itu. Tidak menutup kemuningkinan, Bey akan mengalami hal yang sama. Kami secara sadar bisa menolak dan menghindari. Jika sudah terlena, siapa yang berani menjamin," tegas Beyza.


"Mama setuju dengan Bey, kalau sudah cocok, buat apa berlama-lama. Tapi ingat, Bey! Cinta dalam pernikahan itu penting, tapi sebuah pernikahan,tidak cukup hanya dibangun dengan cinta. Kamu harus pastikan Genta bisa membimbingmu, bertanggung jawab lahir dan batin," Senja langsung menyahut.


"Sebenarnya, Daddy masih berat. Daddy tidak yakin, Genta bisa lebih baik dari Daddy." Darren memanyunkan bibirnya.


"Kalau lebih baik, Mama yakin. Genta pasti bisa. Kalau lebih posesif, sepertinya tidak," timpal Senja, membuat bibir Darren semakin manyun.


"Baiklah, Bey mau bicara dulu sama Derya. Nanti malam, Bey mau tidur bareng Daddy dan Mama." Beyza langsung beranjak berdiri dan meninggalkan kamar.


"Dia sudah dewasa, Ask. Katanya mau menikah secepatnya, tapi masih mau tidur bersama kita," dengus Darren.


Senja hanya mengedikkan kedua bahunya. Lalu meninggalkan suaminya begitu saja di sana. Dia ingin ke dapur untuk mempersiapkan makan siang.


Derya masih berada di ruang tengah sembari bekerja dengan laptopnya. Ponselnya menyala berkali-kali, baik itu notif pesan maupun telepon masuk. Rupanya Inez masih belum lelah menghubunginya. Tapi tekad Derya untuk menuruti permintaaan Senja sungguh kuat. Kekecewaan yang dia berikan, memang harus dibayar mahal.


"Der." Beyza menepuk pundak saudara kembarnya itu.


"Hmmmm...." jawabnya Derya tanpa menoleh.


"Bagaimana rasanya melakukan nikmat terlarang, Der?" Pertanyaan Beyza yang sinis membuat Derya menoleh tajam.


"Biasa saja, Der. Aku cuma minta satu hal sama kamu. Jangan berhubungan dengan Inez dulu. Aku merasa ada yang aneh sama dia. Kenapa dia mendadak menjadi agresif sekali. Kamu tahu? Saat dia memberitahuku tentang kalian, dia seperti tidak tahu malu," cerocos Beyza.


Derya mengernyitkan keningnya. Padahal sebelumnya, dia mengira kalau saudara kembarnya itu pasti tahu semuanya dari Genta. Ternyata dugaannya salah. Inez sendirilah yang bercerita pada Beyza.


"Der, aku tidak meminta ijin padamu. Karena jelas Inez belum menjadi istrimu. Mulai hari ini, aku akan mengawasi Inez dan mencari tahu tentang keluarganya."

__ADS_1


Derya pun semakin heran dengan pernyataan Beyza.


__ADS_2