
Seorang perempuan berusia 30 tahunan. Berpenampilan sangat menarik dan juga berparas cantik. Bisa dikatakan perpaduan eropa dan indonesia yang sangat sempurna. Hidung mancung, bola mata biru, rambut blonde curly, kulit yang tidak terlalu putih tapi sangat bersinar, tinggi badannya yang semampai ditambah lagi dada dan bokongnya begitu padat.
"Maaf, Pak Darren-nya ada?" Suara lembut perempuan itu membuyarkan tatapan semua orang padanya. Jelas bukan tatapan kekaguman, lebih pada pandangan menyelidik karena semua tidak tahu siapa dia yang datang bertamu sepagi ini.
"Ada keperluan apa? Dan maaf, anda siapa?" Selidik Beyza dengan tatapan yang datar.
"Perkenalkan saya Lorenz, saya marketing di tempat fitnes Extra Large, kemarin Pak Darren menghubungi kami untuk dibuatkan kartu keanggotan VVIP. Jadi kami ingin memberikan kartu sekaligus akan menerangkan beberapa hal pada beliau." Perempuan itu menyebut nama sebuah tempat fitnes yang terkenal exclusive dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke tempat tersebut.
Dasen, Zain, Sekar, Beyza, dan Baby De kompak saling pandang serambi mengernyitkan keningnya. Sebuah keanehan bagi mereka jika sampai apa yang dikatakan perempuan itu benar. Tempat fitnes itu memang exclusive, tetapi di sana bukanlah tempat fitnes yang dikhususkan untuk lelaki atau perempuan saja. Keduanya bisa saja berbaur dan bertemu di sesi tertentu.
"Wah, bahaya ini, yang puber bukan hanya mama. Daddy sedang menantang masalah rupanya," bisik Dasen.
"Lihat saja kalau daddy berani macam-macam," ketus Beyza.
"Sudahlah! Kita lihat saja nanti, kita berangkat saja." Zain mengajak Sekar berangkat lebih dulu. Di susul kemudian Dasen dan Baby De
Beyza lalu berteriak dengan sopan memanggil Wati, untuk menerima tamu yang sepertinya berpeluang bisa menambah masalah baru di antara mama dan daddy-nya itu.
***
Dasen memperhatikan Baby De yang mendadak tidak seceria biasanya. Sepanjang perjalanan, kakak sepersusuan dan serahimnya itu hanya diam. Wajahnya mendadak murung. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan menebarkan aura positif.
"Kak De, kenapa"
__ADS_1
Suara Dasen berhasil membuat lamunan Baby De buyar. Gadis itu tersenyum tipis, lalu berkata, "Papi sama mami benar-benar akan bercerai, Das. Aku tahu itu yang terbaik, karena aku melihat bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka selama ini. Bersama tidak membuat hati mereka bahagia dan menyatu, hidup sendiri-sendiri mungkin memang jauh lebih baik. Kadang,
kita harus menerima hal yang tidak kita sukai untuk tetap terjadi. Sekedar untuk mengingatkan kita, bahwa tidak ada kehidupan yang sempurna." Tatapan mata De menerawang jauh tidak pada satu titik.
Dasen tersenyum tipis, lalu mengusap lengan De dengan lembut. "Allah menggunakan segala cara untuk mendatangkan kebaikan. Baik itu melalui perkara yang menyenangkan atau menyakitkan sekali pun. Kita cukup berbaik sangka. Kita lakukan yang menjadi bagian kita, selebihnya, biar kuasa Allah yang bekerja."
De menoleh dan menatap Dasen dengan hangat, senyuman mengembang dari bibirnya yang merah alami. Sedikit tidak menyangka, kata-kata menenangkan keluar dari seorang Dasen Kyun Mahendra yang biasanya selalu bicara seenaknya.
"Thanks, Das. Ucapanmu sangat berarti." De langsung memeluk Dasen dengan erat.
"Itulah gunanya keluarga, Kak. Mama Nja selalu mengatakan, kita boleh berteman dengan siapa pun di luaran. Kita boleh bergaul dan memiliki sahabat sebanyak mungkin. Namun, saudara kita adalah sejatinya sahabat." Dasen mengusap punggung De naik turun.
"Perceraian itu hanya antara mereka. Papi dan mami pasti akan tetap melakukan yang terbaik bagi kami. Jangan terlalu keras pada mama, Das. Sikap kalian, bisa membuat mama semakin menekan daddy. Aku tidak mau melihat daddy dan mama berjauhan seperti sekarang sampai berlarut-larut. Awalnya, mami dan papi juga begitu, aku trauma."
Baby De seketika memelototkan matanya pada Dasen. Ide yang cukup gila. Namun ketika terlintas wajah Rangga yang mempesona di pikirannya, membuat De langsung setuju dengan Dasen. "Dengan senang hati, Das."
Di kendaraan yang lain, Sekar dan Zain pun membahas topik yang masih berkaitan dengan Darren dan Senja.
"Kak, beneran daddy mau fitnes di tempat itu? Exclusive sih, tapi kan terkenal banyak cewek-cewek yang rela ngeluarin modal dulu demi dapet yang lebih. Exclusive nya bukan yang ke privasi, tapi lebih ke mahal sama 'sesuatu'? Sekar menggerakkan dua jarinya untuk mempertegas kata sesuatu yang memiliki makna tanda kutip.
Zain tidak langsung menjawab, dia mencerna sebentar kata-kata Sekar, dan menghubungkan dengan sifat dan sikap daddy-nya selama ini. "Ada banyak kemungkinan sih, tapi aku yakin ini hanya akal-akalan daddy."
"Akal-akalan bagaimana? Daftarnya nggak murah lho. Ya kali buat akal-akalan. Sayang sekali uangnya," dengus Sekar yang memang sangat perhitungan sekali.
__ADS_1
"Apalah artinya kehilangan sejumlah uang, dibanding mendapatkan sebuah perhatian, kecemburuan dan keposesifan yang sudah lama tidak dirasakan. Ada beberapa hal yang harus diperjuangkan, dengan cara licik sekali pun."
"Aduh, ngomong apa sih? nggak ngerti maksudnya." Sekar menggaruk-garuk rambut Zain karena bingung.
Zain yang sudah hapal kelakuan Sekar tidak lagi protes. Dulu dia merasa aneh, karena tiap kali mikir atau bingung, rambut atau bagian tubuhnya lah yang malah jadi sasaran. Padahal, pada umumnya tentu tidak seperti itu.
"Nanti juga tahu." Zain sengaja tidak menjawab, dia menunggu kebingungan dan rasa penasaran Sekar bertambah. Semakin perempuan itu berpikir, tangannya akan bergerak kemana-mana dengan liar.
***
Wati masih berusaha mengetuk pintu kamar Senja. Dia mengira Darren sedang ada di dalam sana. Karena sedang berendam, Senja tidak mendengar suara apapun dari luar. Sementara Darren yang menepi di lantai empat, tentu tidak tahu kalau sedang ada seseorang yang ingin menemuinya.
Sampai 15 menit berlalu dari kedatangan Lorenz, barulah pintu kamar Senja terbuka. Wajah segar dengan rambut yang masih basah, dan tentu saja berbalut daster bertali satu dengan panjang di atas dengkul menyambut Wati dengan tatapan heran. "Ada apa, Wat?"
"Itu, Bu. Ada tamu mencari Bapak. Katanya dari fitnes Extra Large," jawab Wati dengan hati-hati.
"Extra Large?" Senja mengernyitkan keningnya. "Memangnya bapak belum menemui?" Tambahnya.
Wati menggeleng kuat. "Saya kira bapak di dalam, Bu."
"Kamu cari saja di lantai empat. Pasti di sana." Senja lalu menutup kembali pintu kamarnya. Perasaan tidak enak seketika menyeruak. Extra Large, siapa yang tidak tahu tempat itu. Tempat fitnes yang dibandrol dengan harga selangit dan terkesan exclusive. Nyatanya, banyak yang mengatakan tidak sedikit pria yang menemukan perempuan parasit di sana. Perempuan yang hanya ingin menumpang hidup enak, dari laki-laki berkelimpahan uang yang mencari kesenangan.
"Apa maksudnya ini? Jangan bilang kalau kamu mendaftar ke sana, Ask? Kalau sampai itu terjadi. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan," gumam Senja sembari menyisir rambutnya.
__ADS_1