Hot Family

Hot Family
Jebakan untuk Inez 2


__ADS_3

Derya tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Dia sampai menautkan kedua alisnya yang tebal dan hitam agar bisa melihat lebih jelas. Dokter yang bernama Kalina itu masih menggerakkan alat yang ada di genggamannya dengan lincah.


Layar monitor itu hanya menampilkan semburat hitam putih seperti foto langit malam berkabut. Derya melirik Inez, perempuan itu terlihat sangat tidak nyaman. Matanya tertutup rapat, namun raut wajah Inez tidak bisa menutupi kalau dia sedang berpikir keras.


Dokter Kalina menyudahi pemeriksaannya, lalu menganggukkan kepalanya pada Derya. Perempuan itu melepas sarung tangan karet yang dia kenakan. Sementara perawat membersihkan sisa gel dingin di atas perut Inez, Derya terus menatap Inez sembari menyunggingkan satu sisi bibirnya ke atas, menegaskan aura sinis dan licik yang sedang dipancarakan bukanlah main-main.


"Jadi bagaimana, Dok? Calon anak saya sehat-sehat saja 'kan?" Tanya Derya, ekor matanya tidak lepas memperhatikan Inez yang sedang berusaha beringsut dari ranjang. Mantan kekasihnya itu masih berusaha mencari kesempatan untuk keluar dari kamar itu. Namun Derya yang sangat paham dengan pikiran Inez, langsung menggenggam pergelangan tangan perempuan itu dengan sangat erat. Bahkan Inez merasakan sedikit rasa nyeri dan panas dari sana.


Dokter Kalina melemparkan senyuman yang sulit untuk diartikan. Bukan untuk meledek Inez, tapi melihat sikap Derya, entah kenapa dia sangat menyukai laki-laki bisa jadi masih sepantaran dengan adik kesayangannya. "Sayang sekali, masih butuh usaha lagi untuk membuat anak yang sehat. Tidak ada kantong kehamilan di rahim Bu inez. Bisa saja sebenarnya Bu Inez sudah hamil. Namun karena masih terlalu kecil, jadi tidak bisa di deteksi dengan USG tiga dimensi. Kita bisa melakukan tes darah untuk memastikan."


Inez menggeleng kuat. "Tidak, aku sedang hamil, itu kenyataannya. Kalian pasti sudah bekerjasama untuk membuat aku terlihat seperti orang bodoh seperti ini." Wajah perempuan itu semakin terlihat ketakutan.


"Apa perlu tes darah, Pak?" Tanya Dokter pada Derya.


"Tidak, Dok. Saya rasa tidak perlu. Terimakasih atas tawaran dokter, tapi sepertinya kita tidak perlu melakukan tes apa pun lagi. Terimakasih atas bantuan dokter," Derya menyempatkan diri di tengah kesempitan untuk berjabatan tangan dengan dokter Kalina. Meskipun secara usia jelas lebih tua di atasnya, perempuan itu sangat menarik di pandang mata, suara renyah enak didengar, dan tatapan matanya sungguh menyejukkan.


Inez memperhatikan gelagat Derya yang tidak biasa saat menatap sang dokter. Cemburu seketika menyeruak di dada. "Aku yakin kalian sudah bekerjasama, aku mau kita periksa di dokterku,"tantang Inez. Perempuan itu masih saja tidak menyerah.

__ADS_1


"Baiklah, kamu yang meminta. Karena aku baik hati dan sangat mengkhawatirkan calon anak kita, maka sekarang juga, aku akan mendatangkan dokter kandunganmu." Derya memberikan isyarat dengan menepuk tangannya sebanyak tiga kali. Dari ruangan yang lebih dalam, setelah gorden putih tersibak, munculah seorang dokter pria yang berhasil membuat Inez terhenyak. Di tangan dokter itu memegangi map polos berwarna putih.


Itulah alasan mengapa Derya memilih ruang president suite untuk menjalankan rencananya. Ruangan yang lebih luas dan memiliki fasilitas yang lebih lengkap, mempermudah dia menyembunyika orang-orang yang akan dilibatkan. Di sana terdapat ruang tamu, dapur, ruang tengah, dan satu kamar lain yang masing-masing sebenarnya hanya disekat dengan partisi kayu. Namun karena hari ini adalah permintaan spesial, jadi sekat-sekat dibuat benar-benar tertutup dengan gorden tebal dan tidak tembus pandang.


"Ayo kita periksa lagi, Nez. Seperti maumu kan?" Derya semakin percaya diri. Sorotan matanya, sanggup membuat Inez berkeringat panas dingin.


"Kalian sudah bersengkongkol, ini tidak adil!" Protes Inez, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia benar-benar sedang dilanda kebingungan.


Dokter Kalina dan dokter yang biasanya bekerjasama dengan Inez saling menyapa. Sementara dua perawat hanya terdiam, bersabar menunggu drama selanjutnya.


"Silahkan, Nez. Mau periksa lagi kan?" Derya dengan santai mendorong pelan punggung Inez yang berdiri di dekatnya.


Semua berdiri di tempat masing-masing di sekitaran ranjang dan monitor USG dengan pandangan yang tertuju pada Inez. Perempuan itu masih berusaha merayu Dokter Alvin di depan mata semua orang. Namun sayang, sang dokter sudah tidak bisa membantunya lagi. Nama baik dan ijin prakteknya lebih berharga ketimbang uang dari Angelica yang tidak seberapa.


Derya menyingkir dari kerumunan itu, sejenak melepaskan Inez agar puas merayu Dokter Alvin. Dia sedang berusaha untuk menghubungi Zain. Tetapi sampai dua kali panggilan, tidak ada tanda-tanda, kakak pertamanya itu menerima panggilan teleponnya.


Di kamar yang tidak jauh dari kamar di mana Derya berada, Zain buru-buru memakai bajunya kembali setelah mandi. Mendengar ponselnya bergetar dan mengeluarkan nada dering, Zain bergegas menyelesaikan mandi bersamanya dengan Sekar. Untung saja telepon itu berdering lebih cepat, mundur lima menit lagi, pasti akan terabaikan karena Sekar pasti akan kembali bergerilya memancing reaksi arogan dari si tole.

__ADS_1


Setelah membaca pesan dari Derya, Zain segera menghubungi seseorang. Tidak sampai satu menit, dia pun kembali meletakkan ponsel ke kantong celana. Melihat Sekar juga sudah rapi, Zain segera mengajak istrinya itu melihat secara langsung pertunjukan puncak dari rencana Derya dan Inez.


Sementara itu, di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Denok menunggui Beyza yang sedang mencoba beberapa dres di sebuah butik yang berada di dalam pusat perbelanjaan ternama di Ibu kota. Pusat perbelanjaan yang di dalamnya berisi store dari berbagai brand ternama. Denok menunggu dengan sabar di bangku panjang di samping ruangan di mana Beyza berada.


Tidak lama kemudian, putri kesayangan Darren Mahendra itu pun keluar. "Sudah, Nok. Yuk, kita ke kasir!"


"Baik, Bu." Denok mengucapkannya dengan sopan.


Sembari melangkahkan kakinya, Beyza berkata, "Nok, kalai di luar kantor, apalagi bukan urusan pekerjaan. Jangan memanggilku 'Ibu', aku berasa tua. Panggil 'Bey' saja. Jangan protes, aku tidak suka dibantah." Belum juga Denok mengucapkan sepatah kata pun, tapi Beyza sudah bisa menebak apa yang ada dipikiranmya.


Selesai membayar, Beyza memberikan satu paper bag pada Denok, sedangkan dia sendiri membawa dua dengan ukuran yang sama.


"Biar saya bawakan semua, Bey." Denok berusaha mengambil paper bag dari tangan Beyza.


"Eh, jangan. Kamu bawa punyamu sendiri. Aku bukan perempuan jompo, Nok. Aku masih kuat menenteng barangku sendiri. Jangan pernah tempatkan dirimu sebagai tukang angkut. Tugasmu sudah jelas ada di job desk yang kamu baca kemarin. Menenteng tasku, tidak ada di dalam sana." Beyza melangkahkan kaki diikuti Denok menuju tenant es putar dari negara S yang menjadi favoritnya.


Sembari menunggu antrian, bola mata Denok bergerak ke sana ke mari, meskipun terlahir di ibu kota, namun baru kali ini, dia menjejakkan kaki di mall tersebut. Denok membulatkan mata lebih lebar begitu dia menangkap bayangan sosok yang dikenalnya. Tanpa sadar, Denok menarik-narik atasan Beyza di bagian lengan layaknya anak kecil yang sedang merengek. Tidak hanya ditarik, tapi kain itu juga dipeluntir-peluntir hingga kusut.

__ADS_1


"Nok, kamu kenapa sih?" Beyza menyingkirkan tangan Denok karena risih.


"Bey ...." Denok menghentakkan kakinya dengan bibir manyun lima senti. Gadis itu mendadak lupa, kalau Beyza adalah atasannya.


__ADS_2