
Angelica dan inez langsung berlutut di bawah kaki Darren. Kedua orang itu berniat menyentuh kaki pria tersebut. Namun dengan cekatan, Darren memundurkan kakinya ke belakang.
"Maafkan kami, Darr. Tolong cabut tuntutan kalian pada kami. Sudah cukup sanksi sosial yang kami terima. Cukup mereka mengatakan kami pembohong. Kami bukan kalian, sumber penghasilan kami cuman satu. Jika semua relasi perlahan memutus hubungan kerja sama dengan kami, tidak ada lagi pemasukan yang akan kami terima. Ini bukan hanya tentang kami, bagaimana dengan pegawai kami dan keluarganya." Angelica mencoba menarik simpati dari Darren.
Senja menarik senyuman sinis, lalu menularkannya pada Zain dan Dasen. Kedua anaknya itu malah menambahi dengan tatapan yang membuat siapa pun jadi salah tingkah.
"Dulu saat kalian menyebarkan berita jahat tentang kami, apa kalian juga memikirkan bagaimana sikap klien kami mendengar fitnahan kalian? Tidak bukan? Lalu buat apa kami harus peduli dengan nasib kalian?" Darren berkata dengan cukup jelas.
"Makanya kalau masih bisa menjadi kura-kura, jangan sok-sok'an berlagak menjadi kelinci. Ibarat di dalam sebuah perlombaan lari, Ingin menang, tapi dengan berharap si kelinci ketiduran, kakinya pincang, atau yang buruk lainnya. Pemenang sejati, memenangkan pertandingan karena bisa mengalahkan lawan yang hebat. Bukan menang dari kekurangan lawan," sahut Dasen tidak kalah tegas dengan Darren.
Senja menahan diri untuk tidak mengucapkan apa pun. Rasanya cukup Darren dan Dasen yang menghadapi dua perempuan ular yang masih bersimpuh berdiri menggunakan lutut dengan tatapan memelas. Tuntutan perdata berupa ganti rugi senilai puluhan milyar sekaligus tuntutan pidana dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun, nyatanya sudah cukup membuat Angelica dan Inez kelabakan.
"Kalian pulanglah! Kami sudah mengatakan beberapa kali, kalau kami tidak pernah mau bernegoisasi lagi. Kasus ini sudah sampai di pengadilan. Petik buah yang sudah kalian tanam. Jika ada sedikit kemurahan hati, itu terserah Derya dan mamanya."
Darren menyerahkan urusan pada Senja. Dalam hal ini, yang ingin diserang oleh Angelica adalah Senja dan juga Derya. Jadi, Darren akan menuruti saja apa kata istrinya nanti.
"Bagaimana, Ask?" Tanya Darren.
Senja menggeleng dengan tegas, tatapan dan raut wajahnya masih menegaskan kesinisan yang kentara. Tidak ada keramahan atau pun iba sama sekali. Seperti biasanya, Senja tidak pernah merasa dirinya malaikat. Yang bersedia memaafkan orang yang mengusik ketenangan keluarganya hanya dengan sekedar kata maaf. Senja tidak sebaik itu.
"Hukum harus tetap berjalan, jika kalian tidak mempunyai uang untuk membayar tuntutan perdata kami, kalian bisa membayar dengan cara lain. Mudah saja, itu bisa diatur setelah putusan. Tapi hukum biarlah berjalan. Kita selesaikan masalah kita sampai disini. Jika masih ada dendam, itu artinya jiwa kalian yang sakit." Senja mengajak semua kembali masuk dan segera menutup rapat pintu utama rumahnya.
"Abaikan mereka. Kita tidak sedang berhadapan dengan orang yang benar-benar susah. Biarkan orang menilai kita kejam, dan tidak pemaaf. Tapi harus ada yang berani dinilai seperti itu. Agar di belakang hari, tidak ada lagi orang yang memanfaatkan keadaan." Senja menatap satu per satu dari mulai Darren, Zain, Sekar, hingga Dasen.
__ADS_1
"Kasihan Derya. Setelah mengalami masalah dengan Inez, pasti dia ada trauma. Tidak akan mudah memulai hubungan kembali," lirih Sekar.
"Sudahlah! Pasti suatu saat Tuhan akan memberikan jodoh terbaik untuk Derya," sahut Zain.
"Jodoh pasti bertemu di penghulu. Kalau cuman ketemu di nganu biasanya cuman napsu. Fix begitu. Jadi kalau mau nganu-nganu, wajib ketemu di penghulu dulu," timpal Dasen.
Ucapan itu mengundang timpukan dari berbagai arah. Senja sampai mengelus dada beberapa kali. Dasen jarang sekali memakai rem jika sedang berbicara. Gen Darren benar-benar dominan pada diri Dasen.
Mereka pun kembali ke meja makan, di sana juga baru datang De dan Beyza yang kompak memakai masker. Keduanya tidak seramai biasa. Tidak banyak berbicara. Ketika, masker Bey dan De dibuka. Dasen seketika menyembut dengan senyuman yang cenderung membuat yang melihatnya merasa sedang dihina.
"Ciey calon pengantinnya kayak badut. Masih mau nggak si gentong kalau lihat 'Mbak-nya' begini?" ledek Dasen.
Beyza melempar tisu yang sudah diremaas menjadi gumpalan kecil ke arah dada Dasen. Kekesalan jelas terlihat di sana. "Dadd, Kak Das rese."
Setelah makan pagi usai, semua bersiap berangkat ke tujuan masing-masing. Beyza dan Baby De bersikukuh untuk periksa ke dokter kulit sendiri.
Baru saja semua mobil yang membawa anak-anak Darren Mahendra meninggalkan gerbang utama, tidak lama kemudian mobil Lexus hitam memasuki halaman rumah. Mobil tersebut berhenti tepat di depan halaman pintu utama.
Senja dan Darren langsung mendekati mobil tersebut. Keduanya sudah tahu persis siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Mahendra dan Sarita. Baru semalam kedua orang tua Darren itu datang dari jalan-jalan di luar negeri. Rupanya mereka tidak sabar ingin bertemu dengan anak, menantu, dan cucu-cucunya.
"Kok Papa gemukan? Perut papa buncit sekali." Senja menatap papa mertuanya dengan heran. Biasanya, Mahendra tidak sebuncit itu perutnya. Wajahnya juga bulat dan tembam, terlebih lagi di daerah sekitar mata.
Mahendra hanya tersenyum tipis, begitu pun dengan Sarita. Keduanya seperti sedang menutupi sesuatu. Sampai di ruang keluarga, Senja yang duduk tepat di samping Sarita kembali menanyakan pada mama mertuanya itu.
__ADS_1
"Ma, Papa sehat-sehat saja kan?" Kali ini terselip kekhawatiran di suara Senja.
Darren mengelus perut buncit papanya. "Papa malas olahraga ya?"
Mahendra menggeleng sembari menjawab, "Papa sedang malas berolahraga."
"Olahraga bareng mama, libur juga?" Tanya Darren dengan konyolnya.
"Ask ...." Senja mengingatkan Darren dengan sorot matanya yang tajam.
"Biarin, Nja. Kayak nggak hapal saja sama mulut lemes Darren. Dia pikir semua orang doyan olahraga malam kayak dia," sahut Sarita.
"Gak semua orang doyan. Tapi kalau yang punya nama Mahendra, pasti doyan banget," kekeh Mahendra.
"Nah, berarti kalau aku doyan, bukan salahku, Ask. Tapi salah yang kasih nama." Darren melirik mesra pada sang istri.
"Dasarrr!" Umpat Sarita.
"Kamu sendiri apa kabar, Nja. Kamu juga gemukan." Sarita merremas lengan Senja dengan gemas.
Darren dan Senja saling bertatapan. Keduanya memang belum menceritakan kondisi yang menimpa Senja pada Sarita dan Mahendra. Selain takut diomeli karena kehamilannya, juga takut malah akan menambah beban pikiran orangtua.
"Jangan bilang ada yang kalian sembunyikan dari mama dan papa. Apa Derya dan Beyza gagal bontot?" Selidik Sarita. Mulai menerka-nerka sembari menatap perut Senja dengan tatapan curiga.
__ADS_1