
Saat semua sedang bersantai di ruang keluarga, hanya Dasen dan Baby De yang tidak nampak di sana. Titisan Darren Mahendra itu masih menyelesaikan pekerjaannya yang belum usai, Sedangkan De, sebagai direktur marketing yang ambisius, mulai menggila dengan memberikan target dan strategi penjualan yang lebih bisa menarik pasar. Hari ini, sampai beberapa hari kerja ke depan, keduanya akan disibukkan dengan project-project baru. Hal itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Darren. Di tangan Dasen, semakin banyak klien baru yang percaya untuk bekerja sama dengan perusahaannya.
Tidak jauh berbeda dengan Dasen, Derya pun sukses melambungkan DNG Corp lebih tinggi lagi. Darah bisnis mengalir dengan kental di dalam tubuh anak-anak pasangan Darren dan Senja. Hanya Zain lah yang memilih jalur lain. Hingga sampai saat ini, pemegang saham tertinggi masih Senja, karena Zain sendiri benar-benar tidak mau mengelola. Namun saat ini, RSZ Corp sendiri sedang mengalami dilema, karena belum menemukan direktur utama yang bisa dipercaya. Raisa--adik kandung dari mendiang papa kandung Zain, yang selama ini mengelola perusahaan tersebut, beberapa kali ingin memundurkan diri karena merasa sudah saatnya berhenti bekerja. Namun sayang, mencari orang kepercayaan untuk level tertinggi jelaslah bukan perkara gampang.
"Bey, apa semua lancar?" Tanya Senja pada Beyza yang sedang tiduran di pangkuan Darren.
"Sejauh ini lancar, Ma." Beyza menjawab dengan mantap sembari berusaha bangun dari posisinya.
Darren melirik Senja yang duduk menyandarkan kepalanya di lengan Derya. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis. Sejak tahu apa yang menimpa sang istri, Darren bersikap lebih lembut, tenang, dan cenderung memilih diam.
Sementara itu, Sekar dan Zain memilih duduk di atas karpet tebal yang tergelar di sana. Keduanya agak menjaga jarak, Zain tidak mau sampai Darren Mahendra berhasil mengetahui kalau Sekar sudah banyak sekali kemajuan. Terutama masalah ketrampilan tangan.
"Jangan lupa, besok kita kumpul. Meskipun malam minggu, tidak ada yang boleh keluar," ucap Senja.
__ADS_1
"Iya, Ma." Derya menjawab tanpa menoleh pada Senja. Dia sedang sibuk bermain game online untuk mengalihkan kegalauan dan mengusir penat setelah lima hari penuh sibuk bekerja.
"Boleh bawa teman terdekat. Mama nggak ngelarang, tapi setiap pilihan kembali pada tanggung jawab masing-masing." Senja kembali mengingatkan. Karena tidak bersemangat, Beyza kembali merebahkan kepala di pangkuan Darren.
"Kamu kenapa?" Tanya Darren sembari memencet hidung Beyza yang sedang memanyunkan bibirnya dengan raut wajah sangat kesal.
"Genta kan tidak bisa datang, dia terlanjur ada acara keluarga di luar kota. Acara Mama kan mendadak," sahut Derya.
Senja tersenyum dan menggelengkan kepala begitu mendengar jawaban Derya. "Bey, mana boleh ngambek begitu. Kan salah Mama, bikin acaranya mendadak. Lagian Genta sama keluarganya. Kak De juga gak ada pasangan biasa saja," tuturnya.
Darren mengangguk mantap, kali ini dia sangat setuju dengan Beyza. Beberapa kali dia memperhatikan, kalau Senja selalu berbeda dengan Genta. Bahkan menghadapi Sekar yang menantu perempuan saja tidak semanja itu.
"Bukan bela'in, Bey. Tapi kita sebagai perempauan tidak boleh terlalu mengekang begitu. Apalagi untuk keluarganya. Ya kita harus nerima. Semakin besar kita memberikan kepercayaan, seharusnya mereka akan semakin hati-hati. Kalau pun mereka berkhianat, bukan kita yang rugi. Lagi pula lki-laki kalau terlalu merasa dibutuhkan dan dicemaskan, mereka akan merasa besar kepala," ucap Senja, ekor matanya melirik Darren yang malah mengedipkan satu matanya dengan nakal.
__ADS_1
Kali ini, Derya, Zain dan Darren saling menatap bergantian. "Hmmm... Nggak gitu juga, Ma. Kalau Zain sih maunya yang sedang-sedang saja. Iya kan? Sekar dan Zain setiap hari hampir bersama. Ya kali masih cemburu. Lagian sudah terbukti kalau Zain ini setia, mata pun kalau berjalan tidak jelalatan kemana-mana," timpal Zain.
"Andai kesetiaan itu bisa dibuktikan dengan cara sesederhana itu," sahut Sekar.
"Setuju dengan Kak Sekar. Tidak setuju seratus persen dengan Mama. Mungkin pasangan kita setia, tapi banyak betina tidak punya malu di kuar sana. Mereka bersedia melakukan apa pun untuk menarik perhatian pasangan kita. Jadi, kita harus pintar mengawasi, pasang badan, dan menyiapkan kekuatan untuk melawan mereka," cerocos Bey sembari kembali duduk tegak di samping daddy-nya.
"Bicara soal pasang badan, belajarah dari Mama." Zain melirik Darren saat mengatakannya. Pria yang diliriknya itu hanya tersenyum tipis, membuat Zain bermain tebak-tebakan dengan pikirannya sendiri. Zain yakin, ada sesuatu yang terjadi dan disembunyikan oleh mama dan daddy-nya.
Sekar melirik ponsel Zain yang terus bergetar dengan kondisi terbaik. "Kak, ada yang menghubungi."
Zain melihat deretan angka yang tertera di layar ponselnya. Nomor itu belum bernama. Suami Sekar itu segera berdiri dan agak menjauh untuk menerima telepon tersebut. Sementara Sekar berpindah duduk di sofa, Derya kini memijat kaki Senja. Posisi yang sesungguhnya ingin dilakukan Darren. Namun apa daya bayi besar yang sedang tidak enak hati karena Genta itu, terus bergelayut di sisinya.
Zain menjauhkan ponsel dari daun telinganya. Lalu dia membuka ikon email untuk melihat data yang baru saja di kirim oleh seseorang yang menghubunginya.
__ADS_1
Dua menit pertama dia masih terlihat santai. Namun lima menit kemudian, tubuhnya terasa lemas. Tangannya bergetar, hingga ponsel itu pun terlepas dari genggamannya.
Semua pun langsumg teralihkan perhatiannya, "Ada apa, Kak?" Sekar buru-buru menghampiri Zain, diikuti Senja, Darren, Derya dan juga Beyza. Anak pertama Senja itu malah langsung memeluk Senja dengan erat dan sangat posesif.