
Sesampainya di rumah sakit, rombongan Darren langsung menuju ke ruangan yang sudah diinformasikan oleh Zain untuk melakukan Visum.
Zain yang sudah menunggu di luar ruangan langsung terlihat kesal saat melihat wajah Derya dan bertambah emosi ketika melihat wajah Beyza.
"Kalian bertiga ikut kakak, Dadd ... Ma ... Om Rangga, tunggu di sini sebentar ya. Biar Zain yang menemani mereka," ucap Zain, sangat tegas.
Di dalam ruangan, rekan kerja Zain yang memang seorang dokter forensik segera memeriksa dengan teliti kondisi ketiga anak itu satu per satu.
Saat giliran Beyza yang diperiksa. Zain mendekati Derya dan Genta. "Kenapa bisa begini? kalian mau jadi jagoan?" tanyanya, masih belum tahu cerita yang sebenarnya.
"Kak, kami bukan jagoan. Tapi pahlawan kebajikan," sahut Genta malah mengajak bercanda.
Derya menyikut lengan Genta, karena wajah Zain terlihat sangat serius.
"Der, haus. Apa tidak ada minum? setelah minum akan Derya ceritakan."
Genta mendengus sembari mencebikkan bibir. Derya melarangnya bercanda, tapi malah dia meminta minum.
"Tidak boleh minum di ruangan ini, Der," ucap Zain dengan kesal.
"Biar, Genta saja yang cerita," sahut teman baik Derya itu.
Dengan tegas dan jelas, Genta menceritakan kejadian yang mereka alami dari awal sampai akhir. Kini kekesalan Zain beralih pada sosok ketiga teman adiknya yang belum pernah ditemuinya itu.
Zain ke luar ruangan lebih dulu, karena ketiganya juga ada tahapan yang harus dilalui untuk kelengkapan data Visum. Tidak hanya fisik, psikis mereka pun wajib untuk diperiksa.
"Ma ... sementara Der dan Bey, biar home schooling saja. Kan sudah Zain katakan dulu, lebih bagus sekolah Dasen. Kenapa, Mama malah menuruti kemauan Das yang tidak ingin satu sekolah dengan mereka," sesal Zain.
Darren menatap Zain sembari menggelengkan kepala perlahan, mengisyaratkan agar anak pertamanya itu diam. Bukan saatnya menyalahkan siapapun.
__ADS_1
"Zain, mana Mama tahu ceritanya akan seperti ini. Jika kalian menganggap ini salah Mama, ya sudah. Jangan ada yang ikut campur. Biar, Mama sendiri yang menyelesaikan semuanya." Senja yang sedang campur aduk pikirannya menjadi tersulut emosi.
Darren mengusap wajahnya dengan kasar, sudah dia duga. Dalam kondisi seperti sekarang, istrinya bukan lagi kucing anggora yang lucu, mudah dielus dan menggemaskan. Senja adalah singa betina yang siap menerkam siapapun yang mengusik anak-anaknya.
Senja berdiri, berjalan mendekati ruangan visum dan mengabaikan Zain yang terus mengejarnya.
Rangga melihat dengan heran. Pernah melihat sisi Senja yang manja saat di samping Darren, pernah melihat perempuan itu begitu lembut saat menghadapi anak-anak, dan sekarang sosok itu menjelma menjadi singa betina.
"Itulah kenapa Mahendra Corp belasan tahun terakhir lebih maju pesat. Ada perempuan luar biasa di samping ceo nya," bisik Darren pada Rangga.
Dia tahu persis pria di sampingnya itu sedang memperhatikan Senja dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Ngomong-ngomong, kenapa bundanya Genta tidak datang kemari?" tanya Darren, sedikit penasaran.
"Bundanya Genta sudah meninggal," jawab Rangga dengan santai.
"Maaf ... Saya sama sekali tidak tahu. Sudah lama?" Darren bertanya sembari memperhatikan Zain dan Senja yang nampak sedang berdebat.
Rangga mengikuti pandangan Darren. Ikut memperhatikan perdebatan ibu dan anak, yang di matanya terlihat seperti adik dan kakak dengan selisih umur sepuluh tahun.
"Bundanya Genta, meninggal sesaat setelah Genta lahir," Rangga akhirnya menjawab pertanyaan Darren.
"Melahirkan itu memang pertaruhan hidup dan mati. Saya pernah trauma untuk mempunyai anak lagi, setelah melihat istri Saya melahirkan Dasen. Tapi nyatanya, belum genap anak itu berusia tiga bulan. Mamanya sudah hamil si kembar. Andai mertua tidak cerewet, mungkin si kembar bukan lagi si bungsu." Darren sedikit bercerita sembari terkekeh.
Rangga tidak heran, mengenal dua pasangan itu, di usia yang tidak lagi muda saja sudah meresahkan. Tentu bisa dipastikan, kalau mereka lebih luar biasa lagi sebelumnya.
Senja dan Zain nampak sudah tidak lagi bersitegang. Raut wajah keduanya, jauh lebih tenang.
"Tidak ada yang serius kan dengan mereka?" tanya Senja, akhirnya.
__ADS_1
"Sejauh ini tidak ada, Ma. Ketiganya memang tangguh. Tapi bagaimana Derya dan Genta bisa kalah? Mereka harus belajar berkelahi dengan baik sama Dasen."
"Mereka tidak sedang bertanding. Bagi Mama, mereka pemenangnya yang sesungguhnya," timpal Senja.
Darren dan Rangga sama-sama sedang menghubungi pengacara mereka. Memerintahkan pada pengacara masing-masing agar menunggu di kantor KPAI.
Hampir 160 menit berlalu, akhirnya Beyza, Derya dan Genta keluar dari ruang pemeriksaan. Zain dibelakang ketiga anak itu membawa hasil visum. Jangan tanya kenapa secepat itu, segala sesuatu memang mungkin kalau ada koneksi.
Setelah hasil Visum sudah di tangan, mereka pun langsung berangkat menuju kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
Jarak rumah sakit dan kantor KPAI tidak jauh, bisa ditempuh hanya dengan waktu perjalanan kurang lebih 10menit.
Di lobby kantor tersebut, mereka sudah langsung disambut kedua pengacara masing-masing. Pengacara sudah mendaftarkan keperluan kedatangan pada receptionis. Sehingga saat mereka datang, tidak perlu berlama-lama mengantri. Mereka langsung dipertemukan dengan Tim yang menangani pengaduan dari masyarakat.
Mereka pun berbicara dengan sangat santai di sebuah ruangan yang sangat nyaman di lantai tiga gedung tersebut. Tidak seperti yang ada dibayangan Derya, Beyza dan Genta. Cara tim KPAI menanyakan beberapa hal kepada mereka sungguh sangat tidak membuat mereka ketakutan ataupun berpikir banyak.
Tidak berlama-lama aduan pun diterima dengan baik. Rangga dan Darren tidak perlu banyak bicara, mereka pun sepertinya tidak terlalu memerlukan pengacara. Karena Senja lebih luwes menghadapi tim yang akan membantu masalah mereka selesai hingga tuntas.
"Kami tidak ingin masalah ini sampai ke publik, kami masih memberi kesempatan kepada semua pihak untuk memperbaiki keadaan bersama-sama. Tapi kami juga tidak ingin kasus ini berlalu begitu saja," tegas Senja pada salah satu anggota tim yang akan menangani kasus ini.
"Tentu saja, Ibu. Kami sangat berterima kasih, karena Ibu, Bapak-bapak dan adik-adik sekalian, berani membuka kasus di sekolah favorite ini. Kami berharap memang korban perundungan lebih berani mengungkapkan apa yang dialami. Mata rantai perundungan tidak akan terputus, kalau korbannya hanya diam." perempuan berhijab seusia dengan Senja itu pun dengan ramah menanggapi permintaan Senja.
Setelah semua dirasa sudah beres. Mereka pun memutuskan untuk kembali pulang.
"Dadd, Bey lapar. Kita mampir ke kafe Genta dulu ya?" pinta Beyza dengan manja.
Entah kenapa, mendengar kafe Genta disebut, membuat pipi Senja merona dan salah tingkah.
"Ma, ayo!" Derya menarik tangan mamanya.
__ADS_1
Rangga tersenyum tipis melihat ekspresi Senja. Singa itu kini kembali menjadi Anggora.