Hot Family

Hot Family
Semangat Dasen


__ADS_3

"Bagaimana?" Sekar melirik Zain sembari menepuk bahu kekasihnya itu.


"Boleh juga sih, tapi aku ada visit pagi ini sampai jam sebelas nanti." jawab Zain.


"Yes!" Pekik Dasen, terlihat sangat senang.


"Bahagia banget. Kelihatan sekali modusnya ini anak," dengus Zain.


"Jelas! You know me soo well, Kak." Dasen dengan percaya diri malah mengakuinya.


Zain dan Sekar kompak mencebikkan bibir pada Dasen. Kini, tujuan utama keduanya menyetujui usul Dasen, bukan lagi untuk bertanya-tanya masalah hari baik. Melainkan penasaran ingin bertemu dengan sosok yang membuat playboy tanggung menjadi lupa gengsi dan logikanya.


Ketiganya lalu sarapan pagi bertiga, Sekar tidak ingin pergi ke mana-mana. Dia akan berdiam diri di rumah, menunggu calon suaminya pulang.


Sekar adalah satu-satunya calon memantu yang tidak banyak mendapat reaksi negatif dari Darren atau pun Senja. Bahkan, hubungan Sekar dan Senja lebih terlihat seperti ibu dan anak. Meski baru beberapa kali bertemu langsung, tapi hubungan melalui telepon pintar terus berjalan lancar.


Zain dan Sekar berjalan menuju pintu utama karena dia hendak berangkat ke rumah sakit.


"Kak...," panggil Sekar sembari bergelayut di lengan Zain dengan manja.


"Apa, Sayangku," jawab Zain.


"Mama sama daddy kan masih mau ke tempat Beyza dulu, jadi acara temu keluarga kita dibuat akhir bulan saja ya?"


"Iya, begitu lebih baik. Tidak usah pakai acara lamaran, kita langsung menikah saja. Kakak sudah siap lahir batin jadi Imam buat adek." Zain menaik turunkan alisnya yang lebat.


"Genit," dengus Sekar, mencubit lengan calon suaminya dengan gemas.


Dasen berjalan mendahului kedua orang yang sedang merencanakan masa depan itu dengan santai.


"Kak, Das berangkat duluan. jangan lupa setelah maghrib kita ke rumah orang pintar alias cenayang alias dukun atau alias apalah. Makin cepat kalian menikah, semakin bagus. Setidaknya, kalau ada calon yang sreg, Das bisa langsung gas."


"Gas, Das... kalau perlu kita nikahnya bareng. Lumayan, irit budget," sahut Sekar.


"Memalukan! Darren Mahendra menangis mendengar ucapanmu," seloroh Dasen sembari berjalan memasuki mobilnya.


Sekar kembali mencebikkan bibirnya, dia sering kali lupa kalau mertuanya itu kaya raya. Bahkan, Zain sendiri adalah pewaris tunggal RSZ Corp.


"Kakak Zain berangkat dulu, baik-baik di rumah. Kalau bosen, jalan-jalan saja. Minta di antar driver," Zain mengecup kening Sekar. Berbeda saat bersama Airin, bersama Sekar, Zain jauh lebih sering menggoda sekarang.

__ADS_1


"Hati-hati, Kak. Sekar anteng di rumah saja. Menikmati waktu-waktu santai. Nanti kalau sudah jadi asisten kak Zain, pasti sibuk banget."


Zain tersenyum, membuka pintu mobil, lalu menoleh sebentar pada Sekar sebelum masuk ke dalam sana. "Pasti sibuk, tiap malam dijamin lembur."


"Dasar mesum," dengus Sekar.


.


.


Dasen mencoba menghubungi Denok, ingin sekedar memberi kabar kalau dia akan membawa pasien untuk bapaknya Denok. Karena tidak terhubung, Dasen memilih untuk mengirim pesan saja.


"Ah, mungkin dia shift pagi," gumamnya.


Sepanjang perjalanan ke kantor, ponsel Dasen beberapa kali berbunyi, tapi bukan dari Denok. Tapi dari dua gadis yang sedang gencar mendekatinya. Salah satunya adalah anak dari sahabat Darren. Namanya Kiran, anak dari Kenzi dan Ulfa.


Dasen mengabaikan panggilan itu, karena dia sedang dilanda perasaan penasaran dengan gadis bernama Denok.


"Pak Rud, kalau ke rumah Denok, buat oleh-oleh bawa apa ya?" tanya Dasen pada drivernya.


"Ini mbak Denok, yang kemarin cerita Bapaknya orang pintar itu kan, Den?" Rudi memastikan terlebih dahulu.


Rudi seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Den Dasen ke sana tujuannya sebagai apa? Sebagai pasien bapaknya? Atau sebagai teman Mbak Denok?"


Dasen kini yang dibuat berpikir oleh Rudi. Karena pertanyaan driver-nya itu memang masuk akal.


"Sebagai pasien saja, Pak. Karena sama Kak Zain dan Sekar," putus Dasen.


"Kalau begitu bawa gula saja, Den. Kalau bapaknya Mbak Denok perokok, ya dibelikan rokok. Tapi janganlah. Karena kita tidak tahu seleranya bagaimana. Kalau orang pinter begitu biasanya Tengwe alias nglinteng dewe."


Penjelasan Rudi membuat Dasen menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak paham."


Rudi tergelak. Jelas majikannya itu tidak paham. "Nglinting dewe itu, bikin rokok sendiri, Den. Ada kertas khusus, terus dikasih tembakau sesuai pilihan, lalu dilinting, dan jadilah rokok tengwe."


Dasen mulai paham. "Kayak rokok ganja ya?"


"Astaga! Den Dasen, pernah?" Rudi terlihat kaget sembari menghentikan mobilnya di depan pintu utama gedung Mahendra Corp.


"Tentu saja tidak pernah. Bisa dicincang aku, kalau aneh-aneh begitu." Dasen langsung turun tanpa menunggu Rudi membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Rudi menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Bekerja di keluarga Darren Mahendra tidak hanya membuatnya sejahtera karena gaji yang sangat layak, tapi juga karena atasannya masing-masing mempunyai cerita unik.


Dulu saat masih menjadi driver Senja, mata dan telinga hampir selalu ternoda dengan kemesraan Bu dan Pak bos hot. Sekarang, saat dia menjadi driver Dasen. Hal itu belum dialami. Tapi perasaan Rudi mengatakan, kalau Dasen tidak jauh berbeda dengan Darren.


.


.


Derya tersenyum senang, ketika Inez memutuskan bertahan di Mansion Hutama sampai mama dan daddy-nya berangkat menjenguk Beyza di Aussie.


Setidaknya, keraguan Derya akan kesungguhan cinta Inez yang kemarin sempat mendera, kini sudah ditepis perlahan.


"Ay, makan malam dulu yuk! Mama dan daddy sudah menunggu di ruang makan!" ajak Derya sembari mengetuk pintu kamar kekasihnya itu.


Inez langsung membuka pintu kamarnya. Dia langsung mengamit lengan Derya dengan posesif. Seolah sedang mencari perlindungan dan kekuatan pada hal-hal yang akan dihadapinya di depan.


"Selamat malam, Tante, Om," sapa Onez dengan sopan.


Senja tersenyum tipis, sedangkan Darren hanya menjawab dengan kata, "Hmmmmm..."


"Makan Nez, setelah ini. Kita akan pergi ke rumahnya opa dan oma-nya Derya. Kamu juga harus mengenal mereka, kalau kamu memang ingin serius dengan Derya."


Ucapan Senja membuat tangan Inez yang ingin membalik piring di depannya seketika berhenti. Sebenarnya dia belum siap, tapi tidak ada pilihan lagi baginya.


"Baik, Ma." Inez menjawab sembari melirik Derya yang sedang menatapnya dengan tatapan matanya yang teduh.


"Baguslah kalau begitu." Senja menoleh pada Inez dan melemparkan senyuman sekilas pada gadis pilihan anaknya itu.


"Ask... sepiring berdua, yuk! Sudah lama tidak disuapin. Aku kangen," bisik Darren tepat di daun telinga sang istri dengan nada manja.


"Yang muda yang berkarya. Yang tua yang bercinta. Noted dan jangan dibantah," sindir Derya yang sudah hafal ucapan daddy-nya jika di protes oleh anak-anaknya.


Darren langsung mengacungkan jempolnya pada Derya, dan langsung mencium Senja tanpa ragu meski ada Inez yang duduk di bangku seberang mereka.


.


.


Tidak seperti biasanya, Dasen pulang lebih awal. Kedatangan titisan Darren itu, tentu saja mengganggu kebersamaan Sekar dan Zain yang sedang berduaan di lantai empat.

__ADS_1


"Aku datang! Mari kita berangkat!" Ajaknya, langsung tanpa basa basi dan begitu bersemangat.


__ADS_2