Hot Family

Hot Family
Berjuang


__ADS_3

Denok melangkah gontai menuju meja kerja yang baru benerapa hari dia tempati. Bahkan belum genap hitungan lima jari. Gadis itu terus merutuki nasibnya karena sudah menjadi anak seorang Erika.


Belum sampai dia beranjak dari kursi, HRD menghubunginya lewat sambungan telepon internal. Pasti Senja sudah menghubungi kepala bagian kepegawaian untuk memberikan posisi yang baru pada Denok.


Gadis itu pun mendatangi ruangan HRD yang ada dua lantai di bawah lantai Senja berada. Denok bertekad, posisi dan pekerjaan apapun akan dia terima. Dia akan membuktikan pada Senja, kalau dirinya sangat berbeda dengan ibunya.


Ternyata posisi yang diberikan pada Denok, tidaklah buruk. Menjadi staf marketing di perusahaan Senja, gajinya bisa tiga kali lipat dari gaji sebelumnya sebagai pelayan hotel.


Setelah dijelaskan job desk dan diberi tahu ruangan barunya, Denok kembali ke lantai di mana dia berada sebelumnya. Denok ingin merapikan meja terlebih dahulu sebelum meninggalkannya.


"Suatu saat, aku harus berada di sini lagi. Menjadi menantunya atau tidak. Aku akan membuktikan kalau aku layak di sini." gumamnya.


Pukul 17 lewat 15 menit, Denok pun pulang. Dia memesan taksi online. Tapi sayangnya, di jam sibuk seperti sekarang ini, sangat sulit mendapatkan driver yang menerima order darinya.


Di luar dugaan, Dasen ternyata menjemput Denok. Keduanya bertemu di lobby. Dasen yang belum tahu keseluruhan cerita, bersikeras mengantar Denok untuk pulang.


Tidak seperti biasanya, sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama tidak banyak bicara. Mulut Dasen yang sudah menganga untuk berbicara, kembali mengatup. Rasanya tidak tega dan berat sekali untuk mengutarakan apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Mas," panggil Denok, akhirnya. Tapi Dasen tidak bergeming. Dia tidak merasa kalau kekasihnya itu sedang memanggilnya.


Karena tidak mendapatkan tanggapan dari Dasen, Denok menepuk lengan laki-laki yang menjadi kekasihnya itu. "Mas."


"Kamu, manggil aku?" Jari telunjuk Dasen menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya. Mas Dasen," jawab Denok.


Sebenarnya, dalam hati, Dasen merasa tidak enak karena panggilan itu terdengar aneh di telinganya. Tapi dia sadar, saat ini komdisi sedang tidak tepat untuk memperdebatkan hal yang sederhana seperti itu. Lagi pula dia juga jelas sudah dilarang menggunakan kata 'ask'untuk menyapa sang kekasih.

__ADS_1


"Aku pindah divisi. Bu Senja, tidak ingin aku menjadi sekretarisnya lagi. Sekarang aku menjadi staf marketing ... ." Denok kemudian langsung menceritakan yang terjadi antara Erika dan Senja sampai sebelum dia diperintahkan menjauh oleh mama dari kekasihnya itu.


Dasen terkejut dengan apa yang diceritakan Denok. Seketika dia membayangkan wajah Senja yang dingin dan tatapan mata seperti macan yang akan menerkam mangsanya.


"Mamaku orang yang baik, Nok. Dia tidak akan memulai pertengkaran jika tidak dimulai lebih dulu. Percayalah!" Ucap Dasen.


"Aku percaya, Mas. Ini semua bukan tentang mamamu. Tapi semua karena ibuku. Istri mana yang rela suaminya digoda oleh perempuan lain. Tidak ada satu pun. Aku justru malu. Ibuku dengan terang-terangan mengagumi daddy-mu. Aku malu. Sepertinya, sudah tidak ada jalan bagi kita." Denok kembali mengatakan sesuatu dengan panjang lebar.


Dasen meraih tangan Denok dan menggenggamnya dengan erat. "Berjuanglah bersamaku. Cinta tidak memandang pantas atau tidak pantas. Sepadan atau tidak sepadan. Saat ini, mamaku mungkin tidak menerima dan belum menyukaimu. Suatu saat, jika memang baik. Mamaku tidak mungkin mengingkari kebaikanmu."


"Tapi, Mas. Bu Senja sampai kapan pun tidak akan merestui hubungan kita. Mungkin sampai di sini saja hubungan kita, aku kasihan sama kamu jika harus menentang kedua orangtuamu."


Dasen menggeleng kuat. "Jangan menyerah, kita akan membuktikan berdua. Aku kenal betul siapa mamaku. Buktinya, kamu tidak dikeluarkan dari perusahaannya bukan? Karena mamaku masih mampu berbuat bijak, Nok. Sekarang giliran aku dan kamu. Giliran kita yang berjuang."


"Tapi akan berat, latar belakang keluargaku dan keluargamu sungguh sangat berbeda. Bagaikan bumi dan langit. Mamamu yang bersahaja tidak mungkin bersanding dengan ibuku yang durjana." Denok menundukkan kepalanya, sedikit malu dan lirih saat mengatakannya.


Denok tersenyum pada Dasen. Kata-kata kekasihnya itu sungguh manis dan menyejukkan. Namun beban yang dia rasakan kini semakin berat, perbedaan status ekonomi dan sosial saja membuatnya sudah harus berjuang melawan tanggapan orang yang akan menilainya sebagai benalu keluarga kaya. Ditambah lagi sekarang. obsesi Erika pada seorang Darren Mahendra sungguh membuat jalan percintaan mereka menjadi rumit.


Seorang ibu, seharusnya bisa menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu tidak sekedar menyuruh atau memerintah, seharusnya lebih banyak menjaga sikap dan menjadi contoh nyata untuk anak-anaknya.


Dasen mengantar Denok tidak sampai di depan rumah gadis itu. Dia sengaja melakukannya, agar Erika, tidak tahu kalau dia diantar pulang oleh Dasen.


Setelah memastikan Denok sudah masuk ke rumahnya, Kendaraan yang dikemudikan oleh Rudi langsung melanjutkan perjalanan menuju kediaman Darren.


Sampai di rumah, Dasen malah mendapatkan pemandangan yang kontras dengan suasana hatinya. Bagaimana tidak? Dia melihat kemesraan Zain dan Sekar di ruang tengah. Keduanya itu seperti tanpa beban dan malu-malu saat melakukannya. Kehidupan bebas selama di UK, kadang-kadang membuat mereka lupa bahwa mereka kini sudah berada di Indonesia


Sekar dan Zain melepaskan tautan bibir mereka begitu melihat kehadiran Dasen. Melihat wajah masam adiknya, membuat kedua calon pengantin itu heran. Biasanya Dasen sangat ceria.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu seperti mangga muda begitu?" tanya Sekar.


"Ceritanya panjang," sahut Dasen sembari menghempaskan bokongnya ke atas sofa tak jauh dari Zain dan Sekar berada.


"Pendekin saja," tukas Zain.


"Mama sama daddy di mana?" Dasen bertanya sambil mendongakkan kepla pada deretan pintu kamar di lantai dua.


"Dari mereka datang tadi, langsung masuk ke kamar, dan belum keluar lagi," jelas Sekar.


"Bagaimana raut wajahnya?" selidik Dasen.


"Sepertinya memang tidak sebahagia biasanya. Apa mereka bertengkar?" Zain kini menjadi penasaran.


Dasen menggelengkan kepalanya. Lalu bercerita dengan gamblang pada kakak dan calon kakak iparnya dengan jelas.


"Pantas, mama ingin mempercepat pergi ke Jogya," gumam Zain.


Telepon internal rumah berbunyi. Karena posisinya dekat dengan Zain, maka dia pun mengangkatnya. Setelah sebentar mendengar. Dia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya.


"Daddy dan mama ingin bicara denganmu," ucap Zain.


Dasen segera beringsut dan berjalan menyurusi anak tangga menuju lantai dua. Dia tidak pamit atau sekedar menanggapi ucapan Zain.


Sampai di sana, dia melihat pintu kamar kedua oramgtuanya itu sedikit terbuka. Setelah mengetuk daun pintunya sebentar, dia pun langsung masuk ke dalamnya.


Melihat kedatangan Dasen, Senja hanya menoleh tanpa senyuman begitu pun dengan Darren.

__ADS_1


"Daddy dan mama, memanggil Das?" tanyanya dengan hati-hati.


__ADS_2