
Akhir pekan yamg ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Karena langit sedikit mendung dan takut akan turun hujan, maka acara santai yang awalnya akan lakukan di taman belakang akhirnya berpindah ke lantai empat. Selain tiga orang pelayan dari salah satu resto barbeque yang menyediakan layanan home service grill, di sana juga sudah ada Beyza, Baby De, dan Derya. Tiga orang yang malam ini tidak membawa pasangan.
Berbeda dengan Derya dan Baby De yang terlihat ceria dan tanpa beban, raut wajah Beyza sedikit gelisah. Gadis itu seperti sedang tidak terlalu fokus. Beberapa kali melihat layar ponsel, tidak satu pun notifikasi pesan atau telepon masuk dari Genta. Setelah berpamitan akan berangkat ke acara pada pukul tiga sore tadi, kekasih hatinya itu tidak ada kabar lagi hingga sekarang.
Sementara itu, Dasen sudah dalam perjalanan untuk menjemput Denok. Titisan Darren Mahendra itu begitu bersemangat. Perjuangan harus mulai dilakukan malam ini.
Berbeda dengan Dasen yang sangat antusias menyambut malam ini, Zain justru begitu enggan. Sekar bahkan tidak berhasil mengubah mood suaminya itu menjadi lebih baik. Sejak mengetahui mamanya menderita kanker ovarium, Zain lebih banyak diam. Dia memang bercerita pada Sekar sesaat setelah pembicaraannya dan Senja berakhir. Namun satu hal yang tetap dirasakan hingga kini, yaitu ketakutan.
"Kak...." Sekar menepuk pundak Zain dengan hati-hati.
"Hmmmm...."
"Kita ke atas, yuk! Pasti yang lain sudah di sana," ajak Sekar.
"Sebentar, aku mau menata hati dulu. Aku tidak setegar mama, yang bisa menahan sakit dan menggantinya dengan senyuman demi terlihat baik-baik saja dan membuat orang lain tidak khawatir."
Sekar mendudukkan diri di samping Zain. Perempuan itu mengusap punggung suaminya dengan lembut. "Kak Zain harus bisa mengendalikan perasaan sedih Kakak. Jika mama bisa, harusnya akan lebih mudah buat Kakak. Semakin sikap kakak berbeda, semakin yang lain akan bertanya-tanya. Das, De, Der, dan Bey, pasti akan melihat sikap Kakak. Mereka semua sangat cerdas, sedikit saja perbedaan, pasti akan mendatangkan kecurigaan."
"Mudah memang bicara seperti itu, karena kamu tidak pernah mengalami. Aku pernah kehilangan Mama, aku tidak ingin kehiangan untuk kedua kalinya, apalagi untuk selamanya. Tidak! Aku belum siap." Tatapan dan ucapan Zain sama tegasnya ditujukan untuk Sekar.
Sudah lama mengenal Zain, baru kali ini Sekar merasakan nada bicara laki-laki yang sangat dia kagumi itu sedikit tinggi padanya. "Ya sudah, terserah Kak Zain." Sekar akhirnya memilih untuk mengikuti kemauan Zain. Memberikan waktu pada sang suami untuk menenangkan diri sekaligus memikirkan apa yang seharusnya dilakukan.
Sama seperti Zain dan Sekar, Darren pun masih berada di dalam kamar bersama Senja. Wanita yang masih sangat cantik meski sudah pernah melahirkan lima kali itu masih menunggu rasa sakit di perutnya mereda. Biasanya, setelah meminum obat, rasa kaku dan diremaas-remaas di sekitar perutnya akan berkurang.
"Aku panggilkan Zain, ya?" Darren mengusap punggung belakang Senja, berharap bisa mengurangi sedikit rasa sakit sang dirasakan sang istri.
__ADS_1
"Tidak perlu, Ask. Terimakasih, sebentar lagi pasti akan baik-baik saja." Senja mencoba menyunggingkan senyumnya. Sangat dipaksa.
Darren tidak sedikit pun mengalihkan tatapan itu pada yang lain. Dia begitu fokus pada tatapan mata Senja yang terkesan letih dan sendu. "Ask, apa pun yang terjadi, tolong jangan berhenti berjuang. Pasti semua akan baik-baik saja."
"Sekarang Senja tahu, bagaimana rasanya berada di posisi Mas Rafli dulu. Mungkin lebih berat, dan Senja malah terus menyalahkan Mas Rafli. Sakitnya saja pasti sudah luar biasa, tapi dia masih mengutamakan Zain. Dia terus berpura-pura bahagia dan tegar seorang diri. Andai waktu bisa diputar." Senja beringsut dan berdiri dengan pelan.
"Apa yang kamu sesali, Ask?" Perasaan Darren seketika tidak enak, hatinya sesak luar biasa. Dia langsung berdiri membelakangi Senja.
"Perlakuan Senja pada Mas Rafli di akhir hidupnya," lirihnya.
"Aku tidak nyaman dengan pembicaraan ini." Darren berkata dengan jujur.
"Bukan pernikahan kita yang Senja sesali. Tapi perlakuan Senja pada Mas Rafli. Pernikahan kita adalah hal terbaik yang Senja dapatkan selama hidup. Kamu tidak hanya menjadikan Senja istri yang beruntung, tapi juga menantu dan ibu yang luar biasa beruntung." Senja menghampiri sang suami, dan memeluk Darren dari belakang.
Di sisi lain, Denok yang baru saja turun dari mobil sport yang dikendarai Dasen terlihat sangat ragu ketika melangkahkan kakinya menuju pintu utama yang sudah terbuka lebar.
"Mas, sebentar." Denok menghentikan langkahnya begitu tubuhnya sudah berada di ambang pintu.
"Kenapa?" Tanya Dasen, ikut menghentikan langkah.
"Sebentar, mau doa dulu." Denok angsung memejam matanya, mulutnya komat-kamit entah apa yang diucapkan. Dasen menunggu sembari memperhatikan jam tangan digital yang ada diergelangan tangannya. Hampir 90 detik berlalu, namun sekar belum juga membuka matanya.
"Nok." Dasen mengguncang pelan bahu Denok.
"Apa sih, Mas? Kalau sampai doaku tidak dikabulkan, ini gara-gara Mas Dasen sangat mengganggu," dengus Denok.
__ADS_1
"Lagian kamu lama banget doanya. Sudah ayo kita ke atas," Dasen kembali menggenggam jemari Denok. Tapi belum sampai melangkahkan kaki, satpam yang biasa berjaga di depan, memanggil dan berlari tergopoh-gopoh memanggilnya.
"Den Dasen, di luar ada mobil-mobil makanan." Satpam itu mengatakan dengan napas yang terengah-engah.
"Mobil makanan? Food truck?" Dasen balik bertanya.
"Pokoknya berjejer, ada kebab, burger, ice cream dan banyak lagi kalau dilihat dari stiker mobilnya." Si Satpam memperjelas informasinya.
Dasen mengernyitkan keningnya. "Memang siapa yang pesan?"
Karena dia tidak tahu menahu sama sekali tentang apa yang sebenarnya terjadi, Dasen pun memanggil Wati untuk memberi tahu mamanya.
Tidak berapa lama, Darren dan Senja pun muncul, keduanya sedikit terkejut karena yang diajak Dasen datang ternyata adalah Denok. Namun Senja memegang komitmen yang akan menyerahkan pilihan pada anaknya masing-masing. Meski tidak ramah, Senja tetap melemparkan senyuman tipis pada Denok.
"Ada apa, Pak Sapri?" Tanya Senja pada satpam.
"Itu, Bu. Di luar ada banyak kendaraan makanan. Katanya pesanan keluarga Mahendra."
Senja menoleh pada sang suami. Gelengan kepala kuat dari seorang Darren Mahendra langsung menyambutnya.
Senja pun kembali meminta tolong Wati untuk menanyakan pada Sekar, Zain, Derya, Beyza atau Baby De. Karena dia pun tidak merasa memesan food truck, apalagi sebanyak yang dijelaskan oleh satpam. Jika Senja bisa menebak, tentu tebakannya lebih mengarah pada Beyza atau Baby De yang biasanya memang menyukai jenis kudapan seperti itu.
Beberapa saat kemudian, yang diharapkan memiliki jawaban pun berkumpul. Tapi tidak ada satu pun dari semua anggota keluarga Mahendra yang mengakui kalau sederetan food truck itu adalah pesanan mereka.
"Kita lihat saja, dari pada penasaran. Siapa tahu ada orang baik yang sengaja mengirim hadiah pada kita." Beyza menarik tangan Baby De untuk melangkah ke arah gerbang utama yang jaraknya cukup lumayan dari tempat mereka berada. Masih sekitar 20 meteran. Yang lain pun mengikuti langkah kaki Beyza dan Baby De. Darren dan Senja bergandengan tangan paling terakhir, tepat di belakang Dasen dan Denok yang terus menepis rangkulan tangan Dasen di pinggangnya karena malu.
__ADS_1