
Darren tidak langsung menjawab. Tidak mungkin dia menambah beban pikiran Sarita dengan kekhawatirannya tentang kondisi Senja. Bisa-bisa, mamanya akan semakin stres dan tidak mau makan.
"Darr, ada apa? Kenapa diam?" Sarita kembali bertanya karena masih penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Senja mematikan teleponnya tanpa pamit. Mungkin signalnya sedang jelek." Darren memaksakan sedikit senyuman di bibirnya.
Sarita yang memang sedang tidak terlalu fokus, kembali menundukkan kepala sembari terus bersholawat dalam hati. Melantunkan doa kesembuhan untuk sang belahan jiwa.
Darren berdiri, lalu berjalan mondar-mandir dengan pikiran yang sama sekali tidak tenang. Mencoba kembali menghubungi Senja, namun ponsel istrinya sudah kembali tidak aktif.
Tidak lama kemudian, seorang perawat datang menghampiri Darren dan Sarita dengan membawa berkas di tangan kanannya. Sebuah harapan terselip begitu tingginya di benak Darren. Satu kabar baik, mungkin mampu sedikit meredam keresahan yang menyesakkan napasnya.
"Tuan Mahendra sudah sadarkan diri, kami akan memindahkan ke ruangan rawat yang sudah dipilih. Ini beberapa hasil foto scan sebelum dan pasca pemasangan ring jantung."
Darren menerima map putih dari perawat dengan perasaan lega yang luar biasa. Begitu juga yang dirasakan Sarita. Dengan semangat, keduanya mengikuti langkah perawat yang menunjukkan di mana ruangan Mahendra akan di rawat.
Sementara Mahendra perlahan sudah menunjukkan kondisinya yang lebih baik, tidak demikian dengan Senja. Meski kesadarannya sudah kembali, kondisinya sekarang relatif cukup lemah. Semua terus berdoa dalam diam, mengharapkan penyakit mamanya segera di angkat.
Detik demi detik berlalu, akhirnya kapal pesiar pun bersandar juga di pelabuhan. Untuk menghindari keributan atau perbincangan di luar keluarga, sebelum penumpang lain diperkenankan keluar, Senja dan rombongan Dokter terlebih dahulu meninggalkan kapal pesiar. Mereka langsung menuju rumah sakit internasional. Tempat di mana Senja dijadwalkan akan melakukan operasi rahim dua jam lagi.
__ADS_1
Beyza dan Genta, satu mobil bersama Bae dan Arham. Bersama yang lain kecuali Dasen dan Derya, semua menuju tempat makan malam sebagai penutup dari rangkaian acara yang dilakukan. Jika bisa memilih, mereka pasti akan membatalkan acara tersebut. Namun Senja bersikeras semua acara harus berjalan sesuai rencana. Dengan dalih, kalau pun semua menjaganya di rumah sakit---tidak ada yang bisa dilakukan selain duduk diam.
"Der, apa sebaiknya kita menghubungi daddy saja?" Dasen bertanya di tengah perjalanan mereka menuju rumah sakit.
"Seharusnya iya, Kak. Tapi di sana, daddy juga pasti sedang fokus dengan kondisi Opa. Kalau kita jujur, daddy akan bingung. Apalagi, di sana hanya ada daddy yang bisa mengurus semuanya," jawab Derya.
"Bagaimana kalau kamu saja yang menggantikan Daddy menemani Oma dan Opa?" usul Dasen.
"Boleh juga sih, Kak. Sebentar Derya cek ada penerbangan tercepat tidak." Saudara kembar Beyza itu langsung membuka aplikasi pembelian tiket pesawat terbang secara online.
Kakak beradik itu kembali terdiam. Sibuk dengan pikiran dan ponsel mereka masing-masing. Dasen hanya sempat berpamitan pada Denok melalui pesan yang baru saja dikirimkannya. Keadaan yang mendesak dan terjadi di luar dugaan, membuat mereka harus mengenyampingkan urusan pribadi. Niat Derya yang ingin mendekati Mecca pun harus rela ditunda karena kesembuhan dan mendampingi mamanya adalah prioritas yang utama.
"Zain...." Senja memanggil anak pertamanya dengan suara lirih dan mata terpejam.
"Iya,ma ... Zain di sini, Mama jangan banyak bicara dulu. Sebentar lagi, sakit Mama akan diangkat. Mama akan kembali pulih." Zain yang kini sudah mengenakan pakaian steril, menggenggam tangan Senja dengan erat.
"Bilang daddy dan adik-adikmu, Mama minta maaf selama ini mama belum bisa melakukan yang terbaik buat kalian. Maaf, akhir-akhir ini Mama sering merepotkan kalian."
Zain menempelkan jari telunjuknya di bibir Senja. "Jangan bicara lagi, cukup Mama berdoa dalam hati. Cukup! Nanti setelah semua selesai. Cepatlah Mama bangun! Mama boleh berbicara apa pun pada kami, bahkan sepanjang hari. Tolong simpan tenaga Mama untuk berjuang. Jangan menuju titik mana pun saat Mata terpejam. Ingat selalu dalam pikiran Mama, tujuan dari langkah Mama adalah kami. Daddy, Zain, Dasen, De, Derya, Beyza, Sekar, dan Genta, selalu menunggu Mama. Jangan pernah menoleh pada siapa pun, yang memanggil Mama kecuali kami."
__ADS_1
Dengan gerakan lemah, Senja menurunkan tangan Zain dari bibirnya. Lirih dia berkata, "Kita semua sudah punya waktu masing-masing Zain. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa lolos dari kehilangan dan kematian. Entah sekarang atau nanti. Setidaknya semua akan mengalami. Kita sama-sama tahu, pada akhirnya---cepat atau lambat---kita akan kembali ke tanah, hanya berbalutkan kafan. Mama minta maaf, untuk semuanya, terlebih untuk kamu. Atas lalai dan luka yang mama berikan."
Mata Senja yang terus terpejam itu meneteskan bulir bening, Zain buru-buru mengusapnya dengan pelan. Senja masih manusia biasa, dia yang selama ini berusaha tegar dan kuat. Nyatanya, sekarang dia dihadapkan pada rasa takut. Satu sisi dia percaya akan sembuh, tapi di sisi lain Senja takut sekali jika dia tidak bisa bangun lagi untuk selamanya.
Kilasan cerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh liku di awal, terus melintasi pikirannya. Senja mencoba menepis bayangan itu. Yang dia harapkan sekarang adalah munculnya bayangan kebahagiaan. Bersama Darren dan anak-anaknya.
Tidak lama dari itu, mobil yang ditumpangi Dasen dan Derya pun sampai di rumah sakit. Keduanya turun dari mobil tersebut sambil menunduk lesu, seluruh penerbangan baik dari dan ke negara S, sedang di tutup. Karena cuaca di sana sedang tidak mendukung.
Dasen dan Derya berjalan dengan langkah yang tidak begitu lebar. Bahkan cenderung bimbang. Keduanya benar-benar dilanda dilema.
****
Di rumah sakit yang berbeda, Mahendra sudah mendapatkan kesadaran penuh. Pria itu bahkan sudah bisa duduk bersandar. Melihat Sarita dan Mahendra saling pandang dengan bergenggaman tangan, membuatnya semakin teringat dengan sosok Senja.
Darren terus menatap layar ponsel yang ada di genggamannya. Menunggu janji Senja melalui pesan singkat yang sebenarnya dikirim oleh Zain---mengatakan jika Senja akan menghubunginya kembali setelah sampai di Pulau Dewata.
Beberapa saat menunggu dengan tidak sabar, akhirnya ponselnya pun berdering. Namun bukan nomor Senja yang menghubunginya, melainkan Zain. Dengan semangat, Darren menerima panggilan ponsel tersebut.
Baru beberapa detik benda pipih itu menempel pada daun telinganya, namun setelah mendengar suara dari seberang, seketika benda tersebut luruh ke lantai.
__ADS_1
"Tidak, Ask ... kamu kuat, kamu tidak selemah ini!" Nada kemarahan bercampur kesedihan yang kentara, terlontar dari mulut Darren. Membuat Mahendra dan Sarita seketika menatap anaknya itu dengan penuh tanya.