
"Bagaimana, Ask?" tanya Senja.
Darren menatap istrinya dengan lembut. "Kenapa ingin bekerja lagi? Bukankah bisa menyibukkan diri dengan hal lain. Ke panti atau membuat yayasan. Bekerja itu capek, Ask. Ada saja masalah yang akan kamu hadapi."
"Tidak, Ask. Ke panti sudah biasa Senja lakukan. Membuat yayasan justru akan membuat Senja terlalu sibuk. Bekerja jauh lebih enak, masih ada libur." Senja sangat keukeh pada pendiriannya.
"Banyak perempuan di luar sana, mendambakan bisa berada di posisimu."
"Karena mereka tidak tahu bagaimana rasanya tidak pernah bersosialisasi selain dengan anak dan suami. Mereka cuman berandai-andai, dengan uang yang kita miliki, kita bisa melakukan segalanya. Nyatanya, arisan sama istrinya Yanes saja, Senja tidak bisa." Perempuan itu menyindir suaminya dengan sangat keras.
"Kamu ingin bekerja? Atau ingin bersosialisasi?" Darren beranjak berdiri. Berjalan menuju kamar, mengambil pakaian ganti dan langsung memakainya.
"Senja ingin kembali menjalani kehidupan sosial di luar. Rasanya sudah lama jauh dari peradaban. Anak-anak sudah besar, bahkan sudah bisa berjauhan dengan kita. Kini, saatnya Senja memberi hadiah pada diri sendiri dengan membiarkan energi positif dan potensi yang Senja tersalurkan." Senja menjawab dengan lugas.
"Bagaimana dengan aku?" Darren menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu?" Senja sedikit bingung.
"Kalau kamu bekerja, siapa yang mengurusku?" Darren rasanya ingin merajuk seperti Dasen.
"Tentu saja Wati," goda Senja.
"Jadi istriku kamu atau Wati?" Darren semakin sewot.
"Terserah, mana yang kamu mau, Ask. Wati pasti menerimamu dengan lapang dada." Senja senyum-senyum sendiri saat mengatakannya.
"Sangat tidak lucu, Ask." Darren menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Merebahkan diri sejenak.
"Kenapa berat sekali mengucap kata 'iya', padahal Senja ini cuma minta ijin mau bekerja, bukan minta ijin nambah suami lagi," Senja semakin menggoda suaminya.
__ADS_1
Sudah lama mereka tidak berbicara panjang dan lama, biasanya saat Darren datang, Senja selalu memakai Derya dan Beyza untuk menjadi tameng. Keberadaan anak-anak tentu membatasi ruamg dirinya dan sang suami dalam topik pembicaraan yang terlalu dalam.
"Kalau kamu kerja? Apa kamu akan mengurus perusahaan Rafli juga?"
Senja menggeleng kuat. "Tentu saja tidak, biar itu menjadi urusan Raisa. Senja mengurus punya Senja sendiri, Ask." Dia menyebut nama adik mendiang suaminya.
Perempuan itu ikut naik ke atas ranjang, memijat kaki Darren dengan lumayan kuat. Suaminya itu memejamkan mata, merasakan pijatan yang sudah lama tidak dilakukan sang istri.
Tiga bulan terakhir adalah titik terendah hubungan mereka, di mana bukan hanya sekedar jarak yang memisahkan. Tapi hati yang kecewa pun turut membangun tembok penghalang yang cukup tinggi dan tebal. Darren yang terus berusaha dan Senja yang konsisten menghindar. Komunikasi hanya sebatas formalitas.
Darren datang terkesan hanya untuk mengambil daster kotor sang istri agar bisa tidur tenang saat berjauhan. Senja pun memberikan seperti hanya ingin menunaikan kewajiban dan tidak terlalu berdosa karena meninggalkan suami sendirian.
"Bagaimana? Boleh tidak? Kalau boleh, besok Senja akan mengurus asrama anak-anak. Setelah selesai Senja pulang." Senja menyudahi pijatannya.
Sedikit menambahkan rayuan. Kini, Senja tiduran berbantalkan dada bidang suaminya. Tangannya mengusap-usap lembut perut Darren yang rata.
Suami Senja itu terus berpikir sembari mengusap rambut sang istri dan sesekali mengecupnya lembut. Mungkin memang tidak muda lagi secara angka, tapi makhluk Tuhan yang sedang menempel mesra ditubuhnya saat ini, masih sangat sempurna. Semua yang ada pada Senja adalah pesona bagi kaum Adam.
"Kalau aku menyanggupi, bolehkah aku memberikan syarat?" tanya Darren. Akhirnya kembali membuka pembicaraan.
Senja langsung menengadahkan wajahnya. "Apa?"
"Tidak boleh bertemu klien pria sendirian, Tidak boleh ke luar kota jika tidak aku temenin, berangkat dan pulang kerja harus bareng. Makan siang kalau tidak aku yang ke tempatmu, kamu yang ke kantorku. Tidak boleh memakai dres dan yang terakhir tapi paling penting, tidak boleh mengeluh capek saat--"
"Tidak akan, Senja akan memberikan lebih malah," sahut Senja dengan cepat. Sudah hapal betul, pasti syarat yang satu itu tidak mungkin ketinggalan.
"Kenapa kamu pintar sekali? Hemmm... Aku cinta kamu, Ask... Jauh darimu lebih lama bisa membuatku cepat menua." Darren mengecup bibir Senja sekilas.
Tapi di luar dugaan, istrinya itu malah menahan bibirnya lebih lama. Darren dan Senja kembali saling memagut. Seperti pengantin baru, keduanya mengulang hingga kegiatan tadi pagi hingga dua kali. Sampai Beyza dan Derya kembali datang, tidak ada satu pun yang terbangun karena kelelahan.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya Senja dan Darren datang ke sekolah si kembar. Mereka mengurus keperluan kedua anaknya itu untuk masuk ke asrama.
Tentu saja, Beyza dan Derya akan berpisah. Keduanya berada di asrama yang berbeda. Tidak seperti asrama Dasen yang bebas disaat weekend, untuk asrama Beyza dan Derya ini hanya boleh keluar asrama tiap weekend di akhir bulan.
Darren nampak sangat lega, bukan hanya karena Senja yang sudah mau kembali ke Indonesia. Tapi sebagai seorang Ayah, dia sangat bangga melihat Derya dan Beyza sudah berani memutuskan hidup di asrama sendiri.
Setelah urusan di sekolah selesai, keduanya kini berjalan-jalan menyusuri toko-toko barang branded dan melewati beberapa resto. Tangan Darren tidak pernah lepas dari pinggul Senja. Mengamit mesra serasa dunia hanya milik berdua. Tidak segan Darren mengecup pipi istrinya sekilas jika ada kesempatan. Saat tidak berada di Indonesia, hal itu lumrah dilakukan.
"Terimakasih, Ask. Kamu memberikan anak-anak yang hebat kepadaku. Mereka tumbuh luar biasa karenamu," Darren menepuk punggung tangan istrinya.
"Kamu juga hebat. Kadang sikap keras dan egois kamu, justru membuat mereka lebih baik. 'Tidak ingin seperti daddy' juga merupakan motivasi. "
Darren memanyunkan bibirnya. Tapi memang itulah kenyataan yang dihadapi. Anak-anak kecuali Beyza, lebih mengagumi mamanya dibanding sang daddy.
Darren berhenti saat ada kios boneka yang mereka lewati. "Tunggu di sini sebentar."
Senja pun menuruti saja apa kata suaminya. Tidak lama kemudian, Darren membawa boneka beruang yang sangat besar dan memberikannya pada sang istri.
"Buat kamu, Ask... Sepertinya aku memang tidak pernah memberimu hadiah. Maaf, karena aku selalu menjadikanmu sandaran dan tumbuan. Aku lupa, kalau kamu juga butuh dimengerti. I love you, my everything, my soulmate, my breath, my endless love." Darren mengecup kening Senja dengan lembut, menahannya agak lama di sana.
"Thank you soo much, Ask... I love you more." Senja menatap suaminya penuh cinta.
Senja menggendong dan memeluk boneka itu dengan gemas. "Ini hadiah terbaik setelah anak-anak, Ask."
"Namanya Teddy Darren... panggil saja begitu."
__ADS_1
Senja mengernyitkan keningnya, yang dia tahu, boneka beruang adalah Teddy Bear "Kenapa harus Teddy Darren?"
Darren hanya mengerlingkan matanya dengan nakal.