
"Astaga jadi ini rencana mereka?! Ask ... ini konyol sekali. Bahkan mereka melibatkan Genta dan ayahnya. Sungguh memalukan," gerutu Senja.
"Nikmati saja, bukankah mereka menyuruh kita menyelesaikan masalah? Maafkan aku. Tanganku memang harus dihukum." Darren meraba-raba dress yang dikenakan sang istri. Mencari tepian untuk jalan masuk menyusupkan tangannya.
"Itu bukan hukuman, Ask ... yang benar saja. Bukan hanya pipiku yang perih, hatiku juga," tegas Senja.
"Aku bisa membuat hatimu, baik-baik saja. Cukup maafkan, Aku. Janji semua tidak akan terulang. Ask ... sini aku kompres pipinya." Darren membasahi bibirnya dengan lidah. Lalu menciumi pipi istrinya dengan lembut menggunakan bibirnya itu.
"Ask ... Sudah. Ini di ruangan orang. Kalau ada CCTV nya bagaimana?!" Senja mengeliat karena tangan Darren yang tidak diperban mulai bergerilya mengusap perutnya. Jelas dia paham arah usapan itu selanjutnya akan ke mana.
"Ini gelap sekali, tidak akan ada gambar yang ditangkap. Lagian ayahnya Genta juga pasti punya istri, kalau dia mau. Nanti dia bisa bersama istrinya di rumah," ucap Darren dengan enteng.
"Tapi aku tidak mau di sini, nanti saja di rumah. Lagian anak-anak menyuruh kita berbicara, bukan bertindak." Bibir Senja menolak, tapi tubuhnya tidak. Sentuhan dan remasan lembut tangan Darren di satu gundukan kenyalnya sungguh membuat bagian intinya berdenyut.
"Tindakan itu menjelaskan dan membuktikan lebih banyak daripada sekedar ucapan. Kata I Love You saja tidak akan cukup, jika hanya di mulut. Butuh pembuktian nyata." Darren meraup bibir istrinya.
Awalnya tidak ada balasan. Karena Senja masih tidak nyaman, tapi lama kelamaan perempuan itu pun membalasnya.
"Jelas kita sudah saling memaafkan," bisik Darren di sela-sela ciumannya dengan nakal.
Di ruangan sebelah, Rangga terpaksa mengecilkan volume audio cctvnya dengan maksimal. Suara decapan yang sudah belasan tahun tidak dia rasakan itu sungguh meresahkan. Untung saja lampu sengaja dimatikan. Kalau tidak, dia akan benar-benar terganggu dengan tampilan di layar monitor yang terhubung dengan CCTV di ruangan Senja dan Darren berada.
"Kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Derya pada Beyza.
"Sangat yakin, daddy dan mama adalah sepasang sepatu. Semahal apapun sepatu, kalau salah satunya hilang atau rusak, maka sepatu itu tidak akan ada nilainya lagi. Benarkan kak?" Beyza kembali menanyakan pada Zain.
"Bener ... Kalau daddy keluar senyum-senyum, kakak akan membelikan kalian bertiga ponsel keluaran terbaru," janji Zain.
Beyza, Derya dan Genta bersorak kegirangan. "Sering-sering saja membuat drama keluarga. Biar aku mendapatkan berkahnya juga." Genta memanggil waitres kafe.
__ADS_1
"Kalian mau makan apa? malam ini gratis. Aku yang traktir," ucap Genta sedikit menyombongkan diri sembari melirik Beyza.
"Halahhh ... bocah sok-sok'an mau traktir. Sekolah yang bener terus kerja, baru bisa bayarin orang. Jangan duit orangtua buat nraktir," sahut Zain.
"Kata-kata itu lebih cocok untuk kak Dasen," timpal Derya, disambut anggukan kepala Beyza.
Mereka kemudian memesan makanan. Semua menu yang ada di kafe milik mendiang bundanya Genta memang sangat enak.
"Kurang lima menit lagi." Genta melirik jam dipergelangan tangannya.
"Apa daddy dan mama, kita pesankan makan sekalian?" tanya Beyza.
"Tidak perlu! mereka pasti akan langsung masuk ke mobil," jawab Zain, berani menebak karena dia sudah hafal siapa Darren Mahendra. Umur boleh separuh abad lebih, tapi jiwa dua puluh lima tak kunjung padam.
Setelah lima menit berjalan, ketiga anak abg dan Zain, kembali ke ruangan. Mereka hanya ingin menyalakan lampu dan membukakan pintu untuk Senja dan Darren.
Saat lampu menyala, Senja langsung membenahi rambut dan merapikan dressnya. Dia sedikit berdehem untuk menetralkan suaranya. Begitu juga dengan Darren.
Saat pintu di buka, senyum Darren langsung mengembang. Tangannya mengamit pinggul Senja dengan sangat mesra.
Derya, Beyza dan Genta kembali melakukan hi-five, ponsel baru sudah di depan mata.
"Ayahmu di mana?" tanya Darren pada Genta.
"Ada di ruangan Oma, om. Sebentar Genta panggilkan." Genta hendak melangkah, tapi tangannya ditahan oleh Senja.
"kami saja yang ke sana. Karena kami yang merepotkan kalian," ucap perempuan cantik itu.
"Kita nggak ikut, ya. Sudah pesen makanan. Kami makan dulu. Kekuatan matahari dan bulan sudah bersatu kembali. Makan pun akan enak kali ini." Beyza tersenyum penuh arti pada daddynya.
__ADS_1
Zain dan Derya juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Urusan sudah selesai, saatnya mereka mengisi perut setelah sehari ini disodorkan pada sedikit ketegangan dan kesedihan.
Genta berjalan lebih dulu. Perawakan anak laki-laki itu sangat bagus. Tidak kalah dengan Dasen dan Derya yang masih kualitas import. Genta memiliki garis wajah yang tegas, berkulit putih dan sangat tidak membosankan dipandang mata.
Senja merasakan ada yang aneh saat berjalan. Tapi dia mengabaikan karena sudah berada di depan ayahnya Genta.
"Silahkan, Tante ... Om ... Genta tinggal dulu ya." Anak laki-laki itu berjalan mundur dengan sopan.
Rangga duduk di sofa single, sedangkan Senja dan Darren duduk di sofa panjang yang ada tepat di sisi kiri sang tuan rumah.
"Pak Rangga ... kami mau mengucapkan terimakasih, maaf anak-anak membuat bapak ikut terlibat dengan kekonyolan mereka. Kadang mereka tidak sabaran, kita sebagai orangtua butuh waktu untuk menyelesaikan dan merenungkan masalah terlebih dahulu. Tapi mereka maunya melihat kita selalu sempurna." ucap Darren sembari tersenyum renyah.
Rangga membalas senyuman itu. "Tidak mengapa pak, itu tandanya mereka sangat peduli dengan kondisi Bapak dan Ibu," timpal Rangga.
Ketiganya terlibat obrolan yang akrab. Rangga memang sosok yang hangat, tapi beberapa kali, Rangga harus melempar pandang ke sisi lain. Belasan tahun hidup seorang diri, baru kali ini dia merasakan terusik melihat keromantisan pasangan. Tangan keduanya saling menggenggam, dan pandangan penuh cinta yang dilempar satu sama lain sungguh membuat hatinya menghangat.
Darren dan Senja akhirnya berpamitan. Rangga tidak mengantar sampai luar karena di saat yang bersamaan dia juga kedatangan teman lamanya.
Tepat dugaan Zain, kedua orangtuanya itu hanya berhenti untuk berpamitan pada Genta dan mengatakan pada anak-anaknya, kalau akan menunggu di mobil saja.
Mereka sebenarnya sudah selesai menghabiskan makan malam masing-masing, hanya saja Beyza dan derya masih menunggu Zain yang sedang berbicara serius dengan Airin. Kondisi perempuan itu masih sedikit drop karena batalnya pertunangan tadi.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya Zain menyudahi sambungan teleponnya dengan Airin. Ketiganya pun berpamitan pada Genta.
"Salam sama ayahmu ya, sampaikan terimakasih." Beyza mengucapkan dengan sangat manis. Tidak terkesan manja seperti saat dia berbicara dengan yang lain.
"Nanti aku sampaikan." Genta tidak berani menatap Beyza secara langsung.
Zain bisa mengartikan perasaan yang sedang melanda dua bocah itu. Zain melirik Derya yang terlihat cuek dan kalem seperti biasa.
__ADS_1
Di dalam mobil, wajah Senja merona begitu merah. "Ask ... Bagaimana ini? aduh ... bagaimana ini? kamu sih, selalu nggak tahu tempat banget." Perempuan itu terus menggerutu, sementara Darren hanya terkekeh.
Rangga yang berniat mengambil sesuatu di ruangan yang tadi di tempati Darren dan Senja, membelalakkan matanya. Dengan ragu dia mengambil benda langka yang jatuh di lantai. 'Astaga ... umur segitu, pinter juga memanfaatkan kesempatan. Kalau haus memang bisa di mana saja.' batinnya seraya memegang kaca mata berenda warna hitam milik perempuan.