Hot Family

Hot Family
Pengajian


__ADS_3

Beyza segera menyerobot masuk ke kamar Derya, begitu Genta membukakan pintu untuknya. Lalu dia menyuruh kekasihnya itu untuk segera mengunci rapat-rapat pintu tersebut.


"Gerakkan tim IT mu untuk menghack semua sosial media Inez sekarang juga. Mari kita bermain-main sedikit dengan anak bodoh itu," Beyza sudah mulai berbicara agak kasar.


Derya yang tadinya mengira Beyza datang untuk berbicara dengan Genta seketika mendekat pada saudara kembarnya itu. Setelah melihat postingan dari Inez, seketika rahang Derya mengeras. Luka di hatinya karena patah hati, kini benar-benar tergantikan dengan kekecewaan yang teramat dalam.


Genta dan Derya segera menghubungi tim IT mereka masing-masing. Tentu saja dengan tugas berbeda. Satu orang bertugas menghack video Inez, dan satu orang lagi bertugas menghack sosial media orang-orang yang sudah terlanjur melihat.


"Sepertinya, kasus bandara harus segera kita angkat ke permukaan," usul Derya.


"Mainkan, Der. Dan aku masih punya satu kartu lagi. Tapi ini lebih baik aku kirimkan secara pribadi pada Inez. Kita lihat apa reaksi dia." Beyza mengirimkan video saat masuk ke dalam salah satu kamar hotel, dan setelah dua jam kemudian Inez baru keluar selang lima menit dengan seorang laki-laki yang keluar dari kamar yang sama.


"Lihat! Kita sama-sama tertipu, Der. Kita tidak bodoh. Menganggap orang lain baik, bukanlah sesuatu yang salah. Yang tidak benar adalah mereka, yang sudah menyia-nyiakan dan mengkhianati kepercayaan kita," tagas Beyza.


"Tempatnya sampah adalah di tempat sampah. Tidak ada ruang untuk Inez di sini." Derya menunjuk dadanya sendiri.


Lima menit kemudian Derya sudah dihubungi oleh ahli IT nya, semua sudah beres. Media sosial Inez memang tidak ada lagi. Tapi IT masih terus memantau pergerakan di sosial media, karena jeda waktu Beyza mengetahui dengan waktu Inez posting cukup lumayan, yaitu sekitar 30 menitan.


"Kamu belum mengirim video tadi ke Inez kan?" Tanya Derya.

__ADS_1


"Belum," sahut Beyza dengan cepat.


"Sebaiknya jangan dulu, biar mereka puas-puaskan permainan mereka dulu. Sekarang serahkan semua pada orang-orangku. Di jamin, malam ini Inez tidak akan tidur tenang dan mematikan ponselnya." Kali ini Genta yang menyahut.


"Saat itu terjadi, biar tim kita yang bekerja. Dia yang mulai memasarkan dirinya. Dia harus merasakan kekejamanku sedikit. Hadiah kecil karena berani mempermainkanku, Nez." Derya tersenyum dengan sinis.


"Apa rencana kalian?" Selidik Beyza.


"Open booking lah, murah-murah, tidak perlu mahal untuk seseorang yang sanggup menghalalkan segala cara untuk melakukan segalanya. Sebelum mereka berhasil membuat mama sakit hati karena aku, biar aku buat mereka sakit hati lebih dulu," seringai Derya. Mengeluarkan sisi lain dari dalam dirinya, yang biasanya hanya muncul saat menghadapi relasi yang sedikit rumit.


"Sadis. Tapi good job, bro. Kalau begini, pantes banget kita jadi kembaran."


Beyza pun meski sembari memanyunkan bibir dan sedikit menghentakkan kaki, segera meninggalkan kamar Derya dan Beyza.


Beberapa jam kemudian, acara pengajian sederhana, yang hanya dihadiri keluarga pun di adakan di ballroom hotel yang sama. Tempat itu sudah di sulap sedemikian rupa. Hingga nuansanya menjadi berbeda.


Backdrop minimalis namun sangat elegant khas Senja. Semua ruangan bernuansa putih, hanya ada hijau dedaunan segar yang memberi sedikit warna lain. Daun itu terlihat di sela-sela bunga mawar putih yang terangkai dan menempel dengan epic di kelambu putih yang menjuntai. Bangku empuk putih tanpa kaki tampak di berderet di depan backdrop, bangku itu untuk tempat Senja-Darren, Arham-Bae, dan Sarita-Mahendra, saat Zain akan meminta doa restu.


Ratusan anak yatim piatu sudah hadir di sana. Beberapa ustadz dan ustadzah juga sudah berderet rapi. Semua keluarga memakai baju bernuansa putih.

__ADS_1


Darren dan Genta adalah dua orang yang paling tidak fokus kali ini. Wajah kedua perempuan yang mereka cintai, semakin memancarkan kecantikan yang tidak ternilai saat mengenakan kain panjang penutup rambut di kepalanya. Kain yang dikenakan dipakai sederhana, tidak ada hiasan berlebih, hanya sebuah bros dari brand ternama yang diletakkan di pucuk hijab yang ditautkan di bagian bahu.


Acara pengajian pun dimulai, seorang ustadz memimpin acara malam itu dengan memberikan nasihat-nasihat tentang pernikahan. Sesekali semua yang ada di ruangan tergelak, karena candaan Sang Ustadz.


Hampir 20 menit siraman singkat, acara pun dilanjut dengan pembacaan doa bersama. Zain yang duduk tepat di antara Senja dan Darren tidak henti-hentinya mengurai air mata. Bahkan lantunan ayat yang dia lafalkan pun menjadi bergetar dan semakin lama semakin tidak jelas, begitu pun dengan Senja. Air mata dan ingusnya sudah bercampur jadi satu. Hingga dia terpaksa menutup Al'Qurannya karena takut membuat nya rusak karena air mata.


Senja menegarkan diri meraih tangan Zain. Perempuan itu mencium telapak dan punggung tangan anaknya itu bertubi-tubi. Darren yang sedari tadi menahan diri agar tidak menangis seketika juga ikut rapuh. Pria itu mengusap-usap punggung Zain dengan lembut. Tidak ada kata yang saling terucap, hanya keharuan yang mendera. Tangisan ini bukan tentang kesedihan, tapi malam ini Zain sangat terenyuh.


Suara ratusan anak yatim piatu yang tulus mendoakannya seolah menyayat hati, membuat dirinya merasa harus lebih banyak bersyukur. Dan mengingatkan dirinya pada saat terpisah begitu lama dengan mamanya.


Tibalah saatnya Zain, mengucapkan sepatah dua patah kata untuk meminta restu pada orangtuanya. Senja yang kini sudah duduk di deretan bangku putih di samping Darren persis, Tidak berani menengadahkan kepalanya. Belum apa-apa, sedari tadi air matanya sudah keluar dengan deras. Bahunya bergetar hebat.


"Ma ...." Zain menjeda sebelum terlalu banyak kata yang terucap. Masih menyebut satu suku kata orang yang melahirkannya, suaranya sudah sangat bergetar. Padahal tadi dia sempat meminta izin terlebih dahulu untuk mengambil air wudhlu agar bisa kembali tenang.


"Ma, Dadd, malam ini, Zain ingin memohon doa restu sekali lagi. Besok, Insya Allah, Zain akan menjadi Imam dari perempuan yang menjadi pilihan,Zain." Anak pertama Senja itu kembali berhenti untuk mengatur napasnya kembali.


"Terimakasih selama ini Mama dan Daddy sudah merawat dan membesarkan Zain dengan baik. Terutama Daddy, terimakasih karena menyayangi Zain dengan luar biasa. Tidak membedakan Zain dengan Dasen, Beyza dan Derya." Suara Zain kembali bergetar, padahal masih banyak yang harus dia sampaikan.


Sekelebat bayangan Rafli, membuat Zain semakin terisak. "Pa, apa papa ada di sini, atau papa melihat Zain dari atas sana." ucap Zain dalam hati dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2