Hot Family

Hot Family
Sedikit kenyataan


__ADS_3

Selesai makan malam, semua sudah berkumpul di rumah, termasuk Derya yang sudah datang beberapa saat yang lalu. Zain, Sekar, Dasen, Baby De, Beyza dan Derya duduk dengan posisi nyaman masing-masing di gazebo taman samping rumah. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyunggingkan senyuman.


Sejak kecil, Senja yang membiasakan mereka selalu bersama, membuat anak-anaknya yang sudah dewasa pun, lebih nyaman bersama saudara sendiri ketimbang keluar bergaul dengan teman yang lain. Kecuali Dasen tentunya, yang masih sering keluar malam untuk menjajal hal-hal baru bersama Mike atau yang lain.


"Bey, Der, kalian sudah dapatkan info apa lagi tentang Inez? Sepertinya kamu harus bergerak Cepat, Der. Ini arahnya sudah tidak benar, kalau terlalu lama, malah akan semakin melebar tidak karuan," tutur Zain. Sebagai anak pertama, tentu dia memiliki rasa ingin memberikan arahan pada adiknya.


"Ada kak, segera. Besok setelah meeting, Der akan menemui Inez. Tolong kakak buatkan janji dengan dokter kandungan di tempat kakak praktik. Apa konferensi pres perlu kita lakukan?" Derya menatap wajah Zain dan yang lain bergantian.


"Bisa kakak atur. Tidak perlu konferensi pers, Der. Kebenaran tidak perlu disiar-siarkan. Mereka yang melempar kotoran, merekalah yang harus membersihkannya. Kita tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka yang sudah terlanjur menilai kita buruk. Buang waktu," tegas Zain.


"Pastikan informasi yang kalian dapatkan benar, jangan malah bikin malu kita." Dasen ikut menyumbangkan pendapatnya.


"Kalau soal itu, tidak perlu diragukan lagi. Informan kita paten." Beyza membuka suaranya.


Baby De yang tidak terlalu dalam memahami masalah yang sedang dihadapi, hanya menggerakkan bola mata ke sana ke mari untuk memperhatikan siapa yang sedang berbicara.


Sekar pun melakukan hal yang sama dengan Baby De. Hanya sebagai penyimak, tetapi jelas perempuan itu berada di posisi yang lebih nyaman ketimbang yang lain. Sekar menyandarkan kepala di bahu Zen, dengan tangan yang terus tidak bisa diam mebgelus paha Zain yang sedang memakai celana pendek di atas dengkul.


Beberapa kali Zain harus menepuk dan menahan tangan yang semakin tidak bisa diam itu karena tidak enak dengan adik-adiknya. Sebelum menikah, tangan Sekar tidak selincah itu. Baru menikah hitungan hari saja, perubahannya sudah sangat mencolok.


"Mumpung lagi kumpul semua, ada yang mau dibicarakan lagi? Yang lain oke kan? Tidak ada masalah? De?" Zain menatap adik-adiknya satu per satu, lalu menjatuhkan pandangannya lebih lama pada De yang dari tadi hanya diam.

__ADS_1


"Tidak ada, Kak. Tiba-tiba aku kangen Carina dan Bianca. Kami tidak terlalu banyak waktu untuk bisa bercengkrama seperti yang kita lakukan sekarang." De menyebut nama adik kembar hasil pernikahan Aleandro dan Chun Cha yang usianya tidak jauh berbeda dengan Bey dan Derya.


Beyza langsung memeluk De dengan manja. "Nanti Bey akan menghubungi mereka. Bey akan paksa mereka datang secepatnya."


Semua terdiam sesaat, tidak ada yang menimpali ucapan Beyza. Sudah menjadi rahasia umum kalau kembaran Derya itu, selalu bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain.


"Das ada masalah," ucap Dasen tiba-tiba, yang lain langsung menjatuhkan tatapan mata kepadanya.


"Sebenarnya masalah Das lebih berat dari masalah kalian." Dasen menjawab dengan menundukkan kepalanya.


"Apa?" Tanya yang lain dengan kompak.


"Apa kalian tidak memikirkan nasib Dasen? Selama ini kalian hanya fokus pada Derya. tidakkah kalian berpikir bagaimana dengan Dasen dan Denok. Tidak adakah niat dari kalian untuk membantu hubungan kami agar semulus hubungan kalian?" Dasen seperti biasa mengucapkan kalimat yang mencerminkan sifatnya yang sering kali cemburu jika diabaikan.


Seketika yang lain menahan tawanya. Apalagi Sekar, dengan ketidak polosannya, dia berkata, "Mana ada hubumgan kami mulus. Yang benar-benar mulus tuh cuma pahanya Kak Zain. Mulusnya persis kayak jalan tol, lurus tapi pas di tengah jalan ada sedikit gundukan mengagetkan."


Zain memelototi Sekar. Bukan hanya tangan, sekarang mulut istrinya itu pun menjadi bar-bar. Baby De dan Beyza kompak mencebikkan bibir. Derya tersenyum tipis, sedangkan Dasen berkata dengan wajah kesal dan memelas, "Fix semua tidak peduli sama Dasen."


Di lain tempat, namun masih di rumah dan waktu yang sama. Darren dan Senja duduk saling berhadapan. Kepala Senja terus menunduk, sementara Darren menatapnya tajam dengan kekecewaan yang nyaris membuatnya mengeluarkan air mata.


"Sampai kapan akan seperti ini? Andai kesabaranku padamu ada batasnya, mungkin aku sudah menyerah, Ask. Siapa laki-laki yang tahan terus diperlakukan seperti ini. Jika setiap kehamilan adalah kesalahan, apakah anak-anak itu juga sebuah kesalahan?"

__ADS_1


Darren menelan ludahnya kasar, perasaannya tidak pernah sesakit ini. Pernikahan mereka sudah lebih dari dua puluh tahun, baru kali ini dia harus memaksa istrinya untuk pulang ke rumah. Sedari pagi pergi tanpa pamit, Senja baru pulang menjelang makan malam. Itu pun karena Darren berhasil menemukan istrinya itu di tepian danau. Tempat yang menjadi favorit Senja saat menepi.


"Kalau kamu sudah bosan dan lelah bersamaku, setidaknya, pikirkan anak-anak. Jika sikapmu seperti ini, mereka akan bertanya-tanya. Mereka akan merasakan kamu mengabaikan mereka karena kehamilanmu. Kemana Senja yang bijaksana dan sangat dewasa? Kenapa aku seperti sedang bersama orang lain akhir-akhir ini." Darren tidak kuasa menahan bulir bening yang lolos jatuh membasahi pipinya.


Senja memalingkan wajahnya, perempuan itu juga sedang menangis. Tangisan yang sebenarnya sudah dia tahan dari tadi. Pundaknya bergetar hebat, Senja bergegas berdiri menatap tembok memunggungi Darren.


Darren tidak langsung mengejar Senja. "Jika sekarang bersamaku tidak membuatmu bahagia, aku tidak akan mendekati atau menampakkan wajahku padamu. Tapi jangan suruh aku menjauh atau pergi. Biarkan aku saja yang menatapmu. Seperti apa pun kamu, tidak pernah aku berpikir untuk berpisah darimu. Jangan lukai dirimu dengan bersikap seolah kamu bahagia dengan dirimu sendiri."


Bahu Senja semakin tergunjang. Berkali-kali perempuan itu mengucapkan kata istighfar dengan suara lirih yang bergetar. Satu tangannya meremas dada yang terasa sesak.


Darren berdiri, memeluk Senja dari belakang. "Jangan lukai dirimu sendiri lebih dalam. Kamu lebih pantas mendapatkan yang terbaik."


Senja benar-benar menumpahkan air matanya, tangis yang tadinya hanya berupa isakan. Kini pecah dengan suara yang menyayat hati. Darren perlahan membalik tubuh Senja dan memeluk istrinya itu dengan sangat erat.


Rasa cinta yang dimiliki bukan lagi sekedar cinta biasa. Di mana saat dikecewakan dan disakiti sekali pun, hanya kebaikan yang teringat.


"Kita sudah berjalan sejauh ini. Kita sering jatuh, tapi kita berhasil berdiri bersama. Jika kamu lelah, istirahatlah, biar aku yang mengambil pikiran dan bebanmu. Jika kamu lemah, biarkan aku yang menopang tubuhmu. Kita masih seperti dulu, namamu masih sama dengan nama yang aku ucap saat akad. Hanya sikap kita yang kini sering beradu. Kita bukan teman, dan tidak akan pernah menjadi saudara. Aku suamimu, dan kamu adalah istriku. Akan selamanya begitu."


Senja merenggangkan badannya, lalu menggeser tubuhnya untuk menggapai tas yang seharian tadi menemani ke mana pun dia pergi. Senja mengulurkan amplop putih berlogo rumah sakit yang dia kunjungi.


Darren menerima amplop itu dengan tatapan mata penuh tanya. Sesaat kemudian, pria itu mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya. Darren membaca dengan seksama. Mengulanginya hingga beberapa kali, lalu memundurkan badannya sembari menggelengkan kepala kuat dengan mata berkaca-kaca. "Tidak, ini tidak benar."

__ADS_1


__ADS_2