Hot Family

Hot Family
Delia dan Jason


__ADS_3

"Delia?" Dasen bertanya dengan ragu. Melihat dari wajahnya, dia yakin kalau Delia adalah teman hangout saat di UK dulu. Tapi penampilan Delia, terlihat banyak berubah.


Badan perempuan itu tidak lagi langsing, tapi tidak juga gendut. Kulitnya tidak putih mulus seperti dulu, meski tidak hitam, jelas Delia sepertinya tidak terlalu terawat sekarang. Masih cantik, hanya saja terlihat lebih dewasa.


"Iya, aku Delia. Pasti kamu tidak mengenaliku lagi." Delia kembali posisi berdiri. Dia lalu membungkuk menyentuh pipi sang anak. "Ibu baik-baik saja."


Dasen memperhatikan anak itu dan Delia bergantian. Ya, anak itu memang jelas anak teman perempuan yang dia temui di taman berkumpulnya para pelajar dan mahasiswa dari Indonesia saat di UK dulu.


Denok yang tidak tahu apa-apa, sesaat merasa diabaikan. Bahkan Dasen, tidak memperkenalkan temannya itu padanya. Dia pun berjalan memghentakkan kaki menuju penjual kembang gula.


Dasen bukannya lupa, dia hanya sedang merangkai puzzle keheranan melihat dan bertemu Delia di tempat yang sederhana ini. Padahal setahunya, Delia berasal dari kalangan berada dengan kehidupan yang sangat glamour.


"Nok, tunggu!" Panggil Dasen. "Del, kenalin itu cewekku."


"Oh, iya." Delia melempar senyuman ramahnya pada Denok.


"Ini anakku, Das. Namanya Jason." Delia berbisik pada Jason, untuk bersalaman dengan Dasen.


Denok yang masih empat langkah dari kekasihnya berdiri, langsung kembali ke tempat di mana Dasen berdiri.


"Kenalin, ini temanku waktu di Uk, namanya Delia. Dan ini Jason--anak Delia."


Kedua perempuan itu saling berjabatan tangan, senyum sama-sama menyungging dari wajah Delia dan Denok.


"Hai ganteng. Tante mau beli kembang gula. Apa kamu mau?" Denok membungkukkan badan dan menepuk bahu Jason.


Anak laki-laki itu mendongakkan wajahnya agar bisa menatap Delia. Sepertinya, dia sedang meminta persetujuan dari sang mama.


"Boleh, sayang." Delia menganggukkan kepala dan mengusap lembut punggung anaknya itu.


Denok, Delia dan Joson berjalan di depan, sementara Dasen mengikutinya di belakang. Meskipun tidak ada perasaan apapun, dibenaknya kini timbul beberapa pertanyaan tentang Delia yang menurutnya sangat berubah dratis.

__ADS_1


Pakaian yang dikenakan Delia saat ini, jelas sangat sederhana. Jeans denim belel dipadu kaos oblong yang sama sekali tidak bermerk. Hanya saja, wajah berada Delia masih ada. Hingga pakaian murah sekali pun, terkesan mahal di badannya.


Dasen membayar kembang gula yang dibeli Jason dan Denok. Tiba-tiba anak itu mengeluh capek dan minta digendong. Delia dengan telaten dan sabar menggendong anaknya itu.


"Ibu, Jason mau naik bianglala." Jason menunjuk keranjang warna-warni yang sedang berputar dengan ketinggian yang cukup lumayan.


Delia tampak ragu, wajahnya seketika berubah sendu. Kejadian dua tahun yang lalu, masih membuatnya trauma pada ketinggian.


"Nok, Das, bisa aku meminta tolong pada kalian?" tanya Delia dengan ragu-ragu.


Denok dan Dasen saling bertukar pandang, lalu keduanya kompak mengangguk.


"Aku belum sanggup berada di ketinggian. Bisakah kalian menemani Jason naik bianglala. Beberapa kali dia meminta, aku belum bisa memenuhinya juga. Aku akan membayar tiketnya," ucap Delia, seperti tidak enak hati.


Dasen mengernyitkan dahinya. 'Dia seperti bukan Delia, apa sebenarnya yang menimpanya? Kenapa aku merasa dia seperti dalam kesedihan dan kesusahan?' batinnya.


"Tentu saja. Yuk!" Denok menarik lengan Delia yang sedang menggendong Jason.


"Del, bolehkah aku menggendong Jason?" tanya Dasen. Tidak bermaksud apa-apa, tapi sebagai laki-laki, tindakan seperti itu wajar dia lakukan.


"Bener, Del. Biar digendong sama mas Dasen saja," timpal Denok.


Delia berbisik sesuatu pada anaknya. Setelah Jason menganggukkan kepala, Delia memindahkan Jason ke tangan Dasen.


Dasen merogoh kantong celana belakangnya untuk mengambil dompet dengan satu tangan masih menggendong Jason. Dia mengulurkan dompet tersebut pada Denok, meminta tolong pada kekasihnya itu untuk membayar tiket bianglala.


Tidak lama, Denok, Dasen dan Jason menaiki salah satu box bianglala berbentuk kotak itu. Denok memangku Jason, seolah sudah kenal lama, Denok begitu ceria menceritakan dan memberi tahu apapun yang terlihat dari berbagai titik ketinggian di mana mereka berada pada Jason. Sembari sesekali memakan bersama kembang gula yang dibelinyaa tadi


"Sudah pantas lho, Nok. Segera ya," canda Dasen.


"Restu dulu, Mas. Bukan anak yang di duluin. Kalau restu dapet, nikah, terus baru kawin. Gas deh, kembar lima sekalian kalau perlu," timpal Denok, kembali pada gaya ceplas-ceplosnya.

__ADS_1


Denok dan Dasen, sebenarnya bertanya-tanya tentang keberadaan orangtua laki-laki dari Jason. Jika Delia trauma pada ketinggian, seharusnya ada suami Delia yang menemani anaknya. Tapi mereka memilih menyimpan pertanyaan itu dalam benaknya masing-masing.


Bukan hanya tubuh Jason yang bongsor, ternyata pemikiran, ucapan dan sikapnya juga lebih dewasa dari usianya. Anak itu sangat sopan dan tenang. Meskipun binar kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya, tapi dia seperti bisa menahan diri untuk berteriak kegirangan layaknya anak kecil yang dituruti kemauannya.


"Eh, Jas, Sekarang kita berada di titik puncak bianglala. Artinya kita lebih dekat dengan langit. Kita bisa berdoa apa saja sekarang," ucap Denok dengan raut wajah sangat bersemangat.


"Benarkah? Apa Tuhan akan cepat memberikan permintaan kita?" tanya Jason.


"Kita coba saja. Doa harus dilakukan sesering munkin. Doa itu bisa kapan pun dan di mana saja. Jangan putus Doa. kita tidak pernah tahu, doa yang mana, yang akan dikabulkan Tuhan nantinya." Denok kemudian mengajak Jason dalam posisi berdoa.


Dasen tersenyum kagum melihat Denok memperlakukan Jason. Sangat hangat dan terlihat tulus.


Anak laki-laki itu berdoa cukup lama. Hingga bianglala sudah berubah posisi, matanya belum juga terbuka. Denok sampai mendekatkan wajahnya pada wajah Jason. Mulut anak itu, padahal tidak terlihat komat kamit.


"Astagfirullah." Jason berteriak lucu begitu membuka mata, wajah Denok memenuhi bola matanya dengan jarak hanya beberapa senti.


"Bu Dhe pikir kamu ketiduran, lama sekali berdoanya," dengus Denok.


"Apa itu Bu Dhe?" Jason terlihat bingung.


"Bu Dhe?" Denok mengulang kembali ucapannya.


"Iya, Bu Dhe itu apa?" Jason kembali bertanya.


"Dia sepertinya seperti aku, Nok. Tidak paham Bu Dhe itu apa." Dasen mencoba meluruskan sesuai yang dia tangkap.


Denok menepuk keningnya. "Bu Dhe itu pangilan Jason untuk aku. Artinya ibu gedhe. Anggap saja tante versi jawa," tutur Denok, sembari mengulurkan Jason ke pangkuan Dasen. Karena pahanya terasa pegal. Padahal masih ada satu putaran lagi yang harus mereka lalui.


"Ibu Gedhe?" Dasen reflek melirik bagian dada Denok.


"Bukan karena ini, Mas. Dasar mesuum." Denok mencebikkan bibir sembari menyilangkan tangannya di depan dada.

__ADS_1


__ADS_2