Hot Family

Hot Family
Pasar malam


__ADS_3

"Kalian bisa melangsungkan pernikahan di minggu kliwon bulan depan. Tapi tidak boleh ada kuade atau pelaminan. Bulannya tidak baik untuk melangsungkan pesta. Setelah ijab kabul tradisi yang dilakukan hanya injak telur. Tradisi yang lain tidak boleh dilakukan. Selamatannya pun hanya nasi kabuli," jelas Mbah Jarwo.


"Minggu kliwon itu kapan?" tanya Zain sangat antusias.


"Delapan hari dari sekarang, Zain." Damin menjawab.


Sekar memberi kedipatan mata dua kali pada Zain. Pertanda gadis itu setuju dengan syarat yang diberikan. Sekar lebih baik nikah sederhana tapi cepat, daripada menunggu satu tahun. Beberapa kali dia dan zain hampir saja melewati garis merah. Mereka tidak tau sampai kapan akan kuat iman. Menikah cepat adalah keputusan yang terbaik.


"Zain, sangat tidak mungkin kamu menikah sesederhana itu. Opa-opa dan Oma-oma bisa menyerangmu. Minimal kita harus ada acara keluarga." Senja mengatakannya sembari menatap Zain dengan tajam.


Anak pertama Senja itu mengangguk paham. Dia akan membicarakan itu nanti. Yang penting sekarang adalah mengiyakan dulu pernikahan, apa pun syaratnya.


"Saya dan Sekar setuju pernikahan diwaktu yang paling cepat. Kami akan sering bertemu di Jakarta. Apa pun syaratnya, asal sah secara hukum agama dan negara, kami tidak masalah. Resepsi tidak terlalu penting," putus Zain dengan nada tegas tapi masih sangat sopan.


"Sepemikiran. Resepsi itu melelahkan. Tidak ada saat yang paling ditunggu, selain pulangnya para tamu." Darren menepuk pundak Zain. Ucapannya tidak sepenuhnya serius. Karena bagaimana pun, dia juga ingin merasakan menjadi orangtua mempelai di atas pelaminan.


"Ya sudah, kami terserah kalian saja." Damin pun akhirnya setuju. Karena dia pribadi memang tidak menyukai pesta. Dia malah beruntung, karena syarat yang diberikan sangatlah mudah.


Mereka pun melanjutkan acara dengan makan bersama. Keluarga Sekar sudah menyiapkan hidangan untuk keluarga Zain. Tidak peduli di mana pun berada, Darren tetap ingin dilayani. Itulah mengapa, dia sudah tidak bisa ke lain hati. Ketergantungannya pada sosok Senja sudah seperti darah yang mengalir dalam tubuhnya.


Senja sedikit berbincang dengan ibunda Sekar. Sedangkan Darren setelah makan lebih memilih duduk tenang di tempat semula sembari sesekali menimpali pernyataan calon besannya.


Perbedaan latar belakang, membuat keduanya tidak banyak bicara. Darren bukan orang yang bisa akrab dan berbasa basi dengan orang yang baru ditemuinya. Sedangkan, Damin juga seseorang yang sangat menjaga perasaan orang lain. Jadilah kebersamaan keduanya, tidak seluwes Senja dan Ibunda Sekar.


Kedua perempuan itu, bisa tertawa lepas, saling menepuk lengan, mengambil foto selfie, dan saling bertukar nomor telepon.


"Kak, Mama sama Ibu kelihatannya cocok. Tapi kalau Daddy sama bapak, dekat tapi jaraknya seperti dari Sabang ke Merauke," bisik Sekar.


"Mana ada orang yang bisa cocok sama Daddy selain Mama. Kalau tidak ada mama di sampingnya, daddy mati gaya. Tangannya anteng di kantong celana." Zain membalas dengan cara berbisik juga.

__ADS_1


Tidak lama dari itu, Darren, Senja dan Zain berpamitan. Keluarga Sekar memberikan beberapa helai kain batik tulis yang sangat cantik pada calon besannya itu.


Zain dan Sekar akan berpisah dan tidak bertemu sampai acara akad yang disepakati akan berlangsung minggu depan. Sesuai hasil keputusan bersama, acara akan digelar di kediaman Sekar.


Kali ini, Zain bergeser ikut menginap di hotel tempat orangtuanya menginap. Ketiganya, akan kembali ke Jakarta besok pagi.


Di Jakarta, Dasen sedang bersama Denok. Keduanya sedang berada di kafe sebelah gedung kantor Senja.


"Ibumu mengatakan apa setelah kejadian kemarin, Nok?" tanya Dasen sembari menggenggam tangan gadis yang duduk di sampingnya persis.


"Ibu menyuruhku mempertahankanmu, Mas. Kalau bisa kamu harus tunduk padaku. Banyak yang dikatakan ibu. Mas, jangan tahu, nanti semakin mengubah pandangan mas padaku. Yang penting, aku tidak akan menuruti permintaan Ibu. Sungguh aku sangat maklum kalau Bu Senja tidak menyetujui kita. Jelas beliau tahu bagaimana kenekatan ibu Erika."


"Kamu baik sekali, Nok. Aku percaya kamu berbeda dengan ibumu, buktikan itu," ucap Dasen.


"Kita pulang yuk, Mas. Aku ingin dipeluk, tapi tidak di tempat seramai ini. Sebenarnya aku enggan pulang. Tapi tidak ada tempat lain, aku berharap, ibu bertemu laki-laki lain selain bapak, lalu kabur begitu saja. Jadi aku cukup mengakui Ibu Nurul menjadi ibuku." Denok menyebut nama istri pertama bapaknya.


"Hush ... kamu itu. Doakan yang baik-baik saja, Nok. Siapa tahu ibumu dapat hidayah." Dasen mengangkat tangan kanannya ke atas untuk meminta bill untuk membayar tagihan pesanan makanan dan minuman mereka.


"Kita muter-muter dulu yuk, mas. Kita ke pasar malam mau tidak? Pasti mas Dasen belum pernah naik bianglala di pasar malam," ajak Denok dengan semangat.


"Di mana" tanya Dasen.


"Di taman bermain dekat kampus Nusantara."


Setelah mendengar jawaban Denok, Dasen langsung memberi tahu Rudi untuk menuju ke arah yang dimaksud.


Sembari menunggu sampai ditujuan, Dasen kembali melihat layar ponselnya. Dia melihat whatsapp Senja sedang online, tapi pesannya hanya dibaca. Dasen menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa, Mas?" Denok melihat tatapan Dasen yang tidak fokus seperti biasanya.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak mengapa. Aku hanya kangen sama mamaku," lirih Dasen.


"Bu Senja masih marah?" selidik Denok.


"Mama hanya butuh waktu. Mamaku sangat baik. Aku tidak meragukan itu sedikitpun."


"Sabar ya, Mas. Kalau memang kita tidak direstui Bu Senja, kita tidak boleh nekat. Aku akan buktikan, kalau aku tidak seperti ibuku. Aku akan menjadi Denok yang lebih baik."


Dasen menatap wajah manis Denok dengan penuh kekaguman. Denok yang sering kali polos dan berbicara ceplas ceplos tanpa berpikir panjang, di kondisi sekarang, perkataannya bisa menyejukkan.


"Lakukan yang terbaik, Nok. Tunjukkan kalau penilaianku tentang dirimu tidak salah. Kita sabar dulu sekarang." Dasen merengkuh pundak Denok ke dalam pelukannya.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di tempat yang dimaksud. Dasen sontak menautkan kedua alis tebalnya hingga menyatu.


"Ayo, Mas!" Ajak Denok, sangat bersemangat hendak membuka pintu mobil.


Dasen memperhatikan penampilannya sendiri, lalu beralih melihat beberapa orang yang kebetulan lewat di sekitarnya. Sangat kontras. Melihat Denok yang terlanjur turun, mau tidak mau, dia pun mengikuti.


"Kita beli itu dulu, yuk!" Denok dengan kegirangan menarik tangan Dasen menuju penjual kembang gula yang ada di sisi seberang mereka.


Dasen berjalan mengikuti langkah Denok dengan kepala menunduk begitu dalam. Hingga dagunya pun menyentuh ke dada. Bukan karena takut ada yang mengenali, tapi enggan menjadi pusat perhatian.


Karena tidak benar-benar melihat jalan, Dasen menabrak seorang perempuan yang sedang menggandeng anaknya.


"Auwwwwww... ." Perempuan itu terjatuh di atas rumput.


"Sorry, tidak sengaja." Dasen buru-buru mengulurkan tangannya karena merasa bersalah.


Anak kecil laki-laki berwajah bule berusia tiga tahunan tadi juga berusia membantu. Dasen tidak melihat dengan jelas wajah perempuan yang ditabraknya. Begitu ramput panjang itu tersibak, wajah perempuan itu pun jelas terlihat.

__ADS_1


"Das ...." Perempuan itu menyapa Dasen dengan ekspresi wajah sangat terkejut.


__ADS_2