Hot Family

Hot Family
Luka yang dalam


__ADS_3

Darren menekan kode akses pintu apartemen Derya dengan tidak sabar. Dia langsung masuk begitu pintu itu terbuka. Sementara driver Bae yang menemani, mengikutinya di belakang.


"Ask ... Ask." Darren terus memanggil Senja sembari melangkahkan kakinya. Dia langsung menuju kamar Derya.


Darren seketika menjadi panik begitu melihat Senja terkulai lemas di atas ranjang dengan wajah yang pucat.


"Ask ... bangun, Ask." Darren langsung memeriksa denyut nadi dan detak jantung Senja. Merasa semua di bawah normal, Darren langsung mengangkat tubuh Senja ke dalam gendongannya. Dengan cekatan, Darren membawa Senja ke lobby. Driver Bae yang ingin membantu menggendong Senja, malah terkena bentakan yang sangat keras darinya.


Darren terus berusaha membangunkan Senja. Tapi istrinya itu seperti tertidur pulas. "Bangun, Ask. Kamu jangan membuatku takut begini." Pria itu terus menepuk pipi istrinya.


Dia menyuruh driver untuk mempercepat laju kendaraannya. Sampai di lobby rumah sakit yang sama dengan tempat Derya di rawat. Darren tidak menunggu brankar dorong yang masih diambilkan petugas UGD, dia memilih menggendong kembali tubuh Senja.


Seperti tidak mengenal berat atau pun lelah, dengan langkah tegap dan cepat, Dartin mengikuti perawat yang menunjukkan tempat pemeriksaan.


Setelah membaringkan tubuh Senja di atas brankar. Darren tidak melepaskan tangannya sedetik pun dari tangan kanan sang istri. Dia menciumi punggung tangan itu bertubi-tubi.


Seorang dokter datang umtuk memeriksa kondisi Senja. Darren terpaksa melepaskan genggaman tangannya dan memundurkan langkah agar dokter lebih leluasa mendiagnosis keadaan istrinya.


Dokter laki-laki berparas khas India itu, memberikan instruksi pada perawat untuk membantu menyadarkan kondisi Senja.


Darren menumpu dagunya dengan satu tangan. Sesekali dia memejamkan matanya sembari menelan ludahnya kasar. Dalam hati dia terus berdoa semua baik-baik saja. Jika sesuatu terjadi pada Senja, sungguh dia tidak akan sanggup.


'Ya Allah, begitu banyak duka yang dialami istriku sejak dulu. Kebaikannya tidak pernah ternilai. Jika ada salah dan sakitnya, biarkan aku yang menanggung semuanya.'


Senja membuka matanya perlahan, dia mengerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri. Menyadari keberadaannya sudah berpindah tempat, dia pun menanyakan siapa yang membawa dirinya ke rumah sakit.


Dokter dan perawat tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Mereka memilih untuk menjelaskan bahwa dirinya tidak perlu dirawat, hanya akan diberikan infus vitamin agar kondisinya tidak menurun. Setelah perawat memasang jarum infus di punggung tangannya, tinggallah Senja sendirian di ruangan itu hanya bersama suaminya.


Darren langsung menghampiri istrinya. "Aku di sini, Ask."

__ADS_1


Melihat wajah Darren, mata Senja kembali berkaca-kaca, pundaknya bergetar sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Kamu kenapa menangis? Jangan menangis, Ask. Kamu tahu aku paling tidak bisa melihatmu sedih. Jika aku salah. Marahi aku, jangan seperti ini. Jangan simpan sedih dan pikiranmu sendiri. Nanti kamu akan sakit." Darren memutari brankar agar bisa menggenggam tangan Senja yang tidak diinfus.


Senja seperti ingin bercerita, tapi dadanya semakin terasa sesak. Darren merogoh ponsel di kantong celananya yang terus bergetar. "Eomma," gumamnya.


"Katakan Senja baik-baik saja, hanya ketiduran karena lelah," pintanya dengan suara terisak.


Meski tidak paham kenapa istrinya harus berbohong, Darren menurut saja. Dia menerima panggilan dari ibu mertuanya. Setelah berbicara dalam waktu yang tidak terlalu lama. Darren pun kembali memasukkan benda pipih itu di kantongnya.


Darren duduk di tepian brankar, mengusap rambut Senja yang masih terus saja menangis. "Ada apa, Ask? Apa yang terjadi?"


"Maafkan Senja, Ask. Senja gagal menjadi Ibu," isaknya.


"Kamu hamil lagi? Terus keguguran? Kamu pendarahan?" Darren malah menanyakan hal konyol sembari memeriksa daerah jalan lahir.


Senja menjadi sangat kesal. "Bukan itu maksudnya. Senja gagal menjadi ibu yang baik untuk anak-anak."


Senja berusaha mengubah posisi agar bisa bersandar. Darren pun membantunya. "Tidak, Ask. Aku ini Ibu yang gagal. Benar-benar gagal."


Darren semakin bingung, lalu dia teringat Inez yang menurut Bae tinggal di apartemen Derya. Namun anehnya saat datang tadi, dia tidak mendapati Inez di sana.


"Apa ini ada hubungannya dengan Inez?" tebak Darren.


Senja mengangguk pelan. "Maafkan aku, Ask. Hukum saja aku."


"Katakan padaku, Ask. Ada apa sebenarnya." Darren semakin tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Derya dan Inez sudah melakukan hubungan suami istri, Ask."

__ADS_1


Darren menatap mata istrinya, berharap Senja hanya sedang bercanda. Tapi yang dia dapati hanya tatapan yang sendu yang di selimuti kekecewaan.


Pria itu kemudian menatap istrinya dengan lembut. "Itu bukan salahmu, Ask. Mereka sudah dewasa. Mereka yang berbuat, jadi kesalahan itu milik mereka."


Senja menundukkan wajahnya, tangannya mengusap air mata yang sepertinya begitu berlimpah hari ini.


"Jangan ambil beban ini sendiri, Ask. Biar aku yang tanggung dosanya. Aku masih kepala keluarga di sini. Dosa kalian, sepenuhnya tanggung jawabku."


"Tidak, Ask. Seorang Ibu adalah sosok yang paling berpengaruh pada sifat dan perilaku anaknya. Senja yang harus bertanggung jawab."


Darren menarik napas dengan berat. Jika menoleh kehidupannya ke belakang, sebelum bertemu dengan Senja. Apa yang dilakukan Derya adalah hal yang sangat bisa dimakuminya. Dia sendiri bahkan menyewa jasa perempuan untuk memuaskannya dengan mulut dan tangan mereka.


Tapi Darren dulu hanya sebatas itu, penyatuan tubuh yang benar, hanya dia lakukan bersama Senja. Bahkan dia dulu tidak pernah menyentuh dada kenyal perempuan yang dibelinya. Dia selalu berprinsip, dia adalah pembeli yang mengeluarkan sejumlah uang, jadi buat apa malah memberi kesenangan pada perempuan bayarannya.


Darren merasakan kepedihan Senja. Selama ini, istrinya itu tidak ingin anak-anak mereka mengalami kebodohan yang akan disesali seumur hidup. Nilai agama, moral dan sopan santun selalu Senja terapkan.


Istri Darren itu mengusap air mata di pipinya, lalu mengatur napasnya. "Senja tidak ingin bertemu dengan Derya dulu. Sakit rasanya, Ask. Hati Senja seperti digores. Senja seperti sedang dikhianati. Derya ... Sungguh Senja tidak menyangka. Sama sekali tidak. Apa kurangnya perhatian Senja ini?"


Darren merengkuh pundak sang istri membawa ke dalam pelukannya. Dia mengecup kening sang istri, dan membiarkan bibirnya sedikit lebih lama di kening Senja.


"Lakukan apapun yang membuat perasaanmu lebih baik, Ask. Aku yang akan berbicara dengan Derya."


"Jangan beritahu Eomma dan Appa atau siapa pun, Ask. Senja tidak mau semua semakin rumit. Biarkan hanya kita yang tahu. Senja pulang ke mansion saja. Jual apartemen Derya, karena mereka melakukannya di sana."


Darren kembali mengecup kening Senja." Tenangkan dirimu, letakkan semua bebanmu di sini. Biar aku saja yang menanggung. Aku bisa menanggung beban apapun, asal tidak mendengar tangisan dan melihat wajah sedihmu." Darren menepuk pundaknya sendiri.


Keduanya berpelukan, bahu Senja kembali bergetar dan bergerak naik turun. Tangisannya tumpah di dada Darren.


"Menangislah, jika itu bisa membuatmu lega. Tapi cukup sekarang. Di bahu ini, tumpahkan semua di sana. Besok, kita tetap akan menghadapi kenyataan. Sebesar apapun dosa dan kesalahan Derya. Dia tetap anak kita, Ask. Kamu tidak bisa menghindarinya lebih lama."

__ADS_1


"Senja tahu, Senja hanya tidak mau mengganggu proses kesembuhan Derya. Jika bertemu sekarang, Senja yakin masih terlalu emosi. Senja takut, kata-kata yang keluar malah bisa menjadi kutukan."


__ADS_2