Hot Family

Hot Family
Kucek kucek jemur jemur


__ADS_3

Senja di bantu Tuti dan Siti, menyiapkan kotak makanan yang akan di bawa Dasen ke kantor polisi. Dia sengaja membuat banyak, agar bukan hanya Pak Togar saja yang kebagian. Dasen ingin berangkat pagi sekali ke sana.


"Bi, ini nanti ditaruh di kantong lima-lima saja ya. Biar gak rusak yang bawahnya. Saya tinggal mandi dulu, sekalian mau panggil Dasen," ucap Senja sembari mencuci tangannya di wastafel.


"Iya, Bu." jawab Tuti dan Siti, kompak.


Senja langsung naik ke lantai dua. Menggulung rambutnya yang terasa lengket karena sudah lama berkutat di dapur.


"Das, sudah siap. Sana berangkat. Jangan bikin Pak Togar menunggu," teriak Senja, sembari mengetuk pintu kamar Dasen yang dikunci dari dalam.


"Oke,Ma!" sahut Dasen, dari dalam kamar.


Senja langsung masuk ke dalamnya. Melihat Darren masih rebahan santai di atas ranjang sembari membaca buku.


"Sudah beres?" tanya Darren.


"Sudah. Mau mandi dulu. Setelah ini mau ikut anak-anak ke makam bundanya Genta. Terlanjur janji." Senja membuka lemari dan mengambil baju ganti.


"Aku tidak ikut ya,Ask. Pengen santai di rumah. Sebenarnya sih, pengen santai sama Ma Nja. Tapi harus ngalah lagi sama anak. Jadi di rumah sendirian deh," keluh Darren.


"Biar kamu tahu di rumah sendirian itu bagaimana rasanya. Kamu baru sekali ini, Ask. Senja sering. Tiap hari malah." Senja masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


"Kalau butuh sesuatu bilang, Ask. Nanti Aku ambilkan!" teriak Darren, penuk maksud dan tujuan.


Senja tidak menanggapi. Badannya bisa remuk, tulangnya sudah tidak sekuat dulu. Menuruti kemauan suaminya, kalau tidak pintar-pintar mensiasati bisa-bisa tulangnya bengkong.


******


Dasen sampai di kantor polisi pagi sekali. Dia langsung mencari Pak Togar, sementara Rudi memasukkan kantong merah berisi kotak nasi ke dalam ruangan yang ditunjuk rekan seprofesi Pak Togar.


"Bah ... Datang juga kau rupanya. Aku kira kau mangkir." Pak Togar mengacak rambut Dasen yang sudah di tata rapi sekali.


Pria itu menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke segala arah. Mencari seseorang yang dijanjikan Dasen kepadanya.


"Maafkan Dasen, Pak. Hari ini Mama ada acara ke makam. Beliau tidak bisa datang. Tapi beliau menyapa pak Togar lewat ini." Dasen membuka fitur galeri ponselnya, lalu menunjukkan video rekaman saat mamanya memasak, lalu dengan rayuannya, berhasil membuat Senja menyapa Pak Togar.


"Mama kau cantik sekali. Kalau Bapak belum menikah, pasti Bapak akan lamar Mama kau itu." Pria itu mengambil ponsel Dasen, lalu memutar video sapaan Senja berulang-ulang.

__ADS_1


"Jadi bagaimana ini, Pak? jadi dangdutan nih?" Dasen bertanya dengan harapan Pak Togar memberikannya keringanan.


"Tentu saja jadi, Kau kirimkan dulu, video ini ke nomerku," Pria itu memberikan ponsel pada Dasen.


"Nanti kalau istri Pak Togar tahu, jangan bawa-bawa Dasen."


"Kau tenang saja. Ponsel ini tidak akan terbuka kalau tidak dengan jempolku," pak Togar begitu percaya diri saat mengatakannya.


Dasen dengan berat hati mengirim video itu pada Pak Togar.


"Owh ya, Pak. Bagaimana Michel?" Dasen sampai hampir lupa urusan sahabatnya itu.


"Teman kau itu sudah pulang tadi malam, karena mereka bisa membuktikan kalau metamfetamin yang ada dalam tubuhnya, karena ada obat yang memiliki kandungan sana untuk pengobatan yang sedang dia lakukan," jelas pak Togar.


Dasen pun bernapas lega dan mengucap syukur, sudah dia duga, Michel tidak mungkin dengan sengaja mengkonsumsi sabu.


"Kalau Arnold, Reynald dan Adam bagaimana?" Dasen lagi-lagi bertanya.


"Banyak tanya kali kau. Macam penyelidik saja. Kau mau jadi polisi?"


"Baguslah! jadi apapun, yang terpenting kau bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Jangan kau kaya buat dirikau sendiri. Saat kau mati, yang kau bawa hanya kain kafan. Gunakan uang kau yang berlebihan untuk tolong orang lain yang membutuhkan. Jangan kau tiru Arnold dan Adam. Mereka benar-benar positif," tutur pak Togar.


"Bukannya kemarin katanya dua saja. Kalau sama Michel berarti tiga dong." Dasen terlihat bingung.


"Mereka minta tes ulang lagi, karena orangtua tidak percaya. Malah tambah yang positif. Sudahlah jangan banyak cakap kau. Itu teman kau datang. Ayo kita ke depan sana." Pak Togar menunjuk Rama yang berjalan ke arah mereka.


Rama menyapa dan mencium punggung tangan pak Togar. Lalu ketiganya berjalan ke arah parkiran depan.


"Kalian goyang dangdut di panggung ibu-ibu itu saja." Pak Togar menunjuk panggung dadakan tempat instruktur senam berada.


Saat, Dasen tiba tadi hanya ada beberapa ibu-ibu. Tapi kini, lautan ibu-ibu dengan setelan senam hijau-hijau ulat keket berjajar rapi di sana.


Melihat hal itu, tentu saja membuat nyali Dasen yang tadinya sebesar gunung, kini menciut seperti plasik yang terbakar.


"Alamak, kalau sebanyak itu. Aku pun tak mampu." Dasen menirukan gaya Pak Togar sedikit.


"Sudahlah, Das. Ibu-ibu ini," sahut Rama.

__ADS_1


"Ibu-ibu lebih menyeramkan kalau sudah gemas dan bersatu. Percayalah, lebam kita ini tidak seberapa sakitnya."


"Ayo, mulai! banyak cakap sekali kalian. Kapan mulainya kalau begini." Pak Togar lama-lama kehilangan kesabaran juga pada kedua anak itu, termasuk Dasen.


Pak Togar berjalan mendekati panggung, lalu mengambil pengeras suara. Dasen dan Rama terus mengikuti di belakangnya.


"Selamat pagi Ibu-ibu. Sebelum senam dimulai, mari kita sambut dua anak yang ganteng-ganteng ini. Mereka akan menghibur kita dengan goyangan pinggul yang akan membuat kita berkeringat di pagi hari.


Dasen dan Rama pun mengambil posisi lebih maju mendekati bibir panggung.


Kenzi--teman Darren, baru saja keluar dari mobilnya. Saat mendekati pintu masuk tatapan matanya langsung berakomodasi maksimal saat mengenal sosok yang ada di atas panggung.


'Bukankah itu kecebong Darren?' batinnya dalam hati. Dia memanggil Dasen dengan sebutan kecebong karena bocah itu terlampau lincah dan tidak bisa diam sedari kecil.


Kebetulan yang sangat menyenangkan. Kenzi ingin mengurus surat kehilangan Kartu identitas dan kartu ATM nya yang hilang, tapi malah disuguhi pertunjukan yang langka.


Dasen mulai menemukan kepercayaan dirinya. Dia mengambil alih pengeras suara yang dipegang pak Togar.


"Siap bergoyang ibu-ibu? yang hafal lagunya boleh sekalian bernyanyi. Kita mulai saja. Musik ...." Dasen pun memberi aba-aba agar musik dimulai.


Dengan gaya yang kaku, Dasen bergoyang sembari memberi aba-aba hitungan. Rama mengikuti saja apa yang Dasen lakukan. Padahal gerakan Dasen out off the beat. Musik dan geraknya sungguh tidak seirama.


"Mari kita lakukan gerakan kucek-kucek, jemur-jemur. Ibu-ibu ikuti saya, satu dua tiga. Kucek ... kucek ... jemur ... jemur ..." Darren terus melakukan gerakan angan ke bawah sembari mengucek baju, lalu mendorong ke atas seperti sedang menjemur baju sembari memegang mikrofonnya.


Ibu-ibu terlihat bersemangat.


"Kapan lagi diinstrukturi berondong," bisik seorang ibu pada temannya.


"Ganti gaya! sekarang namanya gaya amukan ibu-ibu, kepalkan tangan pukul ke depan bergantian tangan kiri dan kanan. Kita lakukan sekarang. satu ..."


Terlalu bersemangat membuat Dasen terus maju dan dia pun tidak melihat kalau sudah berada di tepian panggung. Dan akhirnya ...


Brukkkkkkkk


Kenzi yang dari tadi merekam apa yang dilakukan Dasen pun tertawa terpingkal-pingkal.


'Jatuh harga dirimu, Darr. Kecebongmu merobohkan gengsi yang selama ini kamu bangun tinggi,' batin Kenzi sembari mengirim video itu pada Darren.

__ADS_1


__ADS_2