Hot Family

Hot Family
Serba Serbi


__ADS_3

"Teteh sulit percaya pada laki-laki. Sudah banyak yang datang melamar teteh, tapi selalu ditolak. Teteh takut kalau semua laki-laki seperti Abah." Fano menjawab dengan suara yang benar-benar lirih.


"Oh, itu. Kita lihat nanti. Aku belum kepikiran ke sana. Masih sebatas tertarik dan mengagumi," jawab Derya dengan jujur.


Sampai di resto yang dituju, Derya mengambil duduk tepat berseberangan dengan Mecca. Seperti biasa, perempuan itu selalu menjaga pandangan matanya. Meskipun sesekali Mecca tertangkap mata mencuri pandang pada Derya, namun perempuan tersebut sangat pandai mengalihkan perhatian dan bersikap tenang.


"Kalian satu angkatan?" Tanya Derya begitu mereka selesai memesan makanan masing-masing.


"Yang seumuran Figar, Firza, Fani dan Fano. Kalau Firman dan Faisal selisih 14 bulan sama kami. Teh Mecca anak pertama, di bawah Teh Mecca ada Kang Malik, Kang Manu, Teh Medina, Teh Mulan, Teh Mely, dan Teh Manis." Figar menjelaskan sekilas tentang keluarganya.


"Oooo...." Derya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendengar saja dia pusing, apalagi menghafal sekaligus mengenali pemilik nama satu per satu.


Ketika makanan sudah datang, semua langsung terdiam. Seperti biasa, saat ada Mecca, waktu makan haruslah fokus dengan makanan. Tidak boleh ada yang berbicara. Derya tidak bisa membayangkan kalau aturan itu diterapkan dikeluarganya. Dasen dan Beyza pasti akan menjadi pelanggar tetap aturan tersebut.


Setelah makan selesai, Mecca berdiri terlebih dahulu untuk membayar pesanan mereka ke meja kasir. Derya pun menyusul untuk melakukan hal yang sama. Tapi rupanya Mecca sudah membayar pesanan Derya sekalian.


"Tidak-tidak! Bukan begini perjanjian kita tadi. Aku tidak suka dibayari orang lain, apalagi perempuan." Derya mengambil selembar uang di dalam dompetnya, lalu memberikan kertas bernilai itu pada Mecca.


"Tidak masalah, Bang. Jangan ditolak, ini rejeki buat Abang. Lain kali, Abang bisa gantian mentraktir aku atau adikku." Mecca seketika membungkam bibirnya sendiri dengan telapak tangannya.


"Astaghfirullah, aku seharusnya nggak boleh ngomong gitu," sesal Mecca dalam hati.


"Apakah ini signal positif? Semacam lampu hijau kah ini?" Derya bertanya-tanya pada benaknya sendiri.


Melihat Derya melamun, Mecca bergegas mengajak adik-adiknya untuk meninggalkan tempat. Sungguh dia merasa malu sendiri dengan jawaban yang tadi diberikannya pada Derya.

__ADS_1


***


Diwaktu yang sama, Dasen sedang berada di sebuah butik gaun ternama bersama Baby De dan juga Denok. Dasen hanya duduk sembari memainkan ponselnya, sedangkan De sibuk memilihkan gaun yang cocok untuk dipakai Denok saat acara pernikahan Beyza nanti.


Karena Denok dan Dasen belum resmi menikah dan juga belum memiliki status hubungan yang serius, maka Denok tidak mendapatkan seragam keluarga. Sebagai penggantinya, Dasen mengajak Denok membeli gaun yang warnanya senada dengan pakaian yang akan dikenakan oleh keluarga besar Mahendra.


"Nok, ini kayaknya pas sama kamu. Cobain dulu deh. Kalau masih gak muat, kecilin itu bagian dada. Lagian punya buah semangka melimpah banget." De memberikan dua helai gaun berwarna putih salju pada Denok.


"Mana bisa, Kak. Kalau bisa Denok tebas, sudah Denok tebas dari dulu. Mau pakai baju apa saja, kayak ngumpul jadi satu di tengah. Sesak bener. Belum lagi risihnya itu lho, tiap jalan banyak yang lihatin," keluh Denok sembari menerima gaun dari De.


"Kamu tuh aneh, Nok. Cewek lain saja brrlomba-lomba pasang implan di negeri gajah. Kamu kok malah pengen ditebas. Kak De cuman iri. Dia punya kan biasa saja. Bey sama Kak De, kalau masuk ke toko VS selalu bilang ke mbak-mbak pelayannya Tolong carikan yang busanya tebal ya, Mbak," sahut Dasen dengan wajah menahan tawa.


Baby De seketika membulatkan matanya dengan sempurna. "Ukuran tidak menentukan apa pun. Menggoda secara visual, belum tentu beneran menantang."


Lima menit lebih Denok berada di dalam sana. Tidak seperti sebelumnya, di mana dia langsung keluar untuk meminta pendapat De dan Dasen. Kali ini, dia merasa benar-benar tidak percaya diri. Bukan bagian dada yang kali ini membuatnya enggan, namun ....


"Nok ...." De mengetuk daun pintu kamar ganti sebanyak tiga kali.


Tidak ada sahutan sama sekali. Denok kembali ragu. Padahal tangannya sudah berada di gagang pintu. Sedikit tekanan ke bawah, pintu itu pasti terbuka lebar.


"Nok, cepetan! Sudah malam tau." De kembali mengetuk sembari bersuara agak keras. Untung saja di butik tersebut hanya ada mereka dan dua orang penjaga butik.


Perlahan pintu itu pun terbuka. Dasen yang baru akan memasukkan ponsel ke kantong celana seketika menatap Denok tanpa berkedip.


"Sekksi," ucapnya lirih.

__ADS_1


Meski pelan, Denok mendengar samar apa yang diucapkan Dasen. Hal itu semakin membuatnya tidak nyaman.


Baby De memutari tubuh Denok, memastikan semua sesuai dan pas seperti yang dia bayangkan sebelumnya.


"Bagus kok, Nok. Cocok. Yang ini saja." Baby De langsung memutuskan tanpa bertanya pendapat Dasen.


"Tapi, Kak---" Denok ingin menolak, tapi dia mewurungkannya. Mengingat waktu sudah malam, dan butik sebentar lagi harus tutup.


"Bagus kok. Sekssi. Dada depan aman. Tertutup rapat, lekuk jelas, punggung sempurna." Dasen mengagumi ciptaan Tuhan yang tepat ada di depannya.


Denok akhirnya mengangguk pasrah. Sebenarnya dia benar-benar tidak percaya diri. "Mas ...," bisiknya pada Dasen. Gadis itu mencuri celah sebentar, karena De sedang membayar gaunnya di kasir.


"Hmmm...." Dasen seperti biasa menjawab dengan sok lembut.


"Itu punggungnya bolongnya gede banget, boleh nggak nanti Denok tembel pakai kain tile senada. Denok takut masuk angin. Apa lagi di atas kapal. Mana warna kulit Denok gelap sendiri di antara yang lain. Nggak pede, Mas." Denok agak berjinjit untuk mendekatkan bibirnya ke daun telinga Dasen. Dia tidak mau sampai De mendengar ucapannya.


"Boleh," Dasen mengangguk dan tersenyum begitu manisnya. Tangannya melingkar dipinggul Denok begitu mesra.


"Duh, nggak pantes, Mas. Jangan dimanis-manisin. Denok lebih suka yang nakal." Denok mengusap wajah Dasen sekilas.


"Ehem...tolong hargai yang jomblo. Kita masih sama-sama numpang di bumi milik Tuhan. Oksigen yang kita hirup sama-sama gratisan. Jangan berasa dunia milik berdua." De muncul tiba-tiba, menjarak kedekatan Denok dan Denok dengan cara memberikan paper bag tepat di antara kedua pasangan di mabuk cinta itu.


"Jomblo selalu meresahkan. Makanya cari pasangan. Asal jangan bapaknya gentong. Kayak nggak ada cowok lain aja," timpal Dasen.


De mencebikkan bibirnya dengan kesal. Dalam hati, De hanya bisa mengumpat. Jangankan Dasen, dia sendiri juga resah dengan kesendiriannya. Namun apa daya, jodohnya masih bersembunyi entah di mana.

__ADS_1


__ADS_2