
Meskipun Erika masih di rumah sakit, Denok tetap menjalani rutinitas kerja seperti biasa. Mahalnya biaya rumah sakit membuat dia sadar, apa pun kondisi yang dihadapi, Denok harus bekerja keras. Tidak mungkin selamanya akan mengandalkan bantuan Dasen.
Ditambah lagi, keadaan Erika sekarang yang di vonis mengalami kebutaan. Tentu seumur hidup, Denok harus mengurus ibunya itu. Akibat vonis dokter itu, perempuan yang biasanya liar itu juga mengalami depresi berat.
Dengan langkah terburu-buru, Denok berjalan setengah berlari menuju lobby karena sudah ada Dasen yang menanti untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Denok masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Rudi itu dengan cepat. "Maaf ya, Mas. Agak lama menunggu. Meetingnya baru kelar."
"Santai, Nok." jawab Dasen sembari menepuk bahu Rudi agar menjalankan mobilnya.
"Kita makan dulu ya, Nok. Sekalian biar nanti kamu tidak mencari makanan lagi. Ada yang mau bicarakan sama kamu." Raut wajah Dasen terlihat aneh saat mengatakannya.
Gadis manis itu mengangguk sembari tersenyum tipis. Menjadi kekasih Dasen adalah sebuah keberuntungan luar biasa baginya. Tapi Denok selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak berharap lebih jauh lagi.
Sampai di sebuah resto, Dasen dan Denok memilik tempat khusus. Bukan tanpa alasan, karena titisan Darren itu memang ingin menyampaikan sesuatu pada Denok.
Tidak banyak yang keluar dari mulut keduanya sepanjang datang, memesan sampai menikmati makanan yang mereka pesan hingga habis. Entah mengapa, kecanggungan tiba-tiba menyergap keduanya.
"Mas, mau ngomong apa?" Denok meletakkan gelas berisi air putih yang baru saja diteguknya.
Dasen menatap Denok dengan hangat dan lembut. "Nok, aku mengatakan ini, bukan karena aku tidak sayang sama kamu."
Jantung Denok seketika berdetak kencang, hatinya berdesir halus dengan perasaan yang mulai resah gelisah.
"Nok, maukah kamu memperjuangkan hubungan kita benar-benar dari awal?" tanya Dasen.
"Maksudnya bagaimana, Mas?" Denok kembali bertanya.
__ADS_1
"Kita akhiri hubungan kita sampai di sini, Nok. Tapi aku minta, jaga hatimu untukmu. Kita yakinkan mamaku bersama-sama. Bahwa kita tidak akan memulai apapun tanpa restu mama."
Denok tercekat, baru saja merasa seperti berada di dunia dongeng, kini dia harus kembali pada kenyataan. Sesingkat ini mimpinya.
Meski sebelumnya Denok sudah menduga bahwa suatu saat dirinya dan Dasen akan berpisah, tapi ternyata tetap saja sakit.
"Nok, aku sayang sama kamu. Tapi aku ingin membuktikan kalau cinta kita ini tulus. Tidak saling menuntut. Tanpa kebersamaan sekali pun, cinta kita akan tumbuh. Biarlah mama yang menilai nantinya. Saat restu itu tiba, kita akan langsung menikah." Dasen maraih tangan Denok dan menggenggamnya erat.
"Bagaimana kalau Bu Senja tidak akan pernah setuju. Setelah tahu ibuku buta, tentu Bu Senja akan keberatan jika kita mengurus dan tinggal bersama ibuku setelah menikah nanti." Denok terlihat sangat ragu.
"Mamaku tidak sekejam itu, Nok. Kamu tahu? Siapa yang mengirimu pesan saat kamu panik biaya rumah sakit ibumu?"
"Siapa? Apa itu bukan kamu? Bukankah itu ponselmu?"
"Yang membalas mamaku, Nok. Saat itu, aku sedang ketiduran setelah minum obat. Mamaku bukan sosok yang berhati batu, meski pun tidak nenyukai seseorang, mama masih tetap menjaga rasa kemanusiaannya."
"Aku merasa semakin tidak pantas, Mas. Aku malu, karena belum apa-apa aku malah merepotkan Mas Dasen." Denok semakin menunduk saat mengatakannya.
Denok hanya mengangguk pelan. Meski dia ragu, tapi akan tetap mencoba. Dalam hati dia semakin mengagumi sosok Dasen. Rasa sayang pria itu padanya, tidak sedikit pun membuat Dasen menutup mata dan hati untuk menghargai sang mama.
Selesai dari sana, Dasen mengantar Denok ke rumah sakit. Mereka sepakat mulai sekarang menamai hubungan mereka dengan pertemanan. Meski sama-sama berat, keduanya mulai meyakini, sesuatu yang baik harus dimulai dengan kebaikan juga.
Sementara itu, di kediaman Darren saat ini sungguh sangat ramai. Sarita, Mahendra, Bae, dan Arham berkumpul di ruang tengah. Keempatnya akan berangkat ke Jogya lebih dahulu bersama Zain hari ini. Sedangkan Senja, Darren, Dasen, dan Beyza, baru berangkat besok. Hari ini mereka masih menunggu kedatangan Derya dan juga Genta.
"Tidak terasa, kita sudah mau mantu cucu kita ya, Bae." Sarita yang sudah akrab dengan mama tiri Senja itu, kini hanya memanggil nama pada besannya.
"Iya, Sar. Perasaan, kita ini masih belum tua-tua banget lho. Kok cucu-cucu sudah dewasa semua," timpal Sarita.
__ADS_1
Arham dan Mahendra kompak saling pandang, "Belum tua dari mana, coba tersenyum, itu garis-garis di mata dan pipi apa?" tanya Mahendra.
"Kita belum ya, Sar. Iya kalau mereka. Opa-opa renta," ledek Bae.
"Biar renta, masih mampu kalau sekedar membuatmu bilang lemes," timpal Arham tidak mau kalah.
Bae mencebikkan bibirnya. "Heleh, lima menit saja bangga."
Mahendra seketika terkekeh dengan lepasnya. "Masih lebih baik aku ternyata, Ham. Aku dua menit lebih lama."
"Ish, gitu saja bangga. Sudah tua bercandanya yang lain saja. Malu kalau terdengar yang juga mulai menyusul kita menjadi tua," Sarita mencebikkan bibirnya ke arah Darren dan Senja yang baru bergabung bersama mereka.
"Usia Darren dan Senja bertambah setiap tahun. Tapi apa yang ada di badan kami fungsi dan cara bekerjanya masih sama seperti 20 tahun yang lalu," sahut Darren, langsung mendapat cubitan di perutnya yang perlahan mulai menampakkan gejala meninggalkan otot-otot pembentuk enam kotakan.
"Hanya Senja yang tahu." Sarita menampilkan wajah tidak percaya.
"La, kok kamu gemukan ya?" Bae menatap penuh selidik pada tubuh bagian dada sampai pinggul Senja.
"Masak sih? Perasaan baju Kemala masih cukup semua kok." Senja jadi ikut memperhatikan badannya sendiri.
"Enggak, ini beda. Ta, coba perhatikan Senja." Bae menepuk pundak Sarita.
"Agak lurus, Bae. Biasanya lekukannya jelas. Dadanya tapi makin berisi. La, kamu tidak hamil lagi kan? Kamu sudah mau mantu lho, tidak lucu kalau kamu punya bayi lagi," Sarita sengaja mengetatkan kaos yang dikenakan Senja dengan menarik pinggir-pinggir kedua sisi ke tengah.
"Mama dan Eomma ngomong apa sih." Senja kesal sekaligus salah tingkah.
"Tapi kamu kan masih dapat tamu bulanan, La. Masih rajin juga ibadah malam bersama suami," ucap Bae.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Eomma, Kemala Sudah berumur," tampik Senja. Dalam hati dia berharap Eomma dan Mamanya salah duga. Karena yang sudah-sudah dugaan keduanya selalu benar.
Darren malah senyum-senyum sembari menggaruk tengkuk lehernya. 'Kecebongku ternyata masih sangat bagus dan lincah. Bibit premium memang beda,' ucapnya dalam hati, dengan sangat percaya diri.