
"Selama kamu nenjadi istriku, kamu begitu sering mengabaikan omonganku, Ask. Kamu bertindak semaumu sendiri, aku diam. Hanya kali ini saja, aku minta kamu menuruti kemauanku. Jauhi Genta, sesederhana itu. Jauhkan anak-anak dari dia. Kalau perlu, aku akan menyekolahkan Beyza dan Derya ke luar negeri." Darren menggenggam erat pergelangan tangan istrinya.
Senja menatap Darren dengan tajam dan berani. "Kapan aku membantahmu? Kapan aku tidak mendengar ucapanmu? Bahkan dengan lima jari saja, tidak akan terpakai semua jika kita menghitungnya."
"Aku pulang lebih awal, aku berharap kamu bisa menenangkan aku, Ask. Bukan malah menambah pusing seperti ini," sesal Darren.
"Jangan menumpukan rasa tenangmu selalu padaku, Ask. Aku juga kadang lelah. Ada ketenangan yang tidak bisa aku berikan. Kalau masalahnya berasal dari hatimu sendiri, tidak akan bisa orang lain untuk membantumu." Senja menarik tangannya dari genggaman Darren.
Suaminya itu semakin mencengkram kuat tangannya. "Sakit, Ask!"
"Sakit mana sama hatiku, Ask? Sakit mana melihat Mama kandungmu dilecehkan pria di depanmu dan kamu tidak mampu berbuat apa-apa? Sakit mana saat, dari perasaan suami yang omongannya dibantah sama istri?" Darren semakin meninggikan suaranya.
Zain mengajak Beyza, Derya dan Dasen keluar rumah. Dia tidak mau adik-adiknya mendengar lebih jauh, sayup-sayup pertengkaran kedua orangtuanya.
"Kita sebenarnya sedang bicara apa? bukankah itu masa lalu? Setiap pendosa sekali pun berhak mendapatkan kesempatan untuk kembali pada jalan yang benar." Senja mencoba mengingatkan.
"Tidak ada kesempatan untuk Malino dan keturunannya untuk mendapatkan kebaikan dari keturunanku," Darren menarik tubuh Senja hingga tidak berjarak dengannya.
"Mereka boleh mendapatkan kebaikan dari keturunanku. Karena aku juga pernah menjadi korban pelecehan. Juga saat aku sedang hamil. Tidak pantaskah laki-laki yang melecehkanku itu kuberikan maaf? mungkin benar apa yang kamu ucapkan tadi. Aku memang bodoh." Mata Senja kini berkaca-kaca. Air mata menggenang di pelupuk matanya.
Darren seketika terdiam. Merasa tertampar. Karena dirinya lah yang dimaksud oleh Senja. Dia pun pernah melakukan perbuatan keji itu.
Merasakan Darren agak mengendurkan tangan dari tubuhnya, Senja langsung menjauh dari suaminya itu.
"Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri, Ask. Mama bisa bersikeras seperti itu, karena mama tidak tahu kalau kamu pernah memperkosa aku. Apa jadinya jika aku tidak memaafkanmu? Tidak akan ada Dasen, Beyza dan Derya dihidupmu. Mungkin kamu akan menikah dengan perempuan pintar. Tidak menikah dengan perempuan bodoh seperti aku. Yang memaafkan pemerkosa dan menikah dengannya," Senja berlari keluar kamar dengan membawa luka.
Dia sungguh tidak ingin mengingat atau mengungkit kembali kenangan buruk, menyakitkan sekaligus memalukan itu. Dia sudah menutup rapat, hingga peristiwa itu tidak pernah ada yang tahu selain dirinya dan Darren sendiri.
Tapi melihat Darren menyikapi masa lalunya dengan berlebihan. Membuat Senja terpaksa harus membiarkan suaminya itu berkaca pada diri sendiri.
Kesalahan Malino memang sungguh besar, dia bahkan melakukannya di depan anak kecil. Itu memang biadab. Tapi apa salah keturunannya, hingga harus menerima kebencian yang tidak pada tempatnya.
Senja berlari melalui tangga menuju ke lantai empat. Tempat favorite dan ternyaman disaat dia sedang ingin sendiri.
__ADS_1
Dia menumpahkan rasa kesal dan sedihnya di sana. Sungguh Senja tidak ada niat untuk menambah luka di hati suaminya.
Sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan sakit dan sedih seperti saat ini.
"Maafkan Aku, Ask... Maaf," lirih Senja.
Sementara itu, Darren kembali membuat kamarnya berantakan. Sakit luka lama kini semakin bertambah.
"Kamu pikir aku tidak merasa bersalah, Ask. Seumur hidup aku hidup dengan perasaan itu. Tidak merasakah kamu, aku selalu berharap bisa memutar waktu dan tidak melakukan itu padamu." Darren mer3mas rambutnya dengan keras.
Darren berdiri di depan kaca. "Kita sudah sejauh ini, bahkan jika sekarang kamu tidak ada, aku pasti akan mati. Mungkinkah aku juga harus menerima hukumanku dengan cara seperti ini? Kamu jahat, Ask. Kamu tega mengingatkan aku, disaat seperti ini."
Suami Senja itu mengambil dompet dan kontak mobil sportnya. Tanpa pamit dan meninggalkan ponsel di atas nakas. Kakinya melangkah semakin mendekati garasi. Sesaat kemudian mobil sport berwarna merah melesat meninggalkan rumah bersama sang empunya.
Berkali-kali pria itu menjambak rambutnya sendiri, mengusap kasar wajahnya, lalu menggigit bibir bawahnya sendiri dengan kuat.
Darren menghentikan mobilnya disebuah bar yang memang buka 24 jam. Tempat yang sudah belasan tahun sudah tidak pernah dia injak lagi.
Dengan kemeja yang berantakan, Darren melangkah gontai ke dalam sana. Bahkan badannya sudah terhuyung sebelum meneguk minuman apa pun.
"Perasaan, Bey tidak enak. Bey takut daddy dan mama marahannya lama." Pandangan gadis itu menerawang jauh.
"Daddy dan mama pasti bisa menyelesaikan masalah mereka, kita doakan saja yang terbaik." Zain mencoba menghibur adik-adiknya.
"Apa lebih baik kita tunda saja liburannya, kak Zain pasti bisa ke UK sendiri," usul Derya.
"Tidak perlu. Mama pasti menepati janjinya. Mungkin nanti saat daddy dan mama terpisahsementara, mereka bisa merasakan kangen, dan bisa memulihkan hubungan mereka lagi." Dasen mengeluarkan pendapatnya.
"Kita ikuti saja apa keputusan mama dan daddy," putus Zain.
"Memang ada masalah apa sih, Kak. Kenapa kita tidak boleh lagi dekat-dekat sama Genta?" Beyza tetap penasaran.
Diusia mereka, sudah tidak bisa lagi dilarang tanpa alasan yang jelas dan logis. Mereka sudah bisa menilai dan juga berpendapat. Dilarang dengan paksaan dan tanpa penjelasan, justru akan menyesatkan pola pikir anak.
__ADS_1
"Kakak akan menjelaskan nanti, kalau waktunya sudah tepat. Bukannya kakak mengajari yang tidak baik. Tapi, kalian boleh tetap berhubungan baik dengan Genta. Tapi pastikan jangan sampai Daddy tahu. Beri waktu mama untuk mengubah pemikiran daddy." Zain menatap adik-adiknya satu per satu bergantian.
Derya, Beyza dan Dasen mengangguk mengerti. Mereka melanjutkan makan yang tidak semangat seperti biasanya.
Pertengkaran daddy dan mamanya kali ini sampai terdengar dari luar pintu. Biasanya mereka hanya tahu orangtuanya sedang tidak baik-baik saja dari wajah Darren yang dingin dan enggan tersenyum.
.
.
Hingga pukul sebelas malam, Darren masih di dalam Bar. Menghabiskan beberapa botol minuman beralkhohol yang sudah tidak lama diteguknya.
Pikirannya begitu gelap. Sandaran hidup yangdia harapkan bisa membuat perasaannya lebih baik, malah membuat hatinya lebih hancur.
Senja mungkin tidak salah, tapi di saat seperti ini. Darren sedang sulit mencerna kata-kata orang lain dengan penerimaan yang positif.
Karena sudah tidak kuat untuk mengendarai mobilnya sendiri, Darren memutuskan untuk meninggalkan mobilnya di parkiran bar dan memilih untuk menaiki taksi.
Sampai di rumah, suasana sudah lengang dan sepi. Anak-anak sudah berada di kamarnya masing-masing.
Senja yang baru saja turun ke dapur ingin membuat minuman hangat untuk dirinya, seketika merasakan sesak di dada.
Sungguh dia sangat kecewa dan sedih melihat keadaan suaminya sekarang. Berjalan sempoyongan, dengan mulut berbau alkohol yang khas.
"Jika aku tidak mengingat harus menjaga agar anak-anak tidak tahu kelakuanmu. Aku akan membiarkan kamu tidur di sini saja." Senja memapah Darren menuju lift.
Berharap semua anaknya tidak ada yang tahu, tapi harapannya pupus. Zain keluar menyaksikan daddy-nya mabuk berat untuk pertama kalinya.
Zain segera membantu Senja untuk memapah Darren. Daddy-nya itu seperti sudah tidak mengingat apapun. Terus diam dan tidak meracau seperti orang mabuk seperti biasanya.
"Mama besok akan mengajak adik-adikmu ke negara S. Mama akan mencari penerbangan sepagi mungkin. Mama tidak bisa seperti ini Zain, mama sendiri rapuh. Apa salah jika mama sekali saja tidak bisa diandalkan. Mama capek." Senja memeluk Zain dengan erat.
"It's oke, Ma. Jika menurut mama itu yang terbaik. Mama lakukan saja. Biar Zain, temani daddy dulu. Jangan sedih, mama sudah melakukan yang terbaik dan seharusnya." Zain mengusap punggung Senja .
__ADS_1
Senja merasakan nyeri luar biasa. Sifat dan tabiat buruk Darren seolah kembali pada awal pertemuan mereka dulu. Yang susah mendengar pendapat orang lain dan merasa diri paling sempurna.