
Rangga sebenarnya sudah menyiapkan ruangan khusus untuk menjamu keluarga Darren Mahendra, tapi Senja menolak dengan halus.
Senja serasa memiliki kenangan buruk dengan ruangan yang ditawarkan oleh Rangga, dia lebih memilih berbaur dengan pengunjung lain di sisi luar resto yang teduh.
Senja langsung memilihkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Hal yang selalu dilakukannya ketika makan di manapun. Jika a Senja urusan apapun, semudah itu bagi anggota keluarga yang lain.
"Lain kali, ponselnya jangan dimatikan ya, kalau ada yang penting jadi susah." Darren dengan hati-hati memberi tahu sang istri.
"Iya, Ask ...." jawab Senja begitu lembut, membuat senyum Darren melebar.
Rangga melihat luka Genta lebih dekat. "Ini hanya luka kecil, ayah dulu lebih parah dari ini."
Senja mengernyitkan alis matanya. "Jangan meniru ayahmu. Luka kecil atau besar, namanya tetap luka. Laki-laki memang kadang aneh, belum merasa jagoan kalau belum babak belur. Jangan ditiru. Percayalah, berkelahi itu sama sekali tidak keren." sahutnya.
"Tapi yang kalian lakukan kali ini keren. Karena kalian memang harus melindungi perempuan. Kalau cewek-cewek di sekolah tahu, dapat dipastikan, mereka pasti akan mengidolakan kalian," ucap Darren.
"Jadi idola itu menyenangkan, kalian bisa dikelilingi cewek-cewek populer juga. Jangan terlalu sibuk belajar, kadang-kadang perlu sedikit santai. Berteman dengan banyak cewek, tidak ada salahnya. Jangan terikat hubungan pacaran, buat mereka merasa diperhatikan tanpa harus ada yang namanya pacaran," sahut Rangga.
Beyza dan Senja seketika bertukar pandang. Keduanya sedang merangkai kata untuk menolak keras pendapat kedua orang dewasa di depannya.
"Kalian ingin diidolakan cewek-cewek?" tanya Senja, sengaja dengan tersenyum ramah Pada Derya dan Genta.
Kedua remaja laki-laki itu pun mengangguk mantap.
"Jika ingin menjadi idola, ketahuilah apa yang disukai cewek dari ceweknya langsung. Daddy dan ayahnya Genta sudah tua, itu hanya berlaku di jaman dulu. Lebih tepatnya di lingkungan mereka. Kalau Mama, justru tidak akan tertarik dengan laki-laki yang sok IDOLA." Senja sengaja memberi penekanan pada kata idola.
Obrolan mereka terhenti sejenak, karena makanan yang mereka pesan sudah datang. Sambil menyantap makanan masing-masing, mereka pun meneruskan obrolan santai mereka. Melupakan sejenak urusan perundungan yang menyita waktu, tenaga dan juga pikiran.
"Mamamu hanya sirik. Kalau saja, Mama Nja tahu bagaimana Daddy dulu, pasti ... Puhhhh ...." Darren enggan meneruskan kalimatnya, melihat Senja yang menatapnya dengan pandangan sinis. Dia memilih menyuapkan kembali sesendok makanan ke mulut.
__ADS_1
"Pasti mual... Percayalah, Daddy yang mengejar Mama. Seseorang yang sok idola, merasa dipuja dan sok berkuasa. Suatu saat pasti akan termakan dengan ucapannya sendiri. Mau tahu bagaimana Daddy dulu sebelum jatuh cinta sama Mama?" Senja mulai melakukan serangan ringan pada suaminya, sembari meletakkan sendoknya.
"Tidak!" jawab Darren dengan tegas.
"Pengen tahu?!" Derya, Beyza, Genta dan Rangga kompak menjawab.
Darren mendengus kesal, karena merasa sudah kalah suara.
"Yang paling Mama ingat. Dulu Daddy tuh, angkuh dan sombongnya parah. Mama kan pernah kerja di tempat Daddy. Cuman sebentar sih. Jadi waktu itu, ada gebetan Daddy dateng ke sana. Nah pas si gebetan itu pulang, Daddy tanya sama Mama." Senja berhenti bicara sejenak. Memandang sang suami, yang tengah menatapnya dengan tatapan seperti ingin menerkam dengan mulut yang masih mengunyah.
"Daddy bilang apa, Ma?" Derya sudah tidak sabar.
"Kenapa? insecure ya? wajar kok kamu insecure, dia cantik, tinggi, sempurna. Masih umur 25 tahun sudah jadi ceo, lah kamu 25 tahun cuman berhasil jadi Janda."
Anak-anak dan juga Rangga kompak tersedak. Keempatnya, buru-buru mengambil minuman masing-masing.
Darren menyudahi makannya yang memang habis, lalu meneguk air mineral yang dipesannya. hingga kandas.
"Masih ingat jawabanku, Ask?" tanya Senja.
Darren mengangguk. "Buat apa insecure? Insecure itu hanya untuk orang yang tidak paham potensinya sendiri. Tidak masalah dianggap tidak sempurna, saat kita salah. Orang tidak akan terlalu mengingat kita. Lagipula kenapa harus bangga menjadi ceo? tidak semua orang bermimpi menjadi ceo. Akupun bisa menjadi ceo kalau aku adalah anak seorang Mahendra. Kurang lebihnya begitu." Darren menirukan gaya Senja saat mengucapkannya.
Rangga tersenyum sembari melirik Senja sekilas. Sudah dia duga, Mamanya Derya memang luar biasa.
Senja menyudahi makannya. "Pesan yang ingin mama disampaikan di sini adalah jika kalian bertiga bisa sehebat sekarang. Jangan terlalu bangga dulu, pencapaian kalian belum apa-apa. Tentu kalian hebat karena orangtua kalian orang berada," tegasnya.
"Bukan salah mereka terlahir berada," sahut Darren.
"Iya bukan salah mereka, yang salah kita. Tahu kan salahnya apa?" ketus Senja.
__ADS_1
"Pak Rangga kita kayaknya butuh beralih ke kursi lain, konsep pembicaraan sudah tidak enak. Lama-lama, perundungan malah menimpa diri saya." Darren berdiri berniat memisahkan diri sejenak dari Senja dan anak-anaknya.
Rangga pun menuruti Darren, keduanya melangkah ke depan beberapa meja dari tempat Senja dan anak-anaknya berada.
"Genta, Tante mau ngucapin terimakasih. Sudah ikut melindungi Beyza sampai seperti ini," ucap Senja dengan tulus.
"Sama-sama, Tante. Seperti kata Om Darren dan Ayah, kita harus melindungi perempuan."
Jawaban Genta membuat Beyza mencebik.
"Ini tadi salep buat muka kalian dari kak Zain, sampai lupa belum Mama berikan. Sebentar, Mama cuci tangan dulu ya." Senja baru teringat setelah mengambil ponselnya di dalam tas.
Senja berdiri ke arah wastafel, mencuci tangannya hinga bersih, lalu kembali ke meja dan mengeringkan tangannya dengan tisu.
"Sini, mau Genta atau Derya dulu yang diolesin?" tanya Senja.
"Derya, dulu saja." jawab Genta malu-malu.
Genta memperhatikan interaksi antara Derya dan Senja. Keduanya begitu hangat, Senja beberapa kali menggoda anaknya itu dengan mencubit hidung mancung Derya.
"Sekarang Genta." Senja bergeser mendekati Genta. "Jangan kaku, Sayang. Biasa saja, seperti Genta tadi lho. Tidak sakit kok. Mau peluk pinggul tante, kayak Genta tadi. Gpp kok. Panggil Mama juga boleh," cerocos Senja sembari membantu tangan Genta bergelayut di pinggulnya.
Wangi tubuh dan sentuhan tangan Senja yang lembut juga penuh kasih sayang, membawa angan Genta akan sosok seorang ibu melayang. Sesaat dia merasakan hangatnya dekapan Ibu.
Mungkin kasih sayang Senja yang tulus sampai di hati Genta. Selama ini, Genta merasa kasih sayang Ayahnya saja sudah cukup. Tapi entah kenapa, saat bersama Senja rasanya dia merasa rindu sekali dengan sosok ibu.
Air mata Genta tiba-tiba menetes. Senja pun melihat bulir bening itu membasahi wajah Genta.
"Apa, Tante terlalu kasar? apa sakit?" tanya Senja dengan lembut.
__ADS_1
Genta menggeleng, air matanya semakin menetes deras. " Genta, ingin sekali memeluk Bunda," isaknya.