
Senja hanya menjawab sapaan Inez dengan senyuman tipis. "Kamu, tidak perlu melakukannya, Nez. Ada asisten rumah tangga dari rumah Oma-nya Derya yang datang dua hari sekali untuk bersih-bersih."
Senja langsung nerjalan ke arah kamar Derya. Inez buru-buru mengikutinya. "Tante, bagaimana keadaan Derya?"
"Sudah jauh lebih baik." Senja membuka lemari dan mengambil beberapa helai baju dari sana.
Inez seperti sedang salah langkah. Dia tidak tahu harus berbuat dan berkata apalagi. Berdua saja, bersama orang yang tidak menerimanya, sangat membingungkan. Meski sikap Senja tidak terlalu buruk untuk kategori orang yang menentang, tapi tetap saja, Inez tidak nyaman.
"Nez, kalau boleh tahu, kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu bekerja di Jakarta?" Senja menoleh pada Inez sekilas. Lalu fokus memasukkan kembali baju Derya ke dalam koper kecil berwarna hitam.
Inez tidak langsung menjawab. Dia terdiam begitu lama. Sedang berpikir harus menjawab apa. Kedatangan Senja sungguh tidak terduga. Kalau tahu Senja akan datang, pasti dia akan mencari apartemen yang murah untuk disewa dan ditempatinya sementara.
"Kenapa diam, Nez?" Senja kembali bertanya.
"Maaf, Tante. Inez, masih tidak menduga kalau tante datang. Jadi Inez sedikit kaget." Inez menutup mulutnya sendiri. Menyadari kalau ucapannya salah.
Senja mengajak Inez beradu pandang, tapi Inez hanya mampu bertahan sebentar membalas sebentar tatapan Senja yang menyimpan banyak arti.
"Apa Saya harus memberitahumu dulu kalau ingin datang ke sini? Bahkan meminta ijin pada Derya saja tidak perlu, apalagi pada kamu." Senja meletakkan koper di samping ranjang, lalu dia duduk di bangku kecil di depan nakas.
"Maaf, Tante. Maksud saya bukan seperti itu." Inez menundukkan wajahnya.
"Jadi, kenapa kamu di sini?"
__ADS_1
Inez mereemas jemarinya sendiri, dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Berbohong bukanlah hal yang mudah. Senja sorang ibu dan perempuan yang sangat intens memperhatikan lawan bicaranya. Gerakan apapun, bisa dijadikan signal untuk menentukan apa yang didengar bohong atau tidak.
"Nez, kamu punya hak untuk tidak menjawab. Tapi di sini, saya juga mempunyai hak untuk menanyakan keberadaanmu. Apartemen ini, masih atas nama saya, karena saya belum memberikan pada Derya. Siapa pun yang tinggal di sini, jelas harus atas seijin saya," tegas Senja.
Inez memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap mata Senja. "Saya kabur dari rumah, Tante. Mama dan papa menjodohkan saya dengan laki-laki lain."
"Dan kamu malah menemui Derya? Kamu membuat Derya akan semakin dibenci orangtuamu, Nez. Jika kamu menolak, ada banyak pilihan yang bisa kamu lakukan. Jika bicara baik-baik dengan orangtuamu diabaikan, kamu bisa menemui laki-laki itu, atau kamu bisa ke komnas perempuan sekalian. Umurmu sudah cukup untuk mengambil keputusan sendiri," tutur Senja, panjang lebar.
Inez kembali menundukkan kepalanya. Kisahnya bersama Derya begitu rumit. Saling mencintai saja, ternyata tidak cukup mengantar mereka pada kebahagiaan.
"Maaf ya, Nez. Karena Tante tahu alasanmu, sebaiknya kamu pulang. Selesaikan masalahmu baik-baik dengan orangtuamu, atau pergi ke mana pun terserah kamu. Tolong, jangan buat Derya terlibat terlalu jauh. Saya tidak rela, kalau sampai orangtuamu menyalahkan Derya."
Senja berdiri, dan berniat menyeret kopernya untuk kembali ke rumah sakit. Tapi dia membatalkan niatnya, begitu mendengar ucapan Inez.
"Entah anakku yang bodoh, atau kamu yang pintar. Seharusnya, kalian sama-sama tahu, hubungan kalian adalah sebuah ketidakmungkinan. Masih banyak pilihan, Nez. Jalan kalian masih panjang. Berhenti dan merasakan sakit sekarang, akan lebih baik daripada merajut asa yang terlalu tinggi namun akan sia-sia."
"Kami sudah terlalu jauh, Tante. Kami sudah melakukan lebih. Derya dan Saya sudah melakukan hubungan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri," sahut Inez. Dia sudah tidak bisa lagi menahan diri.
Senja seketika melepaskan tangannya dari gagang koper. Dia menelan ludah dengan kasar. Hanya ucapan, tapi rasa sakit yang dirasakan Senja lebih dari tamparan di pipi yang bertubi-tubi.
Perempuan itu bergeming di tempatnya, tangannya mulai bergetar. Kakinya terasa kaku dan sulit digerakkan walau sekedar untuk melangkah.
"Katakan kamu berbohong, Nez. Katakan!" .Senja mengatakan dengan lirih.
__ADS_1
"Itu benar, Tante. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Bukan paksaan. Kami baru melakukannya kemarin, di tempat ini. Kami saling mencintai, Tante. Maka tidak akan ada yang bisa memisahkan kami sekarang." Inez mengatakannya dengan gamblang tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Senja memaksa dirinya agar mampu berjalan mendekati Inez. "Kenapa semudah itu kamu berikan, Nez? Jika Derya yang meminta, seharusnya kamu mengingatkan. Kalian mendapatkan restu saja belum, jalan keluar untuk perbedaan yang yang prinsip saja tidak bisa kalian dapatkan. Malah sekarang menambah masalah baru lagi."
Inez mencoba meraih tangan Senja, tapi mama Derya itu menepisnya. Senja menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Keluar kamu dari sini sekarang juga, Nez. Kembali pada orangtuamu. Entah bagaimana caramu untuk menceritakan semua pada mereka. Tapi kamu harus jujur tentang masalah ini." Senja menjeda sejenak ucapanya.
Perempuan itu menarik napas berat, lalu menjatuhkan bokongnya di tepian ranjang. Senja memegangi dadanya yang terasa sesak. Matanya memerah dan tampak berkaca-kaca. Hanya dengan satu kedipan, air mata itu pasti akan jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Keluar kamu sekarang juga, Nez. Kembali pada orangtuamu. Saya memberi waktu seminggu untuk kamu agar bisa meyakinkan dan memberitahu orangtuamu. Kami akan datang tepat dihari ke delapan dan memintamu baik-baik memjadi istri Derya. Bagaimana pun, Derya harus ada usaha untuk qbertanggung jawab pada kebodohannya. Tapi jika orangtuamu menolak, anggap hubungan kalian selesai."
Inez mengeleng kuat. Orang tuanya sangat keras, kolot dan fanatik. Jujur, tentu pilihan yang sulit. "Saya minta waktu lebih, Tante. Saya tidak bisa meyakinkan secepat itu."
"Seharusnya kamu memikirkan hal itu sebelum melakukan hubungan badan dengan Derya. Waktu kami hanya sebatas itu. Jika tanggapan keluargamu tidak baik. Hubunganmu dan Derya selesai saat itu juga," tegas Senja sembari menyeka bulir air matanya yang terlanjur jatuh. Suaranya bergetar, meski intonasinya masih sangat tegas.
Inez masih terdiam, dia tidak bergerak kemana pun. Dia benar-benar bingung. Sepertinya dia terlalu cepat memberi tahu pada Senja.
"Tante, sampai kapan pun, Derya harus bertanging jawab, karena dia yang mengambil kegadisan saya." Inez mencoba menekan Senja.
Perempuan itu tersenyum sinis sembari menatap Inez dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. "Tanggung jawab katamu? Bukankah kamu mengatakan kalau kalian melakukannya atas dasar suka sama suka? Ada ikatan apa antara kamu dan Derya sampai kamu berani menyerahkan kepemilikanmu padanya? Naikkan harga dirimu, Nez. Jangan karena cinta, kamu kehilangan akal dan merendahkan dirimu sendiri. Jangan bertindak seolah kamu adalah korban. Kamu yang menyerahkan dan kamu yang menuntut. Memalukan."
Inez langsung berlari meninggalkan Senja, mengambil koper di kamarnya dan langsung keluar apartemen tanpa berpamitan lagi pada Senja.
Selepas kepergian Inez, Senja menjatuhkan dirinya lebih rendah lagi. Dia menghempaskan bokongnya di atas lantai yang dingin. Senja menjerit sejadi-jadinya sembari memukul dadanya sendiri bertubi-tubi. Marah, kecewa, sedih, kesal dan merasa bersalah teraduk menjadi satu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega, Der? Kenapa kamu lakukan ini sama Mama?"