Hot Family

Hot Family
Keanehan Senja


__ADS_3

Pagi yang sibuk seperti biasa. Semua sedang di kamar masing-masing untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Jogya.


Setelah acara pernikahan Zain yang sederhana di rumah Sekar, rencananya mereka akan melakukan makan malam santai bersama keluarga di sebuah tempat wisata. Semua sudah dipersiapkan dengan baik oleh Senja melalui orang kepercayaan yang ada di sana.


Setelah mengetuk pintu tiga kali, Beyza langsung membuka pintu kamar mamanya itu. Hanya ada daddy nya di sana.


"Ada Genta di bawah, Dadd. Katanya tadi pengen ngobrol dulu." Beyza mengatakan dengan semangat.


"Iya, tunggu mama sebentar. Mama masih mandi." Darren menjawab sembari menyambar kaos berwarna hijau botol yang ada di sandaran kursi rias Senja.


"Bukankah mama tadi sudah mandi?" Beyza merasa heran. Karena saat makan pagi tadi, rambut mamanya sudah basah dan wajahnya juga sudah segar.


"Entahlah, mamamu senang sekali mandi akhir-akhir ini. Katanya gerah, padahal pendingin ruangan normal seperti biasa."


Tidak lama kemudian, Senja keluar dari pintu kamar mandi dengan rambut yang dililit handuk kecil. Perempuan itu menggunakan bathrobe yang sangat pendek, membuat pahanya yang mulus tereksplore sempurna.


Darren memalingkan wajah dan memilih lebih fokus pada Beyza. Hafal betul dengan setiap bagian tubuh Senja yang tertutup bathrobe, malah membuat pikirannya melayang kemana-mana.


"Di bawah sudah ada Genta, Ma." Beyza kembali mengulang informasinya.


"Kamu temani dia dulu, Bey. Sebentar lagi Mama turun. Mama mau ganti baju dulu." Senja berjalan menuju walk in closet untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya. Beyza pun kembali menemui Genta di bawah.


"Semoga masih cukup," gumam Senja sembari mengambil baju berwarna merah marun.


Darren memfokuskan diri dengan layar ponselnya, dia masih belum melihat baju apa yang dikenakan istrinya saat ini.


Senja berjalan gemulai, sedikit lebih centil dari biasanya mendekati cermin setinggi lemari. Perempuan itu tersenyum puas melihat pantulan dirinya di sana. Senja berputar ke kiri dan ke kanan beberapa kali untuk mengagumi dirinya sendiri.


Lama kelamaan, Darren pun terusik dengan kelebatan bayangan Senja yang berbeda dari biasanya. Darren seketika meletakkan ponsel dan berdiri begitu melihat baju yang dikenakan istrinya.

__ADS_1


"Ask ...." Darren bahkan tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Kali ini, Darren tidak sedang terkesima, apalagi sampai ingin memuji penampilan Senja. Bukannya jelek, tapi dia merasa apa yang dikenakan sang istri tidak mencerminkan kepribadian Senja. Dan dia sendiri bingung, bagaimana baju seperti itu bisa menyelip di deretan baju elegant milik sang istri.


Senja masih menunggu kelanjutan ucapan Darren. Karena terlalu lama tidak ada suara terdengar, dia pun bergeser duduk di depan meja riasnya.


"Kamu turun dulu saja, Ask. Senja mau dandan sebentar."


Darren semakin mengernyitkan keningnya. Sudah memakai terusan pres body lengan sesiku dengan potongan bahu terbuka, dan panjang di atas lutut sejengkal berbahan rajutan premium. Mendadak dia merasa istrinya sedang mengalami puber kedua.


"Ask, apa kita perlu ke butik untuk membeli baju dulu?" Tanya Darren tidak langsung pada tujuan.


"Tidak perlu, Ask. Buat apa? Dan buat siapa? Lagi pula Senja sudah menyiapkan semua agar kita senada dan kompak di acara Zain." Senja menanggapi dengan santai. Dia terus menggerakkan tangan kuas blush on di pipinya.


"Ask, buat apa dandan? Bukankah acaranya masih besok? Hari ini kita hanya naik pesawat, ke hotel, bersantai. Hanya itu saja! Kenapa juga harus memilih baju seperti itu," dengus Darren.


"Apa aku terlihat jelek?" Tanya Senja, raut wajahnya seketika tidak enak.


"Ask?" Senja menunggu jawaban Darren.


"Cantik, Ask, Tapi...." Lagi-lagi Darren tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Bilang cantik saja muter-muter." Senja memoleskan lipstik berwarna senada dengan bajunya.


Darren menggaruk tengkuk lehernya. Senja terlihat seperti masih usia 30an. Dengan kulitnya yang mulus dan bodynya yang semakin berisi, malah menambah kesan seeksi.


"Ask, apa kamu merasa penampilanmu tidak berlebihan? Ada anak-anak yang akan mengomentari penampilanmu nanti." Darren terlihat sangat keberatan. Dia lebih menyukai penampilan Senja yang kalem dan elegant.


"Kamu tahu, Ask. Yang lebih tua dari Senja pun bahkan banyak yang penampilannya lebih keren dari ini. Mau Senja tunjukkan?" Senja berniat mengambil ponselnya. Tapi Darren buru-buru melarang.

__ADS_1


Bukannya tidak tahu kalau penampilan seperti Senja sekarang, memang tidak seberapa dibanding beberapa atau banyak perempuan lain di luar sana. Tapi peduli apa dia dengan yang lain. Baginya, Senja sangat berbeda hari ini.


"Kamu turun dulu saja, Ask. Sebentar lagi, Senja akan menyusul." Senja mengikat rambutnya tinggi.


Darren pasrah, tidak mau berdebat masalah seperti ini di kondisi seperti sekarang. Besok adalah hari bahagia Zain. Menjaga mood masing-masing sangat penting agar tidak merusak kebahagiaan yang lain. Biar dia sendiri saja yang tidak nyaman.


Mungkin niatnya untuk mengajak Senja umroh, harus disegerakan. Sungguh dia lebih menginginkan istrinya itu untuk menggunakan hijab. Tapi Darren sama sekali tidak ingin memaksakan hal itu.


Beyza, Derya dan Genta berada di ruang keluarga. Ketiganya tidak membahas sedikit pun tentang luka di dada Genta. Karena tidak jauh dari mereka berada, juga ada Dasen yang sedang bersungut-sungut sembari memainkan ponselnya.


Setiap kali melihat Genta, dia selalu teringat dengan ketidak adilan yang dibuat oleh Senja. Kenapa segala hal begitu mudah untuk Genta. Tapi tidak untuk dirinya. Bahkan diacara keluarga seperti saat ini pun, Genta sudah diikut sertakan.


"Sudah siap semua?" Darren yang muncul tiba-tiba, membuat Derya, Beyza dan Genta kompak menoleh ke arah sumber suara, sedangkan Dasen terlihat cuek dan tetap fokus dengan apa yang dilakukan tadi.


"Sudah Dadd." Derya dan Beyza kompak menjawab.


"Gen, ikut om sebentar!" Darren berjalan menuju ruang kerjanya.


Genta melihat ke arah Beyza dan Derya bergantian, seolah ingin mencari jawaban, kenapa sampai dia diajak berbicara oleh Darren.


Disaat bersamaan Senja keluar dari lift. Darren kini sedang berharap agar anak-anaknya keberatan dengan penampilan Senja. Tapi semua di luar dugaan Darren.


"Wow ... Mama keren bangettttt! Kenapa tidak dari dulu seperti ini. Sumpah, ini keren." Ucapan Beyza sukses membuat Darren menelan ludahnya kasar


"Selalu cantik," sahut Derya.


"Idola setelah Beyza," gumam Genta.


Dasen akhirnya ikut terusik juga. Dia ikut memandangi mamanya, lalu sekilas melirik sang daddy yang sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengannya.

__ADS_1


"Ini sama sekali bukan Mama. Apa'an sih Mama dandan begini? Malu tahu, sebentar lagi dipanggil oma masih mikirin penampilan saja," dengus Dasen.


Darren tersenyum, akhirnya ada yang sama juga dengannya.


__ADS_2