Hot Family

Hot Family
Kecemasan Airin


__ADS_3

Setelah makan pagi, Sarita dan Mahendra memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Mereka harus mengambil obat pengencer darah yang rutin diminum oleh Mahendra. Pasangan senior itu akan kembali lagi sore nanti, karena kebetulan Chun Cha--adik tiri Senja akan datang bersama suami dan anak-anaknya.


Kini, Darren dengan telaten menyuapi Senja yang enggan membuka mulutnya kalau tidak dirayu terlebih dahulu.


"Daddy, manis sekali ternyata. Bersama Mama Nja, daddy seperti orang yang berbeda saat menghadapi Ai," bisik Airin dari jarak agak jauh.


"Hanya Mama dan Beyza yang bisa memuat daddy semanis itu," timpal Zain, tidak kalah berbisik.


"Kita tunggu di luar saja, yuk!" ajak Airin.


Zain melepaskan tangan Airin yang bergelayut di lengannya, lalu berjalan mendekati sang daddy. "Zain ke bawah dulu ya, dadd. Ada suster Erni dan suster Rahma di luar. Mereka akan rutin memeriksa keadaan mama dua jam sekali. Nanti jam sebelas, Zain harus ke rumah sakit Karena ada visit beberapa pasien," pamit Zain.


Darren hanya mengangguk. Lalu melirik agak sinis pada Airin yang malah tersenyum manis kepadanya.


"Airin ke bawah dulu, Dadd." pamit Airin.


Laki-laki itu tidak menjawab dan kepalanya pun tidak memberikan reaksi. Dia masih kesal dengan ucapan Airin di ruang makan tadi, entah kenapa Darren merasa sifat calon menantunya itu mendekati Senja. Hanya saja, lebih halus sedikit. Itupun mungkin karena menghormatinya sebagai calon mertua.


Zain dan Airin duduk berdua di ruang tamu, Zain sedikit melamun karena memikirkan pembicaraan Dasen dan Darren tadi. Rupanya sebuah mobil sport yang membuat mamana jadi stres.


"Ai ... Dasen minta mobil sport, mama nggak kasih. Tapi sepertinya Dasen bicara sesuatu yang memuat mama kepikiran. Makanya vertigonya langsung kambuh." Zain ingin bertukar pikiran dengan calon istrinya.

__ADS_1


"Memang belum saatnya Dasen punya. Aa tahu sendirilah, mereka masih suka gegayaan. Kalau sudah kuliah, mungkin bisa." Airin mencoba mengeluarkan pendapatnya.


"Iya sih ... Dasen itu sedikit banyak memang anak kesayangan mama. Karena rasa bersalah yang seharusnya tidak perlu. Saat Dasen mengatakan mama jahat atau apalah, pasti mama memasukkannya ke hati dan pikiran. Aa bingung?! Mana Dasen itu kayak daddy, kalau belum dapat yang diinginkan. Dia juga tidak akan menyerah." Zain menyandarkan kepalanya di pundak Airin.


"Nanti, Aa coba bicara sama Dasen. Kasih pengertian dan juga pandangan. Untuk mendapatkan sesuatu apalagi yang nilainya tidak murah, itu harus ada perjuangan. Kalian semua memang dari dalam perut hidupnya sudah serba berkelimpahan, keinginan kalian pun jadi nggak nanggung-nanggung. Padahal kebahagiaan itu begitu sederhana." Airin mengusap rambut Zain dengan lembut.


"Tidak begitu juga, Ai. Mama tidak memanjakan kami dengan materi. Di luar sana, banyak yang lebih dimanjakan daripada kami. Daddy lebih semau kita, tapi tentu saja untuk urusan di rumah tetap mama yang mendominasi. Mama selalu mengatakan jangan gaya kalau masih pakai uang orangtua." Zain meluruskan pemikiran Airin.


Airin mengangguk-anggukkan kepalanya. Semenjak dia menjalin hubungan dengan Zain, beberapa kali diajak Zain berkunjung ke rumah ini, semua memang bersikap hangat. Sejauh ini hanya dua orang yang sikapnya agak angkuh, siapa lagi kalau bukan Darren dan Dasen.


Bukan angkuh yang menghina dan meremehkan orang lain dengan seenaknya, tapi lebih ke menjaga jarak dan wibawanya. Seperti tidak ingin dikenal dan tersentuh orang di luar keluarga inti.


"Kok yang lahirin Mama Nja? jadi, mama menikah berapa kali?" Airin sedikit bingung dan juga salah menduga.


"Tidak seperti itu, Ai. Mama hanya menjadi surrogate mother saja. Karena mendiang istrinya papi Al ada masalah di rahimnya. Panjang ceritanya, kamu nanti bakalan lebih kagum sama mama kalau tahu ceritanya. Kalau mama tidak cepet-cepet hamil Dasen, mungkin baby De bakalan sama mama terus. Waktu itu situasiya sangat rumit. Aa pas proses pemulihan sesudah cangkok sumsum tulang belakang dan mama hamil muda," jelas Zain panjang lebar.


Airin memanggut-manggutkan kepala, meski sebenarnya masih banyak yang belum dia mengerti. Tidak seperti dirinya yang anak tunggal, bundanya yang yatim piatu anak tunggal dan ayahnya yang hanya dua bersaudara. Keluarga calon suaminya ini cukup besar, butuh waktu untuk mencerna dan mengenal dengan benar. Apalagi keluarga dari pihak Mama nja. Hampir selalu ada keturunan kembarnya.


"Pelan-pelan saja. Jangan dihafalin sekarang. Nanti malah pusing, obatnya Ai sudah di minum kan?" tangan Zain mulai memegang dagu Airin.


"Sudah dong. Aku pengen sembuh. Semoga ada donor sumum tulang belakang untuk Ai juga." Airin menatap Zain dengan pandangan penuh cinta.

__ADS_1


"Aa akan usahakan yang terbaik untuk itu. Ai, jangan putus berdoa." Zain mendekatkan wajahnya pada Airin.


"A' nanti ada yang lihat." Arini terlihat gugup.


"Mama sedang sakit, tidak ada yang melempari kita dengan apapun lagi. Sebentar saja, morning kiss perlu untuk menambah semangat. Hati yang gembira adalah obat dan ciuman yang hangat adalah pembentuk imun tubuh terbaik."


Airin menggerakkan ekor matanya ke kanan dan ke kiri, melihat situasi sekitar. Meskipun dia tidak menolak, tapi kalau sampai ketahuan lagi pasti akan memalukan.


Merasa aman, Airin memejamkan matanya. Pertanda dia sudah siap menerima sapuan lembut bibir dari laki-laki di depannya.


Zain tersenyum melihat Airin yang sepertinya sudah tidak sabar menunggu sesuatu mendarat di bibirnya. Baru saja mau menempelkan bibirnya. Suara langkah seseorang membuat Zain memundurkan wajahnya, begitu juga dengan Airin.


"Permisi Den ... Non ... Saya mau bersih-bersih dulu. Maaf mengganggu, tapi barusan Tuan Darren menghubungi kami dari atas, kalau Nyonya Bae dan Tuan Arham akan datang setelah makan siang." Bi Imas dengan sangat terpaksa harus menyela kegiatan anak majikannya, karena Bae terkenal sangat detail pada kebersihan dan kerapian. Darren tidak mau mertuanya itu mendapatkan alasan untuk mencela dirinya seperti biasa. Dengan Senja sakit saja, pasti sudah akan jadi masalah untuknya.


"Oma dan Opaku, jangan menggunakan teknik bertahan saat menghadapi omaku. Dia sangat perfeksionis. Sama-sama garis kerasnya dengan daddy." Zain mengajak Airin berdiri dan bergeser ke halaman samping rumahnya yang rindang.


ucapan Zain seketika membuat Airin kembali berpikir. Hari kedua berada di rumah calon mertua, keluarga Zain tiba-tiba berdatangan. Itu sungguh sesuatu baginya.


"Sini ... Aa kasih semangat dulu. Mereka tidak menakutkan, jangan overthinking ." Zain langsung menempelkan bibirnya ke bibir Airin yang masih mengatup dengan sempurna.


Airin membuka sedikit bibirnya, memberikan sedikit jalan untuk lidah Zain menjelajah. Tapi suara deheman membuat keduanya kembali melepaskan tautan bibir dengan terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2