
Pagi sekali, Derya, Bae, Arham dan Chun Cha sudah kembali ke negara S. Dasen juga sudah pulang lebih dahulu bersama Sarita dan Mahendra. Tinggallah Darren, Senja, Beyza, Genta, Baby De, dan Aleandro yang masih bertahan di hotel.
Sekar dan Zain sendiri masih ada kesempatan lima hari untuk cuti. Keduanya tidak memilih untuk pergi ke mana-mana. Pesan dan ajaran Darren melekat kuat di pikiran Zain. Sejauh dan sebagus apa pun tempat yang dikunjungi, pada akhirnya di dalam kamar dan di atas ranjang adalah hal terbaik yang dilakukan oleh pengantin baru.
Beyza dan Baby De sudah asyik berenang dengan Genta di kolam renang hotel ditemani Aleandro yang sedang santai menantang matahari pagi sembari terlentang dan bertelanjang dada.
"Papi kapan pulang?" Baby De yang baru naik kepermukaan mendekati Aleandro.
"Papi ingin bersantai dulu di sini. Kalau sudah pengen pulang, pasti pulang." Aleandro menjawab dengan santai.
"Suka-suka Papi saja. De mau ikut Daddy sama Mama." De duduk di dekat kaki Aleandro. Dia memang belum membicarakan keinginannya secara empat mata dengan Aleandro.
Pria itu menegakkan duduknya, dia tahu persis, sedari dulu Baby De sebenarnya ingin tinggal bersama Senja dan Darren. Tapi karena Aleandro merasa tidak enak, dia masih selalu menghalangi keinginan anaknya itu. Dia sama sekali tidak meragukan kasih sayang Senja pada anaknya. Bagaimana pun, De berada di rahim Senja selama 9 bulan, dilahirkan dan disusui sendiri oleh perempuan yang dikaguminya itu dengan penuh perjuangan.
"Kenapa tidak belajar mandiri saja, De? Kamu bisa membeli apartemen?" Tanya Aleandro dengan tatapan hangat pada baby De.
De menggeleng kuat. "Buat apa, Pi? Ada Mama di Jakarta. De merasa lebih nyaman kalau dekat mama Nja. Lagi pula, mama sama sekali tidak keberatan. Semalam saja kami tidur bersama."
"Dengan Daddy?" Aleandro mengernyitkan keningnya.
"Tentu saja tidak, Daddy menyewa kamar lain," sahut Baby De.
"Dan sekarang mama Nja ada di mana?" Selidik Aleandro.
"Mama masih di kamar. Sepertinya tidak enak badan. Papa banyak tanya, De mau kembali ke kamar." Gadis itu meraih bathrobe lalu memakainya untuk menutupi tubuhnya yang memakai baju renang two piece.
__ADS_1
Genta dan Beyza masih belum ingin beranjak dari dalam air. Keduanya malah sedang menikmati segelas jus buah segar di tangan masing-masing.
Aleandro tersenyum sendiri melihat dua pasang sejoli yang memang selalu terlihat manis itu. Dalam hati, pria itu mengagumi kecantikan wajah Beyza yang sangat dominan dengan wajah Darren. Si kembarnya, mewarisi wajah Chun Cha yang oriental.
Beyza memutuskan untuk naik ke atas permukaan terlebih dahulu, sebelum masuk kembali ke hotel, dia juga ingin berjemur dan sedikit membuat kulitnya yang putih mulus menjadi sedikit kemerahan.
"Apa kalian sudah lama saling mengenal?" Tanya Aleandro pada Beyza.
"Genta?" Beyza memastikan dulu arah pembicaraaan sebelum menjawab.
Aleandro mengangguk sembari tersenyum. "Kalian sangat serasi. Tapi sepertinya, terlalu buru-buru kalau mau menikah. Kalau nanti ternyata ada yang lebih keren dari anak itu bagaimana?" Godanya.
"Kalau Mama bilang, sepanjang perjalanan hidup kita, akan selalu ada orang yang lebih segalanya dari pilihan kita. Tapi di situlah semua rasa kita dipertaruhkan. Tentang kesetiaan, penerimaan dan rasa syukur. Kualitas kita diuji, dari bagaimana kita mempertahankan pilihan kita sampai akhir. Kata Daddy dan mama, saat kita mengagumi orang lain selain pasangan kita, maka Tuhan akan sedikit demi sedikit mencabut nikmat kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya. Mambandingkan apa yang ada di genggaman, hanya akan membuat kita merasa kurang dan kurang," jawab Beyza panjang lebar.
Aleandro tersenyum tipis, sedikit merasa tertampar dengan kata-kata Beyza. Sudah puluhan tahun menikah dengan Chun Cha, tapi kerap kali masih mengagumi sosok Senja dalam pikirannya. Sikap dan pembawaan Chun yang keras, membuat dirinya perlahan tapi pasti semakin menjauh.
"Bey masuk dulu ya, Pi. Laper. Papi masih mau di sini? Apa Papi tidak akan bergabung makan pagi bersama-sama?" Beyza mengingatkan Aleandro kalau dirinya belum memakan apa pun pagi ini.
Aleandro hanya mengatakan akan menyusul nanti. Dia akan memanfaatkan waktu sendiri sebaik mungkin. Memikirkan rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk, dan sudah sulit untuk diperbaiki.
Setelah memanggil Genta, Beyza memakai bathrobe kembali agar kemolekan tubuhnya tidak banyak yang melihat saat kembali ke kamar hotelnya. Genta dan Beyza berjalan berdua menampilkan keserasian yang sangat nyata.
***
Waktu makan pagi sebenarnya sudah lewat, tapi semua masih enggan beranjak turun. Senja malah masih berada di atas ranjang. Menikmati tubuhnya yang lemas tidak bertenaga entah kenapa.
__ADS_1
"Kalian makan duluan saja. Mama males," ucap Senja pada Beyza, Baby De dan Darren yang sudah duduk di atas ranjang mengelilinginya.
"Mama mau dibawakan makanan apa?" Baby De mengusap punggung tangan Senja dengan lembut.
"Panggilkan Kak Zain saja. Biar diperiksa kondisi mamamu, Bey," perintah Darren.
"Jangan, Ask. Kamu mengganggu saja," cegah Senja.
Di hotel yang sama, namum di kamar yang jauh lebih nyaman, Sekar dan Zain baru saja menuntaskan mandi pagi bersama mereka. Kini, saat keduanya sudah rapi, baik Sekar dan Zain malah bingung harus memulai hari dari mana. Tiba-tiba bergabung dengan yang lain, rasanya seperti ada yang membuat mereka risih jika dijadikan sumber perhatian.
"Kak, jalanku tidak berbeda kan dengan yang kemarin-kemarin?" Sekar mencoba berjalan di depan Zain dengan sesantai mungkin.
Pria itu merasa ada yang berbeda dengan langkah Sekar, sedikit aneh, tapi tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. "Hmmmm... coba sekali lagi," ucapnya.
Sekar pun mencoba berjalan sekali lagi sembari menahan nyeri yang sedikit terasa di sela pahanya. Padahal berendam air hangat dan salep juga sudah dioleskan, tapi efek si tole ternyata memang sedasyat itu.
"Sedikit berbeda sih, tapi tidak terlalu kentara kok. Sepertinya, kamu terlalu menjaga jarak antara satu paha ke paha lainnya."
"Apa kakak tahu? Si tole mungkin tidak pernah lepas dari kakak, tapi rasanya sampai sekarang, dia tertinggal dan mengganjal di sini. Sudahlah, hubungi Bey, apa mereka sudah ke bawah untuk sarapan?"
Zain langsung mengambil ponselnya, mengirimkan pesan singkat yang langsung dibaca dan sedetik kemudian dibalas dengan foto Senja yang tergolek lemah di atas ranjang.
"Kita ke kamar Mama dulu. Sepertinya Mama kelelahan, atau mungkin kepikiran masalah Derya. Kita periksa kondisi Mama dulu." Zain mengambil stetoskop yang selalu dibawa di kopernya. Lalu mengajak Sekar cepat-cepat menuju kamar di mana Senja berada.
Darrren sedikit lega saat melihat Sekar dan Zain datang. Dia memiliki kecurigaan tersendiri pada kondisi sang istri, tapi sayang, Senja belum mau mendengarkan usulnya.
__ADS_1
Setelah memeriksa Senja, zain menarik tangan Sekar untuk ikut memeriksa mamanya. Dia seperti tidak yakin akan sesuatu. Setelah memeriksa Senja, Sekar membisikkan sesuatu pada Zain.
"Ma... Mama punya tes kehamilan tidak?" Zain bertanya dengan raut wajah kesal.