
"Derya dan kamu sama-sama harus bertanggung jawab. Jika istriku mengatakan kamu harus pergi untuk menyelesaikan urusan dengan orangtuamu, itu adalah hal yang paling benar. Dan caramu memaksa Derya menikahimu, menunjukkan kualitasmu yang sebenarnya," tambah Darren, kali ini lebih tegas dan penuh penekanan lagi.
Inez menundukkan wajahnya, tatapan tajam seorang Darren sungguh membuat nyali yang tadinya membara, sekarang menjadi menciut.
"Jangan coba-coba kamu menekan dan mengatur Derya, Nez. Yang kalian lakukan atas kesadaran kalian sendiri. Jelas bukan Derya yang memaksa. Orang pintar pasti bisa berpikir, kalau kamu yang dengan suka rela memberikan. Ingat Nez, kejadiannya di tempat Derya. Di negara lain malah. Kamu tidak diperkossa apa lagi diculik. Kamu datang sendiri kemari untuk menemui Derya." Darren semakin menekan Inez.
"Dadd ... ." Derya ingin meminta Darren untuk tidak terlalu menyudutkan Inez, tapi diwurungkan begitu melihat tatapan mata sang daddy yang dingin kepadanya.
"Kita pulang, Der. Semua sudah jelas. Pembicaraan kalian berdua tidak akan menghasilkan jalan keluar apapun sampai kalian berbicara dengan orang tua masing-masing." Darren langsung membalikkan badannya, berjalan mendekati pintu.
Derya buru-buru menyusul sembari menggeret satu koper kecil. Inez mencoba menahan pergelangan tangan laki-laki yang dicintainya itu. Tapi Derya kembali menepisnya.
"Pergilah, Nez! Pulanglah ke Indonesia. Jangan memaksakan keadaan dan membuat semuanya lebih rumit." Derya mengatakan dengan suara tertahan.
Inez bergeming. Dia sama sekali tidak menduga, Derya berubah lebih dingin setelah penyatuan terlarang mereka.
Darren dan Derya berjalan beriringan, keduanya menuju pintu lift. Tidak ada kata yang terucap dari mulut keduanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Derya terlihat gelisah. Semakin mendekati rumah, duduknya semakin tidak tenang.
Darren menyadari apa yang dirasakan oleh anaknya itu. Derya juga terluka dan tersiksa dengan kesalahan yang dibuatnya sendiri.
"Bicarakan dengan Mama Nja baik-baik. Sebesar apa pun kesalahan seorang anak, seorang ibu tidak akan sanggup membenci anaknya. Jika ada kata-kata tajam yang keluar dari bibir mama, yang terluka bukan hanya kamu, Der. Mamamu sendiri pasti juga terluka." Darren menepuk pundak Derya sembari melemparkan senyuman tipis berkarisma.
Menginjakkan kaki di Mansion Hutama, Derya semakin gelisah. Mansion itu terlihat lengang. Langkahnya berhenti di anak tangga terakhir.
"Daddy, duluan." Darren melebarkan langkahnya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Senja.
"Dadd, jika mama sudah mau bertemu dengan Der, tolong daddy beritahu Derya,"
__ADS_1
Darren hanya mengangguk sembari mengangkat jempolnya tanpa menoleh. Derya sendiri langsung masuk ke kamarnya.
Senja sedang duduk melamun di balkon. Perempuan itu sampai tidak menyadari kalau sang suami sudah berada di sampingnya. Tatapan mata Senja kosong ke depan.
"Awan tebal abu-abu kadang menutup birunya langit sebagai pertanda akan hujan. Tidak selalu, tapi seringkali begitu. Apakah hujan itu menakutkan? Tidak juga. Bagi sebagian orang, hujan juga rejeki." Darren mengusap lembut punggung sang istri, membuat Senja tersadar dari lamunannya.
Perempuan itu menoleh dan memberikan senyuman khasnya yang mempesona.
"Ketika hujan datang, ada yang gembira menyambutnya, ada pula yang khawatir karena bisa mengakibatkan banjir dan lain-lain. Masalah yang kita hadapi sekarang, Ayo kita lihat dari sisi baiknya saja, Ask. Mungkin kita tidak bisa menemukannya sekarang, tapi nanti pasti ada."
Senja mengangguk lembut sembari berkata, "Akan Senja coba, berdamai dengan kenyataan, memang selalu lebih baik. Tuhan pasti menyimpan lebih banyak kebaikan dan kebahagiaan untuk kita."
"Kita akan hadapi bersama. Lebih cepat kita selesaikan, akan semakin baik." Darren mengusap rambut istrinya.
"Derya sama siapa, Ask? Kamu sudah makan?" Senja memainkan jemarinya di dada bidang Darren.
"Aku sudah makan tadi. Derya sudah di sini. Mau bicara dengan Der?" Darren bertanya dengan hati-hati.
"Jadi mau bicara sama Derya, atau mau ngajak aku merusak seprei nih?" goda Darren, hanya untuk mencairkan ketegangan pikiran Senja.
"Dasar! Masih saja kepikiran ke sana." Senja mencubit Darren dengan gemas.
Darren mengusap punggung tangan Senja, lalu mengecup kening istrinya itu dengan penuh perasaan.
"Kamu tunggu di sini, biar aku memberitahu Derya dulu." Darren keluar kamar menuju tempat di mana Derya berada.
Senja mendudukkan dirinya di tepian ranjang, dan sengaja mengambil posisi memunggungi pintu kamar.
Derya masuk tidak ditemani oleh Darren. Dia melangkahkan kakinya perlahan, belum apa-apa, matanya sudah terasa perih dan berkaca-kaca. "Ma ... ," lirihnya.
__ADS_1
Senja bergeming, dia tidak menoleh atau pun menjawab, perempuan itu malah semakin memejamkan matanya lebih rapat.
"Ma ... ," Derya memanggil Senja sekali lagi sembari berlutut di depan kaki mamanya persis.
"Maafkan Derya, Ma." Anak itu menggenggam erat tangan Senja yang masih belum juga membuka matanya.
Perasaan bersalah, kecewa dan kesal pda diri sendiri. Semakin menyeruak di hati Derya. "Mama, lihat Derya, Ma. Jangan begini. Pukul, Derya. Marahi Derya, jangan diam seperti ini," pintanya.
Senja memalingkan wajah ke sisi lain. Air matanya juga sudah menetes. Dalamnya kekecewaan dan kemarahan justru membuat lidahnya kelu. Dia tidak sanggup berkata-kata.
Derya menciumi punggung tangan Senja bertubi-tubi, sembari terus mengucapkan maaf. Semakin lama, isakan tangis Senja semakin terdengar. Lirih dan memilukan.
Hal yang sama juga terjadi pada Derya, bahu pria itu bergetar, seiring pecahnya tangisan yang sedari tadi tahan.
"Hukum Derya, Ma. Tapi jangan diamkan Derya seperti ini."
Sikap Senja yang terus mendiamkan dan tidak melihat wajahnya, justru membuat Derya tersiksa. Lebih baik mendapatkan tamparan bertubi-tubi atau mendengar lontaran kata-kata pedas, daripada harus diabaikan seperti sekarang.
"Derya menyesal, Ma. Sungguh menyesal. Der harus bagaimana agar mama memaafkan Derya?" Anak itu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Senja. Menumpahkan air matanya di sana.
Hati Senja rasanya semakin tersayat-sayat. Dia tahu, dirinya bukan satu-satunya yang terluka saat ini. Derya pun, menyimpan luka dan penyesalan yang tidak kalah dalamnya.
Perlahan, tangannya terulur membelai lembut rambut anaknya itu. Bukannya mereda, tangisan Derya semakin pecah. Senja masih tidak sanggup mengucapkan apapun. Dia takut yang keluar nanti malah kata-kata yang menyakitkan.
"Katakan sesuatu, Ma. Der, menunggu maaf Mama. Tolong," Derya mengiba di tengah isak tangisnya. Bahunya sampai naik turun.
Senja memegang pipi kiri dan kanan Derya, lalu menatapnya dalam. Keduanya saling beradu tatapan sendu.
"Jangan seperti ini, Ma. Bicaralah, jangan takut akan menyakiti hati, Derya. Der, pantas mendapatkannya."
__ADS_1
Senja menarik pundak Derya agar anaknya itu, ikut berdiri mengikutinya. Perlahan, Senja membawa Derya ke dalam pelukaannya. Tidak ada kata memaafkan yang terucap. Tidak ada sikap emosional yang menunjukkan kemarahan. Senja hanya melampiaskannya dengan deraian air mata. Kecewa yang dirasakan, lebur menjadi ketidak tegaan. Rasa sayang seorang ibu pada anaknya, sanggup mengalahkan rasa yang lain.