Hot Family

Hot Family
Sungkeman pengajian


__ADS_3

Zain kembali mengatur napasnya. Dia berusaha meredam kesedihan yang sedari tadi sulit untuk dikendalikan. Senja sepertinya sudah menghabiskan separuh tisu di depannya. Hidungnya nampak merah sekali.


Setelah merasa lebih baik, Zain kembali mendekatkan pengeras suara di depan bibirnya. "Di malam yang baik ini, izinkan Zain berpamitan, untuk membangun keluarga kecil Zain di rumah yang berbeda. Mulai lusa, Zain tidak akan tinggal bersama Mama dan Daddy lagi."


Mendengar ucapan Zain, isak Senja semakin tidak terbendung. Entah kenapa, dia merasa berat melepas Zain. Rasanya baru sebentar dia bersama lagi dengan anak pertamanya itu. Beberapa kali perempuan itu mengucapkan istighfar untuk menenangkan dirinya sendiri.


Zain pun akhirnya menyelesaikan semua ungkapan hatinya. Tiba giliran Darren yang akan menimpali dan menanggapi semua perkataan Zain tadi.


Pria itu menghapus air mata yang juga sempat jatuh membasahi pipi. Dengan bahasa tubuhnya yang selalu menarik untuk dilihat, Darren memajukan sedikit badannya ke depan untuk meraih pengeras suara yang diberikan oleh Zain.


"Zainan Abrizal Hutama. Daddy dan Mama ikhlas melepasmu untuk menyempurnakan ibadahmu sebagai seorang laki-laki. Mulai besok, ketika para saksi sudah mengatakan sah pada ikrar akadmu, maka tanggung jawab dipundakmu pun sudah berbeda. Selesai sudah tugas Daddy dan Mama untuk mendampingingimu." Suara Darren mulai bergetar.


Zain kembali menangis, teringat pertemuan pertamanya dengan sosok yang kini sedang berbicara itu. Pria yang dulu dipanggil hanya dengan sebutan 'om,' yang pernah membuatnya kesal karena sosok itu membuat mama dan papanya menjadi tidak bisa bersatu kembali.


"Ini bukan perpisahan, Zain. Kita hanya berpisah tempat tinggal. Maafkan kesalahan Daddy dan Mama selama menjaga, merawat, membesarkan, hingga menemanimu sampai sekarang. Maafkan kekurangan kami yang sering kali egois sebagai orang tua. Ketidak sempurnaan kami dipenilaianmu, mungkin sebenarnya adalah cara kami yang ingin menjaga hatimu dari rasa sakit hati."


Kalimat Darren itu, tidak hanya mengena pada Zain. Derya, Beyza, dan Dasen juga merasa ikut tersentil dengan ucapan daddy mereka.


Sering kali mempertanyakan kerasnya hati Senja dan Darren saat mempertahankan prinsip yang diyakini, tapi melihat butiran bening yang jatuh membasahi pipi sosok daddy mereka saat mengatakannya, membuat mereka sadar, kalau sudah terlalu salah sangka selama ini.


"Selamat memasuki kehidupan yang sebenarnya, Zain. Jadilah suami yang bertanggung jawab pada istrimu. Ayah yang luar biasa dan membanggakan bagi anak-anakmu kelak," pesan Darren.


Beyza seketika berbisik kepada Genta. "Sepertinya, aturan tidak boleh punya anak memang hanya berlaku untuk kita."


Genta menganggukkan kepala tanpa mengucap sepatah kata pun.

__ADS_1


Setelah keharuan yang teraduk dengan kebahagiaan, akhirnya tibalah acara di mana Zain sungkeman. Di mana Zain akan bersimpuh di kaki Senja, Darren dan kedua opa-omanya.


Sungkeman sendiri merupakan tradisi jawa yang masih selalu dilakukan calon pengantin. Sebagai tanda bakti dan hormat yang dilakukan oleh seorang anak ke hadapan orang tua serta keluarga yang lebih tua, mengungkapkan permintaan maaf dan rasa terima kasih atas bimbingan dari lahir sampai ke perkawinan.


Zain menyentuhkan telapak tangannya di kaki Senja terlebih dahulu, ketika dia ingin mencium kaki perempuan yang melahirkannya itu, Senja tidak mengijinkan.


"Jangan Zain, Mama bukan malaikat suci tanpa dosa." Senja malah menciumi punggung dan telapak tangan Zain bertubi-tubi.


Keduanya saling bertukar pandang dengan tatapan yang luar biasa. Senja langsung merengkuh bahu Zain, menenggelamkan kepalanya di dada anaknya itu. Isak tangis keduanya pecah.


"Sering kunjungi Mama ya, Zain. Mama rasanya masih baru kemarin bertemu denganmu," bisik Senja.


"Pasti, Ma. Terimakasih atas semuanya, Ma. Terimakasih karena Mama memberikan daddy yang luar biasa pada Zain. Jangan lupa kirim doa pada Papa Rafli, Ma."


Senja merenggangkan pelukannya, masih banyak kata yang ingin dia ucapkan. Tapi tidak sekarang, sudah terlalu larut. Kasihan anak yatim piatu yang hadir.


"Daddy bangga padamu, Nak." Darren memeluk Zain mengusap punggung anaknya itu naik turun.


"Terimakasih sekali lagi, Dadd. Terimakasih untuk semua. Seribu kali, Zain ucapkan kata itu hari ini, tidak akan bisa menggantikan apa yang Daddy lakukan untuk Zain. Terimakasih karena sudah membahagiakan mama."


Darren menarik napas dalam sembari memejamkan matanya, lalu berbisik, "Jaga hati istrimu seperti kamu yang tidak ingin melihat mamamu bersedih."


Keduanya kompak merenggangkan pelukan. Zain bergeser kembali mendekati Sarita yang ada di samping Darren persis. Begitu seterusnya bergantian pada Mahendra, Bae dan yang terakhir adalah Arham.


Acara berlanjut santai dengan makan malam. Tapi Senja merasakan badannya mulai tidak nyaman. Dia seperti ingin menceburkan dirinya ke bath up tanpa bisa ditahan.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada mertuanya, dia pun segera ke kamarnya. Seperti putri duyung yang sudah tidak bisa berlama-lama di daratan. Senja segera mengisi bathup nya dengan air hangat.


Darren yang tidak tahu istrinya sudah terlebih dahulu meninggalkan acara, mencari-cari sosok itu saat mendapati makanan kebab kesukaan sang istri di deretan hidangan prasmanan.


Mengetahui Senja sudah kembali ke kamar terlebih dahulu. Darren memanyunkan bibirnya, dia tidak mungkin meninggalkan acara terakhir untuk menyantuni anak yatim.


"Mama kenapa, Oma?" Tanya Beyza, sedikit berbisik pada Bae dan Sarita.


"Tanda-tanda semakin jelas, tunggu pastinya saja," sahut Bae, tetap bertahan pada pendapatnya.


"Iya benar. Sungguh ini sangat tidak lucu. Bisa-bisanya mereka kebablasan. Apa tidak malu pada besannya," timpal Sarita.


Beyza hanya diam, dia tidak tahu harus menimpali dengan berkata apa. Entah ada apa dengan dua oma yang kompak mencibir daddy dan mamanya habis-habisan dari kemarin.


Selesai acara, Darren langsung bergegas kembali ke kamar. Dia tidak melihat sang istri di sana. Tapi gemericik air di kamar mandi, membuatnya memiliki dugaan kuat, bahwa istrinya berada di dalam sana.


Darren melepas baju atasan yang dikenakannya dan meletakkan di keranjang baju kotor yang disediakan oleh pihak hotel, dia mencoba membuka pintu kamar mandinya. Ternyata, pintu itu tidak terkunci dari dalam.


"Astaga, Ask! Ini sudah malam, dan kamu berendam seperti itu. Ini sangat tidak bagus, ayo keluar." Darren menarik tangan Senja yang masih berbusa, bukannya Senja yang ikut tertarik tetapi malah dirinya yang terhuyung. Hingga separuh bahunya ikut basah.


"Bilang saja mau ikutan. Sini, Senja tidak keberatan sama sekali." Bukannya takut dengan ucapan Darren yang agak keras, Senja malah seperti menantang dan memberi umpan pada sang suami.


Tentu saja tanpa malu-malu, Darren pun langsung ikut masuk ke dalam bak besar berbentuk oval itu. Tentu saja setelah menanggalkan semua kain yang menempel di badannya.


"Ask, sepertinya, kita memang perlu test pack. Ini rasanya sama persis saat awal2 hamil si kembar, pucuk kesayangan kok juga tambah besar ya." Darren mengucapkan dengan hati-hati sembari memilin bagian di tengah dua gundukan kenyal sang istri.

__ADS_1


Senja seketika memperhatikan dadanya, "Iya, benar, Ask."


__ADS_2