Hot Family

Hot Family
Jebakan untuk Inez 1


__ADS_3

Derya dan Inez kini sudah duduk di tempat masing-masing, saling berhadapan dengan meja sebagai jarak. Derya masih memasang senyum manisnya, membuat Inez semakin besar kepala. Perempuan itu sudah tidak sabar menunggu Derya akan mengiba untuk meminta maaf dan mengajaknya untuk menikah.


Tapi harapan Inez sepertinya memang terlalu tinggi. Hingga keduanya selesai menikmati satu cup es cream, Derya tidak ada tanda-tanda untuk mengajaknya berbicara ke arah yang serius.


Derya beberapa kali malah sibuk memainkan ponselnya, menunggu pesan masuk dari Zain atau Sekar. Sedikit perubahan rencana, akan membuat semuanya semakin sempurna. Inez dengan suka rela akan memasuki lubang kubur yang digalinya sendiri.


Derya melebarkan senyumnya. Begitu notice yang dia tunggu masuk dengan sederetan kalimat sesuai dengan yang dia harapkan, lelah batin karena menghadapi masalah dengan Inez, seketika luruh. Tidak semua orang yang melihat social media Inez itu pintar, beberapa tentu masih menghujatnya sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab. Untung saja, Derya memiliki keluarga yang sangat tidak peduli dengan penilaian dari orang lain.


"Nez," panggil Derya dibuat selembut mungkin.


"Iya,"


"Ehmmm ... lihat kamu semakin cantik dan berisi, kok aku ingat kejadian di apartemen ya, Nez. Mau nggak kita ngulang lagi? Sekalian aku mau memberikan surprise sama kamu. Kali ini, aku ingin melakukan secara pantas." Wajah Derya dibuat semeesum mungkin.


Inez tidak langsung menjawab. Niat hati hanya ingin jual mahal dan sedikit dinilai tidak murahan, karena menerima Derya kembali dengan mudah. Tapi laki-laki yang sedang tidak ingin banyak membuang waktu itu, terus mendesak dengan kata-kata yang membuatnya terbuai. Angan Inez terlanjur melayang jauh, sejauh harapannya yang sudah setinggi langit ketujuh.


"Bagaimana? Kalau kamu menolak, aku bisa mengerti. Aku tidak terlalu ingin memaksa. Karena jujur, mama juga sudah menyiapkan jodoh untuk aku."


Kata-kata Derya sukses membuat Inez dengan cepat mengangguk dan mengiyakan ajakan laki-laki yang bisa dikatakan calon suami idaman itu. Keduanya pun langsung berangkat bersama menuju hotel yang sudah dipersiapkan oleh Derya. Untuk menghindari serangan yang tidak diinginkan, Derya memilih duduk di jok depan di samping driver. Membiarkan Inez duduk di bangku belakang sendirian. Derya pura-pura sibuk dengan laptopnya, agar disangka sedang bekerja.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah hotel berbintang lima di ibu kota, Zain dan Sekar yang baru saja mempersiapkan semua urusan sang adik. Terlihat keluar dari kamar president suite yang akan digunakan oleh Derya nanti.

__ADS_1


"Sudah aman, tugas kita selesai. Semoga hari ini adalah akhir dari masalah Derya." Zain terlihat benar-benar lega.


"Amin ... ." Sekar mengamit lengan Zain dengan sangat manja.


"Mau makan nggak? Mama sama daddy dulu sering makan di sini,"Zain melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan hampir pukul dua, itu artinya waktu makan siang sudah menjelang usai.


"Nanti aja makannya. Sekar laper yang lain." Sekar mengusap dada Zain naik turun. Kalau sudah begini, anak pertama Senja itu, jelas tahu arah yang dimaksud sang istri.


Zain menelan ludahnya kasar. "Nanti saja, ya. Kan kita harus nunggu Derya beres dulu." Zain mengajak Sekar berjalan mendekati lift. Tapi Sekar malah mengajak Zain berhenti di depan pintu room yang letaknya tidak jauh dari kamar yang dipesan untuk Derya.


"Kenapa berhenti di--?" Zain tidak melanjutkan pertanyaannya, karena Sekar sudah menempelkan kartu di pintu kamar tersebut.


"Makan yang lain dulu, tadi kan kita sudah coffe break, jadi masih kenyang. Di habisin dulu kalorinya sekarang." Sekar buru-buru mengajak Zain masuk ke kamar.


"Kak, yuk usaha lagi! Biar nanti Sekar dan mama lahirannya berdekatan." Istru Zain itu mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Zain menahan tawa sembari mengacak rambut Sekar. "Bukan seberapa seringnya, yang penting itu kualitasnya."


Sekar tidak menjawab. Tangannya sudah aktif membuka kemeja Zain. "Makanya, Kak. Punya tole itu, harusnya yang biasa saja. Jangan yang meresahkan begitu, kan Sekar jadi terus penasaran."


Zain tidak ingin hanya sekedar pasrah, dia menautkan bibirnya pada bibir Sekar. Keduanya saling memagut dengan tangan yang sudah sama-sama liar menjaamah area favorit masing-masing.

__ADS_1


Sementara Zain dan Sekar sedang berusaha meneguk kenikmatan dunia, Derya dan Inez baru saja menjejakkan kakinya di hotel. Anak dari Angelica Malito itu semakin yakin kalau Derya memang cinta mati padanya. Apalagi saat dia tahu kamar yang mereka tuju adalah kamar president suite. Berasa dirinya adalah istri seorang pangeran.


Derya membuka pintu kamar dengan cara yang sama seperti yang Sekar lakukan, gelap menyambut mereka. Sadara kembar Beyza itu menggenggam tangan Inez dengan kuat, Derya mengajak perempuan itu masuk semakin dalam setelah menutup kembali pintunya dengan rapat. Sedikit meraba-raba, membuat Derya sedikit kesulitan juga saking gelapnya.


"Ini gelap sekali," bisik Inez, terdengar tidak nyaman.


"Sebentar," jawab Derya, menghentikan langkahnya. Inez mengamit lengan Derya dengan posesif.


Derya kembali meraba-raba, mencari kotak tempat memasukkan card lock agar lampu kamar bisa menyala seperti biasa. Sembari mengucapkan bismillah dalam hati, Derya yang sudah menemukan benda yang dicari, segera menancapkan card lock di sana hingga membuat room itu terang benderang.


Seketika, Inez melepas pegangan tangannya. Perempuan itu menggelengkan kepala dan menatap Derya dengan sangat sinis. "Apa maksudmu?"


"Jangan marah, honey. Aku hanya ingin melihat perkembangan baby mini kita. Setelah memastikan kandunganmu baik-baik saja, kita akan bersenang-senang." Derya menarik tangan Inez dengan paksa untuk mendekati dokter kandungan dan dua perawat yang sudah bersiap di sana dengan alat usg yang lengkap.


Wajah Inez seketika pucat, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari celah agar bisa berlari dari sana.


"Nurut saja, Nez. Di luar, sudah ada yang menunggumu. Tapi nanti ya, aku lihat calon anakku dulu." Derya sungguh menunjukkan sisi lain yang selama ini jarang dia tampilkan. Wajah dingin, dengan sorotan mata tajam menikam.


"Jangan, Der...." Inez terus memohon.


"Naik ke ranjang, atau mau aku yang menggendong dan melemparmu ke sana?" Derya menarik tangan Inez kasar, sudah tidak sabar, dia benar-benar mengangkat tubuh Inez dan menghempaskannya ke atas ranjang.

__ADS_1


Kini, Inez pun tidak bisa berbuat apa pun. Dia memejamkan matanya. Berharap sedikit keajaiban datang. Perawat menyibak atasan yang dikenakan oleh Inez, dokter pun langsung menuangkan gel dingin ke atas perut perempuan itu. Perlahan dokter cantik seusia Zain itu menggerakkan alatnya di atas perut mulus Inez.


Derya begitu fokus mengamati layar monitor LCD yang ada tepat di depannya.


__ADS_2