Hot Family

Hot Family
Pelabuhan si tole


__ADS_3

Senja mengabaikan omelan Darren, dia segera bergabung dengan yang lainnya untuk menghindari obrolan yang berpotensi merusak mood.


"Das, aku kerja di tempatmu ya? Jadi apa juga boleh kok. Aku punya pengalaman kerja yang bagus," bisik Baby De pada Dasen.


"Beres. Langsung direktur marketing bisa kok. Lagi kosong, kak," timpal Dasen.


"Kok bisa?" Tanya Baby De sedikit heran.


"Bisalah. Pegawai Mahendra Corp, untuk level managerial, wajib bisa menjalani dua posisi sekaligus kalau memang mendesak."


Baby De menutup mulutnya, dia menyesal sudah bertanya. Lupa, kalau saudara sepersusuannya itu sangatlah sombong.


Di sisi lain, Genta dan Beyza tampak begitu serasi. Keduanya duduk berdampingan lebih rapat. Meski di samping Genta ada Derya, tetap saja Beyza tidak enggan membuat posisinya tidak berjarak dengan kekasihnya itu.


Tidak lama, yang ditunggu-tunggu, akhirnya muncul juga. Siapa lagi kalau bukan pasangan pengantin baru beberapa jam, Zain dan Sekar. Semua memberikan senyuman hangat pada keduanya.


Zain duduk tepat di samping Senja diikuti oleh Sekar yang duduk tepat di samping Sarita. Sejenak, semua mengabaikan kondisi Aleandro dan Chun Cha yang tidak harmonis. Semua hanya ingin fokus dalam kebahagiaan Zain dan Sekar.


Makan malam pun dimulai dengan penuh kehangatan. Suasana penuh cinta dan romantis yang ditebarkan Zain dan Sekar, terasa di hati semua anggota keluarga. Kecuali Aleandro dan Chun Cha yang memang sudah terlanjur menolak adanya cinta di antara mereka saat ini.


Di balik kebahagiaan, Senja merasakan luka yang luar biasa di mata Derya. Anaknya itu berkali-kali menarik napas berat dan mengusap wajahnya dengan kasar. Senja pun berdiri, memilih duduk di dekat anaknya itu, dan menggenggam tangan Derya seolah ingin memberikan kekuatan yang luar biasa.


"Kamu butuh waktu untuk sendiri? Atau ingin berdua dengan Mama?" Senja berbisik pada Derya.


"Derya butuh Mama." Jawab Derya dengan jujur.

__ADS_1


Karena acara memang santai dan sama sekali tidak formal, Senja berpamitan pada semua untuk meninggalkan tempat lebih dahulu. Terutama pada Zain, Senja berbisik dan berkata jujur, bahwa Derya sedang tidak baik-baik saja.


"De, tunggu mama di kamar mama bersama Beyza," pamit Senja pada Baby De.


Kepada Darren, Senja hanya memberikan bisikan sekilas. Suaminya itu sudah sangat paham. Derya memang sedang tidak baik-baik saja, dan butuh perhatian ekstra. 30 menit yang lalu, Darren menerima pesan dari nomer tidak dikenal yang mengirim berita tentang kondisi Inez yang depresi karena ditinggalkan Derya begitu saja.


Tapi Darren belum sampai membicarakannya dengan Senja. Karena tahu persis, tindakan istrinya pasti akan jauh lebih humanis dari yang dia lakukan tadi. Urusan Derya dan Inez, masih akan sangat panjang.


"Dadd, Inez bukan lawan yang sepadan. Buatlah ini lebih mudah. Kenapa kalian membiarkan mereka bermain-main?" Zain bertanya sedikit kesal.


"Terlalu powerfull, kadang tidak bagus, Zain. Pelan tapi pasti dan benar. Mereka boleh menyerang kita, biarlah masyarakat tahu keluarga kita masih manusia biasa. Bukan malaikat. Apa yang Derya lakukan memang salah, dosa besar, tapi bukan hal yang bisa dibenci. Biarkan Inez dan keluarganya menggali jurang untuk mereka terjuni sendiri."


Sekar mengulurkan sosial medianya. Menunjukkan updatan Inez beberapa saat yang lalu menggunakan akun baru. Di mana dia menyebarkan kesedihan dan depresi yang dirasakan.


"Daddy tidak akan membiarkan siapa pun mentake down postingan ini. Biarkan sesuka mereka. Enjoy saja. Ini bukan masalah besar. Dan kamu, fokus saja membuatkan cucu untuk Daddy." Darren menepuk lengan Zain, lalu berdiri hendak menyusul Senja yang entah membawa Derya ke mana.


"Daddy baik dan detail sekali, kamu tahu? Air hangat bisa mengurangi rasa nyeri. Seperti proses water birth, mungkin imajinasi daddy sampai ke sana," celetuk Sekar.


"Apa pun itu, apa bisa kita mulai saja?" Bisik Zain, benar-benar sudah tidak sabar.


Sekar melepas semua yang dikenakannya, menyisakan segitiga dan kacamata berenda yang dikenakannya masuk ke dalam jacuzzi. Zain pun menyusul ke dalam sana dengan melakukan hal yang sama.


"Buat Sekar nyaman dulu kak, biar tidak terlalu sakit." Sekar dengan santai mengarahkan tangan Zain ke celah dua pahanya.


Beratapkan langit yang bertaburan bintang-bintang, dua anak manusia itu saling memadu kasih. Bibir keduanya beradu dengan lincah, menyamarkan suara dessah yang sesekali meluncur di sela-sela pagutan dua daging tidak bertulang. Suara itu keluar tanpa malu dari mulut Sekar yang tubuhnya sudah beberapa mengeliat dan melayang karena kelincahan jemari Zain.

__ADS_1


Setelah merasa cukup, dan tidak akan terlalu sakit. Sekar menjauhkan tangan Zain dari area sensitifnya.


"Tolenya aku masukin ya, kak? Kakak jangan ikut-ikut. Biar aku saja." Sekar menuntun tole dengan tangannya memasuki celah sempit menjepit di antara dua pahanya.


Perempuan itu tampak mengatur napasnya, seperti ibu-ibu yang hendak melahirkan, suasana yang harusnya romantis, menjadi agak konyol karena Sekar yang memperlakukan malam ini seperti sedang ingin lahiran.


Sekar menarik napas dalam begitu tole mulai memasuki celahnya. Satu tangannya meremmas bokong Zain dengan kuat untuk menahan sebuah rasa.


"Dorong lagi, Kak." Sekar mulai memberikan arahan pada Zain.


"Astaga," jerit Sekar dengan suara tertahan begitu hampir separuh bagian tole merasukinya. tubuhnya semakin merapat menempel pada sang suami dengan satu kaki melingkar di pinggul Zain dengan kuat.


"Belum semua," bisik Zain sembari mengecup lekuk leher Sekar.


"Ya sudah kak, semuanya saja. Sekar siap." Mata Sekar memejam, menunggu hentakan dasyat yang mungkin terjadi, air hangat benar-benar membantunya memberi rasa nyaman.


"Setelah ini, kita coba keluar air, ya. Sudah masuk semua kok ini." Zain mulai menggerakkan pinggulnya naik turun sembari mengangkat sedikit tubuh Sekar.


Perempuan itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bola matanya yang kadang mewakili rasa yang ada. Entah berapa cakaran yang sudah mengenai punggung dan bokong Zain. Setiap pria itu menghentakkan tubuhnya, rasanya ada yang menembus dirinya hingga ke mana-mana.


Zain mengangkat tubuh Sekar ke atas lantai yang sudah disiapkan alas empuk tipis putih lengkap dengan selimutnya.


"Kakak duluan, deh. Kayaknya, Sekar gak mungkin berdesir malam ini. Masih adaptasi," ucap Sekar dengan jujur.


Zain memiringkan badan Sekar, lalu kembali memasukkan tole dengan pelan ke persembunyiannya. Sekar kembali mengatur napasnya, sungguh dia menjadi heran kenapa malam pertama itu bisa dikatakan menyenangkan. Baginya pengalaman ini lebih ke mencengangkan dan menyerikan.

__ADS_1


Berbeda dengan Sekar yang belum menemukan rasa yang sudah terlebih dahulu dibayangkan, Zain kini sudah mendekati menuju puncak kenikmatannya. Hentakannya semakin kuat, membuat Sekar mengangkat tinggi satu kakinya sembari memejamkan mata lebih erat. Mulut Sekar meracau, dan mengumpati Si Tole yang semakin menuju puncak semakin menyesakkan.


"Kak, kayaknya banjir ini."


__ADS_2