
"Itu, Bu. Dilihat sendiri saja. Non Bey, sama Non De tidak mau turun." Wati menjawab kembali dengan perasaan tidak enak. Karena sebenarnya, dia sudah diperingatkan agar menyampaikan tentang apa yang sedang dialami Beyza dan Baby De hanya pada Senja saja.
Senja tanpa banyak kata bergegas menuju ke lantai dua, di mana De dan Bey berada. Yang lain pun langsung mengikuti. Wati menepuk keningnya dengan keras. Kedua gadis yang sedang galau dan panik itu pasti akan memarahinya habis-habisan. Melihat serombongan yang datang, pasti akan membuat Bey dan De kompak menyembunyikan wajahnya entah dengan apa.
Sampai di kamar Bey, ternyata De juga berada di sana. Keduanya mematut diri di depan cermin. Mengenakan baju yang masih sama dengan baju semalam. Rambut mereka juga masih kusut khas bangun tidur. Senja langsung mendekati Bey dan De untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalian kenapa?" Tanya Senja dengan wajah dan suara yang sama khawatirnya.
Dengan ragu, De dan Bey menoleh ke arah Senja. Kedua gadis itu kompak menundukkan wajah. Senja tidak bisa melihat dengan jelas wajah kedua anak gadisnya itu. Wanita itu perlahan mengangkat kedua dagu Bey dan De masing-masing dengan satu tangannya.
"Astaga! Bey, De, kenapa bisa begini?" Senja semakin melekatkan pandangan matanya pada wajah dua gadis di depannya.
Darren, Dasen, Zain, dan Sekar yang hampir bersamaan masuk ke dalam kamar Bey, seketika terkesiap melihat wajah Bey dan De.
"Ini alergi bukan, sih? Tapi kenapa badan kalian nggak kenapa-kenapa?" Senja memeriksa bagian tangan serta kaki Bey dan De.
__ADS_1
"Duh, kenapa kalian semua ke sini sih." Beyza menghentakkan kaki dengan kesal lalu memutar badan memunggungi semua orang.
"Wati emang gak pernah bener kalau dititipin pesen." De pun melakukan hal yang sama dengan Beyza.
Zain bergegas menghampiri kedua gadis tersebut. Lalu memaksa Bey dan De untuk tidak menutup mukanya dengan tangan. "Bey, De, tangannya singkirin. Kakak lihat dulu," ucapnya.
"Dih kalian kayak Si Mawar yang kena penggerebekan kalau tutup muka begitu," cerocos Dasen seenaknya.
"Das ...." Senja membulatkan bola matanya dengan lebar pada Dasen. Anak kesayangannya itu tidak pernah serius dan selalu seenaknya sendiri.
Darren mendekati Senja yang masih berdiri dengan wajah cemas. Dia menunggu jawaban pasti dari Bey dan De. Kulit wajah adalah bagian yang sensitif dan vittal. Jangan sampai ada sesuatu yang serius pada keduanya.
"Kalian habis makai produk apa? Ke dokter kulit saja. Kakak nggak berani kasih resep. Salah dikit bisa jelek beneran muka kalian." Zain seperti sengaja menakut-nakuti Beyza dan Baby De. Sekar mencubit lengan Zain. Dia tahu betul apa yang diucapkan suaminya itu tidak benar.
"Duh, Kak De dan Bey ini bikin heboh saja pagi-pagi. Begitu saja kok repot, kalian malah lebih menarik dengan wajah seperti itu. Coba ke taman kota, pasti anak-anak akan mengajak kalian foto bersama. Wajah kalian sungguh mirip badut," kekeh Dasen. Semakin membuat De dan Bey kesal tidak terkira. Kedua gadis itu kompak menghampiri Dasen dan menghujani laki-laki itu dengan cubitan.
__ADS_1
Darren dan Senja kompak menggelengkan kepala. Keduanya tidak berniat untuk melerai. Mereka sama-sama merindukan suasana seperti ini. Darren merangkul pinggul Senja dengan mesra.
"Ya sudah, lebih baik kalian ke dokter saja. Sana siap-siap dulu. Mama tunggu di bawah untuk makan pagi. Nanti ke dokternya mama antar." Senja bersama Darren meninggalkan kamar Bey.
"Kak, ini pasti gara-gara pakai masker semalam. Ilangnya cepat kan, kak? Kalau nikah mukanya begini kan gak seru." Beyza merengek pada Zain.
"Tergantung amal ibadah kalian. Bey ... De .... Sebaiknya kamu melakukan amal. Minta beberapa anak yatim untuk mendoakan kesembuhan kalian. Atau ajak Dasen ke tempat Mbah Gondrong biar disembur," kekeh Zain sembari menarik tangan Sekar untuk kembali ke ruang makan.
"Kalau kalian pengen cepat sembuh, pakai masker air liur Darren Mahendra. Kata daddy, itu resep awet muda mama." Dasen menyumbangkan ide konyolnya.
"Dasar nggak solutif semua. Sudahlah, memang butuh ke dokter." Be dan De sepakat akan hal itu.
Dasen tertawa lepas, langkah kakinya mengarah ke arah kamarnya sendiri. Setelah semburan Darren tadi, dia harus memakai cream wajahnya kembali.
Belum juga duduk kembali, di luar rumah, terdengar suara keributan yang cukup menganggu. Semua serentak menghampiri sumber suara tersebut. Menyadari siapa yang datang, Darren seketika memasang badan terdepan. Pria itu memberikan kode agar Dasen menggantikan dirinya untuk menggenggam tangan Senja.
__ADS_1
"Bukankah urusan kita sudah selesai?" Darren bertanya dengan angkuh.