Hot Family

Hot Family
Kejadian setelah resepsi


__ADS_3

"Siapa, Kang?" Beyza bertanya dengan nada khawatir dan penasaran yang teraduk.


"Opa Mahendra hilang kesadaran. Dokter sedang memberikan pertolongan pertama. Helicopter sudah disiapkan. Opa akan diberangkatkan ke negara S."


Tanpa menunggu Genta, Beyza segera keluar dari stateroom. Langkah kakinya dengan cepat berjalan ke arah stateroom yang memang disediakan khusus untuk mengatasi masalah kesehatan yang timbul secara mendadak selama perjalanan.


Ruangan yang dipersiapkan khusus untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang menimpa Senja tersebut. Nyatanya malah digunakan oleh Mahendra. Di luar perhitungan yang lain. Karena selain Darren, Senja dan Derya, tidak ada lagi yang tahu masalah kebocoran di organ jantung milik Mahendra.


Dilema dialami oleh Darren. Sebagai anak satu-satunya, dia tidak mungkin membiarkan mamanya sendirian menemani Mahendra. Namun dia pun berat dengan kondisi Senja. Keadaan istrinya itu juga tidak sedang baik-baik saja.


"Kamu temani papa sama mama saja, Ask. Senja tidak mengapa. Ada anak-anak di sini," Senja mencoba membuat pilihan Darren menjadi lebih mudah.


Darren menatap Senja dan Mahendra yang berbaring tak sadarkan diri di atas brankar bergantian. Wajahnya begitu sendu dan terlihat agak lelah.


"Ya sudah, kamu harus baik-baik saja. Aku temani papa." Darren lalu menghampiri mamanya yang sedang menangis terisak di samping brankar Mahendra.


Di luar stateroom, cucu-cucu Mahendra sudah berkumpul, Derya, Zain-Sekar, Dasen, Beyza dan Genta, kompak menanti keberangkatan Opa tersayang. Mereka sengaja tidak memberi tahu Bae, Arham dan yang lainnya. Hal ini untuk mencegah kepanikan dan keadaan yang lebih rumit. Menjaga keadaan tetap kondusif adalah sebuah keharusan.


Ketika pintu stateroom di buka, semua langsung beringsut merapatkan diri, menanti keputusan final yang diambil sang daddy.

__ADS_1


"Opa, Oma, dan Daddy akan berangkat ke negara S Sekarang juga. Untuk menghindari pertanyaan, dugaan dan pemikiran yang tidak-tidak dari orang lain, kalian kembalilah ke kamar masing-masing. Sebisa mungkin, masalah ini, kita saja yang tahu. Bey, temani mamamu. Sementara, kamu tidur sama mama dulu." Di segala suasana, Darren masih bisa mencari dan memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri.


Senja paham betul apa maksud Darren. Untuk mempersingkat waktu dan menghindari perdebatan tidak penting, Senja memberikan kode pada anak-anaknya untuk mengiyakan saja pesan Darren.


Tidak lama, setelah memberikan pelukan hangat sebagai bentuk dukungan dan saling menguatkan, semua meninggalkan temoat tersebut. Namun bukannya kembali ke stateroom masing-masing, mereka malah berkumpul di stateroom Senja. Menurut mereka, itu lebih adil.


Semua terlihat sedang berusaha lebih tenang. Meski diselimuti kekhawatiran. Kali ini mereka memilih menata hati agar mulai terbiasa berprasangka baik pada Tuhan. Dengan Derya menjelaskan bagaimana dan apa saja pengobatan dan tindakan yang sudah dilakukan sang opa, mereka optimis, semua akan baik-baik saja. Mungkin Mahendra terlalu bersemangat hingga kelelahan dan lupa mengontrol makanannya.


Di antara ketenangan yang lain, Sekar nampak begitu gelisah, dia sering sekali membuang muka tiap Dasen berbicara. Bahkan setiap Sekar mencoba bersikap seperti biasa saat menyikapi adik iparnya tersebut, mual malah semakin melanda.


Beyza berdiri diikuti Genta, keduanya memilih duduk di tepian ranjang sembari memijat kaki Senja. Hal itu membuat tidak ada lagi yang menjarak antara Dasen dan Sekar. Hingga apa pun usaha Sekar memalingkan perhatian, ekor matanya tetap bisa menangkap sosok Dasen.


Sekar menggelengkan kepalanya dengan kuat sembari menutup mulut dengan tangannya dan terpaksa memiringkan badannya memunggingi Dasen, agar matanya hanya bisa menatap Zain.


"Kak Sekar kenapa? Mabuk laut juga kayak Denok?" Dasen yang tidak paham, malah menyimpulkan sendiri dari gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Sekar.


"Apa bener gitu? Enggak mungkin, kan? Kita dulu pernah melakukan perjalanan singkat dari dari negara S ke pulau Batam kamu nggak mual." Zain mengernyitkan dahinya. Memang benar, Sekar nampak menahan mual.


Senja yang sudah kembali tertidur karena pengaruh obat yang diberikan Zain barusan, seolah tidak terusik dengan keramaian yang dibuat anak menantunya. Lelah bercampur kandungan obat, membuatnya benar-benar pulas.

__ADS_1


Zain memberikan obat dengan kandungan yang menyebabkan rasa kantuk yang luar biasa, karena setelah dia dan Dokter Nuke melakukan pembicaraan berdasarkan hasil pemeriksaan sebelum berangkat dari pelabuhan, kanker Senja sudah begitu aktif. Jika tidak dibantu dengan pain killer, sangat dimungkinkan Senja akan semakin kesulitan menahan sakitnya.


"Das! Kamu bisa diem nggak? Berisik sekali dari tadi," dengus Sekar, akhirnya tidak sabar juga mengeluarkan kekesalan yang sedari kemarin di tahan.


"Kak, Das salah apa?" tanya Dasen. Sangat heran dengan Sekar yang mendadak ketus dengannya.


Zain ingin menanyakan hal yang sama. Akan tetapi, melihat bibir Sekar yang sudah manyun beberapa senti dengan mata yang berkaca-kaca, membuatnya mewurungkan niat tersebut.


"Mama sudah tidur, kita kembali ke stateroom kita sendiri saja. Mungkin kamu capek." Zain menengahi agar perdebatan antara Sekar dan Dasen tidak berlanjut.


Derya tanpa memedulikan apa yang sedang terjadi, malah merebahkan dirinya di sofa panjang dan langsung memjamkan matanya.


"Kalian tidak kembali sekalian?" Mama biar aku dan Derya yang jaga," ucap Dasen, agak sedikit ketus sembari melirik Beyza dan Genta.


Pengantin baru itu pun mengikuti Sekar dan Zain yang melangkah lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah stateroom Senja lenggang. Dasen mendekati wanita yang telah melahirkannya itu. Awalnya, Dasen ingin membaringkan tubuh di samping Senja. Tapi karena masih belum mengantuk, dia memutuskan untuk memandangi wajah sang mama yang terlihat begitu tenang.


Hampir dua puluh menit duduk di tepian bed sembari menggengam tangan Senja. Dasen merasakan ada sesuatu yang salah pada tubuh mamanya. Tangan Senja semakin lama, malah terasa semakin dingin. Napas Swnja begitu halus dengan interval yang terlalu lama. Panik dan khawatir, Dasen segera membangunkan Derya.

__ADS_1


__ADS_2