Hot Family

Hot Family
Obrolan dua pria dewasa


__ADS_3

Setelah mengantar Oma Genta pulang. Rangga, Beyza, Derya dan Genta langsung meneruskan perjalanan menuju apartemen Ayahnya Genta itu.


Driver memperlambat laju mobilnya begitu memasuki gate otomatis yang hanya bisa terbuka jika memiliki card apartemen.


Mobil mereka berhenti, karena menunggu dua antrian mobil di depannya.


"Bey ... Bey ... bukankah itu mobil Daddy?" pekik Derya saat melihat mobil sport milik Darren yang hanya dipakai saat daddy-nya sendiri yang mengemudi.


Beyza memajukan posisi badannya. Mobil itu tepat berada di depan mobil yang mereka tumpangi.


"Tidak salah lagi, lihat saja plat mobilnya, setelah angka selalu NJA. Mobil seperti itu hanya ada empat di Asia tenggara. Tidak mungkin kan itu milik orang lain." Beyza mencebikkan bibirnya. Dia mulai menaruh curiga.


"Nanti kalau, Genta sudah kuliah. Genta mau mobil seperti itu ya, Yah." Genta terlihat sangat menyukai mobil Lamborgini sport limited edition milik Darren.


"Kalau kamu mau beli mobil seperti itu hubungi saja mamaku, hanya RSZ Corp yang mengimport mobil seperti itu, dan perusahaan itu adalah milik Mama dan kak Zain," Beyza mengatakan dengan sangat bangga.


Rangga mulai menyimpulkan, meski yang dipikirkannnya salah. Dia mengira kalau pernikahan Senja dan Darren jelas sangat mungkin terjadi, ibarat kata. Level keduanya sama-sama tinggi.


"Buat apa Daddy dan Mama ke sini? memang ada temannya? tidak mungkin kan? mereka lebih suka berdua ketimbang berteman," cerocos Derya.


Genta dan Rangga jadi ikut-ikutan memperhatikan mobil di depan mereka.


"Kalau hanya ada Daddy dan mama kalian yang ada di mobil itu, berarti mereka mempunyai unit di sini. Karena kalau tidak memiliki unit. Tidak akan bisa masuk tanpa membawa kartu duplikat," tutur Rangga.


Beyza dan Derya saling melempar pandang dan kompak mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.


"Sepertinya, Bey mencium akal-akalan Daddy di sini. Pasti Daddy ingin berdua saja tanpa mama. Bukankah mereka mengatakan ingin liburan berdua saja. Bey, tidak terima kalau mereka sampai benar mempunyai tempat persembunyian di sini."


"Mari kita tangkap Daddy dan Mama," sahut Derya.


"Aku dukung kalian," timpal Genta.


Rangga hanya menggeleng-gelengkan kepala. Semenjak Genta dekat dengan Beyza dan Derya, ditambah dirinya yang juga jadi ikut mengenal keluarga mereka. Hidupnya menjadi lebih berwarna dan hangat. Dia sama sekali tidak berandai-andai, meskipun dia hidup sendiri, melihat Genta sangat diterima di keluarga Darren Mahendra saja, sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Kedua mobil kini berhenti bersamaan di depan pelataran lobby utama. Tampak memang Senja dan Darren turun dari mobil. Dengan santainya, layaknya pasangan muda mudi, Darren mengamit pinggul sang istri dengan tatapan mesra.


Kali ini, Rangga yang mengelus dada. 'Tuanya saja begitu, bagaimana mudanya mereka,' batinnya.


"Serbu!" Beyza langsung membuka pintu mobil, lalu langsung turun diikuti Derya dan Genta. Sementara Rangga, sengaja menjaga jarak. Dia tidak ingin ikut 'menggerebek' dua pasangan halal itu.


Ketiga anak-anak itu mengendap-endap mengikuti langkah kaki Darren dan Senja.


"Dadd," teriak Beyza sembari sembunyi di balik tiang besar di dalam bangunan lobby apartemen.


"Ask ... kenapa aku seperti mendengar suara Beyza, ya?" tanya Senja sembari menoleh ke sekelilingnya. Sepi, hany dua orang yang terlihat.


"Mungkin kamu cuma terngiang-ngiang sama Beyza. Secara dia cerewet dan manjanya melebihi kamu. Sekarang kita harus ada waktu untuk berdua saja. Minimal seminggu dua kali kita ke sini. Pasti kita akan selalu awet muda seperti sekarang." Darren menowel hidung Senja dengan mesra. Sebenarnya dia juga mendengar, tapi memilih mengabaikan.


"Ma Nja," kini gantian Derya yang berteriak.


Senja menghentikan langkahnya ang sudah mendekati lift.


"Ask, kamu gak denger ada yang manggil kita. Tadi suara Beyza manggil kamu. Sekarang suara Derya manggil aku. Masak sih kamu tidak mendengar?" Senja membalikkan badannya, melangkah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara.


"Anak-anak tidak mungkin sampai ke sini, Ask. Tidak ada yang tahu kita punya tempat ini." Darren berbisik mesra pada istrinya.


Senja menganggukkan kepala, meski masih ada ragu yang jelas terlihat di wajah cantiknya.


Baru saja berniat membaliklan badan, Senja melihat Rangga melangkah sendiri masuki lobby apartemen.


"Pak Rangga," sapa Senja sembari melambaikan tangannnya, seolah takut tidak terlihat.


"Hai Darr." Rangga dengan santai malah menyapa Darren.


"Pak Rangga kok di sini, anak-anak ke mana?" perasaan Senja mulai tidak enak.


"Surprise?!" Teriak Beyza, Derya dan Genta. Ketiganya kompak senyum-senyum meledek.

__ADS_1


Seketika Darren langsung memijat pelipis kepalanya. 'Banyak anak, banyak rintangan.'


"Kenapa kalian di sini. Kalian mengikuti Mama?" selidik Senja.


"Ini kebetulan yang membawa berkah, Ma. Tadinya cuma pengen santai di ketinggian. Ternyata malah bertemu kesayangan, Bey di sini." Beyza mulai bergelayut manja di lengan Darren.


"Jadi kita ke apartemennya Mama sama Daddy saja, Yuk!" Beyza menggandeng tangan Darren dengan percaya diri. Seolah tahu di mana letak unit atau room daddy-nya.


Senja mengikuti saja di belakang, begitu juga yang lain. Mau tidak mau, Rangga pun ikut terlebih dahulu. Lagi-lagi dia terjebak dalam drama rumah tangga Darren Senja.


****


Akhirnya semua berkumpul di apartemen milik Darren. Anak-anak terlihat bahagia. Senja pun sama, dia justru terlihat sangat menikmati kebersamaan dengan Beyza, Derya dan Genta. Mereka bersantai dibalkon. Sementara Darren dan Rangga malah berbincang hangat di ruang tengah. Tidak hangat sebenarnya, cenderung panas malah. Karena Darren sedang menyalahkan Rangga atas gangguan yang dia alami.


"Ngga, kamu jadi duda berapa lama sih? sampai lupa enaknya berdua saja sama istri?" Darren bertanya langsung, tanpa sungkan seperti biasa. Dia tidak peduli masih baru saja akrab dengan Rangga.


"Anggap saja seumuran Genta," jawab Rangga tidak kalah santai.


"Pantesan. Harusnya, begitu kamu tahu anak-anak melihat mobilku, kamu bisa mencari alasan. Mengajak kemana gitu. Uangmu banyak kan? masak ngerayu tiga anak saja tidak bisa," dengus Darren masih dengan kekesalannya.


"Mereka itu anak-anak pintar, Darr. Kalau mereka segampang itu dialihkan perhatian dengan uang. Tentu kamu dan istrimu, tidak perlu sampai melipir ke tempat ini untuk sekedar bertukar keringat."


"Sepertinya kamu sudah lupa sensasinya. Ini bukan masalah melipir, Ngga. Saat kamu berdua saja, kamu bisa mengeksplore kampuan dan memanfaatkan setiap sudut ruangan. Percayalah, sudah tidak ada sudut yang steril di sini."


Mendengar ucapan Darren, membuat Rangga bergidik. Lama hidup sendiri, membuatnya menjadi awam akan hal-hal seperti ini. Bisa dikatakan dia kurang update sekarang.


"Kalau kamu mau, aku akan mengenalkan sama salah satu relasiku. Dia seorang janda keluaran terbaru. Masih beberapa bulan yang lalu. Menurutku sih kurang kalau soal kecepatan, kecakapan, kecantikan dan ketrampilan. Itu semua hanya ada di istriku. Tapi soal ukuran sepertinya masuk, tidak memalukan diajak kondangan, dan masih tergolong muda di banding kita-kita. Masih di ambang 40an."


Darren mengeluarkan ponselnya. Membuka fitur whatsapp. Mencari sebuah kontak. Lalu menunjukkan layar ponsel pada Rangga.


"Dia sering mengirim fotonya padaku. Untung saja aku masih menyimpan semua dan belum aku hapus sama sekali. Not bad lah. Kalau buat cuci mata masih oke."


Darren terus saja memberitahu kelebihan dan kehebatan foto perempuan yang ditunjukkan pada Rangga. Dia tidak menyadari, bahaya sedang mengancam. Rangga sudah memberi kode, tapi suami Senja itu tidak juga mengerti.

__ADS_1


"Mau tidur di mana, Ask?" Senja langsung bertanya tanpa basa basi dengan senyuman yang membuat Darren bergidik.


__ADS_2