Hot Family

Hot Family
Senja Kembali


__ADS_3

"Bagaimana, Das?" tanya Emily dengan santainya.


Dasen memegang bibirnya. "Aneh...."


Emily mendengus kesal, bukan jawaban seperti itu yang ingin dia dengar.


"Turun, yuk!" Emily menarik tangan Dasen untuk bergabung bersama Delia dan Mike di dance floor.


Tapi Dasen menolak, dia menarik tangannya dengan kuat. "Aku tidak suka melantai. Kamu saja."


Emily tidak ambil pusing dengan penolakan Dasen, dia tetap bergabung dengan Mike dan Delia yang nampak sudah sangat berkeringat.


Dasen memutar leher ke kiri dan kenan, dengan bola mata yang lincah bergerak mencari sosok Sekar. Tapi dia tidak berhasil menemukannya.


Rupanya pesona Sekar mulai membayangi Dasen, beberapa gadis mencoba menarik perhatiannya, tapi tidak satu pun yang mampu menggetarkan hatinya.


Dasen pun akhirnya mengajak Mike untuk pulang. Merasa di sana sangat membosankan dan hanya menemukan pertemanan yang terlalu bebas. Dia takut tidak bisa menahan diri kalau berlama-lama.


"Kamu ini, baru saja jam sebelas. Sudah ngajak pulang. Kesenangan baru saja di mulai," dengus Mike dengan sangat kesal."


"Kesenangan apa? Kesenangan sesaat dan sesaat? Mereka bahkan memberi tanpa kita minta. Kamu tahu? Aku sudah dicium Emily." Dasen membuka pintu kamar mereka.


"Bukankah itu yang kamu sukai?" Mike menyerobot masuk terlebih dahulu.


"Bukan. Aku tidak suka di beri. Aku lebih suka memberi. Di sana tidak ada yang membuatku tertantang. Mendapatkan sesuatu tanpa perjuangan itu sangat tidak asik," timpal Dasen seraya mengunci kembali pintunya dari dalam.


"Halah... tidak suka, tapi pasti tadi menikmati bibir Emily," ledek Mike.


"Menikmati, karena itu pertama bagiku. Tapi hatiku tidak bergetar. Hanya ada sesuatu yang bergerak. Aku jadi tahu, kita harus hati-hati dengan ciuman. Karena itu bisa membawa kita pada sesuatu yang lebih jauh." Dasen terlihat serius saat mengatakannya.


Meski jauh dan sudah tidak lagi di bawah pengawasan langsung mamanya, Senja selalu memperingatkan agar semua anak laki-lakinya untuk menghormati perempuan dan tidak melangkah jauh pada sesuatu yang hanya boleh dilakukan jika ada ikatan pernikahan. Senja tidak ingin anak-anaknya berperilaku seperti daddy-nya dulu.


.


.

__ADS_1


Pagi hari waktu Aussie. Senja, Derya dan Dasen baru saja selesai berolahraga bersama. Ketiganya melakukan yoga bersama dengan mendatangkan instruktur ke rumah.


Sembari menunggu Beyza. dan Derya mandi, Senja menyiapkan sarapan pagi terlebih dahulu. Tidak ada asisten rumah tangga, semua dilakukan sendiri.


Rumah yang tidak terlalu besar, dan tidak ada kesibukan lain, membuat Senja lebih senang melakukan semua pekerjaan sendiri. Tidak ada lantai dua, hanya ada tiga kamar, dapur, ruang tengah dan ruang keluarga.


"Mama mau mandi. Kalau kalian lapar, makanlah dulu." Senja mengatakan pada Derya yang berpapasan dengannya.


"Baik, Ma," sahut Derya langsung menjawab.


Bel pintu rumah terdengar. "Tolong kamu buka, Der, Mama sudah lengket karena keringat dan bau dapur."


Senja buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan langsung masuk ke kamar mandi sembari senyum-senyum sendiri. Dia sudah menebak siapa yang datang. Benci-benci rindu, itulah yang dia rasakan saat ini.


Derya segera membukakan pintu. Benar saja, yang langsung terlihat adalah pria matang, tampan dan rupawan yang tidak pernah lekang oleh waktu.


"Daddy...." Tiba-tiba Beyza berteriak dengan kengan kencang dan kegirangan di belakang Derya.


"Hai... Sayang, apa kabar?" Darren melangkahkan kaki masuk ke rumah mengacak lembut rambut Derya dan memeluk Beyza.


"Daddy juga kangen sekali," Darren mengecup kening Beyza.


Derya membawakan koper daddy-nya ke dalam kamar. "Mama masih mandi," Derya menjelaskan sebelum Darren bertanya. Karena sudah terlihat sedari tadi daddy-nya itu mencari sosok yang sangat di rindukan.


"Daddy, sudah makan? Kami mau makan dulu, laper setelah yoga." Beyza menarik tangan Darren menuju dapur dan ruang makan yang menyatu. Derya mengikuti di belakang.


"Kalian masih melakukan yoga?" tanya Darren.


"Masih dong, Dadd. Melatih pernapasan lebih baik, belajar mengendalikan emosi, membuat awet muda, kulit kencang dan tidak mudah lelah. Bey, akan rutin melakukannya. Bey, tidak mau menua. Harus seperti mama yang masih sangat cantik," sahut Beyza.


Ucapan Beyza membuat Darren sedikit cemberut. Pantas saja, kini staminanya kalah jauh dengan sang istri. Dia hanya berolahraga dan fokus untuk menjaga bentuk tubuhnya. Darren selalu takut dengan istilah om-om perut buncit.


"Dadd, setelah makan ini. Bey dan Der akan jalan-jalan. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk merayu mama agar mau pulang ke Indonesia. Tapi Daddy harus janji, suatu saat Daddy harus membalas kemurahan hati kami ini. Karena dari kemarin, Bey dan Der sudah merayu mama." Beyza mengambil nasi dan lauk, begitu pun dengan Derya.


Sesuai perjanjian, setelah makan Beyza dan Derya keluar dengan menggunakan taxi online. Mereka ingin berjalan-jalan ke town square.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam Darren datang, tapi belum juga bertemu dengan Senja. Entah apa yang sedang dilakukan perempuan itu di dalam kamar mandi.


Sebenarnya, Senja sudah selesai lima belas menit yang lalu, tapi dia mengulang mandinya sekali lagi. Entah kenapa dia sangat gugup menghadapi suaminya sendiri.


Senja menarik napas dalam sebelum membuka pintu kamar mandinya. Kalau dugaannya tidak meleset, Darren pasti duduk di tepian ranjang dengan kemeja yang sudah dikeluarkan dari dalam celana.


Benar dugaan Senja, dia tidak pernah salah menduga. "Hai...." sapanya sedikit kaku dan canggung.


"Hai...."


"Baru datang?" tanya Senja, sedikit basa basi sembari mendekati Darren untuk mencium punggung tangan suaminya itu.


Darren tidak melepas genggaman tangannya, meskipun Senja sudah mencium punggug tangannya.


"Aku kangen, Ask... Kapan Senja ku kembali?" tanya Darren dengan tatapan sendu.


Senja seperti salah tingkah. Sungguh apa yang saat ini keduanya alami, seperti awal-awal mereka menjalin hubungan. Gengsi yang masih tinggi dan dominan dibanding rasa apa pun.


"Senja tidak pernah pergi. Hanya menepi sebentar," sahut Senja akhirnya.


Darren menarik lembut tangan istrinya hingga membuat tubuh mereka merapat, lalu dia menahan pinggul ramping Senja agar tidak bergerak menjauh darinya.


"Aku harus bagaimana lagi, agar bisa membuatmu pulang?" Darren mengatakannya tepat di daun telinga Senja.


Hembusan hangat Darren membuat mata Senja memejam. "Tidak ada, Senja akan pulang sendiri, jika saatnya tiba nanti," lirih Senja.


"Aku suamimu, bukan? Aku akan memaksamu untuk pulang!" Bibir Darren mulai menempel di tengkuk leher istrinya.


"Paksalah..." tangan Senja membuka kancing kemeja Darren satu per satu. Lalu melepasnya perlahan.


"Mau dipaksa yang bagaimana, Ask?" napas Darren semakin memburu.


Senja tersenyum tipis, sembari membuka pengait celana sang suami. "Senja akan kembali, Ask... Tapi buktikan satu hal dulu."


Darren memejamkan matanya, merasakan usapan lembut di bawah sana. "Membuktikan apa?" Suara Darren sudah terdengar parau.

__ADS_1


__ADS_2