Hot Family

Hot Family
Terpantul di tembok


__ADS_3

Dasen muncul dengan wajah tanpa beban dosa ataupun rasa bersalah sama sekali. Dia tidak menyadari daddynya sudah menunggu dari tadi dengan wajah yang tidak bersahabat.


Tangannya menenteng paper bag berukuran besar yang entah apa isi di dalamnya.


"Sudah puas, mainnya?" tanya Darren dengan tatapan mata tajam.


"Apaan sih, Dadd," sungut Dasen, sembari terus berjalan melewati daddynya.


Dengan langkah yang lebar, Darren berhasil mendahului langkah Dasen dan langsung menahan lengan anak itu dengan tangannya yang kuat.


"Ikut, Daddy." Darren menyeret paksa Dasen ke ruang kerjanya di lantai satu.


"Kamu akan memperbaiki seperti apa? kalau sekarang saja kamu tidak peduli sama mamamu? mau jadi apa kamu, Das? Tolong, jangan sakiti hati mamamu. Jika Daddy tidak memikirkan bagaimana perasaan mamanu, pasti kamu sudah ada di asrama sekarang. Kamu pantas berada di sana." Darren membalas tatapan tajam Dasen.


Beyza, Bianca, Carina dan Baby De yang sedari tadi masih asik di ruang keluarga, terbengong-bengong saat melihat Dasen ditarik paksa oleh daddynya.


Baby De yang tadinya ingin menyapa, jadi mengatupkan kembali bibirnya. Wajah Darren yamg merah dan garang membuat nyali Baby De menciut. Padahal sebelumnya, pertemuannya dengan Dasenlah yang paling ditunggu-tunggu. Keduanya bisa dikatakan sefrekuensi, menyukai hal-hal baru termasuk mencoba yang ekstrim dan beresiko sekalipun.


"Duduk!" bentak Darren, sambil menunjuk sofa yang ada di sana.


Dasen dengan santai menuruti perintah daddynya. Wajahnya benar-benar tidak mengekspresikan apapun. Saat ini yang menjadi ketakutannya hanyalah didiamkan dan tidak dianggap lagi oleh Senja.


"Apa maumu Das? Kenapa meminta maaf saja sulit? apa memang kamu senang melihat mamamu berbaring terus di atas ranjang? apa kamu senang mamamu merasa tidak lebih berharga dari mobil sport Michel itu?"


"Dadd, stop jangan bahas ini lagi. Daddy sudah mengatakan semua kemarin. Dasen mengerti."


"Mengerti katamu? kamu tidak mengerti, Das. Kalau kamu tahu diri harusnya kamu pulang lebih cepat dan kamu mendatangi mamamu segera untuk minta maaf. " Darren masih dengan nada tinggi berusaha menahan tangannya untuk tidak melayang.


"Dadd, Das tidak mungkin tidak memikirkannya. Das, tidak seburuk yang Daddy kira. Mama selalu mengajarkan Das untuk bertanggung jawab pada apapun yang kita lakukan. Das, akan memperbaiki hubungan Das dengan mama," Dasen menatap Darren dengan tajam, seolah ingin menantang daddynya.

__ADS_1


Darren seperti sedang berkaca pada dirinya di masa remaja. Kalau dulu papa mamanya lebih santai, tidak dengan Senja yang sangat keras memegang prinsipnya. Sarita dan Mahendra lebih sering menuruti kemauan Darren dibanding menolaknya.


"Kamu akan memperbaiki seperti apa? kalau sekarang saja kamu tidak peduli sama mamamu? mau jadi apa kamu, Das? Tolong, jangan sakiti hati mamamu. Jika Daddy tidak memikirkan bagaimana perasaan mamamu, pasti kamu sudah ada di asrama sekarang. Kamu pantas berada di sana." Darren membalas tatapan tajam Dasen.


"Kenapa hanya Das yang selalu Daddy suruh ke asrama? kenapa? bukankah Beyza dan Derya juga anak, Daddy? Apa menurut Daddy, Das ini memang tidak pantas berada bersama kalian? apa salah Das?" anak laki-laki itu mulai mengeluarkan isi hatinya yang terpendam selama ini.


"Kamu ingin tahu kenapa?" suara Darren sedikit pelan.


"Iya," jawab Dasen dengan mantap.


"Karena daddy tidak ingin kamu seperti Daddy, yang pernah salah jalan. Daddy ingin kamu lebih baik segalanya dari Daddy. Tidak masuk ke pergaulan bebas. Keberuntungan tidak datang pada semua orang. Jadi ciptakan nasib baikmu sendiri. Daddy beruntung bisa mendapatkan mamamu. Mau menerima daddy yang rumit, angkuh dan semaunya sendiri," jelas Darren panjang lebar.


"Dadd, percayalah Dasen tau batasan," pinta Dasen sembari mengambil paper bag yang tadi di letakkan begitu saja dilantai. "Das, akan meminta maaf pada mama, tapi malah Daddy menahan Das selama ini." tambahnya sembari keluar dari ruang kerja.


Darren tidak berusaha mengejar lagi, hanya Senja yang bisa memahami Dasen. Darren hanya bisa mengelus dada, berharap Senja segera pulih.


"Sebentar, aku ada urusan di atas. Kalau sudah beres, kita go." Dasen menjawab tanpa menoleh.


**********


Rupanya Sarita dan Mahendra juga baru saja datang, mereka langsung ke kamar Senja. Di sana hanya ada Senja dan Bae. Karena Chun Cha dan Aleandro pergi untuk mengunjungi kantor cabang perusahaan mereka di Jakarta. Sedangkan Arham, memilih istirahat sejenak di kamar. Usianya yang sudah 80 tahunan membuatnya mudah lelah dan sedikit mudah mengantuk.


Sarita dan Bae langsung berbincang hangat dan akrab seperti biasa, sementara Mahendra hanya duduk sembari membaca berita di media online melalui ponselnya.


Saat Darren masuk, Senja baru saja membuka matanya. Sudah mendingan jauh, meski kalau dibuat bergerak, kepalanya seketika merasa berat dan bumi berputar.


"Bagaimana? yakin tidak ke rumah sakit saja?" tanya Darren dengan lembut.


"Yakin. Buat apa punya anak dokter kalau sakit begini saja ke rumah sakit." Senja menjawab dengan lancar meski suaranya pelan dan sedikit sengau karena flu.

__ADS_1


"Mumpung semua ada di sini. Apa tidak sebaiknya kita biarkan saja Zain bersama Airin. Mereka saling mencintai. Darr rasa, Airin bukan perempuan yang cengeng dan lemah. Mungkin dia tidak mandiri secara financial, tapi bukankah itu tidak akan jadi masalah bagi kita." Darren tiba-tiba mengambil keputusan penting.


"Setuju seratus persen," sahut Senja dengan cepat tapi tetap pelan.


"Kalau dipikir-pikir sih, sebaiknya memang begitu. Zain menjalani pendidikan sekaligus membawa Airin berobat. Begitu lebih bagus," saran Mahendra.


"Mama juga setuju. Cukup kita membuat Airin merasa canggung sama kita. Dia lama-lama tertekan, malah kasian. Bisa drop kondisinya," timpal Sarita.


"Terserah kalian sajalah. Zain juga pasti sudah tidak bisa dibelokkan lagi. Tapi biarkan dulu, biar Airin terbiasa dengan keluarga besar kita dulu." Bae ikut berpendapat.


"Tapi jangan terlalu kejam, Eomma. Menghadapi Daddynya saja sudah berat, jangan ditambah dengan Eomma dan Chun Cha. Airin ...." Senja tidak meneruskan karena merasa tidak enak sendiri.


"Airin tidak seberani Senja. Dia berani, tapi masih banyak menahan diri. Mungkin sedikit banyak Airin tidak enak, karena biaya pengobatan bergantung pada Zain," tebak Sarita.


"Tidak ada yang menyamai istri Darren, karena dia memang yang terhebat." Darren mengedipkan satu matanya pada Senja.


Bersamaan dengan itu, Dasen masuk. Dia sudah terlihat segar dengan celana pendek selutut dipadu kaos oblong berwarna kuning polos. Rambutnya masih basah. Tangannya tetap menenteng paper bag besar. Hadiah intuk sang mama yang entah apa isinya.


Senja pura-pura memalingkan wajahnya perlahan seraya memejamkan matanya, hanya ingin tahu sejauh apa anak itu akan berusaha mendapatkan maaf darinya dan menyadari kesalahan yang dilakukan.


"Ma, Dasen boleh ngomong sama mama nggak? berdua saja." tanya anak itu dengan hati-hati.


Sarita, Bae, Mahendra kompak melempar wajah penuh tanya pada Darren. Tapi yang ditanya hanya mencebikkan bibir seraya mengangkat bahunya.


"Ngomong saja, tapi tidak berdua. Biarkan semua di sini." jawab Senja dengan ketus.


Darren menggeser posisinya, memilih bangku di bawah meja rias istrinya sebagai tempat duduknya. Bae dan Sarita kompak duduk di Sofa bersama Mahendra. Menanti pertunjukan apa yang akan dilakukan titisan Darren.


"Ma, Mama yang paling Dasen sayangi. Perempuan tercantik di dunia. Mama lihat Dasen dulu, dong. Ada anak yang sangat ganteng di sini, kenapa Mama malah melihat ke tembok. Apakah ketampanan Dasen terpantul dengan jelas di sana?" Ucapan Dasen sontak membuat Darren terbatuk-batuk, begitu juga dengan Mahendra.

__ADS_1


__ADS_2