Hot Family

Hot Family
Akhir dari malam yang panjang


__ADS_3

Zain menghampiri Senja yang juga langsung berdiri begitu melihat langkah anak pertamanya itu semakin gontai. Keduanya saling memeluk dengan erat. Senja pun tidak kuasa lagi menahan air matanya. Isak tangis Zain membawa pikirannya melayang pada pertemuan pertama mereka setelah lima tahun dipisahkan. Di mana Zain masih dalam kondisi sakit dan melakukan pengobatan.


"Mama harus sembuh, berjanjilah Mama akan semangat berjuang. Zain masih sebentar bersama Mama. Jangan pergi sebelum Zain memberikan kebahagiaan pada Mama. Zain sudah berjanji pada Papa akan menjaga Mama dengan baik. Zain tidak mau mengingkarinya," lirih Zain di sela isak tangisnya.


Beyza, Derya, Dasen dan Baby De turut berdiri menghampiri Senja dan Zain. Mereka masih belum paham betul sakit apa yang diderita sang mama. Namun melihat reaksi Zain, mereka sudah bisa menduga, kalau penyakit yang diderita mamanya pasti cukup serius.


Zain memeluk Senja begitu posesif. Suami Sekar itu enggan merenggangkan badannya. Hingga ketiga adiknya mendekat, Zain masih saja menguasai tubuh Senja.


"Mama akan baik-baik saja, sayang."


Hanya kalimat itu yang mampu Senja katakan. Wanita itu lalu berusaha merenggangkan pelukan Zain. Tangannya terulur menghapus deraian air mata di pipi anak pertamanya itu.


"Mama sudah pernah meninggalkan Zain, cukup sekali itu, Ma. Cukup!" Suara Zain bergetar hebat.


Lidah Senja terasa kelu, sungguh dia kehabisan kata-kata. Ketegaran dan kekuatan yang sudah dibangun selama ini ternyata tidak sekokoh bayangannya. Melihat kesedihan Zain yang dalam, mengiris pilu lebih dalam hingga memporak porandakan dinding tebal yang seharusnya bisa menghalangi derai bulir bening agar tidak mengaliri pipi.


Darren menengadahkan kepalanya, menahan air mata yang juga sudah saling berdesakan ingin keluar. napasnya sesekali berembus dengan berat.


Sekar dan Denok menggeser duduk mereka hingga berdekatan. "Mama Nja orang yang sangat baik, Nok. Jika dia belum menerimamu, itu hanya masalah waktu. Selama kamu memang baik dan tulus, hal yang lain pasti diabaikan. Doakan mama sembuh ya, Nok," bisik Sekar sembari mengusap paha Denok.


"Pasti, Mbak." Denok menjawab dengan yakin.


Rangga merangkul pundak Genta. Anak angkatnya itu tidak kalah sedihnya dengan anak-anak Senja. Sebelum menjalin hubungan dengan Beyza sekali pun, Genta dan Senja sudah dekat karena pertemanannya dengan Derya. Hingga panggilan tente pun berganti dengan mama.


Senja mengedarkan pandang pada semua orang yang ada di sekitarnya satu per satu secara bergantian. Lalu dia meraih dan mengumpulkan tangan Zain, Beyza, Dasen, Derya dan Baby serta tangannya. Membuat mereka dalam posisi melingkar.


"Mama minta maaf, Sebagai Ibu kalian, Mama tentu banyak kekurangan dan kesalahan. Mama akan berjuang untuk sembuh. Tanggung jawab Mama masih banyak yang belum ditunaikan." Senja berusaha kembali tegar meski suaranya masih bergetar.

__ADS_1


"Mama akan baik-baik saja. Kita akan mencari dokter terbaik. Iya kan Kak?" Beyza menoleh pada Zain.


"Mama terkena kanker ovarium, Be," lirih Zain.


"Kak Zain pasti bisa menyembuhkan Mama. Pasti." Derya berucap tanpa menatap siapapun. Kepalanya menunduk hingga ujung dagunya terantuk dada.


"Selama Mama tidak ada, kalian harus saling menjaga dan menyayangi. Tetap peduli jika ada salah satu mengalami kesulitan. Mama tidak tahu akan pergi berapa lama. Jaga baik-baik semua yang sudah Mama tinggalkan pada kalian." Senja melepaskan tangannya dari tumpukan tangan bersama anak-anaknya yang saling berkaitan menggenggam.


Apa yang dilakukan Senja diikuti oleh anak-anaknya. Namun setelah itu mereka malah berebut memeluk Senja. Sehingga tubuh wanita itu tak terlihat lagi di mata Darren dan yang lain. Tertutupi dengan badan Zain, Dasen, Beyza, Derya, dan Baby De yang lebih tinggi semua dari Senja.


"Kalian membuat Mama tidak bisa bernapas," keluh Senja sembari memberikan kode agar semua merenggangkan pelukannya.


"Lihatlah diri kalian satu sama lain. Kalian sudah dewasa, Zain bahkan sudah menikah, dan yang lain juga sudah ngebet pengen nikah. Tapi mengapa masih seperti anak kecil begini," dengus Senja mencoba sedikit mencairkan bekunya kesedihan.


"Bagi sakit Mama pada kami. Mama jangan sakit sendiri. Jangan pernah menyembunyikan sakit Mama. Kami akan melakukan apapun agar Mama Sembuh. Bey akan menunda pernikahan Bey, Mama harus sembuh dulu." Beyza lagi-lagi malah bergelayut di lengan Senja.


"Kalian bisa duduk lagi, kan? Mama kalian bisa pegal kalau semua terus memeluk sambil berdiri begitu." Darren mendengus kesal sembari menurunkan tangan Beyza dari lengan Senja.


"Senja tidak mengapa, Ask. Kita tidak tahu kapan lagi Senja bisa memeluk mereka. Bisa jadi ini pelukan terakhir Senja untuk mereka. Kita tidak apa yang akan terjadi besok bukan?" Senja mengucapkannya tanpa berpikir.


Pernyataan Senja membuat Darren menelan ludahnya kasar, raut wajahnya menunjukkan ketidak senangan. Ingin rasanya dia berteriak lepas, meluapkan gemuruh sesak yang berhimpitan di dada.


Zain tiba-tiba melepas kaos dan celana yang dikenakannya. Laki-laki itu menceburkan diri ke dalam kolam renang. Entah apa yang ada di pikirannya. Sekar langsung beranjak berdiri dan menghampiri tepian kolam.


"Kak, ini sudah malam. Kamu bisa sakit, ayo naik!" Sekar meneriaki Zain dengan suara yang lumayan keras.


"Ambilkan handuk untuk Kak Zain." Senja menepuk bahu Derya. Bukannya menuruti perintah Senja, saudara kembar Beyza itu malah melakukan hal yang sama dengan Zain, lalu diikuti oleh Dasen.

__ADS_1


Semua menjadi heran dengan kelakuan ketiga orang tersebut. "Apa yang kalian lakukan. Kalian bisa sakit." Senja terus berteriak kesal.


"Kami hanya ingin bersenang-senang malam ini. Kita sama-sama tidak tahu apa yang terjadi besok bukan? Begitu 'kan jawaban Mama? Tidak hanya Mama yang bisa meninggalkan kami selamanya, sebaliknya, kami pun bisa." Zain menyindir mamanya dengan keras.


"Jika Mama peduli pada kami, jika Mama sayang pada kami. Jangan buat kami mendengar kata-kata seolah kehidupan Mama benar-benar akan berakhir. Mama akan sembuh. Tidak ada kemungkinan lain." Dasen berteriak dari tengah kolam renang sepanjang 15 meter.


"Kenapa kalian tidak ikut bersenang-senang? Kalian ingat tidak? Bermain air selalu membuat Mama marah. Karena setelah bermain air terlalu lama, kita akan pilek bersamaan. Kita buat Mama marah malam ini." Seperti anak kecil, Zain mempengaruhi adik-adiknya untuk memancing emosi Senja. Tanpa berpikir panjang, Genta langsung menyusul menceburkan diri ke dalam kolam.


Denok hanya bisa melihat dari tempatnya duduk. Di antara yang lain, dia merasa yang paling asing berada di tengah-tengah keluarga Darren Mahendra. Genta dan Rangga jelas sudah berbaur layaknya keluarga.


"Dadd, apa daddy tidak ingin ikut bersenang-senang bersama kami?" Tanya Zain tapi matanya melirik ke arah Senja.


Darren menganggukkan kepala, namun belum sampai kaos yang dikenakan melewati leher, Senja buru-buru menahannya. "Tidak! Kamu jangan ikut-ikut, umurmu tidak muda lagi, kalau masuk angin aku males ngerokin," cegahnya.


"Aku tidak setua itu, Ask," bantah Darren.


"Tua, Ask." Senja masih keukeh dengan pendapatnya.


"Belum," sahut Darren.


"Sudah." Senja tidak mau kalah.


Zain tersenyum, begitu juga yang lain. Rasanya melihat Senja mendebat Darren jauh lebih baik ketimbang mendengar wanita itu mengucapkan tentang sakit dan kepergiannya.


"Belum tua, Ask. Mau bukti?" Tidak sampai dijawab, Darren langsung menggending tubuh Senja ala bridal style. Pria itu membawa sang istri mendekati pintu lift. Dari kejauhan semua bisa melihat dua orang itu masih berdebat.


"Kalau aku jadi daddy, aku akan membuat Mama diam dengan cara yang enak." Dasen berbisik pada Derya.

__ADS_1


"Dasar messum." Zain menimpuk kepala Dasen dengan pelan.


__ADS_2