
Hari ini, Zain tidak ada praktek. Maka dari itu, dia bisa bersantai di rumah. Pagi sekali, setelah sholat subuh, Zain dan Dasen berenang di lantai empat. Sekar hanya menunggui di tepian kolam sembari bermain air dengan kaki.
Setelah berkali-kali mondar mandir, akhirnya kedua adik kakak itu berhenti tepat di samping Sekar. Dasen dan Zain, kompak meminum jus wortel dan apel yang sudah disiapkan oleh Sekar.
"Daddy sama Mama, sampai kapan di tempat Bey?" tanya Dasen pada kakaknya.
"Belum tahu pasti, yang jelas, dari tempat Bey, Mama dan daddy akan ke Jogya. Karena kami harus menikah duluan di banding kalian." Zain melompat naik tepat di samping Sekar.
"Kak! Basah tau." Sekar mencubit Zain dengan manja karena terkena cipratan air akibat lompatan kekasihnya itu.
"Kan belum mandi. Basah sedikit tidak masalah." Zain menowel hidung Sekar seperti biasa.
Dasen mencebikkan bibir. Beberapa hari terakhir, dia selalu disuguhkan pada keromantisan Sekar dan juga Zain.
"Kak, Kar, menurut kalian, Denok itu bagaimana?" tanya Dasen, ingin menjadi perhatian, agar kemesraan kedua orang di dekatnya itu tidak berlanjut.
Zain dan Sekar saling melempar pandang. Keduanya tidak salah menduga. Jelas Dasen sedang memulai hubungan yang lebih melibatkan hati. Karena baru kali ini, adiknya itu meminta pendapat tentang seseorang.
"Denok sih masih normalnya cewek jaman sekarang. Meski agak unik, tapi not bad lah," jawab Zain.
"Kalau aku sih, tidak ragu sama Denok. Tapi melihat orangtuanya, entahlah. Aku merasa akan berat di daddy dan mama. Tapi ini hanya feelingku saja sih." Sekar menyampaikan pendapatnya dengan hati-hati.
"Aku sependapat sih. Mbah Gondrong istrinya dua, Ibuknya Denok, dandanannya kayak tante-tante yang suka ngejar daddy. Entahlah, kamu harus pintar-pintar, Das."
Dasen keluar dari kolam. "Das, tidak sarapan di rumah. Mau jemput Denok. Mulai hari ini, dia kerja di kantor mama."
"Serius?" Sekar dan Zain kompak bertanya.
"Berapa rius pun boleh. Sepertinya, Das, akan serius, kak. Das tidak mau keduluan, Derya yang menikah." Dasen berlalu pergi mendekati lift untuk turun ke lantai dua.
__ADS_1
Tinggallah Zain dan Sekar sendirian di sana. Zain semakin mengikis jarak dengan calon istrinya itu.
"Morning Kiss, Dek." Seperti biasa, mode merayu sedang dilancarkan.
"Manggil Dek harus seterusnya." Sekar mengecup bibir Zain sekilas.
"Begitu saja? Apa harus diajari?" Zain tentu saja tidak terima.
"Cepet nikah, Kak. Kalau mau lebih." Sekar beranjak berdiri menyelamatkan diri. Setelah semalam keduanya hampir kebablasan, Sekar harus mulai menjaga diri. Bukan salah Zain, tapi juga bukan salah dirinya. Keduanya sama-sama berperan.
Zain terkekeh, dia paham betul, Sekar sedang takut terlalu intens berdua dengannya. "Tunggu daddy dan mama pulang, kita langsung ke pak penghulu. Sah, abaikan tamu, kita kabur dulu."
Sekar tersenyum geli mendengar perkataan Zain. Senior dikampus yang dikiranya kalem dan sangat berwibawa, nyatanya luar biasa agresifnya. Dalam hati dia sangat bersyukur mendapatkan laki-laki seperti Zain. Bukan karena ketampanan dan kekayaan yang luar biasa. Tapi karena ketulusan dan kesetiaan saat mencintai memang tidak perlu diragukan.
Saat Zain dan Sekar turun ke lantai dua, Dasen terlihat melintas berjalan buru-buru, padahal masih pukul 6 kurang jauh.
Bersama Rudi yang setia, Dasen berangkat menuju rumah Denok. Setelah hampir 40 menit perjalanan. Sampailah dia di rumah kekasih dadakannya itu.
Dasen beberapa kali harus membuang muka sembari beristighfar dengan apa yang dilihatnya. Perempuan yang memperkenalkan diri bernama Erika itu begitu semangat menyambutnya.
Sampai di dalam rumah kesejukan menghampiri, Perempuan berhijab merah jambu, dengan kulit eksotis menyambutnya sembari menyuguhkan teh manis hangat.
"Diminum, Le, kalau kurang manis, bilang ya. Gula dari kamu masih banyak," sindir mbah Gondrong yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar.
"Iya, Mbah, ini saya minum." Dasen dengan sopan menyeruput pelan, bibir gelas bertuliskan sebuah brand sabun mandi.
Mendadak, Dasen langsung tersedak. "Mbah ini bukan manis lagi, tapi muanissss. Bisa diabetes saya lama-lama," protes Dasen.
"Itu kamu baru empat sendok, Le. Bayangin Mbah yang dapet satu karung." jawaban Mbah Gondrong sontak membuat Dasen terdiam. Bagai sebuah sindiran yang tepat pada sasaran.
__ADS_1
Dasen melirik jam tangannya, masih pukul tujuh kurang 30 menit. masih ada waktu 30 menit lagi memang.
"Yang pakai hijab tadi, itu istri pertama, Mbah. Namanya Menuk. Yang ibunya Denok, sudah tahu to? Namanya ibu Erika. Jangan kaget, dia memang mantan perempuan traveling yang masih menghayati perannya. Denok sendiri, lebih senang kalau dianggap anaknya ibu Menuk." Tanpa diminta Mba Gondrong sedikit memberi penjelasan.
"Mbah...." Dasen tidak melanjutkan bicaranya, karena sudah keburu dipotong.
"Mau tanya, kamu sama Denok cocok apa tidak? Kemarin Denok sudah ngomong. Kalian cocok. Tapi ibumu bakalan tidak setuju. Bapakmu nurut apa kata ibumu. Agak berat. Kalau bapakmu yang tidak setuju, ibumu masih bisa ngelus-ngelus. Karena ini ibumu, benar-benar agak berat."
Penerawangan Mbah Gondrong membuat Dasen menelan ludah kasar. Padahal dia belum pernah bercerita apapun tentang orangtuanya.
"Kalian jodoh, Le. Cocok. Cuman berat sungguhan di ibumu. Kudu pinter-pintermu dan Denok. Mbah masih belum tahu apa yang menghalangi hati ibumu."
"Ibu saya baik, Mbah. Sabar, lembut dan cantiknya di sini tidak ada contohnya. Maaf ya Mbah, meski kecantikan istri mbah pertama dan kedua ditambahkan, belum cukup menandingi kecantikan ibu saya." Dasen dengan polos mengucapkan pujian pada mamanya.
Mbah Gondrong terkekeh mendengar penuturan Dasen. "Le, kamu memang top. Mbah suka modelan kayak kamu begini. Kalau Mbah sih iyes kalau punya menantu kamu." Pria perprofesi orang pintar alias dukun itu menepuk pundak Dasen.
Bersamaan dengan itu, Denok muncul menggunakan dress kantoran pres body berwarna hitam yang kemarin dibelikan oleh Dasen.
'Sempurna,' batin Dasen.
Setelah berpamitan, keduanya menaiki mobil Dasen dan berangkat ke kantor bersama. Denok hanya mempunyai satu mobil. Kalau Erika sedang tidak ingin memakai, baru yang lain boleh memakainya.
"Ask.. Ini maaf lho ya. Aku mau tanya. Kamu beneran anak kandung mereka?" Dasen bertanya dengan hati-hati di tengah perjalanan mereka.
Alih-alih tersinggung, Denok malah tersenyum lebar. "Jangankan kamu, Ask. Aku sendiri juga kadang masih bertanya-tanya. Andai tes DNA itu semurah harga bakso. Aku akan tes setiap hari untuk meyakinkan diri."
Dasen berdecak heran. "Benar-benar beda."
"Bukan beda lagi, tapi nyleneh," sahut Denok.
__ADS_1
"Eh, Ask. Kamu, mau tidak triple date akhir pekan besok?" Dasen baru teringat kalau besok lusa Derya dan Inez akan datang ke Jakarta.
"Hah? Triple?" Denok terlihat heran, dia baru mendengar ada istilah triple date.