Hot Family

Hot Family
Hadiah kecil dari Darren


__ADS_3

"Daddy ada sesuatu untuk kamu, Zain. Bukan sesuatu yang berharga mahal. Untuk orang berada seperti kita, hadiah berupa kemewahan tidak lagi terlalu bernilai dan berkesan. Ini hadiah dari Daddy untukmu." Darren merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


Zain menerima sesuatu yang Darren ulurkan dengan mengernyitkan keningnya. Sebuah amplop, sedikit tebal dengan ukuran tidak lebih dari tinggi jari telunjuknya.


"Apa ini, Dadd?" tanya Zain, penasaran.


"Jangan dibuka dulu, bukanya besok malam saja setelah acara makan malam keluarga. Simpan itu baik-baik." Darren mengedipkan sebelah matanya penuh arti.


"Dadd, ini bukan sarung pengaman kan?" tanya Zain to the point.


"Tentu saja bukan. Buat apa sarung pengaman, langsung gas saja. Tapi jangan cepat-cepat di jadikan bayi. Daddy belum siap dipanggil opa, rasanya tua sekali kalau sudah disebut begitu." Darren berdiri, mendekati balkon kamar dengan pemandangan sebagian sisi candi borobudur.


"Memang sudah tua, Dadd. Fisik luar tidak kelihatan. Dalamnya, hanya mama yang tahu," canda Zain.


"Masih oke untuk bersaing denganmu besok."


Zain menepuk keningnya lebih keras lagi sekarang. "Astaga, Zain berharap tidak segila ini nanti."


"Percayalah sama Daddy. Kamu akan menggila begitu tahu rasanya. Daddy jamin, kamu tidak akan terlambat makan pagi bersama keesokan harinya. Tunggulah hadiah menyenangkan dari Oma Sarita dan Oma Bae. Mereka selalu mempunyai pihak kita diuntungkan di malam pertama." Darren menaik turunkan alis tebalnya.


Mendadak Zain menjadi semakin deg-deg'an. Bukan antara dia dan Sekar yang membuatnya khawatir. Membayangkan mulut-mulut jahil dari keluarga besarnya setelah dia keluar dari kamar untuk pertama kali, sungguh meresahkan.


"Kenapa Zain?" Tanya Darren, menyadari wajah anaknya itu seketika memucat.


"Daddy dulu selesai malam pertama, pas keluar kamar bagaimana?" Tanya Zain dengan polosnya.

__ADS_1


"Astaga, Zain! Pertanyaan macam apa itu, keluar ya keluar saja. Pura-pura saja tidak ada apa-apa, buat sesantai mungkin. Mereka dipanggil mama-papa dan sekarang jadi oma-opa juga setelah melalui proses seperti kita. Makin kamu terlambat, makin bagus. Biar mereka tidak meremehkan kamu. Meski pertarungan hanya sekali, pastikan kamu tidak datang tepat waktu di acara makan pagi. Kalau perlu buat mamamu sampai memanggil ke kamar."


Zain memanggut-manggutkan kepalanya. Dia mencerna perlahan semua masukan dari sang daddy. Tapi tidak semua akan dia lakukan begitu saja. Karena kadang antara saran sesungguhnya dan bercanda, sulit untuk dibedakan jika Darren yang berbicara.


Saat bel pintu kamar Zain terdengar, Darren dengan semangat membukakan daun pintu itu. Dia mengira Senja lah yang datang. Tetapi dugaan Darren salah, yang dilihatnya berdiri di depan pintu saat ini adalah Mahendra dan Arham.


"Kenapa kamu kaget begitu, Dar? Tidak suka kami datang? Kami ini mau menemui Zain. Bukan menemui kamu." Mahendra melewati Darren begitu saja. Begitu juga dengan Arham yang membawa paper bag di tangan kanannya.


"Zain, Daddy kembali dulu. Nanti berbagi ilmunya di sambung lagi." Darren langsung meninggalkan kamar Zain.


"Zain ini baju kamu untuk acara doa nanti malam." Arham meletakkan paper bag di atas meja.


"Pengajian? Ada pengajian juga?" Zain nampak kaget.


"Ada dong. Yang penting tidak ada pelaminan kan? Doa sebelum pernikahan tentu adalah hal wajib. Biarpun doa itu bisa dilakukan setiap hari, di moment-moment tertentu, doa itu wajib dikhususkan. Kita akan mengundang beberapa anak yatim," tutur Mahendra sembari menjatuhkan bokongnya di atas sofa.


"Siap dong, Opa. Kalau deg-deg'an ada sih, tapi setelah bicara dengan daddy, sepertinya itu masih di batas kewajaran."


"Hati-hati kamu berkonsultasi dengan daddy-mu, kalau Sekar tidak sekuat mamamu, hancurlah kalian. Ambil baiknya, buang sesatnya," sahut Mahendra.


"Tentu saja, Opa. Perempuan yang dengan santai menerima gerak gerik dan aktivitasnya dibatasi itu tidak banyak. Jelas Daddy merasa beruntung," ucap Zain.


"Itu berarti, daddy-mu yang pintar, dia bisa membuat mamamu merasa nyaman dengan kondisi yang menurut kaca mata orang lain menyiksa. Kamu patut mencontoh daddy-mu yang bisa menakhlukkan keras kepalanya mamamu," timpal Mahendra.


"Kadang perbedaan justru membuat pernikahan itu lebih berwarna, Zain. Sehobi, sefrekuensi, dan sepemikiran tidak menjamin kekalnya sebuah hubungan. Saling mengerti, menghargai, ikhlas, sabar dan selalu memaafkan tanpa syarat dan tanpa batas adalah kunci pernikahan itu bertahan. Satu hal lagi, sepelik apa pun masalah, jangan mudah katakan pisah," tutur Mahendra panjang lebar.

__ADS_1


"Cintai pasanganmu dalam keadaan benar atau pun salah. Berusaha sebisa mungkin mengingat lebih banyak kebaikan dari pada keburukan yang dilakukan pasangan. Di saat dia salah, jangan balas dengan cacian," tambah Arham.


Ketiganya terus terlibat obrolan yang santai namun sarat petuah akan kehidupan pernikahan. Pesan-pesan sederhana terucap dari mulut kedua opa itu.


Sementara itu di kamar di mana Beyza dan Bae berada, keduanya sedang berbicara serius. Situasi yang sedang santai, dan tidak adanya Arham di sana, membuat Beyza bercerita lebih awal tentang hubungannya dengan Genta pada Bae.


"Ngawur sekali daddy-mu. Mana ada syarat seperti itu. Sudah kamu santai saja. Tapi jangan terlihat membela dan membuka jalan untuk Genta. Biarkan kekasihmu itu berpikir sendiri dulu. Kamu pura-puralah tidak ada ide." Bae memberikan pendapatnya pada Beyza.


"Tapi Bey tidak tega sama Genta, Oma," keluh Bae.


"Sabarlah sebentar. Kamu pegang omongan, Oma. Kalau sampai dugaan Oma ini tidak benar, biar Oma yang berlutut di kaki daddy-mu untuk memintakan restu. Tidak perlu melakukan apa-apa, biarkan takdir Tuhan yang bicara. Saat fakta itu terungkap, kamu tidak perlu dukungan dari Oma, atau dari siapa pun."


Beyza mengernyitkan keningnya, benar-benar tidak tahu apa maksud di balik ucapan sang oma.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Tanda-tandanya sudah jelas. Tinggal kepastiannya saja." Kali ini Bae mengatakannya dengan sedikit kesal


"Sebentar, kenapa oma jadi kesal begitu?" Tanya Beyza penuh selidik.


"Oma kesel kalau dugaan Oma benar, walaupun itu akan membantumu. Dasar, daddy dan mamamu itu sama saja."


Omelan Bae semakin membuat Beyza bingung, dia sama sekali tidak tahu arah pembicaraan omanya itu. Tadi senang karena ada jalan keluar untuknya, tapi tiba-tiba omanya itu kesal-kesal sendiri.


Beyza mengambil ponselnya, mengabaikan sebentar wajah cemberut dan kesal sang oma. Matanya seketika terbelalak ketika melihat salah satu postingan di media sosialnya.


"Sial! Inez benar-benar gila. Awas saja kamu, Nez. Kita lihat akan jadi apa postingan kamu ini," gumam Beyza, sangat lirih.

__ADS_1


Setelah mengirimkan pesan pada seseorang, Beyza lalu mengambil jaket untuk menutupi dres tanpa lengan yang dikenakannya.


"Oma, Bey ke kamar Derya sebentar," pamit Beyza buru-buru.


__ADS_2