Hot Family

Hot Family
Dejavu


__ADS_3

"Bey ... Dey ... kalian siap-siap sekolah sana. Mama tidak suka kalian bolos," peritah Zain pada Beyza dan Deyra. Kedua adiknya itu pun mengangguk dan menuruti perkataan sang kakak tanpa protes.


"Ai siapkan baju buat mama dulu ya, tapi minta tolong mbak Wati. Karena Ai belum tahu tempatnya." ucap Airin lalu berjalan ke luar kamar untuk mendatangi Wati.


"Daddy, siap-siap dulu. Kita bawa Mama ke rumah sakit saja. Dua atau tiga hari saja, mungkin akan segera pulih. Asal Mama tidak terlalu banyak pikiran." Zain menepuk lengan Darren yang terlihat sedih.


Darren segera mengambil baju gantinya, lalu langsung masuk ke kamar mandi.


"Ma ... Mama mikirin apa sih? sudahlah! masalah Airin dan Zain jangan menjadi beban Mama," bisik Zain sembari mengusap lengan mamanya.


Senja tidak bereaksi sama sekali. Biasanya vertigo yang dia rasakan tidak sesakit ini. Sekarang kepalanya benar-benar merasakan nyeri, berat dan berputar bersamaan. Rasa ingin muntah juga melanda.


Wajah perempuan itu semakin pucat. Tangannya berkeringat tapi leher dan dahinya sangat panas. Mungkin karena bersamaan dengan flu dan radang yang juga melanda. Membuat Senja bertambah drop.


Zain menggenggam tangan mamanya, mengecupnya bertubi-tubi. "Mama jangan sakit-sakit ya. Kasihan kita semua. Mama tuh jantungnya rumah ini. Kalau mama melemah, seisi rumah pun akan lemah.


Darren mandi lebih cepat dari biasanya. Senja seumur hidup tidak pernah sakit sampai di bawa ke rumah sakit.


"Zain...." panggil Senja dengan suara lirih.


"Iya, Ma ...." Zain mendekatkan mulutnya pada telinga Senja.


"Mama tidak mau di rawat di rumah sakit. Kasih mama obat yang bagus saja," pinta Senja, sangat lirih hampir tidak terdengar.


"Bisa sih, Ma ... tapi Mama harus diinfus ya dan harus nurut Zain tanpa bantahan." anak itu lalu menelpon perawat di rumah sakit tempatnya praktek, meminta dikirimkan beberapa kebutuhan alat medis dan obat ke rumahnya.


Senja hanya mengangguk pasrah. Darren diam sembari duduk di samping istrinya yang terus memejamkan mata.


Sembari menunggu perawat datang, Zain meninggikan bantal mamanya. "Sebentar ya, Ma ... Mama rilex, biar cepet sembuhnya."


"Zain, kamu tungguin mama dulu, ya. Daddy mau ke bawah sebentar." Darren berdiri, lalu melangkah keluar kamar dengan aura wajah dingin yang dominan.

__ADS_1


Tidak lama dari itu, Airin masuk ke kamar bersama dengan Wati.


"Nggak jadi, Mbak. Mama mau dirawat di rumah saja," ucap Zain.


Wati pun mengangguk, lalu kembali ke lantai satu untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain.


"Ai ... Kamu capek tidak? Kalau tidak, tolong kamu bantu siapin sarapan daddy, ya," pinta Zain.


"Daddy biasanya bagaimana? Ai, takut salah." Airin melirihkan suaranya agar tidak terdengar oleh Senja.


"Daddy apa saja, asal sehat, tidak berlemak, dan tidak makan nasi di pagi hari."


Airin mengangguk mengerti. "Ya sudah, Ai siapin. Aa' mau dibuatin sekalian?"


"Tidak usah. Nanti setelah perawat datang saja." Zain mengusap punggung tangan calon istrinya dengan lembut.


Zain menatap punggung Airin sampai menghilang dari pandangannya.


"Iya ... Ma." Zain mengambilkan air putih di dalam gelas, lalu membantu mamanya untuk minum perlahan tanpa mengangkat kepala.


"Zain, lihat Dasen. Dia berangkat sekolah apa tidak," pinta Senja. Dalam keadaan sakit tak berdaya pun, dia masih mengkhawatirkan anak keduanya.


Tanpa banyak bertanya, Zain pun menuruti saja apa yang di suruh mamanya. Saat sampai di depan pintu, dia melihat wajah cemas Sarita dan Mahendra keluar dari lift. Keduanya baru pulang dari jalan-jalan pagi keliling komplek.


"Bagaimana mamamu, Zain?" tanya Sarita.


"Mama maunya di rawat di rumah saja. Oma sama Opa langsung masuk saja. Zain, ke kamar Dasen dulu," pamit Zain sembari berjalan menuju kamar Dasen. Tapi saat hendak membuka pintu, Zain mengurungkan niatnya. Karena terdengar suara Darren di sana. Zain menempelkan telinganya di daun pintu.


"Daddy tidak minta kamu menjadi sepenurut Derya. Tidak! tapi tolong jaga bicaramu,Das. Apa memang kamu senang lihat mamamu sedih? Mobil sport bukan hal sulit untuk dibeli. Bahkan perusahaan kakakmu di negara S, bisa mendatangkan mobil sport yang paling limited di dunia. Kamu lihat di internet, RSZ Corp. Kalau mama tidak memberikan kemauanmu, bukan berarti mama pelit. Tapi mama tahu kamu belum butuh dan belum saatnya memiliki. Saat waktunya sudah tepat, kamu akan mendapatkan lebih dari yang Michel punya." Darren mencoba memberi pengertian pada Dasen.


"Tapi Das tidak mau nanti-nanti, maunya saat tujuh belas tahun ini." Dasen tetap teguh pada kemaunnya.

__ADS_1


Darren menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembusan perlahan. Menahan diri untuk tidak emosi, tapi juga tidak ingin kalah dengan kemauan anak.


"Kalau kamu seneng lihat mama sakit, lakukan semuanya sesukamu, Das. Lakukan yang menurutmu menyenangkan dan keren. Sepuasmu, abaikan perasaan mamamu. Tidak penting mama sehat atau sakit bukan? yang penting kamu keren."


Dasen menggeleng kuat. "Tidak seperti itu, Dadd."


"Kalau tidak seperti itu. Saat nanti berangkat sekolah ucapkan maaf, tarik kata-katamu semalam. Mamamu yang terbaik, bukan maminya Michel atau yang lain," tegas Darren sembari menepuk pundak Dasen, lalu keluar meninggalkan anaknya itu.


Zain buru-buru kembali ke kamar mamanya, sebelum ketahuan mencuri dengar pembicaraan daddynya dengan Dasen. Sudah Zain duga, vertigo mamanya tidak akan kambuh kalau tidak dipicu stres berat. Sikap Senja yang cenderung memendam sendiri rasa kesal yang berhubungan dengan anak-anaknya, justru membuat beban dipikirannya sendiri.


Dua perawat datang membawa infus dan obat-obatan yang di pesan Zain dengan komplit. Infus pun di pasang di punggung tangan kanan Senja, Zain menyuntikkan sendiri dua jenis obat melalui infus juga.


Sekujur tubuh Darren terasa lemas, terakhir melihat istrinya di infus, tentu saja sudah belasan tahun lalu saat melahirkan si kembar. Sekarang rasanya, dia tidak tega.


"Mama isturahat dulu, tiga puluh menit lagi mama makan ya. Kita semua keluar, biar mama tenang. Tapi ada suster Erna yang menjaga Mama di sini. Tidak ada bantahan, sekali Mama membantah, kita ke rumah sakit saja," ancam Zain, sebelum mamanya membuka mulut untuk berbicara.


"Dasen?" Senja masih saja menanyakan anak keduanya itu.


"Dia akan sekolah. Sudah, jangan pikirkan hal lain selain kesembuhanmu. Jika memang mampu memikirkan yang lain, pikirkan saja aku. Bagaimana nasibku kalau kamu sakit."keluh Darren, seketika cubitan Sarita melayang.


"Buaya tua. Istri sakit, masih saja suruh mikir dirinya," dengus Sarita.


Zain lalu mengajak semua keluar, kecuali satu perawat yang akan menjaga Senja. Awalnya Darren menolak, karena dia ingin menjaga sang istri sendiri. Tapi Zain, Sarita dan Mahendra kompak menarik tangan Darren. Bukannya istirahat, nanti bisa-bisa Senja akan terganggu dengan ratapan suami.


Mereka pun memutuskan untuk makan pagi yang kesiangan, anak-anak sudah berangkat sekolah. Karena terburu-buru takut telat, ketiganya hanya berpamitan pada Airin.


"Dadd, ini makanan untuk Daddy. Maaf, Airin belum sepintar mama Nja dalam hal memasak. Tapi semoga Daddy suka." Airin menyodorkan piring berisi mashed potato, filet ikan salmon kukus dan cah bayam.


Mulut Darren sudah menganga, hendak menyampaikan sesuatu. Tapi Airin langsung berinisiatif untuk membuat Darren tidak akan mencelanya.


"Jangan mengucapkan terimakasih dulu, Dadd. Karena belum ketahuan rasanya enak atau tidak. Kalaupun tidak enak, mohon Daddy tidak protes. Ini Airin, bukan mama Nja yang sempurna. Daddy sudah terlalu lama merasakan hidup penuh kesempurnaan, tidak ada salahnya menerima kekurangan Airin. Di jamin, hidup Daddy akan lebih berwarna lagi."

__ADS_1


Darren seketika merasa dejavu.


__ADS_2