Hot Family

Hot Family
Pamit


__ADS_3

Darren turun dari mobilnya, berlari mendekati Zain yang masih berdiri memandangi mobil yang ditumpangi mama dan adik-adiknya.


"Zain, Mama mau ke mana?" tanya Darren dengan napas yang memburu karena panik.


"Dua jam lagi, Mereka akan melakukan penerbangan ke Aussie, Dadd. Bey dan Der, ingin melanjutkan sekolah di sana."


Darren menggelengkan kepalanya dengan kuat begitu mendengar penjelasan Zain. Tanpa pamit dan tanpa menberikan tanggapan, pria itu kembali masuk ke dalam mobil. Memberi tahu driver untuk menjalankan mobil ke arah bandara internasional.


"Jangan lakukan ini, Ask. Please... Aku bisa gila, kalau kamu jauh dariku."


Darren mengambil ponselnya. Berniat menghubungi Beyza atau Derya. Tapi saat melihat layar ponsel, matanya terlihat langsung berbinar. Satu pesan masuk dari kontak yang selalu dia sematkan di bagian teratas. Dadanya kini semakin berdebar kencang.


Dengan semangat, Darren mengarahkan driver untuk menuju ke suatu tempat, di mana Senja dan anak-anak sudah menunggunya di sana. Sebuah resto favorit Senja dan Beyza, yang lokasinya tidak jauh dari bandara.


Sebelum memasuki pintu resto, Darren menenangkan dirinya terlebih dahulu. Sungguh rasanya seperti di awal Darren mulai mengejar istrinya dulu, di mana jantungnya selalu berdebar-debar jika mau bertemu.


Pria itu langsung melangkahkan kakinya ke arah ruangan private yang biasa mereka tempati setiap kali makan di resto ini. Benar saja, Senja, Beyza dan Derya sudah berada di sana.


Beyza langsung berdiri menyambut daddy-nya, begitu juga dengan Derya.


"Daddy, kangen sekali sama kalian." Darren memeluk Derya terlebih dahulu, baru kemudian memeluk Beyza sedikit lebih lama.


"Jangan tinggalkan, Daddy. Kalau pun mau pergi, nanti bisa kita atur jadwalnya. Biar daddy antar."

__ADS_1


Beyza dan Derya kompak menoleh ke arah mamanya. Senja hanya menjawab dengan senyuman tipis.


"Mama, bicara sama daddy sebentar." Senja meminta ijin pada kedua anaknya untuk bicara berdua saja.


Beyza dan Derya mengerti, karena mereka sudah diberitahu sebelumnya oleh mamanya.


Senja mengajak Darren bergeser ke meja agak ujung ruangan private itu.


"Terimakasih mau datang," ucap Senja.


"Terimakasih karena menyuruhku datang ke sini," balas Darren.


"Aku mau pamit, Beyza dan Derya akan meneruskan sekolah di Aussie. Mungkin seminggu ke depan, kami masih akan mencari sekolah yang cocok. Begitu semua sudah pasti, kami akan kembali ke sini dulu untuk mempersiapkan semuanya." Senja menjeda bicaranya sejenak, menatap Darren sekilas, lalu melempar pandang ke sisi lain.


Darren mengusap wajahnya kasar. "Bukankah mereka anak kita berdua? Kenapa masalah mereka tidak kamu bicarakan dulu denganku? Kita kesampingkan masalah kita dulu. Jangan sampai Beyza dan Derya hanya menjadi korban emosi kita."


Darren langsung melangkah ke meja Beyza dan Derya. Menarik bangku kosong di samping Beyza dan duduk di sana. Menatap kedua anaknya itu dengan pandangan yang membuat si kembar merasa terintimidasi.


"Apa yang membuat kalian tiba-tiba menginginkan sekolah di Aussie?" selidik Darren.


"Bey ingin mempunyai lingkungan pertemanan yang baru. Di mana tidak ada kemungkinan Daddy memiliki masalah dengan orangtua, kakek atau pun nenek moyang mereka," cetus Beyza seperti setengah menyindir.


"Derya juga berharap menemukan sahabat baru di sana. Kalau nanti di Aussie masih ada teman yang orangtuanya bermasalah dengan daddy, kami akan pindah lagi ke kutub utara." Derya ikut menegaskan sindiran Beyza.

__ADS_1


Senja tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan suami dan anak kembarnya itu. Dia pun tidak berniat ingin menengahi. Senja percaya, baik Derya dan Beyza hanya butuh waktu untuk memulihkan keakraban yang harmonis dengan daddy mereka.


Darren merasa tertampar. Pada kenyataannya memang dia tidak bisa memaksa hatinya untuk berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang Senja yang terlalu baik, hingga mampu memaafkan, bahkan menikah dengan pria yang melecehkannya.


"Daddy tidak sebaik mama kalian. Maaf." Darren menundukkan kepalanya. Sungguh saat ini dia merasa semua beban kesalahan ada di pundaknya.


"Bukan masalah, Dadd. Bagi kami, Daddy tetap yang terbaik. Kami memahami situasi Daddy, jadi tidak ada alasan Daddy untuk tidak mengijinkan kami pergi. Kami janji tidak akan bertemu atau berkomunikasi dalam bentuk apa pun dengan Genta. Kami janji," ucap Derya dengan tegas, disambut anggukan mantap oleh Beyza.


Darren tersenyum miris. Anak-anaknya tumbuh dan besar lekat dengan ajaran seorang Senja dan Darren Mahendra, yang sama-sama memiliki sifat dan kepribadian yang kuat. Tidak heran, kalau anak-anaknya pun mewarisi ketegasan Senja dan dirinya.


Darren hanya bisa mencoba tersenyum, meski hatinya benar-benar merasa teriris. Mungkin memang tidak ada kebencian di mata kedua anaknya itu, tapi jelas dia bisa menangkap kekecewaan yang dalam di sana.


"Daddy, minta maaf. Benar-benar minta maaf. Daddy memang egois. Anggap ini kelemahan dan kekurangan daddy. Maaf tidak bisa menjadi sosok sesempurna mama kalian, Maafkan daddy." Darren berdiri, lalu langsung berjalan kembali ke arah Senja. Menyembunyikan bulir bening yang sudah ingin berjatuhan membasahi pipinya.


Kini di depan Senja, Darren tidak sanggup lagi membendung air matanya. Dia benar-benar merasa sangat lemah. Tapi seperti ada tembok tebal yang menyekat keduanya. Ingin sekedar memeluk atau bersandar, tapi kata-kata Sarita lagi-lagi membuat kakinya terasa terikat kencang dengan dosa masa lalunya.


'Aku tidak pantas menerima kebahagiaan dan kebaikanmu. Itu kata mamaku. Aku harus tahu diri... Aku harus tahu diri....' batin Darren terus mengingatkan diri sendiri.


"Aku pergi tidak untuk meninggalkanmu. Aku pergi juga bukan untuk menghindarimu. Sejahat apa pun kata yang kamu ucapkan, dan sekasar apa pun perlakuanmu, sungguh aku tidak membencimu. Aku memang bodoh, karena itulah aku sanggup mencintaimu sampai sekarang." Senja mengambil tisu, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap air mata suaminya dengan lembut.


Darren memberanikan diri menangkap tangan itu. "Aku tidak pantas menerima kebaikanmu, Ask. Jangan terlalu baik, tolong hukum aku. Siksa aku di sisa waktuku. Agar aku juga merasakan karma akan kesalahanku dulu."


Senja menggeleng kuat. "Berhentilah menilai hidup kita yang sekarang dari cerita masa lalu. Jika aku saja bisa berdamai dengan kenangan pahit, kenapa kamu tidak? Lihatlah aku, saat aku menerima masa laluku, Tuhan memberiku suami yang hebat, anak-anak yang luar biasa dan aku mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang dulu tidak mengakuiku sama sekali."

__ADS_1


Senja membiarkan tangannya berada digenggaman suaminya. "Sekarang lihat dirimu? Apa yang kamu miliki, bisa saja hilang dalam sekejap karena kamu terlalu memberatkan masa lalu dengan dendam."


Darren menggenggam tangan Senja semakin erat dengan kedua tangannya. "Jangan pergi, Ask. Beri aku waktu."


__ADS_2