Hot Family

Hot Family
Persiapan pernikahan Zain


__ADS_3

Zain, Darren dan Senja berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil yang sama. Mereka menggunakan Rudi sebagai drivernya.


"Ma, Genta tidur di rumah apa tidak dicari mamanya? kalau anak lagi sakit, kan biasanya ibu tidak mau jauh-jauh." Zain menoleh ke belakang, melihat Mamanya yang sedang memijat lengan sang daddy.


"Bundanya Genta sudah meninggal, Zain. Sejak Genta lahir. Kasihan itu anak, mana pak Rangga setia banget. Bisa lho dia tidak menikah lagi. Kalau itu, Daddy-mu, pasti belum juga tanah kuburan Mama kering. Pasti sudah nikah lagi," ucap Senja sambil melirik Darren yang langsung meringis.


Bukan karena ucapan Senja, tapi karena pijatan dan tekanan tangan Senja yang tiba-tiba terlalu kuat.


"Ngomong apa kamu itu, Ask ... kamu tahu persis aku susah jatuh cinta. Kalau tertarik fisik itu mudah, tapi mengikat hati sehidup semati dengan seseorang itu tidak mudah," tukas Darren, langsung menarik lengannya dari tangan Senja.


Laki-laki itu sangat sensitif jika dibanding-bandingkan, apalagi tentang kesetiaan dan kehebatan.


Darren Mahendra tidak pernah suka, istrinya memuji laki-laki lain selain dirinya. Lagi pula, dia pun yakin akan sehidup semati bersama Senja. Di usianya yang muda saja, Darren sudah tidak ada pikiran menikah lagi atau sekedar tergoda oleh perempuan lain. Apalagi sekarang. Tentu saja tidak ada keinginan sama sekali.


Senja sepertinya sedang tidak peka, dia tidak menoleh sedikit pun pada wajah sang suami yang sedang mengawasinya dengan sorot tajam.


"Mama pun menikah lagi dengan Daddy, padahal papa kan meninggalnya bohongan," sahut Zain, sedikit membela Darren.


Senja terdiam sejenak. "Situasi mama saat itu berbeda sekali Zain, andai tidak dengan Daddy-mu, pasti Mama pun tetap akan menikah dengan orang lain. Papi Aleandro, mungkin. Atau bisa jadi, Mama orangnya memang tidak setia dan selalu membutuhkan seorang laki-laki untuk menemani hidup Mama." Senja menjawab dengan tegas.


Sekalian saja menyalahkan dan merendahkan diri sendiri, sebelum kata-kata lebih pedas bisa keluar dari seorang ceo Mahendra Corp.


Darren memilih diam, memperpanjang pemicaraan malah akan mendatangkan masalah baginya.


Zain pun melakukan hal yang sama, diam dan tidak menanggapi kata-kata mamanya. Memilih mengobrol saja bersama driver yang setia mengantar Senja kemanapun sejak adik-adiknya belum lahir.

__ADS_1


Sampai di lobby rumah sakit, ketiganya pun turun dari mobil bersamaan.


"Sudah, nggak perlu diem-dieman begitu. Nggak pantes banget dilihatnya. Orang tuh biasa disuguhkan kemesraan yang tiada berbatas sama Daddy dan Mama. Kalau seperti ini, gak oke." Zain menyatukan tangan Senja dan Darren, lalu berjalan terlebih dahulu di depan keduanya.


Masuk ke dalam ruangan, Airin nampak duduk di atas kursi roda menghadap jendela kaca. Dia lelah dan bosan berbaring terlalu lama. Melihat dunia luar, meski hanya sebatas itu. Sudah membuat Airin lega.


Keterbatasan kadang malah membuat kebahagiaan itu menjadi lebih sederhana. Di mana Kemauan dan keinginan tidak lagi berlebih. Yang dulunya terasa biasa, kini jauh terasa nikmat. Menambah rasa syukur dan mengurangi keluhan, Itulah yang dilakukan Airin sekarang.


"Selamat siang Bu, Pak ... apa kabar kamu, Rin?" sapa Senja dengan ramah dan hangat.


Seperti biasa, Darren hanya tersenyum sembari menjabat tangan kedua orangtua Airin dengan gayanya yang memang terkesan dingin.


"Baik, Ma ... Dadd ... Terimakasih sudah datang." jawab Airin pelan, namun sangat hangat.


"Silahkan, Pak Darren, Bu ...." Rasyid mempersilahkan calon besannya untuk duduk di sofa sebelah kanannya.


"Begini, Pak Rasyid dan Bu Lena, Zain sudah menyampaikan kepada kami tentang keinginan Airin untuk melakukan pernikahan dalam waktu dekat ini. Kami sebagai orangtua, tidak melarang. Tapi juga tidak terlalu mendorong, mengingat kondisi Airin yang belum stabil." Darren langsung memulai pemicaraan.


Rasyid dan Lena tidak langsung menimpali, karena keduanya yakin. Darren belum sepenuhnya mengeluarkan kata-kata yang ingin disampaikan.


"Intinya, kami sebagai orangtua. Hanya bisa mendoakan saja, bahwa pernikahan ini adalah keputusan yang terbaik. Untuk tanggal dan lain-lain kami mengikuti saja. Masalah persiapan, silahkan dibicarakan saja dengan Mamanya Zain," tutup Darren.


"Terimakasih, atas waktu dan perhatian Pak Darren dan Bu Senja. Sama halnya pak Darren, Saya sebagai Ayah dari Airin, juga hanya bisa mendoakan dan mendukung langkah anak-anak kita, semoga ini yang terbaik. Untuk waktu dan bagaimana acaranya, kami menyerahkan semua pada Zain saja." Rasyid menimpali perkataan Darren juga secara singkat.


"Baiklah, kalau begitu sudah tidak ada masalah. Zain, Airin, silahkan kalian susun rencana sendiri. Kami orangtua percaya pada kalian," ucap Darren.

__ADS_1


"Terimakasih, Dad ... Ma ... Ayah dan Bunda. Airin dan Aa sudah membuat kesepakatan, jika tidak ada perubahan. Kami akan melangsungkan pernikahan senin depan. Di tempat ini, secara sederhana. Kami hanya ingin keluarga inti ini saja yang datang," ucap Airin dengan sangat hati-hati.


Darren mengerutkan keningnya. "Apa benar ini juga kemauan Zain?" selidik Darren seperti tidak yakin.


"Zain setuju apapun yang Airin inginkan, Dadd," jawab Zain.


"Benarkah? Meski melukai hati oma opa? Sejauh itu?" Darren menatap tajam pada Zain.


Jika hanya kehadiran kedua orangtua yang diharapkan, jelas akan membawa dampak besar bagi hubungan Senja dan keluarganya. Pernikahan di nilai sesuatu yang sakral, kalaupin tidak ada undangan masih akan sangat masuk akal. Tapi tidak akan mendatangkan oma dan opa Zain adalah kesalahan besar.


Zain tumbuh dengan kasih sayang dan ikatan kekeluargaan yang erat. Jika masalah ini sampai ke telinga semua oma opa Zain jelas Senja dan Darren yang pertama kali akan disalahkan.


"Dadd, ini pernikahan darurat. Tidak nungkin beramai-ramai dan pesta di rumah sakit," kilah Zain.


"Siapa yang ingin beramai-ramai? siapa yang ingin pesta? Daddy hanya ingin kalian pertimbangkan keinginan kalian. Tidak ada tamu lain tidak masalah. Tapi jangan kesampinkan Oma Opa. Bukan hanya mama dan Daddy yang mengasuhmu Zain." Darren terdengar sedikit emosi.


Arini hanya menunduk, Mungkin memang dia terlalu egois. Sedangkan Zain, tentu saja tidak terlalu ingin mendebatnya. Menjaga perasaan Airin, saat ini mungkin adalah prioritas utama bagi Zain.


"Dadd, nanti akan kami bicarakan lagi soal itu." Zain menengahi, karena tidak ingin berlanjut pada ketegangan.


Senja mengelus lengan suaminya. Mencoba menyalurkan ketenangan dan kesabaran pada sang suami.


"Ma ... Airin minta tolong sama Mama untuk memilihkan cincin pernikahan kami. Airin yakin, pilihan Mama pasti yang terbaik," pinta Airin.


"Tentu saja, Mamanya Zain memang yang terbaik. Jika kamu ingin menjadi istri yang baik, tirulah apa yang dilakukan istriku. Jangan jadikan keterbatasanmu itu alasan. Kamu sudah memutuskan menikah di saat kondisimu masih sakit, konsekuensinya pun juga harus kamu tanggung. Jangan membuat Zain terus mengalah. Ada bedanya mencintai dan mengkasihani," ucap Darren, langsung tanpa basa basi.

__ADS_1


Rahang Rasyid terlihat mengeras, menahan entah kesal atau juga amarah.


__ADS_2